Tag: alzheimer

  • Tumpukan Lemak Perut Picu Risiko Alzheimer

    Tumpukan Lemak Perut Picu Risiko Alzheimer

    7cloud.asia – Lemak perut tak hanya membuat penampilan kurang oke dan masalah estetika, tetapi juga memengaruhi kesehatan seseorang.

    Lemak perut pada usia paruh baya diketahui meningkatkan risiko diabetes, stroke, serta penyakit jantung, dan yang terbaru, Alzheimer, penyebab paling umum dari demensia.

    Sebuah penelitian di Washington University School of Medicine Amerika Serikat, dilansir Medical Dialy beberapa waktu lalu, jumlah lemak perut viseral yang lebih tinggi pada usia paruh baya meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

    Dalam kondisi normal, Lemak viseral, yang terdapat di dalam rongga perut, atau lemak perut berfungsi untuk melindungi organ di perut, seperti hati, pankreas, dan usus.

    Baca: Hari Aids Sedunia, jumlah penderita perempuan bertambah

    Namun, bila jumlahnya terlalu banyak, lemak perut bisa memicu perut buncit, bahkan menyebabkan gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, obesitas, kolesterol, dan resistensi insulin.

    Lemak viseral disimpan ketika seseorang makan terlalu banyak kalori dan kurang berolahraga.

    Para peneliti menemukan hubungan antara lemak tersembunyi ini dan perubahan pada otak yang terkait dengan Alzheimer yang dapat membantu memprediksi kondisi tersebut bahkan 15 tahun sebelum gejala awal muncul.

    Mereka mengevaluasi 54 partisipan yang sehat secara kognitif antara usia 40 hingga 60 tahun, dengan indeks massa tubuh rata-rata 32.

    Baca: Awas olahraga berlebihan bisa picu serangan jantung

    Volume otak peserta diukur menggunakan MRI dan keberadaan amiloid dan tau (protein di otak yang terkait dengan Alzheimer) ditentukan dengan menggunakan pemindaian tomografi emisi posisi (PET).

    Untuk mengidentifikasi risiko Alzheimer, para peneliti memperkirakan hubungan dengan faktor-faktor seperti indeks massa tubuh, obesitas, resistensi insulin, dan jaringan adiposa (lemak) perut.

    Penelitian ini juga menemukan hubungan antara lemak perut yang lebih tinggi dan peningkatan peradangan otak, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko Alzheimer.

    “Studi ini menyoroti mekanisme utama di mana lemak tersembunyi dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer”

    Baca: Sering begadang dan jarang olahraga bisa picu stroke

    “Hal ini menunjukkan bahwa perubahan otak tersebut terjadi sejak usia 50 tahun, rata-rata hingga 15 tahun sebelum gejala kehilangan memori paling awal dari Alzheimer terjadi,” kata peneliti Cyrus A. Raji.

    “Temuan dampak lemak perut ini terjadi lebih buruk pada laki-laki daripada perempuan,” tambahnya.

    Sumber: Antaranews.

  • Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    Sama-sama Menyerang Lansia, Berikut Perbedaan Penyakit Alzheimer dan Demensia

    7cloud.asia – Penyakit Alzheimer dan demensia merupakan dua jenis penyakit degeneratif pada lansia yang membuat penderitanya mengalami gejala penurunan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, hingga perubahan perilaku.

    Gejala-gejala yang hampir sama tersebut membuat demensia dan Alzheimer sulit untuk dibedakan, terutama bagi orang awam.  

    Perlu diketahui bahwa demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah untuk kumpulan gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya.

    Demensia merupakan istilah umum, menggambarkan gejala yang terjadi ketika otak dipengaruhi oleh penyakit atau kondisi tertentu.

    Lansia dengan demensia akan menurun kemampuannya dalam berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi, dan daya ingat.

    Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang paling umum. Alzheimer adalah gangguan yang memengaruhi fungsi kognitif, di mana penderitanya dapat mengalami masalah pada ingatan, perilaku, dan kemampuan dalam berpikir. 

    Baca: Gejala depresi terselubung pada lansia

    Dilansir alzi.or.id, demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer atau pun serangkaian stroke.

    Ada berbagai jenis demensia, meskipun ada beberapa yang lebih umum daripada yang lain karena sering dinamai sesuai dengan kondisi yang telah menyebabkan demensia tersebut.

    Penyakit Alzheimer menjadi penyebab paling umum dari demensia. Selama sakit berlangsung, zat kimia dan struktur otak berubah sehingga menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Penyakit Alzheimer, pertama kali dijelaskan oleh ahli saraf Jerman, yaitu Alois Alzheimer, merupakan penyakit fisik yang mempengaruhi otak. Selama berjalannya waktu penyakit protein plak dan serat yang berbelit berkembang dalam struktur otak yang menyebabkan kematian sel-sel otak.

