Tag: Alami

  • Deretan Bahan Alami untuk Usir Tikus dari Kediaman Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tikus menjadi momok bagi banyak orang. Hewan pengerat yang dianggap menganggu ini juga senang tinggal berdekatan dengan manusia.

    Selain dianggap menjijikkan, tikus juga merupakan salah satu vektor alias hewan perantara penyakit.

    Namun, mengusir tikus agar menjauh dari kediaman bukan perkara mudah. Pasalnya, tikus termasuk hewan yang mudah dan cepat berkembang biak.

    Banyak orang menggunakan racun untuk mengusir tikus dari sekitar tempat tinggalnya. Namun, cara ini justru berbahaya karena dapat menyebabkan efek samping berlebihan.

    Bangkai tikus yang dimakan satwa lain akan menjadi racun berkelanjutan sehingga justru berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.

    Alih-alih memberantas dengan racun sintetis, mengusir tikus dapat dilakukan dengan cara alami. Salah satunya menggunakan bahan-bahan aromatik dari alam. Hal ini karena tikus tidak menyukai aroma menyengat.

    Selain itu tikus juga memiliki indra penciuman yang sangat tajam untuk menunjang aktivitasnya.

    Baca: Mengusir nyamuk dengan cara ramah lingkungan

    Berikut sederet bahan alami yang aromanya tidak disukai tikus dan bisa dimanfaatkan untuk zat penolak atau repelen:

    1. Cengkeh
    Tikus membenci tanaman aromatik seperti cengkeh, kulit jeruk nipis, dam temulawak.

    Berdasarkan penelitian bertajuk Efektifitas Cengkeh (Syzygium aromaticum), Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) dan Temulawak (urcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai Repelen Tikus Got (Rattus norvegicus) yang dipublikasikan Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, ketiga tanaman tersebut berpotensi sebagai repelen tikus.

    Hasil penilaian disimpulkan bahwa pakan tikus yang dicampur dengan tanaman cengkeh yang diblender memberikan repelensi yang paling tinggi terhadap tikus dibandingkan kulit jeruk nipis dan temulawak.

    Dengan tingkat keefektivitasan repelen tinggi hingga 100 persen yang menyebabkan pengurangan berat badan tikus 31 persen.

    Baca: Perubahan iklim memicu pertumbuhan nyamuk

    Repelen Kulit jeruk nipis dan temulawak masih dapat digunakan sebagai penolak atau pengusir tikus walaupun tingkat efektifitasnya masih jauh di bawah cengkeh.

    Dengan kata lain berdasarkan hasil penelitian tersebut cengkeh sangat direkomendasikan sebagai bahan dasar untuk dijadikan produk penolak hama tikus.

    2. Cuka
    Cuka adalah bahan dapur yang memiliki bau asam yang cukup kuat ternyata dan tidak disukai tikus. Untuk menggunakan cuka sebagai penghalau, campurkan dengan air dalam perbandingan 1:1.

    Lalu semprotkan larutan ini ke area yang sering dilalui tikus. Anda juga bisa merendam bola kapas dalam cuka dan meletakkannya di sarang tikus.

    3. Cabai bubuk
    Bubuk cabai memiliki aroma menyengat dan rasa pedas yang membuat tikus merasa tidak nyaman.

    Taburkan di area yang sering dikunjungi tikus atau di sekitar lubang dan celah tempat mereka mungkin masuk ke rumah. Hati-hati agar bubuk cabai tidak terkena mata atau kulit Anda saat mengaplikasikannya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

    4. Kapur barus
    Kapur barus dikenal efektif untuk mengusir tikus karena baunya yang tajam. Letakkan beberapa bola kapur barus di tempat-tempat yang sering dijangkau tikus, seperti lemari, gudang, atau di bawah wastafel.

    Bau kapur barus yang menyengat akan membuat tikus merasa tidak nyaman dan menjauh.

    5. Kayu manis
    Kayu manis memiliki aroma yang kuat yang tidak disukai oleh tikus. Taburkan bubuk kayu manis di sekitar tempat-tempat yang mungkin menjadi sarang tikus.

    Anda juga bisa mencampurkan bubuk kayu manis dengan air dan semprotkan larutannya di area yang sering dikunjungi tikus.

    6. Daun sirsak
    Daun sirsak dikenal memiliki aroma yang khas dan cukup kuat. Bau dari daun sirsak ini ternyata tidak disukai oleh tikus karena bisa mengganggu indra penciuman.

