Tag: Israel

  • Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    7cloud.asia – Kelompok Hamas pada Minggu (11/8/2024) meminta para mediator agar mengemukakan rencana berdasarkan pembicaraan terdahulu dan bukannya terlibat dalam negosiasi baru untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

    Pekan lalu, para pemimpin (Amerika Serikat) AS, Mesir dan Qatar meminta Israel dan Hamas untuk bertemu guna melakukan perundingan pada Kamis (15/8/2024) di Kairo, Mesir atau Doha, Qatar.

    Perundingan antara Hamas-Israel ini untuk diharapkan dapat menuntaskan perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.

    Israel mengatakan akan mengirimkan perunding untuk ambil bagian dalam pertemuan membahas gencatan senjata di Gaza tersebut.

    Hamas pada awalnya mengatakan sedang mempelajari tawaran tersebut tetapi sekarang mengisyaratkan bahwa pihaknya mungkin tidak akan ikut dalam babak pembicaraan baru.

    “Hamas meminta para mediator agar mengemukakan rencana untuk menerapkan apa yang telah disepakati oleh Hamas pada 2 Juli 2024, berdasarkan visi Biden dan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Meski sepakat berunding Israel tetap gempur Gaza

    “Para mediator harus memberlakukan hal ini terhadap pihak penjajah (Israel) bukannya melanjutkan babak perundingan atau proposal baru yang akan menutupi agresi Israel dan memberinya lebih banyak waktu untuk melanjutkan genosidanya terhadap rakyat kami,” kata pernyataan Hamas itu.

    Pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh yang diduga dilakukan Israel dan dipilihnya terpilihnya Yahya Sinwar menjadi pemimpin baru Hamas, membuat sejumlah pihak mengkhawatirkan masa depan gencatan senjata di Gaza.

    Nicholas Heras dari New Lines Institute, dikutip VOA Indonesia mengatakan bahwa dipilihnya Yahya Sinwar dengan suara bulat sebagai kepala politik baru Hamas menunjukkan bahwa Gaza kini menjadi pusat perhatian, dan bukan Qatar, tempat para pemimpin politik itu bermarkas.

    Lebih lanjut Heras mengatakan, dengan dipilihnya Sinwar Hamas membuat pernyataan yang sangat jelas bahwa jalan bagi Hamas menguasai Gaza dan pada dasarnya Hamas, adalah bersedia berjuang sampai titik darah penghabisan.

    Pesan Hamas ini disampaikan kepada seluruh dunia, tidak hanya kepada Israel, Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir

    Baca: Iran akan serang Israel dalam waktu dekat

    Menurut Hemas, ini sangat pahit, tidak hanya bagi kelangsungan hidup Hamas sebagai sebuah organisasi, tetapi dari sudut pandang Hamas bagi masa depan rakyat Palestina.

    ”Hamas memberi isyarat kepada Israel dan siapa pun yang bekerja dengan mereka bahwa tidak bisa memisahkan Gaza dan masa depan Gaza dari Hamas,” jelasnya.

    Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera, menurut penghitungan Israel.

    Sejak itu, hampir 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza. Menurut kementerian kesehatan Gaza, puluhan ribu warga Palestina terluka dan ratusan ribu lainnya harus tinggal di pengungsian.

  • PBB: 84 Persen Jalur Gaza di Bawah Perintah Evakuasi Israel

    PBB: 84 Persen Jalur Gaza di Bawah Perintah Evakuasi Israel

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti luasnya perintah evakuasi militer Israel di Jalur Gaza dengan mengatakan perintah tersebut mencakup hampir 84 persen wilayah kantong tersebut.

    “Secara total, sekitar 305 kilometer persegi atau hampir 84 persen dari Jalur Gaza, telah ditempatkan di bawah perintah evakuasi oleh militer Israel,” kata wakil juru bicara PBB, Farhan Haq pada konferensi pers, Senin (12/8/2024).

    Dengan mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), Haq mengatakan pengeboman dan agresi Israel yang berlanjut di Gaza terus membunuh, melukai, dan menggusur warga Palestina.

