7cloud.asia – Menurut laporan BPS tahun 2021, 89,54 persen lahan pertanian di Indonesia dinilai belum memenuhi standar produktivitas yang berkelanjutan akibat penggunaan bahan kimia, pengolahan tanah dan penggunaan air berlebihan, serta adanya konflik sosial.
Di sisi lain, petani masih menghadapi dampak perubahan iklim yang menyebabkan ancaman kekeringan akibat kemarau berkepanjangan disebabkan el nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2027.
Sebagai solusi pemanfaatan lahan pertanian yang efisien, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., mengenalkan konsep agrivoltaic yang mengintegrasi panel surya di atas lahan pertanian.
Konsep agrivoltaic ini terinspirasi dari keberhasilan PLTS terapung di Waduk Cirata yang berkapasitas 149 MW hingga 190 MW.
Dilansir ugm.ac.id, Agus mengatakan teknologi ini diterapkan di desa pandowoharjo Sleman yang dioperasikan langsung oleh masyarakat dan dimanfaatkan langsung oleh petani setempat.
Rencananya teknologi ini akan dibawa mahasiswa KKN UGM yang mengabdi di daerah terpencil. Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat.
“Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat,” ungkapnya dalam Seminar Internasional yang bertajuk ‘Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia’ di Fakultas Teknik UGM, Rabu (24/6/2026).
Inovasi teknologi agrivoltaic dikembangkan bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho.
Menurut Bayu, teknologi smart framing ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Management Information System (IMS) untuk pengambilan keputusan, Precision Agriculture (pertanian presisi), serta optimalisasi dan robotik.
Melalui penggunaan smart framing, Bayu menilai banyak keunggulan yang didapat, yaitu meningkatkan produktivitas, data informasi yang diperoleh secara real-time dan akurat, meningkatkan efisiensi, mempermudah monitoring dan kontrol, dan tentunya mampu meningkatkan kualitas produk.
“Makanya dengan smart farming itu akan memudahkan kita dalam mendapatkan informasi melalui sensor yang dipasang. Seperti, tanah di sini itu kekurangan pupuk N, oleh karenanya yang diberikan adalah pupuk Nm bukan malah diberikan pupuk K,” ungkapnya.
Akan tetapi, dalam penerapan teknologi tersebut di lahan terbuka jauh lebih menantang dibandingkan dengan di dalam greenhouse, karena terdapat faktor cuaca yang tidak menentu.
Oleh karena itu, dalam penelitiannya, ia mengembangkan integrasi antara drone baik drone surveillance untuk pemetaan maupun drone sprayer untuk penyemprotan dengan sensor cuaca di atas tanah dan sensor tanah portabel di bawah tanah guna memberikan informasi real-time mengenai kebutuhan tanaman secara presisi.