    Untuk memanfaatkan daun sirsak sebagai penghalau tikus,ambil beberapa lembar daun segar, hancurkan, dan letakkan di tempat-tempat yang sering dikunjungi tikus.

    7. Kulit durian
    Durian merupakan buah dengan bau yang sangat kuat dan khas, dan kulitnya tidak terkecuali. Bau kulit durian dianggap sangat mengganggu bagi tikus karena intensitas dan keunikannya.

    Baca: Upaya memetakan kupu-kupu di Indonesia

    Cukup letakkan kulit durian yang sudah dikeringkan di sekitar area yang ingin Anda lindungi dari tikus.

    8. Minyak Peppermint
    Minyak peppermint merupakan salah satu bahan alami yang paling dikenal untuk mengusir tikus. Tikus tidak suka bau mentol yang kuat dari peppermint, sehingga minyak ini sering digunakan sebagai penghalau.

    Teteskan minyak peppermint ke bola kapas atau kain kecil dan letakkan di area yang sering dikunjungi tikus, seperti sudut ruangan, dapur, atau gudang.

    9. Bawang Putih
    Bawang putih memiliki aroma tajam yang tidak disukai oleh tikus. Anda bisa menggunakan bawang putih segar atau bubuk bawang putih untuk mengusir tikus.

    Letakkan potongan bawang putih di sekitar area yang berpotensi menjadi sarang tikus atau campurkan bubuk bawang putih dengan air dan semprotkan larutannya di tempat-tempat yang sering didatangi tikus.

  • Waspada! Label Alami Tak Menjamin Keamanan Produk Suplemen

    Waspada! Label Alami Tak Menjamin Keamanan Produk Suplemen

    7cloud.asiaDirector Research Development and Scientific Affairs Asia Pacific dari Herbalife Alex Teo menyebutkan bahwa label alami tak selalu aman oleh sebab itu masyarakat diminta kritis saat mengonsumsi suplemen.

    Menurutnya, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan di kawasan Asia Pasifik turut mendorong tren penggunaan suplemen berbahan alami.

    Namun, para ahli mengingatkan bahwa label alami tidak serta merta menjamin keamanan ataupun efektivitas produk suplemen.

    Alex menjelaskan bahwa di tengah lonjakan minat pada suplemen alami, penting bagi konsumen untuk memahami kandungan, dosis, serta kemungkinan interaksi bahan dengan obat lain.

    “Label alami kerap diasosiasikan dengan keamanan, padahal sejumlah bahan herbal dapat memicu efek samping jika dikonsumsi berlebihan atau berinteraksi dengan obat tertentu,” kata Teo dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

    Baca: Suplemen ini disebut dapat membahayakan kesehatan

    Di Indonesia, pengawasan terhadap suplemen kesehatan diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui sejumlah regulasi.

    Regulasi itu seperti Peraturan BPOM No. 10 Tahun 2024 tentang penandaan produk dan Peraturan BPOM No. 24 Tahun 2023 mengenai persyaratan mutu dan keamanan.

    Regulasi ini menggarisbawahi pentingnya konsumen untuk memahami informasi produk secara cermat sebelum mengonsumsinya.

    Sejumlah mitos seputar suplemen alami juga dinilai masih banyak dipercaya publik. Di antaranya adalah anggapan bahwa produk suplemen alami bebas dari risiko, dapat dikonsumsi tanpa batas, atau bahkan menggantikan peran obat-obatan.

    Teo mengingatkan, tidak sedikit bahan alami yang bisa berdampak negatif pada tubuh jika tidak digunakan secara tepat.

    Baca: Mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan air isi ulang

    “Akar licorice, misalnya, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan,” ujar Teo.

    Ia menekankan bahwa baik produk alami maupun sintetis harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah, uji laboratorium, serta konsultasi medis.

    Menurutnya, pemilihan suplemen yang tepat harus mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

    “Pendekatan berbasis sains, bukan sekadar tren atau label, adalah kunci untuk menjaga kesehatan jangka panjang,” kata Teo.

    Baca: Setop makanan berpengawet untuk lindungi ginjal anak

  • Penyedap Rasa dari Daun: Warisan Dayak Kalimantan Tengah Kian Terkikis Modernitas

    Penyedap Rasa dari Daun: Warisan Dayak Kalimantan Tengah Kian Terkikis Modernitas

    7cloud.asia – Dapur sederhana masyarakat Dayak di tepian sungai-sungai Kalimantan Tengah dahulu kerap dipenuhi aroma hangat masakan dari dedaunan hutan.

    Dua di antaranya adalah daun sungkai (Peronema canescens) dan teken parei (Helminthostachys zeylanica) yang secara alami memberikan rasa gurih pada masakan.

    Jauh sebelum monosodium glutamat (MSG) memasuki Tanah Borneo, daun sungkai dan teken parei dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai penyedap rasa alami.

    Sayangnya, penelitian penulis (belum dipublikasikan) menemukan bahwa kehadiran produk penyedap rasa instan (seperti Masako, Sasa, atau Ajinomoto), membuat eksistensi daun sungkai dan teken parei kian tersisih dan terlupakan.

    Penyedap rasa alami itu kian tergantikan oleh MSG.Pada tahun 2021 dan 2025, penulis mewawancarai tiga warga Kalimantan Tengah untuk menggali ingatan mereka soal daun sungkai dan teken parei.

    Warga yang penulis wawancarai mengatakan bahwa kedua daun ini memberikan rasa gurih alami serupa MSG ketika ditambahkan ke dalam masakan.

    “Iya pakai daun sungkai, terus dicampur daun singkong. Pernah juga ku coba untuk masak ikan bumbu kuning,” ujar Yuliana Nona, perempuan asal Toraja yang mewarisi resep dari masyarakat suku Dayak.

    Adapun daun teken parei menurut warga Palangka Raya bernama Yeri Sevina Genesis Luari (33 tahun), biasa digunakan sebagai penyedap masakan berkuah bercita rasa gurih-asam, seperti juhu singkah bawui (sayur umbut rotan dengan daging babi) atau juhu asem lauk patin (sayur terong asam dengan ikan patin).

    Baca: Temulawak jadi tanaman obat unggulan

    Kini daun sungkai dan teken parei semakin sulit ditemui. Sungkai hanya bisa dijumpai di desa-desa tertentu (seperti di Desa Tumbang Lahang) sementara teken parei hanya tumbuh di musim hujan.

    “Karena teken parei biasanya hanya tumbuh di ladang yang sudah dibakar, ketika tanah menjadi basa dan spora dorman-nya (spora yang tertidur) bangun kembali,” kata Yeri.

    Tak jarang, masyarakat harus menelusuri hutan terlebih dahulu untuk bisa menemukan sungkai dan teken parei. Kondisi ini membuat banyak orang lebih memilih penyedap rasa instan yang praktis, murah, tahan lama, dan tersedia di warung terdekat.

    Menurut Yeri, masyarakat setempat sebenarnya masih memakai teken parei sebagai penyedap rasa masakan saat ladang baru dibuka. Di luar itu, mereka kembali bergantung pada MSG.

    Pergeseran ini mulai kentara sejak 1990-an. MSG yang sebelumnya hanya digunakan untuk acara besar (seperti pesta pernikahan atau syukuran panen), kini ada di hampir semua dapur.

    Lebih dari sekadar bumbu dapur
    Di tengah urbanisasi, pengetahuan generasi muda tentang daun penyedap ini pun ikut terkikis. Anak muda di Palangka Raya yang penulis temui, misalnya, tidak menyadari bahwa sungkai dan teken parei dahulu merupakan bagian dari konsumsi bumbu harian masyarakat.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal bisa pudar jika tidak segera didokumentasikan dan dilestarikan.

    Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa manfaat sungkai dan teken parei lebih dari sekadar bumbu dapur. Keduanya sama-sama berpotensi sebagai obat herbal.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    Sungkai diduga memiliki kandungan senyawa antioksidan, antiradang, analgesik, dan antidiabetik. Sementara teken parei diduga bisa mengobati batuk dan impotensi.

    Meski begitu, diperlukan penelitian lanjutan berskala besar pada manusia untuk mengonfirmasi manfaat dan risiko kesehatan dari sungkai dan teken parei.

    Mengembalikan rasa, menjaga kedaulatan
    Tergerusnya kekayaan budaya lokal oleh invasi industri tidak hanya terjadi di Kalimantan. Di Afrika Barat, bumbu tradisional setempat yang lebih kompleks tergantikan oleh bouillon cube, penyedap rasa instan mirip MSG.

    Dampaknya sama-sama menimbulkan penyeragaman rasa. Apa yang dulu beragam, unik, dan kaya, perlahan digantikan oleh standar tunggal yang seragam, instan, dan industrial.