    Agresi militer Israel juga merusak dan menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menjadi andalan warga Gaza.

    Dua perintah evakuasi, lanjutnya, dikeluarkan oleh militer Israel selama akhir pekan untuk Kota Khan Younis, sebagian besar untuk daerah-daerah yang sebelumnya telah ditempatkan di bawah perintah evakuasi.

    Baca Juga: Sepakat untuk Berunding, Israel Malah Gempur Khan Younis

    Perintah tersebut telah berdampak pada sekitar 23 lokasi pengungsian, 14 fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan, serta empat fasilitas pendidikan.

    Haq juga menyebutkan bahwa akses pasokan bantuan ke Gaza sangat dibatasi karena ada serangan aktif, kendala akses, tingkat ketidakamanan yang tinggi, kurangnya ketertiban dan keselamatan publik, serta faktor-faktor lainnya.

    Ketika ditanya apakah genosida sedang terjadi di Gaza, Haq mengatakan harus ada putusan pengadilan yang sesuai untuk menyebut suatu tindakan sebagai genosida.

    Saat mengacu pada pernyataan sebelumnya mengenai situasi di seluruh Jalur Gaza, dia mengatakan “angka-angka ini mengkhawatirkan untuk konflik apa pun di mana pun”.

    Baca Juga: WSJ: Iran Akan Serang Israel dalam Waktu Dekat

    Lebanon
    Terkait lonjakan pengungsi di Lebanon sejak 23 Juli, Haq menyampaikan kekhawatiran mendalam PBB atas peningkatan jumlah kematian warga sipil serta pengungsian di tengah konflik yang memanas.

    “Selama sebulan terakhir, jumlah warga sipil yang terbunuh telah meningkat 20 persen, menjadi total 120 sejak Oktober dengan hampir setengahnya adalah perempuan dan anak-anak,” katanya, mengutip OCHA.

    Jumlah pengungsi telah meningkat hampir empat persen sejak 23 Juli dan berdampak pada sekitar 102.000 orang, menurut Haq.

    “PBB mendesak semua pihak untuk menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional dengan menekankan bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil harus dilindungi setiap saat,” ujarnya.

    Sumber : Antaranews.com/Anadolu

  • Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    Iran Syaratkan Gencatan Senjata sebagai Cara Tunda Respons Iran terhadap Israel

    7cloud.asia – Tiga pejabat senior Iran mengatakan bahwa hanya kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang dapat mencegah Iran melakukan pembalasan langsung terhadap Israel.

    Mereka mengaitkan potensi respons dengan kematian pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di wilayah tersebut. Gencatan senjata di Gaza diharapkan berlangsung pada pekan ini.

    Iran bertekad untuk memberikan respons tegas terhadap pembunuhan Haniyeh, yang terjadi saat kunjungannya ke Teheran akhir bulan lalu. Israel dituding berada di balik pembunuhan itu.

    Namun, Israel belum mengonfirmasi atau membantah mengenai keterlibatannya. Untuk memperkuat pertahanan Israel, Angkatan Laut AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selam ke Timur Tengah.

    Seorang pejabat keamanan senior Iran mengungkapkan bahwa Iran, bersama sekutunya seperti Hizbullah, akan melancarkan serangan langsung jika pembicaraan tentang Gaza gagal atau jika Israel dianggap menunda negosiasi.

    Pejabat tersebut tidak menyebutkan berapa lama Iran akan menunggu sebelum mengambil tindakan.

    Baca: Balasan Iran ke Israel diperkirakan akan segera dilakukan

    Dengan meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah setelah pembunuhan Haniyeh dan komandan Hizbullah Fuad Shukr, Iran terlibat dalam dialog intensif dengan negara-negara Barat dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir mengenai cara mengatur pembalasan.

    Sumber-sumber tersebut, yang berbicara secara anonim karena sensitivitas masalah ini, mengungkapkan informasi itu.

    Duta besar AS untuk Turki mengonfirmasi lewat pernyataan pada Selasa bahwa Washington telah meminta sekutunya untuk membantu meyakinkan Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan.

