Tag: Israel

  • Israel Izinkan Barang-barang Tertentu Masuk ke Jalur Gaza

    Israel Izinkan Barang-barang Tertentu Masuk ke Jalur Gaza

    7cloud.asia – Militer Israel pada Selasa (5/8/2025) mengatakan bahwa pihaknya akan mengizinkan masuknya barang-barang tertentu ke Jalur Gaza melalui pedagang swasta lokal.

    Langkah ini dilakukan saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa bencana kelaparan terus meluas di daerah kantong Palestina tersebut.

    “Sebuah mekanisme telah disetujui untuk pembaruan secara bertahap dan terkendali atas masuknya barang-barang melalui sektor swasta di Gaza,” demikian menurut sebuah pernyataan dari kantor Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah (Coordination of Government Activities in the Territories/COGAT).

    Baca: Jurnalis internasional teken petisi desak izin peliputan di Gaza

    Ini merupakan unit Kementerian Pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di wilayah Palestina yang diduduki. Langkah itu telah disetujui oleh kabinet Israel.

    “Sebagai bagian dari perumusan mekanisme ini, sejumlah pedagang lokal yang terbatas telah disetujui, dengan kriteria khusus dan melalui pemeriksaan keamanan,” lanjut pernyataan tersebut.

    Barang-barang yang akan diizinkan masuk ke Gaza meliputi produk makanan pokok, makanan bayi, buah-buahan dan sayur-sayuran, serta perlengkapan kebersihan.

    Pembayaran untuk barang-barang ini hanya akan dilakukan melalui transfer bank dan akan diawasi melalui mekanisme pemantauan, papar COGAT, seraya menambahkan bahwa “semua barang akan menjalani pemeriksaan menyeluruh.”

    Baca: Kelaparan di Gaza karena kesengajaan Israel

    Israel melancarkan serangan militernya di Gaza pada Oktober 2023 dan memberlakukan blokade total pada 2 Maret tahun ini.

    Blokade tersebut secara parsial dilonggarkan pada Mei untuk mengizinkan sebuah perusahaan swasta, yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat (AS), membuka pusat-pusat distribusi makanan yang kontroversial.

    Konvoi bantuan dan pengiriman via udara oleh negara-negara Arab dan Eropa dilanjutkan pada akhir Juli, namun para pakar PBB memperingatkan bahwa kelaparan masih berlangsung di wilayah itu.

    Menurut kabar terkini dari otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Senin (4/8/2025), jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah bertambah menjadi 60.933 orang.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Israel Serang Tenda Jurnalis, Empat Wartawan Tewas Salah Satunya Koresponden Al Jazeera

    Israel Serang Tenda Jurnalis, Empat Wartawan Tewas Salah Satunya Koresponden Al Jazeera

    7cloud.asia – Tujuh warga sipil Palestina, termasuk empat wartawan, tewas pada Ahad malam (10/8) akibat serangan artileri Israel yang sengaja menyasar tenda jurnalis di depan Rumah Sakit Al-Shifa yang berada di bagian barat Kota Gaza.

    Koresponden WAFA melaporkan serangan biadab militer Zionis itu menewaskan tujuh warga sipil, termasuk koresponden Al Jazeera Anas Al-Sharif dan Mohammed Qreiqea; wartawan foto Ibrahim Daher dan Mohammed Nofal serta sopir kru.

    Jurnalis lain bernama Mohammed Sobh juga terluka akibat serangan artileri militer Israel tersebut.

    Baca: Serangan Israel kembali tewaskan jurnalis, total 232 orang.

    Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan perang genosida terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas para pejuang Hamas yang menguasai Gaza ke wilayah yang diduduki.

    Perang genosida Israel itu telah menewaskan 61.430 warga Palestina dan melukai 153.213 lainnya. Mayoritas anak-anak dan kaum perempuan.

    Angka korban tewas akibat kebiadaban militer Zionis itu masih terus bertambah. Sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan tergeletak di jalanan. Sementara, ambulans dan tim penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka.

    Sumber: WAFA/Antaranews

  • PBB Kecam Serangan Tentara Israel terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon

    PBB Kecam Serangan Tentara Israel terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan drone Israel terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan pada Selasa (2/9/2025).

    Dalam pernyataan yang dirilis Rabu (3/9/2025) PBB menyebut tindakan Israel tersebut sebagai salah satu insiden paling serius yang menargetkan personel dan aset PBB sejak perjanjian gencatan senjata dicapai November tahun lalu.

