Tag: prabowo

  • Catatan Kritis 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran: Ruang Kebebasan yang Semakin Menyusut

    Catatan Kritis 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran: Ruang Kebebasan yang Semakin Menyusut

    7cloud.asia – Dalam 100 hari memimpin, pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) mendapat kritik di berbagai bidang, seperti lingkungan, ekonomi, demokrasi, HAM, politik luar negeri, hingga program Makan Bergizi Gratis.

    Berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai memperkuat warisan Joko Widodo yang lebih menguntungkan oligarki namun merugikan rakyat dan lingkungan

    Dalam pernyataan tertulis yang dirilis di laman resminya, Greenpeace dan Celios menilai emerintahan Prabowo-Gibran kembali pada pola lama solusi instan yang gagal menyelesaikan masalah struktural secara mendalam.

    Di sektor demokrasi dan HAM ada sejumlah catatan. Dalam kurang dari sebulan menjabat, Presiden Prabowo diduga mendukung calon kepala daerah dalam Pilkada serentak November 2024.

    Greenpeace dan Celios melihat, tindakan ini tidak etis dan melanggar UU nomor 10 tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur Bupati dan Walikota atau UU Pilkada.

    Pasal 71 ayat 1 UU No. 10 Tahun 2016, melarang pejabat negara menguntungkan pasangan calon tertentu. Pejabat yang melanggar diancam pidana dan denda.

    Baca: Rapor merah 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran di sektor lingkungan

    Selain itu, ruang kebebasan sipil juga menyusut dalam 100 hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Hal ini ditandai dengan tindakan represi, impunitas, dan kriminalisasi terhadap aktivis.

    Pernyataan kontroversial seperti pengampunan koruptor dan wacana Pilkada tidak langsung memperkuat keraguan atas komitmen pemerintah terhadap demokrasi.

    “Minimnya ruang untuk meminta akuntabilitas membuka peluang pemerintah memperlemah sistem demokrasi,” ujar Direktur Eksekutif Greenpeace, Leonard Simanjutak.

    Politik Luar Negeri
    Dalam 100 hari pertama, kepemimpinan Prabowo-Gibran membawa perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

    Tak lama setelah dilantik, Prabowo segera mengumumkan bergabungnya Indonesia ke BRICS, menunjukkan upaya untuk mengkalibrasi ulang aliansi global.

    Baca: Catatan kritis terhadap kinerja ekonomi 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran

    Namun, keputusan ini menuai kritik karena dinilai berisiko mengorbankan independensi ekonomi dan geopolitik, tanpa manfaat ekonomi yang jelas.

    Gaya kepemimpinan Prabowo yang pragmatis fokus pada kerja sama bilateral dengan negara-negara besar seperti China dan AS.

    Kepercayaan diri ini mencerminkan ambisinya menjadikan Indonesia pemain utama dalam geopolitik global.

    Direktur China-Indonesia Celios, Muhammad Zulfikar Rakhmat, mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam hubungan dengan Cina.

    “Indonesia harus berhati-hati agar kedekatan dengan Tiongkok tidak mengorbankan kepentingan nasional, terutama dalam isu sensitif seperti Laut Cina Selatan,” ujarnya.

    Baca: Kebijakan PPN 12 Persen Akan Sulitkan Masyarakat Menengah Bawah

    Makan Bergizi Gratis
    Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu quick wins andalan kampanye Prabowo-Gibran saat Pilpres 2024, diharapkan mendorong pengembangan SDM unggul.

    Namun, Greenpeace dan Celios menilai implementasinya terkesan tergesa-gesa dan kurang matang.

    Pemerintah mengalokasikan Rp 71 triliun dalam RAPBN 2025 untuk Program MBG, namun anggaran ini hanya mencakup periode Januari-Juni dengan asumsi Rp10.000 per porsi.

    Hingga akhir tahun, biaya diprediksi mencapai Rp 420 triliun, yang berisiko memperlebar defisit fiskal. Peluncuran program pada 6 Januari untuk 600 ribu siswa di 26 provinsi menuai kritik terkait kuantitas, kualitas gizi, ketepatan pengiriman, dan menu makanan.

    Greenpeace juga menyoroti potensi peningkatan food waste. Analisis Walhi menunjukkan tiap siswa menghasilkan 25-50 gram sisa makanan, menambah 425-850 ton sampah per hari.

    “Meski penggunaan wadah stainless steel positif, peningkatan food waste ini berpotensi menambah emisi gas rumah kaca hingga 127,5-255 ton CO2e per hari,” kata Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia.

  • Menyorot Efisiensi Anggaran Pemerintahan Prabowo: Sulit Jadi Negara Maju Jika Anggaran Pendidikan dan Riset Dibabat

    Menyorot Efisiensi Anggaran Pemerintahan Prabowo: Sulit Jadi Negara Maju Jika Anggaran Pendidikan dan Riset Dibabat

    7cloud.asia – Belum genap empat bulan memerintah, rezim Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka kembali menciptakan kegaduhan publik, utamanya melalui kebijakan efisiensi anggaran dengan pemangkasan anggaran negara yang signifikan.

    Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 136 dari total 152 kementerian/lembaga pemerintah menjadi target efisiensi anggaran hingga Rp256,1 triliun dan efisiensi transfer ke daerah sebesar Rp50,5 triliun.

    Pemerintah mengklaim efisiensi anggaran tersebut bertujuan untuk membiayai program makan bergizi gratis (MBG), program populis unggulan Prabowo. Ada pula dana efisiensi yang akan dimasukkan ke Danantara, superholding BUMN ciptaan Prabowo.

