Tag: ali sadikin

  • Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin: Membangun Jakarta Menjadi Kota Metropolitan yang Berbudaya

    Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin: Membangun Jakarta Menjadi Kota Metropolitan yang Berbudaya

    7cloud.asia – Selasa, 7 Juli 2026, tepat satu 100 tahun Ali Sadikin, gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern.

    Di bawah kepemimpinan Ali Sadikin yang memimpin Jakarta periode 1966–1977, Jakarta meletakkan fondasi penting pembangunannya, khususnya di sektor pengembangan seni, budaya, dan ruang publik.

    Berkat pemikiran dan gagasan Ali Sadikin, Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan yang mengutamakan kebudayaan.

    Beberapa di antaranya adalah Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, serta pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet.

    Dalam Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, peringatan satu abad Ali Sadikin menjadi momentum untuk mengenang kembali jejak kepemimpinannya yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting pembangunan kota.

    Peringatan ini menjadi penghormatan atas jasa Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 yang meletakkan fondasi penting pembangunan Jakarta, khususnya dalam pengembangan seni, budaya, dan ruang publik.

    Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin diselenggarakan oleh Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).

    Acara ini turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo, keluarga besar Ali Sadikin, seniman, budayawan, akademisi, serta berbagai komunitas kebudayaan.

    Baca: Menyambut Lima Abad Kota Jakarta

    Salah satu warisan yang terus dirasakan hingga kini adalah Taman Ismail Marzuki yang tetap menjadi ruang tumbuh seni, budaya, dan kreativitas di ibu kota.

    “Bagi saya pribadi, bukan hanya pembangunan fisik yang menjadi warisan terbesar Bang Ali, tetapi juga keberanian beliau membangun ekosistem seni dan budaya. Siapa pun gubernur Jakarta tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah diwariskan Bang Ali,” ujarnya dikutip dari pernyataan tertulis Pemprov DKI Jakarta.

    Menurut Pramono, kemajuan Jakarta harus tetap berpijak pada sejarah dan budaya. Karena itu, semangat yang diwariskan Ali Sadikin perlu terus dihidupkan melalui penguatan ekosistem seni dan budaya, sekaligus dikenalkan kepada generasi muda agar memahami perjalanan pembangunan Jakarta dan memiliki rasa memiliki terhadap kotanya.

    Semangat tersebut juga menjadi landasan Pemprov DKI Jakarta dalam melanjutkan pembangunan kota. Pramono menegaskan, Pemprov DKI terus memperkuat transportasi publik terintegrasi, mengembangkan kawasan berorientasi transit (TOD), serta menata Pasar Baru dan Kota Tua.

    Upaya tersebut berjalan seiring dengan pelestarian budaya Betawi, antara lain melalui revitalisasi Setu Babakan dan penguatan unsur budaya Betawi dalam berbagai kegiatan pemerintah.

    “Menjelang Jakarta memasuki usia lima abad pada 2027, kita ingin membangun Jakarta sebagai kota global yang modern, tetapi tetap berkarakter, menghargai sejarah, dan menjadikan kebudayaan sebagai identitas sekaligus kekuatan kota,” jelasnya.

    Pramono juga mengajak masyarakat terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai yang ditinggalkan Ali Sadikin kepada generasi muda.

    Menurutnya, keberanian berinovasi, berpikir jangka panjang, dan membangun demi kepentingan masyarakat merupakan teladan kepemimpinan yang tetap relevan bagi pembangunan Jakarta.

    “Semangat Bang Ali bukan hanya tentang apa yang telah dibangun, tetapi juga keberanian mengambil keputusan demi kemajuan kota. Nilai kepemimpinan seperti keberanian berinovasi, berpikir jangka panjang, dan membangun untuk kepentingan masyarakat harus terus menjadi inspirasi bagi kita semua,” tuturnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Gandeng IKJ untuk Menjadikan Jakarta Sebagai Kota Global yang Berbudaya

    Ali Sadikin dan pembangunan budaya
    Lahir di Sumedang, 7 Juli 1927, Ali Sadikin memulai karir sebagai prajurit TNI AL. Dia dikenal merakyat dan disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali.

    Dilansir ikj.ac.id, Ali Sadikin berjasa besar dalam menghidupkan kembali aspek budaya Betawi, seperti topeng Betawi dan lenong, kerak telor, ondel-ondel dan sebagainya.