    Drone-drone Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) menjatuhkan empat granat pada Selasa (2/9/2025) pagi waktu setempat di dekat pasukan penjaga perdamaian di bawah Pasukan Sementara PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL).

    Pasukan penjaga perdamaian tersebut sedang membersihkan blokade jalan yang menghalangi akses ke posisi PBB dekat Garis Biru, demarkasi perbatasan antara Lebanon dan Israel yang ditetapkan oleh PBB pada 2000.

    Baca: Serangan tentara Israel ke rumah sakit menuai kecaman

    Satu granat mendarat dalam jarak 20 meter dari personel dan kendaraan PBB, sementara tiga granat lainnya jatuh dalam jarak sekitar 100 meter.

    Drone-drone tersebut kemudian terlihat kembali ke area di selatan Garis Biru, kata pernyataan tersebut, yang juga menambahkan bahwa IDF telah diberi tahu sebelumnya tentang pekerjaan pembersihan jalan oleh UNIFIL di area tersebut.

    Pekerjaan pembersihan jalan dihentikan menyusul insiden tersebut karena kekhawatiran akan keselamatan pasukan penjaga perdamaian.

    “Setiap tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian dan aset-aset PBB atau mengganggu tugas yang diamanatkan kepada mereka merupakan hal yang tidak dapat diterima serta pelanggaran serius terhadap Resolusi 1701 dan hukum internasional,” pernyataan tersebut.

    Baca: Anak-anak di Gaza terancam menjadi “Generasi Hilang”

    IDF bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel penjaga perdamaian yang sedang melaksanakan tugas yang diamanatkan oleh Dewan Keamanan PBB.

    Pada 28 Agustus, Dewan Keamanan PBB memperpanjang mandat UNIFIL untuk terakhir kalinya sebelum penarikan pasukan.

    Resolusi 2790, yang disetujui secara bulat oleh dewan yang beranggotakan 15 negara tersebut, memperpanjang mandat UNIFIL hingga 31 Desember 2026, sebelum penarikan pasukan dalam kurun setahun.

    Resolusi tersebut juga menyerukan kepada Israel untuk menarik pasukannya ke utara Garis Biru dan mencabut zona penyangga (buffer zone) yang ditetapkan di utara garis tersebut.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

     

  • Majelis Umum PBB Teken Deklarasi Mendukung Solusi Dua Negara Palestina dan Israel

    Majelis Umum PBB Teken Deklarasi Mendukung Solusi Dua Negara Palestina dan Israel

    7cloud.asia – Dengan suara mayoritas, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mendukung resolusi yang menghidupkan kembali solusi dua negara untuk Israel dan Palestina.

    Dilansir Al Jazeera, dukungan untuk solusi dua negara ini diberikan, kurang dari 24 jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tidak akan pernah ada negara Palestina.

    “Deklarasi New York”, yang menguraikan “langkah-langkah nyata, berjangka waktu, dan tidak dapat diubah” menuju solusi dua negara, diadopsi pada hari Jumat (12/9/202).

    Deklarasi solusi dua negara ini dengan 142 suara mendukung, 10 suara menentang – termasuk Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat – dan 12 suara abstain.

    Disampaikan oleh Prancis dan Arab Saudi, dokumen setebal tujuh halaman tersebut menyerukan “tindakan kolektif untuk mengakhiri perang di Gaza.

    Baca: Palestina optimistis banyak negara yang dukung solusi dua negara

    Hal ini penting guna mencapai penyelesaian konflik Israel-Palestina yang adil, damai, dan langgeng berdasarkan implementasi efektif solusi Dua Negara”.

    Deklarasi solusi dua negara tersebut juga memerintahkan kelompok perlawanan Palestina, Hamas yang menjalankan pemerintahan di Gaza, untuk “membebaskan semua sandera”.

    Deklarasi tersebut menetapkan bahwa Hamas harus “mengakhiri kekuasaannya di Gaza dan menyerahkan persenjataannya kepada Otoritas Palestina … sejalan dengan tujuan Negara Palestina yang berdaulat dan merdeka”.

    Kementerian Luar Negeri Palestina menyambut baik upaya Saudi-Prancis untuk menciptakan “rencana yang dapat ditindaklanjuti” menuju solusi dua negara.

    Kementerian tersebut juga menyerukan “pengaktifan semua mekanisme untuk mengakhiri pendudukan kolonial Israel” dan “mencapai hak-hak sah rakyat Palestina”.