    Tiga sumber pemerintah regional menjelaskan bahwa percakapan dengan Teheran dilakukan untuk menghindari eskalasi menjelang perundingan gencatan senjata Gaza yang dijadwalkan mulai Kamis di Mesir atau Qatar.

    “Kami berharap respons kami akan dilakukan tepat waktu dan dengan cara yang tidak mengancam kemungkinan gencatan senjata,” kata misi Iran untuk PBB dalam sebuah pernyataan pada Jumat.

    Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa menyatakan bahwa seruan untuk menahan diri “bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.”

    Baca: Iran bertekad membalas pembunuhan Ismail Haniyeh

    Kementerian Luar Negeri Iran dan Korps Garda Revolusi tidak segera menanggapi pertanyaan untuk berita ini. Kantor Perdana Menteri Israel dan Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi pertanyaan.

    “Sesuatu dapat terjadi minggu ini oleh Iran dan proksinya… Itu adalah evaluasi AS dan juga Israel,” kata juru bicara Gedung Putih John Kirby kepada wartawan pada Senin.

    “Jika ada kejadian pada minggu ini, hal tersebut bisa mempengaruhi pembicaraan yang kami rencanakan digelar pada Kamis,” tambahnya.

    Pada akhir pekan lalu, Hamas meragukan apakah pembicaraan akan dilanjutkan. Israel dan Hamas telah melakukan beberapa putaran pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir tanpa berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata.

    Banyak pengamat Israel yang percaya bahwa Iran akan memberikan responsnya segera setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran akan “memberi hukuman berat” kepada Israel atas serangan di Teheran.

    Kebijakan regional Iran diputuskan oleh Garda Revolusi yang elite, yang langsung melapor kepada Khamenei, pemimpin tertinggi negara tersebut.

    Baca: Ini syarat yang diajukan Hamas untuk perundingan gencatan senjata

    Sejak dilantik bulan lalu, presiden baru Iran yang relatif moderat, Masoud Pezeshkian, terus menegaskan sikap anti-Israel dan dukungannya terhadap gerakan perlawanan di seluruh wilayah.

    Menurut dua sumber, Iran sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan seorang perwakilan ke perundingan gencatan senjata, yang akan menjadi yang pertama sejak perang dimulai di Gaza.

    Perwakilan tersebut tidak akan hadir secara langsung dalam pertemuan, tetapi akan terlibat dalam diskusi di balik layar “untuk menjaga jalur komunikasi diplomatik” dengan Amerika Serikat selama negosiasi berlangsung.

    Pejabat di Washington, Qatar, dan Mesir belum memberikan tanggapan mengenai apakah Iran akan memainkan peran tidak langsung dalam perundingan.

    Dua sumber senior yang dekat dengan Hizbullah Lebanon mengatakan bahwa Teheran akan memberi kesempatan pada negosiasi tersebut, tetapi tetap akan melanjutkan niatnya untuk membalas.

    Menurut salah satu sumber, gencatan senjata di Gaza akan memberi Iran alasan untuk merespons dengan cara yang lebih terbatas dan bersifat “simbolis.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Tentara Israel Tutup Rafah, 1000 Anak Palestina Meninggal Karena Tak Mendapat Perawatan

    Tentara Israel Tutup Rafah, 1000 Anak Palestina Meninggal Karena Tak Mendapat Perawatan

    7cloud.asia – Kantor informasi pemerintah di Gaza melaporkan kematian 1.000 anak Palestina yang sakit dan terluka akibat penutupan penyeberangan Rafah dengan Mesir dalam 100 hari terakhir.

    “Setelah membakar dan menghancurkan penyeberangan Rafah, tentara Israel menutup penyeberangan perbatasan antara Palestina dan Mesir ini selama lebih dari tiga bulan,” demikian pernyataan pengumuman kantor pemerintah Gaza yang dikutip IRNA pada Rabu (14/8/2024) malam.