    Pemangkasan anggaran negara memang tidak selalu buruk. Namun, hal yang mengecewakan publik adalah bahwa anggaran sektor pendidikan dan riset juga ikut dipangkas signifikan.

    Pagu 2025 anggaran Kemendikdasmen dipangkas dari Rp33,5 triliun menjadi Rp26,2 triliun dan Kemendiktisaintek dipangkas dari Rp57,6 triliun menjadi Rp43,3 triliun.

    Jika pemerintah bijak, alih-alih memprioritaskan kebijakan populis yang berumur pendek, pemerintah seharusnya mengalokasikan anggaran lebih banyak untuk riset, peningkatan kualitas pendidikan vokasi.

    Dan juga memberikan insentif bagi industri teknologi lokal yang lebih memiliki efek pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dalam jangka panjang.

    Pasalnya, dari perspektif sosio-ekonomi, kebijakan populis seperti makan bergizi gratis dan bantuan langsung tunai berisiko menciptakan mentalitas ketergantungan pada pemerintah dan mencegah masyarakat yang berpikir kritis. Ini jauh dari tujuan pemerintah memajukan kualitas SDM.

    Baca: Efisiensi anggaran Prabowo ancam pemenuhan hak dasar rakyat

    Negara maju berinvestasi pada pendidikan
    Negara-negara maju menekankan kemandirian warganya, bukan kebijakan jangka pendek yang berorientasi pada bantuan langsung.

    Tugas utama pemerintah bukan sekadar memberikan makan gratis atau bantuan tunai dengan manfaat sesaat, melainkan memastikan masyarakat dapat mengakses pendidikan setinggi-tingginya.

    Dengan pendidikan rakyat berpeluang memiliki pekerjaan dengan upah yang layak agar mampu memenuhi kebutuhannya—dan pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan nasional.

    Sebagai contoh, Singapura secara konsisten berinvestasi besar di bidang pendidikan, inovasi, dan pengembangan SDM.

    Meskipun anggaran pendidikannya tidak sebesar Indonesia, sekitar 12,4 persen dari APBN, pemerintah Singapura fokus pada pendidikan teknis, kewirausahaan, dan inovasi, ditambah program pelatihan keahlian di berbagai sektor industri di bawah naungan SkillsFuture.

    Hasilnya, kontribusi SDM terhadap pertumbuhan ekonominya sangat signifikan, memungkinkan pemerintah memiliki surplus anggaran untuk memenuhi berbagai kebutuhan negara, salah satunya pendidikan berkualitas.

    Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan besar di bidang pendidikan dan pengembangan SDM. Meskipun anggaran pendidikan relatif besar, yakni 20 persen dari APBN, efektivitas penggunaannya masih rendah.

    Ini terjadi akibat rendahnya kualitas tenaga pengajar, akses pendidikan yang sulit di daerah tertinggal, terdepan, dan terbelakang (3T), dan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.

    Baca: Kisah sukses efisiensi anggaran di sejumlah negara

    Hasilnya, kontribusi SDM terhadap pertemubuhan ekonomi rendah, sehingga pemerintah kesulitan mendapatkan pendapatan yang cukup untuk berinvestasi lebih besar di sektor pendidikan.

    Contoh lain adalah Korea Selatan yang berhasil mengembangkan ekonominya bukan hanya melalui pasar konsumsi yang besar namun melalui produktivitas tinggi dan inovasi teknologi.

    Sejak 1960-an, pemerintah Korea Selatan berinvestasi besar dalam pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematic) dan R&D (Research and Development).

    Dengan strategi ini, Korea Selatan bertransformasi dari negara berkembang menjadi salah satu negara ekonomi terkuat di dunia, dengan sektor teknologi dan manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

    Sebaliknya, Indonesia masih terlalu bergantung pada ekonomi konsumsi. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia banyak ditopang oleh besarnya pasar domestik, bukan karena produksi atau inovasi yang kompetitif secara global.

    Kontribusi industri manufaktur dan teknologi masih terbatas, sementara sektor informal masih mendominasi tenaga kerja.

    Jika dibandingkan dengan Korea Selatan yang memiliki rasio pengeluaran R&D sebesar 5,21 persen dari PDB 2022, Indonesia hanya mengalokasikan 0,24 persen dari PDB 2022.

    Dengan adanya angka ini, wajar jika Indonesia minim produk maupun inovasi dalam negeri, sehingga dibanjiri produk luar negeri, salah satunya dari Korea Selatan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Dadang I K Mujiono
    (Faculty member of International Relations Department, Universitas Mulawarman)

  • Dasco Isyaratkan Pertemuan Megawati dan Prabowo Akan Segera Terealisasi

    Dasco Isyaratkan Pertemuan Megawati dan Prabowo Akan Segera Terealisasi

    7cloud.asia – Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan kans pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri semakin kuat.

    Hal ini diungkapkan Dasco yang bersama Puan Maharani (putri Megawati) menghadiri gelar griya Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani di Kompleks Widya Chandra, Jakarta pada Rabu (2/4/2025).

    Dasco mengaku sudah berbicara dengan Puan Maharani mengenai rencana pertemuan dua pemimpin elite politik itu.

    “Kami sepakat (pertemuan) itu secepatnya. Tadi sempat ngomong sedikit sama Mbak Puan,” kata Dasco usai silaturahmi di rumah Ketua MPR tersebut seperti dikutip Tempo.co.