    Lebih dari itu, fenomena ini juga menghilangkan kedaulatan pangan masyarakat. Ketika rumah tangga sepenuhnya bergantung pada produk pabrikan, kendali atas selera dan bahan pangan berpindah ke industri global.

    Melestarikan daun sungkai dan teken parei adalah upaya mengembalikan kendali tersebut.

    Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.

    Kita tentu tidak ingin suatu saat nanti berada di dalam situasi: tidak ada lagi aroma khas daun yang dipetik dari hutan, tidak ada lagi rahasia dapur yang diwariskan dari nenek ke cucu, tidak ada lagi kejutan rasa yang hanya bisa muncul dari sebuah ekosistem lokal.

    Baca: Label alami tak menjamin keamanan produk suplemen

    Sungkai dan teken parei mengingatkan kita bahwa keberagaman rasa bukan sekadar soal lidah. Ia adalah bagian dari martabat manusia.

    Melestarikan keduanya berarti menjaga relasi kita dengan alam, sejarah, maupun leluhur. Menjaganya berarti menolak lupa bahwa makanan bukan sekadar komoditas, tetapi jejak peradaban.

    Di balik daun sederhana yang direbus di dapur Suku Dayak, tersimpan arsip ingatan kolektif mengenai bagaimana sebuah komunitas memahami lingkungannya, menjaga kesehatannya, mengatur keseimbangan ekologi, serta membangun jati diri lewat rasa.

    Itulah sebabnya, menjaga sungkai dan teken parei bukanlah nostalgia kekayaan lokal. Ia adalah tugas politik dan ekologis.

    Dalam setiap helai daun yang mungkin terlihat sepele, ada pertanyaan besar: siapa yang mengendalikan selera kita, siapa yang menentukan apa yang kita makan, dan siapa yang diuntungkan ketika rasa kita diseragamkan?

    Jika kita biarkan, penyeragaman rasa akan jadi penyeragaman pikiran. Di sanalah kolonialisme pangan berakar. Bukan lagi lewat senjata, tapi lewat penyedap rasa di dapur kita.

    Saatnya bertindak
    Para akademisi harus mendokumentasikan pengetahuan lokal ini sebelum hilang. Pemerintah perlu melindungi tanaman dan praktik kuliner lokal, bukan sekadar membiarkan industri pangan menguasai pasar.

    Lembaga pendidikan perlu mengajarkan bahwa kedaulatan rasa sama pentingnya dengan kedaulatan politik.

    Sementara kita sebagai konsumen, perlu berani bertanya: apa yang sebenarnya kita masukkan ke dalam tubuh setiap hari?

    Pada akhirnya, menjaga keberagaman rasa adalah menjaga kebebasan kita sebagai manusia. Sebab, di balik setiap masakan yang berbeda, ada kebudayaan yang kaya, sehat, dan adil.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Rayhan Sudrajat (Ethnomusicologist & Lecturer, Universitas Katolik Parahyangan)

  • Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi Berbahan Cangkang Kerang

    Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi Berbahan Cangkang Kerang

    7cloud.asia – Mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 berhasil menghadirkan inovasi biokomposit gel remineralisasi gigi berbasis bahan alam lokal.

    Inovasi ini memanfaatkan cangkang kerang hijau (Perna viridis) yang kaya kalsium untuk sintesis nano-hidroksiapatit, serta daun teh hijau (Camellia sinensis) yang kaya fluoride dan polifenol sebagai agen antibakteri alami.

    Produk yang dihasilkan berupa biokomposit gel nano-hidroksiapatit–daun teh hijau dengan struktur partikel nano yang memungkinkan menembus, melekat, dan memperkuat gigi secara biomimetik.

    Uji kekerasan dilakukan di Laboratorium Bahan dan Produksi, Sekolah Vokasi UGM dengan menggunakan gigi sapi.

    Dilansir ugm.acid, hasil pengujian memperlihatkan adanya peningkatan kekerasan email gigi sapi dan penurunan porositas permukaan setelah pemakaian aplikasi gel selama 4 hari yang direndam dengan saliva buatan.

    “Sementara itu, uji antibakteri juga telah dilakukan di Laboratorium Riset Terpadu, Fakultas Kedokteran Gigi UGM, dan hasilnya memperlihatkan zona hambat terhadap Streptococcus mutans. Hal ini menandakan adanya aktivitas antimikroba yang efektif,” ujar Hasan Rabbani, ketua Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025, di Kampus UGM, Kamis (6/11/2025).