    Baca: Israel serang sekolah, ratusan orang meninggal

    Kantor tersebut menekankan bahwa aksi tentara Zionis yang berbarengan dengan meningkatnya bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di semua wilayah di Gaza ini jelas merupakan kejahatan.

    Perbuatan mereka juga melanggar hukum internasional, hak asasi manusia internasional serta bertentangan dengan semua perjanjian internasional.

    Rezim Israel masih melarang akses masuk semua jenis bantuan ke Jalur Gaza, termasuk pasokan medis.

    Ini mencerminkan rencana rezim Zionis untuk menghancurkan sektor kesehatan karena krisis obat-obatan dan peralatan medis dapat memaksa penutupan sejumlah rumah sakit yang tersisa.

    Baca: Tentara Israel ramai-ramai perkosa tahanan Palestina

    Kantor media di Gaza mengumumkan bahwa rezim Zionis juga melarang 25.000 orang sakit dan terluka berobat ke luar negeri, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 anak, orang sakit dan korban luka kehilangan nyawa.

    Pihaknya mendesak komunitas internasional dan semua badan internasional agar mengutuk kejahatan rezim.

    Selain itu meminta rezim Zionis beserta Amerika Serikat bertanggung jawab penuh atas konsekuensi berbahaya dari penutupan penyeberangan Rafah dan larangan masuk peralatan medis serta bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Sumber: IRNA-OANA

  • Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    Presiden Joe Biden Berjanji Segera Akhiri Perang di Gaza di Tengah Menguatnya Desakan untuk Tidak Mempersenjatai Israel

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden berjanji akan mengakhiri perang di Jalur Gaza dan membawa pulang para sandera.

    “Saya akan terus berupaya membawa pulang para sandera, mengakhiri perang di Gaza, dan membawa perdamaian serta keamanan di Timur Tengah,” ucap Biden di malam pertama Konvensi Nasional Demokratik di Chicago, Illinois, Senin (19/8/2024) waktu setempat.

    “Kami bekerja tanpa henti…untuk mencegah perang meluas, untuk menyatukan kembali para sandera dengan keluarganya,” kata Joe Biden.

    Biden juga menyatakan akan meningkatkan bantuan kesehatan dan makanan kemanusiaan ke Gaza.

    “Untuk mengakhiri penderitaan rakyat sipil Palestina dan pada akhirnya mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri perang ini,” tambah Biden akan segera mengakhiri kepemimpinannya

    Baca: Iran syaratkan gencatan senjata di Gaza, agar tak balas serangan Israel 

    Saat dimulainya konvensi pada Senin pagi, ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina berkumpul di Chicago.

    Para pengunjukrasa itu meminta pemerintahan Biden segera mengakhiri dukungan perang Israel di Gaza, dimana lebih dari 40.100 warga Palestina terbunuh.

    Saat para delegasi tiba di pusat konvensi, para pengunjuk rasa berjalan melewati pusat kota sambil menyerukan kata-kata “bebaskan, bebaskan Palestina,” beberapa jam sebelum Biden berpidato.

    “Para pengunjuk rasa di jalan, mereka benar. Banyak orang tak bersalah kehilangan nyawa, di kedua pihak,” kata Biden.

    Biden juga mengatakan telah menulis perjanjian perdamaian untuk Gaza, seraya menambahkan “Saya mengajukan proposal yang membawa kita lebih dekat untuk melakukan hal tersebut dibandingkan yang telah kita lakukan sejak 7 Oktober.”

    Baca: Hamas syaratkan perundingan gencatan senjata di Gaza dilandasi hasil perundingan sebelumnya

    Hentikan Pemberian Senjata ke Israel
    Dalam konvensi yang sedang berlangsung, beberapa peserta membentangkan spanduk bertuliskan “Hentikan Mempersenjatai Israel.”

    Ketika peserta lainnya melihat spanduk tersebut mereka mulai menyerukan “Kami Cinta Joe.”

    Sementara itu di media sosial terlihat seorang pria berusaha merobek spanduk tersebut.