    Baca: Prabowo berharap bisa bertemu Megawati usai dilantik

    Pada momen yang sama, Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani mengatakan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto akan segera menggelar pertemuan dalam waktu dekat.

    Pertemuan antara ketua umum partai banteng dan Presiden Prabowo itu akan dilaksanakan seusai momen libur Lebaran 2025.

    “Setelah lebaran ini, setelah libur lebaran akan ada pertemuan secepatnya,” ujar Puan.

    Ketua DPR itu enggan menyebutkan secara detail kapan pertemuan antara Megawati dan Prabowo itu akan dilaksanakan. Dia hanya menyebut pertemuan itu akan diselenggarakan secepatnya. “Secepat-cepatnya,” kata dia.

    Baca: Megawati isyaratkan PDI Perjuangan tak masuk dalam pemerintahan Prabowo

    Puan mengatakan kedua tokoh politik itu belum bertemu pada momen Lebaran ini karena terhalang kesibukan masing-masing.

    Apalagi, kata dia, Megawati juga tidak menyelenggarakan open house atau gelar griya di kediamannya yang terletak di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

    Pertemuan antara Megawati dan Prabowo sudah dibahas usai Pemilu, Februari tahun lalu. Namun, hingga hari ini pertemuan itu tak kunjung terealisasi.

  • Populisme Prabowo-Gibran: Memperkuat Polarisasi, Menghilangkan Oposisi

    Populisme Prabowo-Gibran: Memperkuat Polarisasi, Menghilangkan Oposisi

    7cloud.asia – Belum ada setengah tahun menjabat, Presiden Prabowo Subianto telah mewarnai negara dengan nuansa populisme yang cukup “merepotkan” publik.

    Mulai dari pembentukan kabinet gemuk, pemangkasan anggaran dan realokasi belanja negara termasuk untuk pendidikan dan riset—guna membiayai program populis Makan Bergizi Gratis (MBG)—hingga meloloskan revisi Undang-Undang (UU) TNI yang memberikan militer lebih banyak ruang di jabatan sipil.

    Kesehatan dan pendidikan tidak dijadikan prioritas. Pemutusan hubungan kerja (PHK) dibiarkan. Namun, militer justru diberi “lowongan kerja” tambahan.

    Pengambilan kebijakan dan koordinasi antarlembaga di tingkat pusat masih serampangan, jauh dari kata musyawarah, hanya mengandalkan sentimen publik sebagai legitimasinya.

    Kecenderungan ini memungkinkan meluasnya polarisasi masyarakat sekaligus meningkatnya pengawasan kepada mereka yang berseberangan suara. Dalam skala yang lebih luas, ini dapat mendorong bangkitnya kembali era otoritarianisme di Indonesia.

    Praktik populisme: Baik atau buruk?
    Cas Mudde, ilmuwan politik asal Belanda, mendefinisikan populisme sebagai sebuah ideologi yang membelah masyarakat menjadi dua kubu, yakni “rakyat murni” yang melawan “elite korup.”

    Menurut Chantal Mouffe, ahli teori politik asal Belgia, populisme kiri merupakan alat demokratisasi yang menantang dominasi elite demi keadilan sosial. Sementara itu, menurut filsuf Inggris Margaret Canovan, populisme kanan cenderung mengusung nasionalisme yang bersifat eksklusif dan anti-imigran.

    Kebijakan populisme memang bisa menawarkan solusi cepat atas ketidakpuasan rakyat, namun seringkali berdampak buruk pada perekonomian negara.

    Di Venezuela, misalnya, mantan Presiden Hugo Chávez membangun [program sosial ambisius](https://www.cfr.org/timeline/venezuelas-chavez-era), tetapi kemudian ekonomi negara tersebut ambruk akibat ketergantungan pada ekspor minyak dan utang luar negeri.

    Contoh lainnya adalah Argentina yang berulang kali mengalami inflasi tinggi akibat kebijakan populis yang mengabaikan keberlanjutan fiskal.

    Di Indonesia, populisme hadir dalam berbagai kebijakan yang populer seperti subsidi besar-besaran atau proyek infrastruktur di daerah.

    Program tersebut dapat menarik dukungan masyarakat terhadap pemerintah, namun membawa risiko besar karena berdampak pada ketahanan ekonomi jangka panjang. Populisme lebih sering menjadi bom waktu yang meninggalkan beban ekonomi dan politik bagi generasi berikutnya.

    Paradoks populisme era Prabowo
    Sejak awal, Prabowo telah melakukan kesalahan orientasi dalam penentuan arah kebijakan. Ia lebih memilih menerapkan program kerja jangka pendek yang memikat segmen masyarakat tertentu saja. Ini termasuk program MBG dan bantuan sosial bansos.

    Populisme semacam ini dapat memantik polarisasi, karena dapat membelah pandangan masyarakat. Ada yang loyalis, ada pula yang apatis, bahkan skeptis dan sinis.
    Polarisasi ini meluas ketika pemerintah memulai agenda efisiensi anggaran dan strategi realokasi sumber daya. Padahal dari awal saja Prabowo membentuk struktur kabinet gemuk, yang sangat bertolak belakang dengan urgensi efisiensi anggaran.

    Lucunya, pemerintah kemudian memandang fragmentasi ini sebagai sesuatu yang lazim, dengan mengklaim secara subjektif bahwa tidak semua hal harus memuaskan semua pihak.

    Kritik dan aspirasi publik seringkali dibingkai sebagai gangguan, seakan publik enggan untuk berkolaborasi dengan pemerintah. Padahal, kritik harusnya menjadi masukan strategis bagi pembuat kebijakan.

    Berbagai studi komparatif politik telah membuktikan bahwa populisme justru menjadi penyebab lahirnya perpecahan di masyarakat.

    Dalam konsep good populism (populisme baik), proses konsolidasi partai-partai politik cenderung lebih cair, sehingga proses pembuatan kebijakan lebih berorientasi pada mekanisme check and balance ketimbang acceptance and rejection.

    Namun, di Indonesia, konsep populisme yang terlihat adalah ketika partai politik berkonsolidasi dan hanya demi memenangkan pemilu. Setelah menang, mereka kemudian hanya mementingkan bagi-bagi jabatan.

    Hilangnya oposisi
    Konsekuensi logis dari berjayanya rezim populis Prabowo tidak hanya menguatnya polarisasi masyarakat, tetapi juga melemahnya kehadiran oposisi.

    Prabowo tampak menempatkan mereka yang berseberangan paham sebagai musuh, ketimbang oposisi dan agen kontrol kebijakan. Contohnya adalah “…yang tidak mendukung hal ini (program MBG) silakan keluar dari pemerintahan yang saya pimpin” yang ia lontarkan pada sidang kabinet paripurna Oktober lalu.

    Prabowo pernah merespons kritik dengan ujaran “ndasmu”. Ini mencerminkan sikap antikritik yang mengikis peran oposisi dalam demokrasi.

    Pernyataan itu bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi sinyal bahwa kritik maupun pendapat yang bersebrangan dianggap tidak relevan dalam lanskap politik yang ia bangun. Alih-alih membiarkan oposisi tumbuh, ia justru menciptakan politik akomodasi yang menutup ruang bagi perbedaan.

    Aspirasi publik melalui kekuatan oposisi pun mulai redup. Carut marut problem internal PDI Perjungan sebagai partai oposisi terbesar saat ini hingga kemelut kasus korupsi yang menjerat kadernya, memaksa PDI Perjuangan untuk bermain aman dan minim konfrontasi sebagaimana biasanya.

    Jangankan menunjukkan sikap prorakyat, petinggi PDIP Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI pun ikut serta meloloskan revisi UU TNI yang kontroversial.

    Pelemahan institusi demokratis seperti parlemen pun kian terlihat. Kontrol terhadap kebijakan pemerintah melemah dan terbias oleh ramainya anggota parlemen berlatar selebritas yang pemenangannya juga didukung oleh basis massa populis.

    Saat eksistensi oposisi melemah, maka rezim populis akan makin memiliki kontrol dominan terhadap proses pengambilan kebijakan yang mementingkan elite. Ini akan mengikis kebebasan di ruang sipil serta memperluas potensi konflik sosial.

    Populisme yang mengancam demokrasi
    Menurut sebuah studi filsafat politik, dalam skema negara populis, identitas rakyat seakan menjadi “penanda kosong”, bukan sebuah unit sosial yang konstan dan stabil.

    Artinya, rakyat hanya menjadi alat untuk mendulang suara dalam pemilu, lalu kondisi rakyat hanya mengikuti proses politik yang dijalankan oleh elite pemerintah saja.

    Dalam konteks ini, rakyat tidak dianggap eksis sebagai pilar utama di dalam negara demokrasi sehingga suara maupun kritiknya tidak perlu didengar.

    Konsep seperti inilah yang menjadi cikal bakal pola otoritarianisme–hanya saja dikemas dalam strategi populis. Program ketahanan pangan, misalnya, terlihat sebagai kebijakan prorakyat.

    Padahal kebijakan ini dapat melanggengkan monopoli sektoral. Lahirnya lembaga yang imun terhadap mekanisme pemantauan publik seperti Danantara juga menjadi kontrol elite yang dibungkus seakan menjadi kebijakan prorakyat.

    Masyarakat harus melawan
    Strategi “pecah belah, lalu kuasai” merupakan strategi utama yang memungkinkan seorang pemimpin populis mendominasi negara.

    Pemimpin populis yang paling sukses adalah mereka yang berhasil melanggengkan perpecahan dan konflik sebagai sarana untuk meraih kuasa.

    Maka dari itu, masyarakat harus mulai menyadari fenomena ini sebagai tantangan bersama dan menyikapi perbedaan yang ada untuk membulatkan suara dan bersatu dalam menolak pemisahan sosial.

    Artikel ini sebelumnya telah terbit di The Conversation, Penulis: Lalu Ary Kurniawan Hardi (Dosen Universitas Airlangga)

  • Peringati 27 Tahun Reformasi, Aktivis Lintas Generasi: Perlu Reshuffle Kabinet

    Peringati 27 Tahun Reformasi, Aktivis Lintas Generasi: Perlu Reshuffle Kabinet

    7cloud.asia – Sejumlah aktivis lintas generasi dari era 70-an, 80-an, 90-an dan 2000-an berkumpul memperingati 27 tahun reformasi di Hotel JS. Luwansa, Jakarta. Mereka menyoroti banyak hal. Salah satunya melakukan reshuffle kabinet.

    Dalam paparannya, pakar hukum Tata Negara Universitas Andalas (Unand), Feri Amsari menganggap penting mengganti sejumlah menteri di kabinet saat ini.