    Selain Hasan Rabbani (Fisika 2024), Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 beranggotakan Achmad Musa Nurhadi (Kedokteran Gigi 2024), Irya Dira dan Jovanka Sandy (Kimia 2023), serta Ifah Nuur Rakhimah (Biologi 2024).

    Tim ini mendapat pendampingan dan bimbingan dari Prof. Yusril Yusuf, pakar fisika material FMIPA UGM.

    Baca: Tim PKM UGM kembangkan obat diabetes berbahan selulosa eceng gondok

    Hasan Rabbani menuturkan melalui penelitian berjudul Potensi Biokomposit Gel Nano-Hidroksiapatit Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Remineralisasi Gigi, Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 mengkaji lebih dalam tentang remineralisasi gigi sebagai cara untuk mencegah perkembangan gigi berlubang.

    Tim memilih cangkang kerang hijau dari Pantai Baron, Gunungkidul karena dinilai memiliki kandungan kalsium karbonat mencapai 95,69 persen yang dinilai ideal untuk disintesis menjadi nano-hidroksiapatit, dan menjadi mineral utama penyusun email gigi.

    Proses sintesis dilakukan melalui metode sintering menggunakan furnace dengan kontrol suhu 1000°C untuk menghasilkan partikel berukuran nano.

    “Sedangkan daun teh dari kebun teh Nglinggo, Kulon Progo, diolah melalui ekstraksi etanol 96 persen guna mendapatkan kandungan fluoride alami serta polifenol sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans,” terang Rabbani.

    Adapun ide riset lahir dari observasi tentang permasalahan karies di Indonesia yang masih cukup tinggi. Menyitir data Kementerian Kesehatan 2023, prevalensi karies gigi mencapai 82,8 persen.

    “Kami ingin menghadirkan solusi dari bahan lokal yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan berkelanjutan, dan semua berawal dari kami menyisir pesisir Pantai Baron hingga lereng pegunungan kebun teh Nglinggo yang pada akhirnya kami menghadirkan inovasi biokomposit gel remineralisasi gigi berbasis bahan alam lokal,” ungkapnya.

    Achmad Musa Nurhadi menambahkan gel yang dikembangkan Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 memiliki kemampuan menembus lapisan email gigi.

    Berbeda dengan fluoride topikal yang hanya bekerja di permukaan sehingga produk ini tidak hanya memperkuat bagian luar tetapi dapat menembus permukaan gigi untuk memperbaiki struktur mineral dari dalam.

    “Tentu saja, formulasi yang kami buat bebas dari risiko alergi protein susu sapi yang sering ditemukan pada produk impor seperti CPP-ACP,” ucap Achmad.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    Gel ini dapat diaplikasikan dengan mudah yaitu menggunakan ujung jari bersih atau spatula silikon kecil, lalu dioleskan secara merata pada permukaan gigi dua kali sehari setelah menyikat gigi.

    Dengan proses seperti dapat membantu proses remineralisasi secara lebih optimal dan alami. Iapun memastikan ukuran partikel dan struktur kristal telah sesuai standar biomaterial menggunakan XRD, FTIR, dan SEM.

    “Karenanya tantangan utama penelitian ini adalah menjaga kestabilan gel agar konsisten dalam bentuk dan viskositas, dan untungnya semua itu telah berhasil diatasi dengan pengaturan pH,” imbuhnya.

    Untuk proses uji antibakteri, Jovanka Sandy menjelaskan Tim Pevillia Dent PKM-RE 2025 menggunakan kultur Streptococcus mutans untuk melihat efektivitas antibakteri.

    Tidak semulus yang dibayangkan, dalam proses penelitiannya Tim Pevillia Dent sempat menghadapi beberapa kendala.

    Di antaranya kesulitan saat tahap sintesis karena mencari furnace bersuhu 1000C, dan proses sterilisasi gel yang aman untuk uji antibakteri. Kedua hal tersebut, kata Jovanka, menyebabkan optimasi formulasi membutuhkan waktu lebih lama dari rencana awal.

    “Berkat bimbingan intensif dan kolaborasi lintas laboratorium FMIPA, FBIO dan FKG UGM, pada akhirnya tim pun berhasil menyelesaikan tahapan uji hingga formulasi final,” ungkapnya.