7cloud.asia – Pada tahun 1980-an, Muara Gembong dijuluki “kampung dolar”, karena melimpahnya udang, kepiting, dan ikan hasil tambak di daerah tersebut.
Penghasilan masyarakat—yang sebagian besar merupakan nelayan tambak—bisa mencapai Rp20-30 juta per bulan pada masa itu.
Namun, kejayaan itu kini tinggal cerita. Sejak tahun 2000-an, dampak eksploitasi pesisir dan pembabatan hutan mangrove untuk lahan tambak mulai terasa.
Abrasi terjadi, pantai terkikis sedikit demi sedikit hingga permukaan air laut naik dan menggusur tambak-tambak milik warga. Para nelayan dan buruh tambak di pesisir utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat itu kehilangan mata pencarian utama.
Lantaran tambak telah hilang, setiap kali pasang terjadi, air langsung merangsek ke rumah-rumah warga. Sebagian warga akhirnya memilih pindah dan mencari sumber penghidupan di tempat lain karena daerah tersebut sudah tak layak huni.
Sebagian lagi memilih tetap bertahan, terutama warga yang bukan pemilik tambak di Desa Muara Beting. Mereka tidak punya biaya maupun tujuan lain untuk pindah.
Baca: Kawasan Pemulihan Pesisir di Pantura Jawa Tengah
Menyiasati air laut yang terus masuk ke permukiman, warga membuat lantai tambahan dari bambu dan kayu agar barang-barang mereka tidak terendam.
Warga juga membangun jembatan kayu seadanya sebagai akses penghubung ke jalan utama, karena jalan yang ada sebelumnya sudah tenggelam.
Setiap pukul enam sore, air biasanya mulai pasang dan warga sudah sulit melakukan kegiatan MCK (mandi, cuci, dan kakus) karena kamar mandi sudah banjir.
Di tengah situasi ini, perempuan-perempuan Muara Gembong berdiri di garis depan, bertahan dan berupaya mencari sumber penghasilan alternatif untuk menyambung hidup keluarga mereka.
Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Studi lapangan yang saya lakukan bersama sejumlah rekan peneliti dari ITB dan Labtek Apung mengidentifikasi banyak kendala yang mereka hadapi, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga minimnya akses modal.
Baca: Pemerintah Diminta Segera Sahkan RPP Perlindungan Mangrove
Wlingi laut sebagai sumber ekonomi alternatif
Pada 27 Oktober 2024 lalu, penulis mengikuti ibu-ibu pesisir Muara Gembong menyusuri tepi pantai.
Mereka mengumpulkan wlingi laut (Cyperus malaccensis)—rumput liar yang tumbuh di pesisir dan air payau. Warga lokal sering menyebutnya ‘dot’.
Sebelum terjadi abrasi, ibu-ibu Muara Gembong sebenarnya sudah sangat familier dengan keberadaan tanaman ini. Mereka biasa menganyam wlingi laut untuk dijadikan matras atau karpet.
Tapi, kegiatan itu dulu sebatas untuk mengisi waktu luang. Setelah tambak hilang dan suami mereka tak lagi punya mata pencarian yang tetap, para perempuan Muara Gembong bergiat menganyam wlingi laut untuk mencari sumber pendapatan alternatif.
Sebagian perempuan lainnya mengembangkan berbagai produk olahan makanan dari mangrove. Misalnya, mereka mengolah buah dari pohon pidada (Sonneratia caseolaris) menjadi kudapan tradisional seperti dodol, sirup, hingga keripik.
Baca: BRIN Sebut Butuh Waktu Ratusan Tahun untuk Pulihkan Hutan Mangrove yang Rusak
Sayangnya, produk-produk ini belum dipasarkan luas. Akses jalan yang sulit dan minimnya infrastruktur untuk membawa produk mereka ke pasar menjadi kendala utama.
Selain itu, modal mereka juga terbatas. Keterbatasan ini membuat ibu-ibu Muara Gembong hanya membuatnya saat ada pesanan, biasanya dari tetangga atau kerabat, sehingga penghasilannya pun tak banyak.
Sehelai tikar anyaman misalnya, biasa dijual dengan kisaran harga Rp50.000- Rp100.000, tergantung dari luas anyamannya.
Dalam satu minggu, ibu-ibu Muara Gembong biasanya mampu menghasilkan satu anyaman wlingi laut. Sehingga, pendapatan yang diperoleh dari hasil anyaman tersebut rata-rata Rp400.000-Rp600.000 per bulan.
Duit itu biasanya dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari, seperti sembako.
“Saat ekonomi susah, beli beras saja sulit. Kami akhirnya tidak harus bergantung pada suami dengan menganyam wlingi laut,” ujar perempuan penganyam wlingi di Muara Gembong.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Gilang Mahadika (Research Fellow, Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada). Muhammad Raditya Alfin Ghifari dari Departemen Antropologi, Universitas Brawijaya (UB) berkontribusi sebagai asisten peneliti dalam riset ini.