    “Bagi saya, letak penting yang mau atau harus dilakukan oleh Presiden Prabowo adalah mengubah dan memastikan ada demokrasi konstitusional terwujud. Termasuk di dalam bidang ekonomi. Masalah besarnya adalah seluruh menteri-menteri ekonomi adalah orang Jokowi,” jelas Feri Amsari.

    Pakar hukum tata negara ini meragukan orang-orang Jokowi yang menjadi menteri saat ini dapat memperjuangkan gagasan Prabowo.

    Baca: Reformasi kini berada di titik nadir

    Desakan reshuffle kabinet juga diungkapkan oleh akademisi UI, Rocky Gerung yang juga hadir sebagai pembicara. Menurutnya Kabinet Merah Putih yang dipimpin Prabowo perlu diisi dengan energi baru.

    “Harus ada reshuffle, lumpuhkan kabinet, isi dengan energi baru. Prinsip dasarnya, kan kita tak mungkin minta menteri-menteri ini meninggalkan kabinet secara sukarela, karena kepentingan, modalnya dia sudah pasti kan harus diambil,” jelas Rocky.

    Banyak menteri-menteri yang kecewa karena APBN tiap kementerian semakin kecil. Karena itulah, lanjut Rokcy, ini merupakan momentum Prabowo untuk bersih-bersih kabinet.

    Sementara itu, ketua komisi III DPR RI, Habiburokhman, menolak ide reshuffle kabinet ini. Menurutnya melakukan reshuffle tidaklah mudah. Apalagi kabinet belum setahun berjalan.

    Baca: Media hadapi kendala menyajikan isu HAM mendalam

    “Jangan sesederhana itu memandang persoalannya. Sebuah pemerintahan itu cuma 5 tahun secara formal. Ini baru berapa bulan di-reshuffle, ya nggak produktif,” kata Habiburokhman.

    Menurutnya Prabowo tidak mudah ditipu oleh menteri-menterinya sehingga ide reshuffle kabinet dianggap tidak tepat.

    Dalam sarasehan tersebut tampak aktivis mahasiswa’98 Eli Salomo, aktivis mahasiswa ’74 Hariman Siregar, sosiolog UI Robertus Robert, aktivis HAM Ester Jusuf, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (menpora) Adhyaksa Dault,

    Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, aktivis ‘98 Faisol Reza, Harris Rusli Motti, wakil menteri sosial Agus Jabo dan lain-lain.

     

  • Amnesty International Indonesia: Prabowo Harus Berhenti Mendelegitimasi Gerakan Masyarakat Sipil

    Amnesty International Indonesia: Prabowo Harus Berhenti Mendelegitimasi Gerakan Masyarakat Sipil

    7cloud.asia – Amnesty International mendesak Presiden Prabowo berhenti mendelegitimasi gerakan masyarakat sipil yang selama ini menyuarakan protes yang sah dan damai.

    Hal ini terkait dengan tudingan Prabowo saat berpidato di Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo pada hari Minggu (20/72025), bahwa aksi-aksi protes Indonesia Gelap dibiayai dan direkayasa oleh koruptor

    Deputi Direktur Amnesty International Indonesia, Wirya Adiwena menganggap pernyataan Prabowo tersebut merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan berekspresi.

    Baca: Mahasiswa, masyarakat sipil dan kelompok pekerja ikut aksi Indonesia Gelap

    “Pernyataan Presiden tersebut jelas merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan berekspresi dan hak warga sipil untuk menyuarakan protes yang sah dan damai. Ini adalah  upaya untuk mendelegitimasi gerakan masyarakat sipil dengan melontarkan klaim yang tidak berdasar ke publik luas,” jelas Wirya dalam keterangan pers pada Selasa (22/07/2025).

    “Apa yang dikatakan oleh Prabowo tersebut tidak didasarkan pada bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.

    Menurutnya hal ini juga bukan kali pertama presiden menyudutkan suara-suara kritis dari masyarakat. 

    Sebelumnya Prabowo juga menyerang kredibilitas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan tuduhan membawa kepentingan asing dan misi adu domba saat masyarakat sipil  mengawasi jalannya pemerintahan. 

    Baca: Puncak demo Indonesia gelap digelar di sejumlah kota

    “Alih-alih mendengar dan menanggapi substansi kritik dari rakyat, presiden justru memilih menyerang motif dan kredibilitas para pengkritiknya,” katanya.

    Selanjutnya Wirya menjelaskan sikap presiden yang terus-menerus mengarahkan tudingan kepada LSM, aktivis, dan gerakan sipil justru dapat mendelegitimasi kritik dan keresahan masyarakat atas kondisi sosial dan kebijakan pemerintah.

    Ini menciptakan narasi yang berbahaya, seolah-olah siapa pun yang mengkritik negara adalah musuh, antek asing, atau kaki tangan koruptor.

    Baca: Aksi Indonesia Gelap soroti kebijakan Prabowo-Gibran yang sengsarakan rakyat

    “Ini adalah retorika khas rezim otoriter yang takut pada transparansi dan pertanggungjawaban publik,” ujarnya.

    Karena itu, Amnesty International mendesak Prabowo segera berhenti melontarkan klaim yang tidak berdasar terkait gerakan masyarakat sipil serta menjamin dan membuka seluas-luasnya akses masyarakat untuk menyampaikan kritik secara sah dan damai di Indonesia.

     

  • Narasi Transisi Energi Bersih Pemerintahan Prabowo: Ambisius Namun Sarat Kontradiksi

    Narasi Transisi Energi Bersih Pemerintahan Prabowo: Ambisius Namun Sarat Kontradiksi

    7cloud.asia – Pidato Nota Keuangan perdana Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR 15 Agustus 2025 lalu penuh dengan ambisi, namun juga sarat akan kontradiksi.