    Di bawah kepemimpinannya diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta. Selain itu, Ali Sadikin juga menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat ini lebih dikenal dengan nama Jakarta Fair, sebagai sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh tanah air, bahkan juga dari luar negeri.

    Ia juga sempat memberikan perhatian pada kehidupan para artis lanjut usia di kota Jakarta yang saat itu banyak bermukim di daerah Tangki, sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.

    Fasilitas transportasi di Jakarta berhasil diperbaiki dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya, serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman.

    Di bawah pimpinan Ali Sadikin dibangun gelanggang remaja untuk berbagai aktivitas positif para remaja (ekstrakurikuler).

    Ali Sadikin melontarkan gagasannya untuk membangun pusat kesenian di Jakarta pada awal tahun 1968, saat meresmikan pemakaian kembali Balai Budaya yang merupakan tempat berkumpulnya seniman-seniman Jakarta di Jl Gereja Theresia.

    Dia melihat Balai Budaya sebagai satu-satunya wadah para seniman Indonesia di DKI Jakarta saat itu, tak lagi cukup untuk menampung para seniman untuk berkreativitas dan menuangkan gagasan seninya.

    Dari gagasan inilah lahir Taman Ismail Marzuki atau yang dikenal sebagai TIM yang bertahan hingga kini. Bagaimana proses pembangunan TIM akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Jakarta Jadi Kota Global Apa Manfaat yang Dirasakan Warga?

     

  • Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki dan Kebebasan Berkesenian Bagi Warga Kota Jakarta

    Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki dan Kebebasan Berkesenian Bagi Warga Kota Jakarta

    7cloud.asia – Puncak peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026 resmi ditndai dengan sesi Memorial Lecture yang menghadirkan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (Foke).

    Dalam pemaparannya, Foke menegaskan peran besar Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menempatkan seni sebagai hak publik yang sejajar dengan hak atas kesehatan dan pendidikan.

    Menurut Foke, Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia.

    Salah satu warisan terpenting Bang Ali, lanjut Foke, adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai public good atau barang publik sejak 1968.

    “Kebudayaan ini utamanya adalah sebuah barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada,” ujar Foke, Kamis (16/7/2026).

    Baca: Ali Sadikin Membangun Jakarta Menjadi Kota Metropolitan yang Berbudaya

    Prinsip tersebut menjadi pijakan Ali Sadikin saat mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta.

    Foke menceritakan, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana Bang Ali kepada para seniman.

    “Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?” kata Foke menirukan ucapan Bang Ali.

    Pertanyaan itu kemudian melahirkan gagasan menyediakan ruang bagi ekosistem seni di bekas kawasan Kebun Binatang Cikini.

    Menurut Foke, bagi Ali Sadikin, membangun gedung saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa campur tangan pemerintah.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Gandeng IKJ untuk Menjadikan Jakarta Sebagai Kota Global yang Berbudaya

    Ia pun mengutip salah satu pernyataan ikonik Bang Ali, “Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam mencipta”.

    Prinsip tersebut menjadikan TIM bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan wujud tanggung jawab Negara dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat.

    Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin membuktikan bahwa visi yang kuat mampu melahirkan pembangunan besar.

    Foke menyebut, Bang Ali sebagai sosok yang selalu thinking out of the box, mulai dari menjadi pelopor penggunaan komputer di pemerintahan pada 1969 hingga menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.

    “Beliau adalah seorang pribadi yang sangat kokoh akan keyakinannya. Kalau dia sudah yakin, dia akan mempertahankan itu dan konsisten mempertahankannya sampai kapan pun,” kenang Foke.

    Baca: Menyambut Lima Abad Kota Jakarta

    Menurut Foke, gagasan Ali Sadikin tentang kemandirian seniman dan pelestarian warisan budaya (heritage) tetap relevan di era digital.

    Sebab itu, ia berharap, nilai-nilai kebebasan berkarya serta dukungan pemerintah terhadap kebudayaan terus dijaga sebagai warisan yang berkelanjutan.

    Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya.

    “Saya yakin sampai sekarang tidak ada simbol yang lebih kuat untuk menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki,” tandasnya.

    Foke juga mengusulkan agar Memorial Lecture menjadi agenda tahunan mulai tahun depan sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta.