Tag: agrowisata

  • Menggali Potensi Agrowisata di Perkebunan Teh Kayu Aro

    Menggali Potensi Agrowisata di Perkebunan Teh Kayu Aro

    7cloud.asia – Tak hanya menghasilkan teh berkualitas tinggi yang sangat diminati negara-negara Eropa, perkebunan teh Kayu Aro, di Kerinci Jambi juga menyimpan potensi agrowisata

    Hal ini karena selain perkebunan teh dan pabrik teh Kayu Aro, PTPN VI juga mewarisi bangunan peninggalan masa kolonial Belanda seperti rumah administratur, sekolah maupun klub, termasuk penginapan dan kedai kopi yang dikelola oleh pihak ketiga.

    Berbagai warisan di perkebunan teh Kayu Aro tersebut dapat dioptimalkan untuk menarik kunjungan wisatawan khususnya untuk agrowisata.

    Hal ini mengingat kawasan perkebunan teh Kayu Aro ini mempunyai pemandangan dataran tinggi yang tidak kalah cantik dengan wisata gunung lainnya.

    Baca: Perkebunan teh Kayu Aro, salah satu yang terbaik di dunia

    Salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan di perkebunan teh Kayu Aro adalah kegiatan agrowisata dengan kehadiran beragam aktivitas di kawasan perkebunan yang dapat memperluas wawasan bagi para pengunjung.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno turut mendukung pengembangan destinasi agrowisata karena dapat memberikan dampak positif untuk kebangkitan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja bagi warga.

    Beberapa manfaat dari pengelolaan wilayah agrowisata adalah adanya peningkatan konservasi lingkungan, kenaikan nilai estetika alam.

    Baca: Daftar kebun raya yang bisa dikunjungi

    Selain itu  pengembangan agrowisata di Perkebunan teh Kayu Aro juga bisa mendorong kegiatan ilmiah, kehadiran kawasan rekreasi dan pengembangan ekonomi masyarakat sekitar.

    Pembangunan ekosistem agrowisata tersebut dapat dipadukan dengan wisata sejarah mengingat masih banyak peninggalan sisa kejayaan pengelolaan kebun di era kolonial yang bisa mengundang masuknya turis mancanegara.

    Saat ini, Kayu Aro yang juga memiliki banyak homestay maupun tempat kuliner lainnya sangat berpotensi menjadi destinasi wisata nasional karena mempunyai sumber daya, keramahan penduduk, atraksi serta keunikan tersendiri.

    Baca: Belajar sejarah bebatuan di UNESCO global geopark

    Selain perkebunan, kegiatan wisata alam yang ada di wilayah ini adalah wisata bukit cinta di Desa Mekar Sari, Bukit Tirai Embun, air terjun Telun Berasap serta aktivitas mendaki Gunung Tujuh atau Gunung Kerinci.

    Namun, satu-satunya jalan darat terdekat melalui Padang, Sumatera Barat dengan jarak tempuh sekitar 300 kilometer selama enam jam untuk menuju Kayu Aro, menjadi persoalan tersendiri.

    Kesibukan di Bandara Depati Parbo (sekitar 40 kilometer di selatan Kayu Aro) yang masih terhenti karena pandemi, turut menjadi alasan gairah pariwisata di wilayah Kabupaten Kerinci belum tergali secara optimal.

    Baca: Kawah Ijen ditetapkan jadi UNESCO Global Geopark

    Tentunya, dibutuhkan sinergi para pemangku kepentingan terkait antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, BUMD maupun swasta untuk mengembangkan agrowisata di Perkebunan teh Kayu Aro dan menikmati suasana di kaki Gunung Kerinci yang indah.

    Karena dampak positifnya tidak hanya memengaruhi kenaikan pendapatan asli daerah (PAD), tetapi juga melancarkan denyut nadi perekonomian lokal serta kehidupan masyarakat sekitar di Kayu Aro.

    Sumber: Antaranews

     

     

  • KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menemukan bahwa luas agrowisata di kawasan Puncak, tidak sesuai dengan dokumen lingkungan yang berdampak kepada lingkungan sekitar termasuk Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

    Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) KLH Rizal Irawan ditemui usai inspeksi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Kamis (6/3/2025).

    Dia menyampaikan mendapatkan arahan dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq untuk melakukan verifikasi lapangan di wilayah hulu DAS Ciliwung beberapa hari sebelum terjadi banjir besar di Jakarta dan Bekasi.

    Rizal mengatakan dalam verifikasi lapangan KLH menemukan bahwa terdapat ketidaksesuaian luasan agrowisata di lahan yang dikelola salah satu perusahaan di wilayah tersebut.

    Baca Juga: Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    “Yang tadinya luasan agrowisatanya hanya 16 ribu (hektare), faktanya sekarang yang ditemukan sampai saat ini adalah 35 ribu hektare,” jelas Rizal.

    “Tentunya kalau ada perbedaan ini, dokumen lingkungan sudah tidak sesuai. Ketika ada ketidaksesuaian dokumen lingkungan, dampaknya adalah pasti akan signifikan terhadap alam,” tambahnya.

    Terkait bentuk penegakan hukum kepada pengelola dia menyebut terdapat potensi sanksi administratif, perdata dan pidana.

    Jika terbukti melanggar, pihak pengelola juga berpotensi harus mengganti kerugian kepada negara dan mengeluarkan biaya pemulihan lingkungan.

    Baca Juga: Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi ke empat lokasi di Kawasan Puncak.

    Kawasan agrowisata ini dikelola PT Perusahaan Perkebunan Sumber Sari Bumi, PTPN I Regional 2 Gunung Mas, PT Jaswita Jabar serta Eiger Adventure Land pada Kamis(6/3/2025).

    Dalam inspeksi tersebut, KLH memasang papan pengawasan lingkungan sebagai bagian dari upaya pendalaman dugaan pelanggaran hukum lingkungan hidup dengan pembangunan di wilayah hulu DAS Ciliwung.

    Hal ini berdampak kepada peningkatan potensi banjir di hilir termasuk di wilayah Jakarta dan Bekasi seperti yang terjadi beberapa hari ini.