Tag: aging population

  • Indonesia Masuki Era Aging Population, Ini Tantangannya

    Indonesia Masuki Era Aging Population, Ini Tantangannya

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, saat ini Indonesia mulai memasuki era penuaan penduduk atau aging population.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memberikan batasan di mana sebuah negara dikatakan memasuki era aging population, bila terdapat lebih dari 10 persen penduduknya yang berada dalam kategori lanjut usia (lansia).

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, pada 2023 Indonesia memiliki hampir 12 persen penduduk lansia sehingga bisa dikatakan sudah memasuki aging population.

    Adapun, seseorang dikatakan telah mencapai lansia saat usianya mencapai 60 tahun atau lebih. Lansia dibagi menjadi tiga kategori.

    Yakni, lansia muda kisaran usia 60-69 tahun merupakan, usia 70-79 tahun merupakan lansia madya, dan 80-89 tahun merupakan lansia tua.

    Baca: Kota pilihan untuk masa pensiun

    “Indonesia kini mulai memasuki aging population, masyarakatnya mulai menua,” kata Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Kemenkes Nida Rohmawati dalam taklimat media menjelang Pameran Kesehatan Lansia Internasional Indonesia (Senior Expo) di Jakarta, pekan lalu.

    Dulu, lanjut Nila, diagram penduduk Indonesia terlihat seperti piramida, dari yang tertua paling sedikit, hingga termuda paling banyak.

    “Sekarang sudah mulai bergeser menjadi seperti vas bunga seiring bertambahnya penduduk usia dewasa dan lansia,” ujarnya dilansir Kompas.com.

    Hal tersebut, kata Nida, juga meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia, dari sebelumnya 68,2 tahun pada 2022 menjadi 74 tahun pada saat ini, yang juga menandakan kian membaiknya akses kesehatan di Indonesia.

    Meski demikian, lanjutnya, torehan tersebut bukan tanpa catatan. Ia menyebut pada usia harapan hidup 68 tahun, masyarakat lansia Indonesia pada umumnya hanya mengalami masa sakit sebelum meninggal selama 8 tahun.

    Baca: Persiapan menghadapi masa pensiun

    Angka ini lebih kecil dibandingkan era sekarang yang memiliki angka harapan hidup hingga 74 tahun, dengan masa sakit sebelum meninggal pada umumnya selama 11 tahun.

    “Meskipun hidupnya tambah lama, tapi juga tambah menderita. Berusia panjang, tapi sakit-sakitan, itu yang kita cegah sekarang,” tegasnya.

    Nida menyatakan, Kemenkes telah berupaya dalam meningkatkan taraf hidup para lansia agar selain berusia panjang, mereka juga memiliki kualitas hidup yang baik.

    Salah satunya, kata dia, melalui Program Puskesmas Santun Lansia, yang melaksanakan pelayanan kesehatan kepada pra-lansia dan lansia.

    Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, yang merupakan bagian dari transformasi kesehatan yang dilalukan oleh Kemenkes.

    Kepada masyarakat, Nida berpesan untuk merawat para lansia dengan baik. Karena jika diperlakukan dengan baik, para lansia juga bisa menjadi produktif sebagaimana masyarakat pada umumnya.

  • Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, Indonesia akan memasuki fase penuaan penduduk atau aging population pada tahun 2030, dengan lebih dari 15 penduduk penduduk tergolong lansia atau berusia 60 tahun ke atas.

    Untuk itu pemerintah diminta segera mengantipasi dan mempersiapkan/membangun sistem perlindungan sosial untuk lansia yang inklusif dan adaptif mulai dari sekarang.

    Hal itu dibahas dalam seminar internasional bertajuk “Triangular Collaboration in Elderly Care: Academia, Industry, and Community for Sustainable Ageing Solutions” pada Rabu (17/9/2025) di Auditorium Komunikasi, FISIP UI, Depok.

    Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, di Indonesia, sistem keluarga tradisional masih ada, tetapi semakin rapuh. Banyak anak merantau untuk bekerja, sehingga orang tua lanjut usia sering hidup sendiri.

    Hal ini memunculkan dua masalah utama: kekerasan terhadap lansia dan lansia yang tinggal sendirian tanpa dukungan keluarga. Karena itu, perawatan lansia tidak bisa hanya mengandalkan keluarga, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke institusi.

    ”Solusi terbaik adalah sistem hibrida, dengan menggabungkan solidaritas keluarga dengan layanan profesional, dukungan komunitas, dan peran negara,” ujarnya.

    Baca: Indonesia masuki era aging population, ini tantangannya

    Prof. Aji berharap peran pemerintah dalam kebijakan ini bertumpu pada kesehatan, perlindungan sosial dan partisipasi aktif dari lansia.

    Namun, strategi ini hanya akan berhasil jika didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan keluarga, pengasuh, komunitas, dan dunia usaha ke dalam sebuah sistem yang terpadu.

    Guru besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Prof. Isbandi Rukminto Adi mengatakan, pembangunan lansia di Indonesia pada 2025–2045 melalui kebijakan pembangunan yang berfokus pada pengembangan modal manusia, sosial, dan spiritual.

    Hal ini agar penduduk lanjut usia dapat berdaya dan menjadi lansia yang lebih produktif serta sehat. Pengembangan modal tersebut akan mendorong serta mempercepat pencapaian lima dimensi dalam policy context untuk lansia yang produktif dan sehat.

    ”Lansia yang produktif dan sehat, harus memenhi ⁠physical dimension, ⁠psychological dimension, social dimension, spiritual dimension dan financial dimension,” jelasnya.

    Seminar yang digelar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi segitiga antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi perawatan lansia yang berkelanjutan.

    Baca: Kementerian kesehatan dorong lansia tetap sehat dan aktif 

    Akademisi berperan dalam menghasilkan penelitian berbasis bukti yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan dan model intervensi.

    Sedangkan Industri memberikan dukungan melalui teknologi, inovasi, dan sumber daya keuangan. Sementara itu, masyarakat berperan sebagai platform untuk melaksanakan program yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

    Sinergi ketiga elemen ini akan menciptakan ekosistem yang lebih adaptif terhadap kompleksitas permasalahan perawatan lansia.

    Acara ini terdiri dari sesi panel 1 membahas tema “Isu dan Tantangan Menuju Pengembangan Sistem Perawatan Lansia yang Komprehensif di Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik”.

    Diskusi ini menguraikan tantangan dalam mengembangkan sistem perawatan lansia yang komprehensif, serta peluang dalam membangun sistem perlindungan sosial yang inklusif dan adaptif.

    Sesi 2 berfokus pada “Percepatan Kebijakan dan Layanan untuk Lansia: Perspektif dari Akademisi, Praktisi, dan Industri.”

    Panel ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang nyata dalam memperkuat layanan untuk lansia, melalui inovasi teknologi, penguatan peran profesi pekerja sosial, dan dukungan kebijakan publik.

    Seminar ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model intervensi yang dapat diadaptasi oleh pemerintah, organisasi sosial, dan pelaku industri, termasuk Universitas Indonesia.

    Baca: Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun di Indonesia