    Baca: Peluang terwujudnya dua negara Palestina dan Israel

    Upaya untuk ‘memajukan proses negosiasi’
    Dukungan PBB yang tegas terhadap solusi dua negara muncul di tengah pemboman berkelanjutan Israel di Gaza, satu hari setelah Netanyahu menandatangani rencana perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki yang akan membuat negara Palestina di masa depan hampir mustahil.

    Melaporkan dari New York, Kristen Saloomey dari Al Jazeera mengatakan bahwa pemungutan suara tersebut menunjukkan “penolakan yang luar biasa dari komunitas internasional”.

    “Ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran atas kurangnya kemajuan dalam … perundingan, dan upaya komunitas internasional untuk memajukan proses negosiasi,” ujarnya.

    Pemungutan suara ini mendahului KTT PBB mendatang yang diketuai bersama oleh Riyadh dan Paris pada 22 September di New York.

    Dalam KTT ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan beberapa pemimpin lainnya telah berjanji untuk secara resmi mengakui negara Palestina.

    Meskipun 146 anggota PBB telah mendukung negara Palestina, sekitar 10 negara lainnya, termasuk Prancis, Norwegia, Spanyol, Irlandia, dan Inggris, diperkirakan akan bergabung dengan mereka akhir bulan ini.

    Baca: Peluang mewujudkan Palestina merdeka dan berdaulat

  • CPJ Kecam Serangan Israel ke Kantor Surat Kabar Yaman yang Menewaskan 31 Orang

    7cloud.asia – Serangan Israel yang menyasar dua kantor surat kabar di ibu kota Yaman, Sanaa pada 10 September menewaskan setidaknya 31 jurnalis dan pekerja pendukung media.

    Menurut Commitee to Protect Journalist (CPJ), ini merupakan serangan tunggal paling mematikan kedua terhadap pers yang pernah dicatat oleh CPJ, setelah pembantaian Maguindanao 2009 di Filipina.

    Dilansir di lama resminya, CPJ menyebut serangan ini menandakan bahwa pola mematikan Israel dalam menyerang wartawan dan ruang redaksi dengan alasan mereka menerbitkan propaganda “teroris” telah menyebar luas di Timur Tengah.

    “Ini adalah serangan brutal dan tidak beralasan yang menargetkan orang-orang tak berdosa yang kejahatannya hanyalah bekerja di bidang media, hanya berbekal pena dan kata-kata mereka,” kata Nasser Al-Khadri, pemimpin redaksi surat kabar 26 September, yang kantornya diserang.

    Nasser Al-Khadri, menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai “pembantaian jurnalis yang belum pernah terjadi sebelumnya,” dengan serangkaian serangan menghantam ruang redaksinya sekitar pukul 16.45 saat staf sedang menyelesaikan penerbitan surat kabar mingguan tersebut, yang merupakan kantor berita resmi tentara Yaman.

    Seorang anak, yang menemani seorang jurnalis ke tempat kerja, termasuk di antara korban tewas, kata Al-Khadri, sementara 22 jurnalis terluka.

    Baca: Lebih 230 jurnalis tewas saat meliput perang di Gaza

    Insiden ini merupakan serangan tunggal paling mematikan kedua terhadap pers yang pernah dicatat oleh CPJ, setelah pembantaian Maguindanao 2009 di Filipina, di mana 32 wartawan termasuk di antara mereka yang tewas ketika sebuah konvoi disergap.

    Al-Khadri menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas.

    “Militer Israel menghancurkan fasilitas surat kabar, mesin cetak, dan arsip. Arsip 26 September adalah salah satu catatan sejarah terpenting Yaman, yang mendokumentasikan sejarah negara itu sejak abad terakhir, dan kehilangannya sangat menyakitkan,” ujarnya kepada CPJ.

    Menuduh Jurnalis sebagai Teroris
    Serangan Israel di Yaman menggemakan serangan sebelumnya di Gaza, Lebanon, dan Iran, di mana Israel berulang kali gagal membedakan antara target militer dan jurnalis.

    Israel dinilai melakukan pembenaran pembunuhannya dengan menuduh jurnalis sebagai teroris atau propagandis, tanpa bukti yang kredibel.

    Warga sipil, jurnalis dilindungi oleh hukum internasional, termasuk mereka yang bekerja untuk media yang dikelola negara atau yang berafiliasi dengan kelompok bersenjata, kecuali mereka terlibat langsung dalam permusuhan.