    Komitmen pemerintahan Prabowo terhadap transisi energi bersih dinilai bertolak belakang dengan rencana yang sudah ada saat ini.

    Dalam pidatonya, Prabowo menjadikan ketahanan energi sebagai salah satu prioritas utama dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 dengan anggaran sebesar Rp 402,4 triliun, lebih tinggi dibanding program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Tak hanya anggaran saja yang besar, ambisi Prabowo terkait energi pun sama besarnya lantaran ia ingin mempercepat transisi energi bersih.

    “Indonesia harus jadi pelopor energi bersih dunia. Kita harus capai 100 persen, pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan dalam waktu 10 tahun atau lebih cepat. Saya yakin hal ini bisa dicapai,” tegas Prabowo.

    Baca: Krisis Iklim tak disinggung dalam Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto

    Meski begitu, praktik untuk mencapai target transisi energi bersih Indonesia saat ini masih jauh panggang dari api dan bahkan masih banyak bergantung pada energi fosil.

    Tahun depan misalnya, pemerintah masih ingin terus menggenjot produksi minyak bumi menjadi 610.000 barel per hari.

    Di sisi lain, pemerintah baru saja sepakat untuk meningkatkan impor energi menjadi 15,5 miliar dolar dari sebelumnya 4,2 miliar dolar dari Amerika Serikat.

    Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 juga masih banyak menggunakan eneri fosil ketimbang energi bersih dan terbarukan.

    RUPTL 2025-2034 mencatatkan rencana penambahan daya sebesar 10,3 Gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga gas.

    Sementara itu, pemerintah pun masih terus berencana menambah PLTU industri sebesar 20 GW hingga 2031 sebagai upaya mendukung hilirisasi.

    Ambisi besar nan kontradiktif di sektor transisi energi ini pun masih menyisakan pertanyaan besar: dari mana asal pendanaan proyek-proyek besar ini?

    Baca: Pemerintahan tak kunjung serahkan Second NDC

    Direktur Kebijakan Publik Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar mengatakan, narasi pidato Prabowo patut diapresiasi. Namun, dia mempertanyakan apakah narasi ini dilandasi data yang kuat.

    ”Apakah pernyataan tersebut dilandasi dengan identifikasi yang kuat atau hanya omon-omon saja? Kalau sekadar omon-omon, bisa jadi masyakarakat lah yang nantinya akan paling banyak dikorbankan,” ujarnya dalam siniar Greenpeace Indonesia.

    Ia melanjutkan, masyarakat kelas menengah dan bawah lagi-lagi bisa jadi sasaran empuk bagi pemerintah untuk meningkatkan pendapatan Negara dengan menarik pajak yang lebih besar dari kelompok ini.

    Penambahan utang untuk pembiayaan proyek-proyek transisi energi bersih pun bakal semakin memberatkan rakyat biasa.

    Padahal, masih banyak upaya lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa harus memberatkan kelas menengah, salah satunya adalah dengan memaksimalkan keuangan syariah.

    Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia Rahma Shofiana mengatakan, keuangan syariah di Indonesia sangat bisa dimanfaatkan untuk pembiayaan transisi energi bersih di dalam negeri.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada energi fosil

    “Selama proyek transisi energi bersih masih memenuhi empat prinsip utama dalam ekonomi syariah, dana yang didapat dari instrumen keuangan syariah bisa digunakan untuk mendorong transisi energi bersih sehingga mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil yang memperparah krisis iklim,” kata Rahma.

    Keempat prinsip utama itu diantaranya adalah kepemilikan sebagai amanah, keadilan, kerja sama untuk kebaikan, dan tanggung jawab sosial.

    Ia melanjutkan, transisi energi bersih memenuhi keempat prinsip ini sehingga instrumen keuangan syariah bisa dimaksimalkan untuk pembiayaan transisi energi bersih sebagai bagian dari upaya penanggulangan krisis iklim.

    Salah satu instrumen yang bisa dimanfaatkan adalah zakat. Berdasarkan data Badan Amil dan Zakat Nasional (Baznas), total dana zakat yang terkumpul di 2025 sebesar Rp41 triliun. Jumlah ini masih sangat kecil dibanding potensi zakat nasional sebesar Rp327 triliun.

    Meski begitu, Rahma mengatakan dana tersebut bisa dimanfaatkan sebagian untuk pembiayaan transisi energi bersih, setidaknya untuk skala komunitas.

    “Dengan begini, zakat yang dikumpulkan pun bisa digunakan untuk transisi energi yang lebih inklusif dan berkeadilan, serta sejalan dengan prinsip halal dan thayyib yang selalu berjalan beriringan dalam Islam,” ujarnya.

    Bagaimanakah keuangan syariah dapat berperan dalam mewujudkan visi besar Prabowo untuk transisi energi bersih dan terbarukan? Simak analisis lengkap Pidato Nota Keuangan perdana Presiden Prabowo Subianto di Youtube Greenpeace Indonesia!

    Baca: Transisi menuju energi bersih dan pensiun dini 13 PLTU Batubara

  • Kontradiksi Pidato Prabowo: Ingin Jadi Aktor Utama Krisis Iklim Dunia Tapi Aksi di Lapangan Berkebalikan

    Kontradiksi Pidato Prabowo: Ingin Jadi Aktor Utama Krisis Iklim Dunia Tapi Aksi di Lapangan Berkebalikan

    7cloud.asia – Presiden Prabowo subianto menekankan keinginan kuat Indonesia untuk menjadi aktor global dalam menangani krisis iklim dan pangan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).

    Dalam pidato tersebut, Prabowo menyebut Indonesia telah mencapai swasembada beras. Ia juga menyatakan komitmen reforestasi 12 juta lahan terdegradasi, membangun tanggul laut 480 kilometer dan ambisi nol emisi pada 2060 atau lebih cepat.

    Namun, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai pidato tersebut belum menjawab akar masalah dan kontradiktif dengan kondisi di dalam negeri.

    Pidato Prabowo juga tidak menyentuh persoalan keadilan iklim yang dihadapi masyarakat di kehidupan sehari-hari, seperti kesulitan petani dan nelayan menghadapi cuaca yang tidak menentu dan dampak perubahan iklim terhadap masyarakat rentan.

    Hingga hari ini, Indonesia belum menyerahkan dokumen aksi iklim Second Nationally Determined Contribution (SNDC), padahal tenggatnya berakhir pada 20 September 2025.

    Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad menegaskan persoalan krisis iklim tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata solusi teknis.

    “Mengapa cara pandangnya langsung lompat ke solusi teknis dan tidak menelaah akar masalah tentang pengelolaan sumber daya dan keanekaragaman hayati,” kata Nadia dalam diskusi media di Jakarta, pada selasa (24/9/2025) yang diikuti secara daring.

    Baca: Pidato Presiden di Sidang Umum PBB banyak dipuji meski banyak pepesan kosong

    Nadia menjelaskan bahwa akar masalah krisis iklim berawal dari ketidakadilan dan ketimpangan. Ia merujuk pada riset CELIOS pada 2024 yang menyebut kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia.

    Dan, sebanyak 56 persen dari kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bersumber dari sektor ekstraktif yakni mengeruk kekayaan alam.

    “Jadi siapa yang sebenarnya menikmati hasil ekonomi ini,” katanya.

    Nadia menekankan perlunya ekonomi restoratif yang memulihkan dan meregenerasi lingkungan dan memperkuat keadilan sosial, bukan hanya fokus pada target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang justru bisa mengorbankan hutan dan biodiversitas.

    Ia menyoroti bahwa, sebelum giliran Prabowo pidato, Presiden Brasil Lula de Silva sempat meminta negara-negara maju agar mendanai krisis iklim.

    Brasil sedang mendorong skema keuangan agar negara maju membayar negara berkembang untuk menjaga kelestarian hutannya melalui Tropical Forest Forever Facility (TFFF). Namun berbeda dengan Lula, Prabowo tidak menyebut hal-hal tersebut.

    “Reforestasi penting, tapi lebih penting lagi mencegah deforestasi ke depan. Kalau tidak hati-hati, ambisi ketahanan pangan dan energi bisa mengancam sisa hutan yang masih ada,” kata Nadia.

    Untuk mengatasi krisis iklim, menurut Nadia, solusi nyata adalah pensiun dini PLTU batu bara dan keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil.

    “Kita harus membatasi 18 juta hektare lahan untuk perkebunan sawit. Ketahanan pangan dari singkong dan jagung tidak boleh mengancam keberadaan hutan,” tandas Nadia.

    Baca: Narasi kosong transisi energi bersih di era pemerintahan Prabowo

    Sementara, Saffanah Azzahra, peneliti dari ICEL, mengingatkan bahwa di era Prabowo target bauran energi terbarukan Indonesia justru mundur.

    Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru menyebutkan hanya 19-23 persen bauran energi pada 2030 berasal dari energi terbarukan.

    Padahal pada KEN sebelumnya, menyebutkan target peran energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer pada tahun 2025 paling sedikit 23 persen, dan 31 persen pada tahun 2050. Ini artinya, ambisinya lebih rendah dari sebelumnya.

    “Dengan dominasi energi fosil 79 persen pada 2030–yang 50 persen dari batu bara – target Paris Agreement, menjaga kenaikan suhu dibawah 1,5 derajat celcius mustahil tercapai,” katanya. “Kita justru menuju pemanasan 3-4 derajat celcius.”

    Ia juga menyoroti teknologi co-firing yang sering disebut mampu menurunkan emisi dari PLTU batu bara. Co-firing adalah teknologi pembakaran dua jenis bahan bakar yang berbeda secara bersamaan dalam satu sistem yang sama untuk mengurangi emisi yang dihasilkan.

    ”Berdasarkan data dari Forest Watch Indonesia, bahan bakar co-firing 52 PLTU, sesuai dengan ambisi PLN pada tahun 2025, itu menciptakan deforestasi 4,65 juta hektar,” katanya.

    Jaya Darmawan dari CELIOS menambahkan, data produksi batubara tetap naik ketika co-firing biomass diterapkan. Ia berasumsi ini akibat Indonesia banyak mengekspor palet kayu (wood chips) ke Jepang dan Korea.

    “Kami menemukan ada selisih ekspor palet kayu sebesar 153 juta dolar selama 12 tahun terakhir dari laporan ekspor Indonesia dan laporan bea cukai Jepang. Dalam ekonomi ini disebut illicit financing. Apakah ada proses ilegal yang dibiarkan?” tanyanya.

  • BEM SI Gelar Aksi Unjuk Rasa, Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Dianggap Gagal

    BEM SI Gelar Aksi Unjuk Rasa, Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Dianggap Gagal

    7cloud.asia – Ratusan massa dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) berunjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Senin (20/10/2025).