    Pekan lalu, usai perundingan gencatan senjata di Doha, AS, Mesir dan Qatar mengatakan bahwa mereka telah menyampaikan kepada Israel dan Hamas apa yang disebut sebagai “proposal penghubung” untuk lebih mempersempit “kesenjangan yang tersisa hingga memungkinkan terlaksananya kesepakatan tersebut dengan cepat.”

    Di sisi lain, kelompok Hamas mengatakan pada Minggu (18/8/2024) bahwa proposal baru tersebut hanya memenuhi “persyaratan Netanyahu dan sejalan dengan Israel dan sekutunya.

    Baca: Ambigu sikap Israel, sepakat berunding tapi tetap lancarkan serangan

    Hamas terutama menyorot penolakan Netanyahu terhadap gencatan senjata permanen, penarikan sepenuhnya pasukan dari Jalur Gaza,

    Hamas juga menyoroti keinginan Israel untuk melanjutkan pendudukan di persimpangan Netzarim (yang memisahkan utara dan selatan Jalur Gaza), penyeberangan Rafah, dan Koridor Philadelphi (di selatan).”

    Hamas menekankan komitmennya terhadap apa yang disepakati pada 2 Juli.

    Biden mengatakan pada Mei bahwa Israel mengajukan kesepakatan tiga fase yang akan mengakhiri permusuhan di Gaza dan menjamin pembebasan sandera yang ditahan di wilayah pesisir tersebut.

    Rencana tersebut mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera-tahanan, dan rekonstruksi Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Konflik di Gaza Berlanjut, 113 Jurnalis Tewas

    Konflik di Gaza Berlanjut, 113 Jurnalis Tewas

    7cloud.asia – Sedikitnya 113 jurnalis dan pekerja media telah tewas sejak dimulainya konflik antara Israel dan Gaza, menjadikannya periode paling mematikan yang pernah tercatat sejak 1992, kata Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada Selasa.

    “Hingga 20 Agustus 2024, penyelidikan awal CPJ menunjukkan bahwa setidaknya 113 jurnalis dan pekerja media termasuk di antara lebih dari 41.000 orang yang tewas sejak perang dimulai,” kata CPJ dalam laporan terbaru dan sementara tentang jurnalis di masa perang.

    Laporan itu juga menyebutkan, periode perang Israel itu menjadikannya periode paling mematikan bagi jurnalis sejak CPJ mulai mengumpulkan data pada 1992. CPJ menyebutkan bahwa mereka yang tewas termasuk 108 warga Palestina, dua warga Israel, dan tiga warga Lebanon.

    Baca: Tentara Israel tutup Rafah, 1000 anak meninggal

    Selain itu, 32 jurnalis terluka, dua orang hilang, dan 52 lainnya dideportasi atau ditangkap.

    Wartawan sering menjadi korban serangan, serangan siber, dan sensor, tambahnya.

    Pada Selasa sebelumnya, kantor media pemerintah Gaza mengatakan bahwa menurut perhitungannya sendiri, sekitar 170 jurnalis telah tewas di zona konflik akibat serangan Israel.

    Korban terbaru adalah jurnalis Hamza Abd Ar-Rahman Mutarja, yang bekerja di wilayah tersebut dengan sejumlah media.

    Baca: Sebanyak 100 orang lebih terbuh akibat serangan Israel ke sekolah di Gaza

    Pada 7 Oktober 2023, Israel mengalami serangan roket yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Jalur Gaza, di mana para pejuang Hamas menyusup ke wilayah perbatasan, menembaki militer dan warga sipil, serta menyandera mereka.

    Otoritas Israel mengatakan bahwa sekitar 1.200 orang tewas selama serangan tersebut.

    Pasukan Pertahanan Israel meluncurkan Operasi Pedang Besi di Jalur Gaza dan mengumumkan blokade penuh terhadap wilayah tersebut.

    Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober tahun 2023 telah melebihi 40.000 orang.

    Sumber : Sputnik

  • UNRWA Kutuk Pembantaian Anak-anak oleh Zionis

    UNRWA Kutuk Pembantaian Anak-anak oleh Zionis

    7cloud.asia – Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan bahwa Jalur Gaza tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak setelah Israel kembali mengebom salah satu sekolah yang dikelola PBB di Kota Gaza.

    “Laporan tentang serangan mengerikan lainnya hari ini di salah satu sekolah UNRWA kami di Kota Gaza,” kata Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini pada Rabu (21/8).

    Israel menargetkan Sekolah Salah al-Din yang menewaskan dua warga Palestina dan melukai 15 lainnya, termasuk anak-anak. Beberapa di antara korban dilaporkan terbakar hingga tewas.

    “Gaza bukan lagi tempat bagi anak-anak. Mereka adalah korban pertama dari perang tanpa ampun ini. Kita tidak bisa membiarkan hal yang tak tertahankan menjadi norma baru. Cukup,” ucapnya.

    Baca: Sebanyak 113 jurnalis tewas dalam konflik di Gaza

    Lazzarini mempertanyakan apakah masih ada kemanusiaan yang tersisa dan menturkan bahwa gencatan senjata sudah sangat terlambat.

    Pada hari yang sama, PBB mengingatkan bahwa perintah evakuasi militer Israel yang sedang berlangsung mengancam penduduk Jalur Gaza dengan pengungsian paksa lebih lanjut, menimbulkan kekhawatiran bahwa layanan penting mungkin akan segera terputus.

    Saksi mata juga mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa pesawat tempur Israel mengebom Sekolah Salah al-Din, sekolah kesembilan yang menampung para pengungsi yang menjadi sasaran militer Israel sejak awal Agustus.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza menyusul serangan kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober, meski ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

    Baca: PBB sebut 84 persen jalur di Gaza di bawah perintah Israel

    Konflik tersebut telah mengakibatkan lebih dari 40.170 kematian warga Palestina, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, dan lebih dari 92.740 orang cedera, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang terus berlanjut di Gaza telah menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, yang mengakibatkan sebagian besar wilayah tersebut hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional yang telah memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum wilayah tersebut diserbu pada tanggal 6 Mei.

    Sumber : Anadolu

  • Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    7cloud.asia – Pasukan Israel mengubah “zona kemanusiaan aman” di Jalur Gaza menjadi tumpukan puing-puing dan abu, menyisakan hanya 9,5 persen wilayah yang disebut “zona aman” bagi warga sipil yang mengungsi, kata Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, Sabtu.

    Menurut pernyataan yang dirilis otoritas tersebut, pada awal invasi darat Israel ke Gaza awal November 2023, pasukan Israel mengusir ratusan ribu warga sipil dari Gaza utara ke Gaza selatan, mengklaim area tersebut sebagai “zona kemanusiaan yang aman.”

    Awalnya, zona tersebut meliputi 230 kilometer persegi atau 63 persen dari total wilayah Gaza, termasuk lahan pertanian dan fasilitas komersial, ekonomi, dan layanan yang tersebar di wilayah seluas 120 kilometer persegi.

    Baca: Palestina ajak Dewan Keamanan PBB kunjungi Gaza

    Ketika serangan militer Israel berlanjut, ukuran zona aman tersebut menyusut drastis, kata pernyataan itu.

    Otoritas tersebut menjelaskan bahwa pada awal Desember 2023, menyusul serangan Israel ke Khan Younis di Gaza selatan, wilayah kemanusiaan yang ditetapkan telah dikurangi menjadi 140 kilometer persegi, yang mencakup 38,3 persen total wilayah Gaza.

    Wilayah ini mencakup beberapa lahan pertanian, serta bangunan ekonomi, komersial dan jasa.

    Pengurangan lebih lanjut terjadi pada Mei 2024, selama serangan Israel ke Rafah, ketika zona kemanusiaan menyusut menjadi 79 kilometer persegi, atau 20 persen dari total wilayah Gaza, tambah pernyataan itu.

    Pada pertengahan Juni 2024, zona tersebut diperkecil menjadi menjadi 60 kilometer persegi, yang hanya mencakup 16,4 persen dari total wilayah Gaza.

    Baca: UNRWA kutuk pembantaian anak-anak oleh Zionis

    Wilayah tersebut meliputi jalanan biasa, jalan raya, area layanan, dan bahkan pemakaman, yang tidak satu pun dapat dianggap sebagai tempat berlindung yang benar-benar aman bagi warga sipil yang mengungsi, katanya.

    Pada pertengahan Juli 2024, wilayah yang disebut “aman” oleh pasukan Israel berkurang lagi, kali ini menjadi 48 kilometer persegi, atau 13,15 persen dari total wilayah Gaza.

    Akhirnya, pada Agustus 2024, tentara Israel mengurangi “zona kemanusiaan yang aman” ini menjadi hanya 35 kilometer persegi, atau 9,5 persen dari total wilayah Gaza.

    Zona tersebut hanya mencakup sekitar 3,5 persen dari area pertanian, layanan dan komersial, yang kemudian mempersempit ruang tempat warga sipil berlindung, kata otoritas, merinci bagaimana pasukan Israel secara sistematis menghancurkan “zona aman.”

    Berkurangnya zona aman yang terus berlangsung itu memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, karena warga sipil memiliki tempat yang lebih kecil untuk melarikan diri dari aksi kekerasan.

    Baca: Sebanyak 100 orang terbunuh akibat serangan Israel ke sekolah di Gaza

    Israel melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meski resolusi Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata segera.

    Serangan tersebut menewaskan lebih dari 40.200 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 93 ribu luka-luka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang terus berlangsung di Gaza menyebabkan kelangkaan akut pada bahan makanan, air bersih dan obat, dan menyebabkan kehancuran pada sebagian besar wilayah tersebut.

    Israel menghadapi tudingan melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah, di mana lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum wilayah itu diserang pada 6 Mei.

    Sumber: Anadolu-OANA

  • Pembicaraan Gencatan Senjata di Gaza Tak Alami Kemajuan Berarti

    Pembicaraan Gencatan Senjata di Gaza Tak Alami Kemajuan Berarti

    7cloud.asia – Para perunding gencatan senjata di Gaza dan penyanderaan berupaya menjembatani kesenjangan antara Israel dan Hamas dengan membahas proposal kompromi baru di Kairo, Mesir, Sabtu (24/8/2024).

    Namun tidak ada indikasi kemajuan yang dicapai Israel dan Hamas, meski perundingan gencatan senjata telah berlangsung selama berjam-jam.

    Pembicaraan di Kairo terjadi ketika situasi kemanusiaan di Gaza memburuk, dengan melonjaknya malnutrisi dan polio yang ditemukan di wilayah kantong Palestina.

    Dua sumber keamanan Mesir mengatakan bahwa delegasi Hamas tiba di Kairo pada Sabtu untuk meninjau setiap proposal yang muncul dalam pembicaraan utama antara Israel dan mediator Mesir, Qatar dan Amerika Serikat (AS).

    Seorang pejabat AS mengatakan para perunding dari AS bertemu dengan Mesir, kemudian dengan perwakilan Mesir dan Qatar pada Sabtu. Pejabat AS itu meyakini bahwa perwakilan dari Mesir dan Qatar sedang bertemu dengan Hamas.

    Baca Juga: Israel Hanya Sisakan 9,5 Persen Wilayah Zona Aman Bagi Pengungsi Palestina di Gaza

    Pejabat Palestina mengatakan delegasi Hamas kembali ke Doha, Qatar, setelah pengarahan mengenai putaran perundingan berakhir.

    Pembicaraan yang berlangsung selama berbulan-bulan gagal menghasilkan terobosan untuk mengakhiri serangan militer Israel yang menghancurkan di Gaza atau membebaskan sisa sandera yang masih disandera oleh Hamas dalam serangan kelompok militan tersebut pada 7 Oktober yang memicu perang.

    Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut penghitungan Israel. Otoritas kesehatan Palestina mengatakan serangan balik Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 40.000 orang.

    Sumber-sumber Mesir mengatakan usulan baru tersebut mencakup kompromi pada poin-poin penting seperti bagaimana mengamankan wilayah-wilayah penting dan pemulangan orang ke Gaza utara.

    Namun, tidak ada tanda-tanda adanya terobosan pada poin-poin penting, termasuk desakan Israel bahwa mereka harus mempertahankan kendali atas apa yang disebut Koridor Philadelphi, di perbatasan antara Gaza dan Mesir.

    Baca Juga: Hamas: Perundingan Gencatan Senjata Harus Didasarkan pada Pembicaraan yang Telah Ada

    Hamas menuduh Israel menarik kembali hal-hal yang telah disepakati sebelumnya dalam perundingan, tetapi hal itu dibantah Israel. Kelompok tersebut mengatakan Amerika Serikat tidak melakukan mediasi dengan itikad baik.

    Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berselisih dengan para perunding gencatan senjata Israel mengenai apakah pasukan Israel harus tetap berada di sepanjang perbatasan antara Gaza dan Mesir, kata seseorang yang mengetahui perundingan tersebut.

    Lebih banyak peperangan juga berisiko meningkatkan eskalasi baru, karena Iran masih mempertimbangkan pembalasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di wilayahnya bulan lalu.

    Pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran sejak 7 Oktober telah meningkat baru-baru ini, termasuk dengan serangan Israel di Lebanon selatan dan ke Bekaa, dan dengan lebih banyak tembakan roket Hizbullah ke Israel utara.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Mesir Tegas Menolak Kehadiran Israel di Sepanjang Wilayah Perbatasan dengan Gaza

    Mesir Tegas Menolak Kehadiran Israel di Sepanjang Wilayah Perbatasan dengan Gaza

    7cloud.asia – Mesir kembali menolak kehadiran Israel di sepanjang wilayah perbatasan Gaza-Mesir, termasuk penyeberangan perbatasan Rafah dan Koridor Philadelphi.

    Pernyataan itu disampaikan oleh sumber informasi Mesir sebagaimana dikutip saluran Al-Qahera News yang berafiliasi dengan pemerintah Mesir.

    Saat ini, Kairo terus menjadi tuan rumah pembicaraan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan kelompok Hamas yang dilanjutkan Kamis lalu.

    “Mesir menegaskan kembali kepada semua pihak terkait penolakannya terhadap kehadiran Israel (di sisi Palestina) penyeberangan Rafah atau Koridor Philadelphi,” kata sumber tersebut.

    Koridor Philadelphi, zona penyangga demiliterisasi di sepanjang perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, tetap menjadi salah satu titik hambatan utama dalam negosiasi Israel-Hamas.

    Baca: Perundingan gencatan senjata di Gaza berlangsung alot

    “Mesir sedang mengatur mediasi antara dua pihak yang bertikai (Hamas dan Mesir) sesuai dengan keamanan nasionalnya dan melindungi hak-hak rakyat Palestina,” ucapnya.

    Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Mesir melakukan upaya terbaik untuk membawa kedua pihak mencapai konsensus dan mengoordinasikan upayanya dengan Qatar dan Amerika Serikat (AS).

    Selama berbulan-bulan, Qatar, Mesir dan AS berusaha mendorong tercapainya kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk memastikan pertukaran tahanan dan gencatan senjata serta memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.

    Namun upaya mediasi terhenti karena Netanyahu menolak memenuhi tuntutan Hamas untuk menghentikan perang.

    Israel terus melanjutkan serangan brutalnya di Jalur Gaza menyusul aksi penyerbuan kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

     

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Serangan berlanjut Israel di Jalur Gaza telah mengakibatkan lebih dari 40.400 warga Palestina tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Selain itu ada lebih dari 93.400 warga Palestina yang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang sedang berlangsung di Gaza telah menyebabkan warga Palestina kekurangan makanan, pasokan air bersih dan obat-obatan, dan menyebabkan sebagian besar wilayah tersebut hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional yang telah memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah.

    Rafah saat ini menjadi tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum wilayah tersebut diserbu pada 6 Mei.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-OANA