    Baca: Penghargaan Guillermo Cano 2024 untuk para jurnalis Palestina peliput perang di Gaza

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan dalam surel, “Departemen Hubungan Masyarakat rezim teroris bertanggung jawab untuk mendistribusikan dan menyebarluaskan pesan-pesan propaganda di media, termasuk pidato-pidato pemimpin Houthi Abdul-Malik dan pernyataan dari jaksa Yahya Saree.”

    IDF mengatakan serangan itu merupakan respons atas serangan berulang Houthi terhadap Israel, yang telah dinyatakan oleh pemberontak sebagai solidaritas dengan Palestina sejak perang Israel-Gaza dimulai pada tahun 2023.

    Houthi yang didukung Iran menguasai Sanaa pada tahun 2014 dan telah memerangi koalisi yang didukung Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional selama satu dekade.

    Abdulrahman Mohammed Mutahar, seorang jurnalis yang tinggal 500 meter dari lokasi kejadian, mengatakan kepada CPJ bahwa serangan itu menyebabkan “ledakan besar yang belum pernah terjadi di Sanaa sejak 2015.”

    Ia mengatakan sekitar delapan rudal menghancurkan markas Direktorat Bimbingan Moral, meninggalkan beberapa jenazah jurnalis terkubur di bawahnya.

    Baca: Federasi Jurnalis Dunia tuntut Israel karena tak laksanakan rekomendasi mahkamah internasional

    “Menargetkan jurnalis bertujuan untuk membungkam kebenaran,” ujar Nabil Al-Asidi, anggota dewan Sindikat Jurnalis Yaman, kepada CPJ, menambahkan bahwa beberapa dari mereka yang tewas adalah anggota terkemuka dan lama di serikatnya.

    CPJ telah lama mendokumentasikan taktik Israel dalam menggambarkan jurnalis sebagai kombatan untuk membenarkan pembunuhan mereka.

    Beberapa bulan sebelum perang Gaza saat ini, laporan “Pola Mematikan” CPJ tahun 2023 merinci lima klaim terorisme atau aktivitas militan yang tidak berdasar terhadap jurnalis yang dibunuh oleh pasukan Israel antara tahun 2004 dan 2018.

    CPJ mengklasifikasikan 31 pembunuhan yang dilakukan Israel di Yaman sebagai pembunuhan — penargetan yang disengaja terhadap jurnalis karena pekerjaan mereka.

    Sebelum serangan 10 September, CPJ telah menetapkan bahwa lebih dari dua lusin jurnalis dan pekerja media lainnya telah dibunuh oleh Israel setelah dimulainya perang pada 7 Oktober 2023.

  • Serangan Udara di Gaza Tetap Berlangsung, Meski Telah Sepakat Gencatan Senjata

    Serangan Udara di Gaza Tetap Berlangsung, Meski Telah Sepakat Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Pejabat Pertahanan Sipil Gaza, Mohammed Al-Mughayyir pada Kamis (09/10/2025) mengungkapkan bahwa wilayah kantong Palestina tersebut kembali menghadapi beberapa kali serangan udara usai pengumuman kesepakatan antara Hamas dan Israel.

    Kelompok perjuangan Palestina itu, bersama dengan Israel menyepakati tahap pertama rencana perdamaian Gaza yang diusulkan Amerika serikat.

    Sebelumnya pada Rabu (8/10/20205), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama perjanjian damai Gaza.

    Baca: Hamas Tuntut Jaminan Israel Akhiri Perang

    Hamas kemudian mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan yang meliputi berakhirnya perang di Jalur Gaza, penarikan pasukan Zionis Israel, pengiriman bantuan serta pertukaran tahanan.

    “Sejak kesepakatan kerangka kerja gencatan senjata yang diusulkan di Gaza diumumkan tadi malam, sejumlah ledakan telah dilaporkan, terutama di wilayah-wilayah Gaza utara,” kata Al-Mughayyir, seperti dikutip kantor berita AFP.

    Sumber: AntaranewsSputnik/RIA Novosti-OANA

     

  • Israel Cabut Status Darurat di Wilayah Selatan

    Israel Cabut Status Darurat di Wilayah Selatan

    7cloud.asia – Israel pada Senin (27/10/2025) resmi mencabut status “situasi khusus” di wilayahnya untuk pertama kali sejak serangan mendadak Hamas pada Oktober 2023.

    Pencabutan status siaga tinggi di wilayah selatan Israel itu berlaku pada Selasa (28/10/2025) pagi waktu setempat.

    Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa ia telah menerima rekomendasi militer untuk mengakhiri status tersebut.

    “Langkah ini mencerminkan realitas keamanan baru di bagian selatan negara yang telah dicapai,” ujar Katz.

    Baca: Gaza hadapi masa depan yang penuh tantangan

    Status “situasi khusus” adalah status darurat yang diumumkan ketika ada kemungkinan besar terjadi serangan terhadap warga sipil.

    Status darurat ini diterapkan di wilayah selatan Israel yang berbatasan dengan Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Meskipun status darurat dicabut, Katz menegaskan bahwa tujuan perang Israel tidak berubah.

    “Bersamaan dengan kembalinya semua sandera, kami berkomitmen penuh untuk mencapai semua tujuan perang yang telah ditetapkan, pertama dan terutama adalah pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza,” katanya.

    Baca: 83 Persen bangunan di Gaza hancur akibat perang

    Sebelumnya pada Minggu, pemimpin Israel Benjamin Netanyahu menekankan sikap tegas pemerintahannya di tengah konflik yang masih berlangsung.

    Dia menyatakan bahwa Israel tidak akan meminta izin untuk melancarkan serangan di Gaza atau di tempat lain, bahkan setelah menyepakati gencatan senjata.

    Serangan balasan Israel di Gaza setelah serangan mendadak Hamas pada Oktober 2023 telah menyebabkan 68.527 orang tewas dan 170.395 orang luka-luka, menurut data otoritas kesehatan Gaza yang dirilis pada Senin.

    Sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai diberlakukan pada 10 Oktober lalu, 93 orang tewas dan 337 luka-luka di wilayah kantong Palestina itu.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • PBB: 144 Warga Sipil Lebanon Tewas Akibat Serangan Israel Pasca Gencatan Senjata

    PBB: 144 Warga Sipil Lebanon Tewas Akibat Serangan Israel Pasca Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Kantor hak asasi manusia PBB, Kamis (13/11/2025) melaporkan bahwa pelanggaran oleh Israel terhadap gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah di Lebanon telah menewaskan 114 warga sipil.

    Juru bicara kantor tersebut, Thameen Al-Kheetan, mengatakan bahwa pihaknya memantau serangan udara Israel di desa-desa Lebanon selatan dan mencatat bahwa angka kematian warga sipil terus meningkat sejak gencatan senjata dimulai.

    Thameen menekankan bahwa dampak mematikan yang terus menerus terhadap warga sipil “harus segera dihentikan,”

    Baca: 8 Negara siap tangkap Benjamin Netanyahu

    Dia mengatakan bahwa penduduk di wilayah tersebut telah hidup dalam ketidakstabilan dan ketakutan selama lebih dari dua tahun.

    Thameen juga menyerukan kepatuhan Israel dan mendesak terhadap perjanjian penghentian permusuhan serta hukum humaniter internasional.

    Tentara Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 lainnya dalam serangannya di Lebanon, yang dimulai pada Oktober 2023 dan berkembang menjadi serangan besar-besaran pada September 2024.

    Baca: Serangan Israel ke Gaza berlanjut usai gencatan senjata

    Israel dan Hizbullah telah bersepakat untuk melakukan gencatan senjata yang dimulai pada 27 November 2024.

     

    Tentara Israel ke Gaza (Palestina) juga terus berlanjut meski telah dicapai kesepakatan gencatan senjata pada Oktober lalu.

    BBC melaporkan, serangan ini menghancurkan lebih dari 1.500 bangunan di Gaza dan menewaskan lebih dari 200 orang.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Langgar Kesepakatan, Israel Kembali Lancarkan Serangan di Jalur Gaza Hingga 22 Orang Tewas

    Langgar Kesepakatan, Israel Kembali Lancarkan Serangan di Jalur Gaza Hingga 22 Orang Tewas

    7cloud.asia – Pertahanan Sipil Gaza pada Sabtu (22/11/2025) mengatakan bahwa Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Jalur Gaza, menyebabkan setidaknya 22 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka di wilayah kantong tersebut.

    Menurut Mahmoud Bassal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, korban tewas termasuk seorang komandan dari Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas.

    Seorang sumber Hamas, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan kepada Xinhua bahwa gerakan tersebut menyampaikan “kemarahan” mereka kepada tim mediator regional atas serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza

    Padahal kelompok Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya mematuhi perjanjian gencatan senjata.

    Baca: Serangan Israel ke Palestina Berlanjut Pasca Gencatan Senjata

    Sumber tersebut menambahkan bahwa Hamas mendesak para mediator untuk segera mengintervensi guna mencegah runtuhnya kesepakatan yang diinginkan Israel.

    Dia menekankan bahwa gerakan Hamas dan faksi-faksi lain tetap berkomitmen pada gencatan senjata meskipun terjadi eskalasi.

    Sumber itu juga memperingatkan bahwa pembunuhan terus-menerus yang dilakukan oleh Israel terhadap warga di Gaza yang sering disebut sebagai wilayah kantong tersebut.

    Dia menggambarkan sebagai “tekanan lambat” dari Amerika Serikat (AS) terhadap Israel untuk menahan aksinya, dapat mendorong situasi menuju potensi kekacauan.

    Baca: Israel Tolak Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza

    Tentara Israel melancarkan serangan besar-besaran di beberapa area di Jalur Gaza pada Sabtu sore waktu setempat, yang menyebabkan banyak korban, menurut sumber medis setempat.

    Sejak gencatan senjata di Gaza berlaku pada Oktober, serangan Israel telah menewaskan 318 orang dan melukai 788 lainnya, sehingga total korban tewas sejak 7 Oktober 2023 menjadi 69.733 orang.

    Adapun jumlah korban luka menjadi 170.863 orang, menurut otoritas kesehatan di Gaza.

    (Antaranews/Xinhua)

  • Hampir 9300 Anak Balita di Gaza Alami Malnutrisi Akut

    Hampir 9300 Anak Balita di Gaza Alami Malnutrisi Akut

    7cloud.asia – UNICEF pada Sabtu (29/11/2025) melaporkan bahwa hampir 9.300 anak di bawah usia 5 tahun (balita) di Gaza didiagnosis menderita malnutrisi akut parah pada Oktober.

    “Tingkat malnutrisi yang tinggi terus membahayakan nyawa dan kesejahteraan anak-anak di Jalur Gaza, diperparah dengan datangnya cuaca musim dingin yang mempercepat penyebaran penyakit dan meningkatkan risiko kematian di antara anak-anak yang paling rentan,” kata badan PBB tersebut dalam sebuah pernyataan di situs webnya.

    Badan tersebut menyayangkan masih terhambatnya sejumlah besar pasokan musim dingin di perbatasan Gaza dan menyerukan pengiriman bantuan kemanusiaan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan ke wilayah tersebut.

    Baca: Sebanyak 70 Ribu Orang Tewas Akibat Perang di Jalur Gaza

    “Saat cuaca musim dingin tiba, ribuan keluarga pengungsi tetap berada di tempat penampungan sementara tanpa pakaian hangat, selimut, atau perlindungan dari cuaca, sementara hujan deras telah menghanyutkan sampah dan limbah melalui banjir dan masuk ke daerah pemukiman,” tambah badan tersebut.

    Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell mengatakan bahwa “meskipun ada kemajuan, ribuan anak di bawah usia lima tahun masih mengalami malnutrisi akut di Gaza, sementara banyak lagi yang tidak memiliki tempat berlindung, sanitasi, dan perlindungan yang layak terhadap musim dingin,” demikian pernyataan tersebut.

    Russell juga menyerukan pembukaan semua penyeberangan ke Jalur Gaza, dengan prosedur izin yang disederhanakan dan dipercepat serta prioritas yang jelas untuk masuknya pasokan kemanusiaan melalui semua rute pasokan yang memungkinkan, termasuk melalui Mesir, Israel, Yordania, dan Tepi Barat.

    Baca: Serangan Israel ke Gaza Berlanjut Usai Gencatan Senjata

    Peringatan tersebut disampaikan mengingat meski gencatan senjata disepakati, dan mulai berlaku pada Oktober, Gaza tetap menghadapi tekanan kemanusiaan yang semakin meningkat.

    Kantor media pemerintah mengatakan pada Rabu bahwa badai musim dingin baru-baru ini merusak sekitar 22.000 tenda yang melindungi keluarga-keluarga yang mengungsi dan menyebabkan lebih dari 288.000 rumah tangga tanpa perlindungan dari dingin dan hujan.

    Pihak berwenang di Gaza memperkirakan wilayah tersebut membutuhkan sekitar 300.000 tenda dan unit rumah prefabrikasi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal paling dasar bagi warga Palestina, setelah Israel menghancurkan infrastruktur sipil selama dua tahun perang.

    Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah menewaskan hampir 70.000 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 170.900 lainnya dalam perang yang berlangsung lebih dari dua tahun dan menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut.

    Sumber: Antaranews/Anadolu