    Unjuk rasa ini diikuti oleh BEM berbagai kampus, diantaranya BEM Universitas Indonesia (UI), BEM Institut Pertanian Bogor (IPB), BEM Universitas Islam Negeri (UIN) dan lain-lain serta berbagai elemen masyarakat.

    Mereka membawa 17 tuntutan diantaranya evaluasi proyek MBG yang telah meracuni ribuan anak.

    Unjuk rasa ini sebagai peringatan satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang dianggap gagal dalam menjalankan pemerintahan.

    Baca: BEM SI dan BEM UI Berunjuk Rasa Buntut Tewasnya Ojol

    Menurut Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan selama satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, banyak kebijakan-kebijakan yang diambil tidak pro rakyat dan hanya mementingkan kelompok penguasa.

    Dia mencontohkan proyek MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang telah meracuni ribuan anak di seluruh Indonesia, namun pemerintah tetap menjalankan program tersebut.

    “Korban keracunan MBG membuktikan bahwa pelaksanaan program belum berpihak kepada rakyat kecil, tetapi justru menjadi proyek politik,” kata Muzammil.

    Baca: Maraknya Demo di Daerah Akibat Pemusatan Anggaran

    Selain itu, BEM SI juga menyoroti penangkapan dan kriminalisasi aktivis yang terjadi selama satu tahun ini. Menurutnya penangkapan dan kriminalisasi terbesar paska reformasi 1998.

    Selama satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pemerintah telah menangkap 5.444 orang, 46 orang hilang dan 664 orang dijadikan tersangka. “Tindakan represif seperti ini terhadap rakyat merupakan kemunduran demokrasi,” katanya.

    Mereka juga menuntut penghapusan hak istimewa dan potong gaji pejabat negara, perwira tinggi, pejabat lembaga negara non kementerian, komisaris dan direktur BUMN hingga setara dengan upah buruh rata-rata.

    Tewasnya Demonstran, Bukti Kegagalan Negara Melindungi RakyatnyaBaca:

    Hal ini perlu dilakukan untuk biaya pendidikan gratis, kesehatan gratis, subsidi rakyat untuk kesejahteraan rakyat.

    Tuntutan lainnya adalah cabut UU TNI dan mengembalikan militer ke barak. Selama satu tahun ini, militer mengambil peran sipil dalam berbagai bidang. Seperti proyek MBG yang banyak melibatkan militer, pejabat negara yang banyak diisi oleh anggota militer aktif.

    Aksi ini sempat diwarnai dorong mendorong antara massa dan aparat kepolisian. Namun, setelah diberi peringatan pada pukul 18.00, massa aksi membubarkan diri dengan tertib.

  • Indonesia Menuju Otoritarian, Masyarakat Harus Tetap Bersuara Kritis

    Indonesia Menuju Otoritarian, Masyarakat Harus Tetap Bersuara Kritis

    7cloud.asia – Proses hukum Delpedro dan kawan-kawan kini memasuki babak baru setelah penolakan gugatan pra peradilan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan beberapa hari lalu. Masyarakat jangan takut dengan tindakan represif seperti itu.

    Peneliti sekaligus aktivis perempuan, Sri Palupi menjelaskan tindakan represif seperti ini sudah dapat diduga sejak awal terpilihnya Prabowo sebagai presiden.

    “Sejak awal terpilihnya Prabowo sebagai presiden kan sebagai sebuah kemunduran. Dia mengembalikan dwifungsi TNI, malah multifungsi TNI. Militerisme sampai merambah di semua lini, di semua sektor, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelas Sri Palupi kepada 7cloud.asia.

    Menurutnya tindakan represif yang dilakukan negara terhadap masyarakat yang mengeluarkan pendapatnya adalah hal serius dan harus dilawan.

    Baca: Indonesia Kini Menuju Fase Fasisme

    Saat ini kondisi negara dalam kepemimpinan Prabowo tidak dalam keadaan baik-baik saja dan tengah menuju pada sistem otoritarianisme.

    Berbagai indikator dapat dilihat dalam pemerintahan Prabowo. Salah satunya pemerintah menggunakan perangkat hukum dan prosedur demokrasi untuk menekan kebebasan dan melanggengkan kekuasaan.

    Selain itu rezim otoriter sangat mudah memanipulasi hukum untuk kepentingan mereka. Hukum dibuat bukan untuk melindungi kepentingan rakyat, melainkan untuk mengamankan posisi rezim dan jejaring oligarki (segelintir elite berkuasa) yang mengelilinginya.

    Baca: Gugatan Pra Peradilan Delpedro, dkk Ditolak, Bukti Represif Negara

    Fakta-fakta tersebut tidak saja sebagai indikator otoritarianisme, tetapi juga mengindikasikan kondisi masa depan Indonesia Gelap.

    “Presiden justru memberi indikasi dan bukti-bukti Indonesia Gelap yang selama ini disangkal. Tapi justru memberikan bukti-bukti bahwa benar Indonesia gelap di bawah kepemimpinannya,” jelas mantan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kerusuhan Mei 1998.

    Karena itu, masyarakat sipil saat ini perlu mengkonsolidasikan diri, menyusun strategi dalam menghadapi kekuatan militer yang digunakan oleh Prabowo.

    “Otoritarianisme nggak suka dengan kebisingan, maka terus saja ngomong, bicara. Kalau tidak, dia akan berhasil membungkam. Harus melawan secara cerdik,” tutupnya.