    Orang dengan Alzheimer juga memiliki kekurangan beberapa bahan kimia penting dalam otak mereka. Bahan kimia ini terlibat dengan pengiriman pesan dalam otak.

    Alzheimer adalah penyakit progresif, yang berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Karena itulah gejala yang muncul menjadi lebih parah.

    Baca: Kebiasaan mereka yang mencapai sukses saat Lansia

    Mild Cognitive Impairment (MCI)
    Baru-baru ini beberapa dokter telah mulai menggunakan istilah Mild Cognitive Impairment (MCI) yaitu kerusakan kognitif ringan ketika seseorang memiliki kesulitan mengingat hal-hal atau berpikir jernih tetapi gejalanya tidak cukup berat untuk mengarah ke diagnosis penyakit Alzheimer.

    Penelitian terbaru menunjukan bahwa orang dengan MCI memiliki peningkatan risiko untuk berkembang ke penyakit Alzheimer.

    Namun, peningkatan dari MCI ke Alzheimer rendah (sekitar 10 hingga 20 persen setiap tahun) dan akibatnya diagnosis MCI tidak selalu berarti bahwa orang tersebut akan terus berkembang menjadi Alzheimer.

    Tahapan Alzheimer
    Semua jenis demensia bergerak secara progresif. Ini berarti bahwa struktur kimia otak menjadi semakin rusak dari waktu ke waktu. Kemampuan seseorang untuk mengingat, memahami, berkomunikasi dan berpikir secara bertahap pun menurun.

    Seberapa cepat perkembangan demensia tergantung pada masing-masing individu. Setiap orang unik dan mengalami demensia dengan cara mereka sendiri.

    Bagaimana seseorang mengalami demensia tergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi fisik, ketahanan emosional dan dukungan bagi mereka.

    Baca: Manfaat bekerja pada kelompok lansia

    Melihat demensia sebagai serangkaian tahapan, dapat menjadi cara yang berguna untuk memahami suatu penyakit tetapi penting untuk menyadari bahwa cara ini hanya memberikan panduan kasar di dalam melihat perkembangan kondisi.

    Penyebab Alzheimer
    Sejauh ini, tidak ada satu faktor utama yang telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Alzheimer.

    Sangat mungkin bahwa kombinasi beberapa faktor mempengaruhi seperti usia, pembawaan genetik, faktor lingkungan, gaya hidup dan kesehatan umum. Pada beberapa orang, penyakit ini dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sampai gejalanya muncul.

    1. Usia
    Usia merupakan faktor risiko terbesar untuk demensia. Demensia mempengaruhi satu dari 14 orang di atas usia 65 tahun dan satu dari enam di atas usia 80 tahun.

    2. Faktor genetik
    Kita tahu bahwa ada beberapa keluarga yang jelas mempunyai pembawaan penyakit dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam keluarga, hal ini sering terjadi dimana penyakit muncul relatif lebih awal.

    Dalam sebagian besar kasus, pengaruh gen penyakit Alzheimer yang diwariskan oleh orang tua tampaknya kecil.

    Jika orang tua atau anggota keluarga lain cenderung terkena Alzheimer, kemungkinan terserang Alzheimer yang hanya sedikit lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki kasus Alzheimer pada keluarga dekatnya.

    Baca: Indonesia masuki era Aging Population

    3. Faktor lingkungan
    Faktor lingkungan yang dapat berkontribusi pada timbulnya penyakit Alzheimer masih harus diidentifikasi.

    Beberapa tahun yang lalu, ada kekhawatiran bahwa paparan aluminium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Namun, ketakutan ini sebagian besar telah diabaikan.

    4. Faktor lain
    Dapat dikarenakan oleh perbedaan kromosom, orang dengan down sindrome memiliki peningkatan risiko berkembangnya penyakit Alzheimer.

    Orang yang memiliki cedera kepala berat atau leher (whiplash injuries) juga memiliki peningkatan risiko mengalami perkembangan demensia. Petinju yang menerima pukulan terus menerus di kepala juga memiliki risiko tersebut.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi atau diabetes memiliki peningkatan risiko perkembangan penyakit Alzheimer.

    Risiko Alzheimer dapat dikurangi dengan tidak merokok, makan diet seimbang yang sehat dan melakukan pemeriksaan tekanan darah serta kolesterol secara rutin di usia pertengahan.

    Menjaga berat badan dan gaya hidup sehat serta menggabungkan kegiatan mental dan sosial juga akan membantu.

  • Studi: Jalan Kaki 5000 Langkah Sehari Kurangi Risiko Alzheimer

    Studi: Jalan Kaki 5000 Langkah Sehari Kurangi Risiko Alzheimer

    7cloud.asia – Kabar gembira bagi para penderita Alzheimer. Para peneliti Australia dan internasional mengungkap, jalan kaki 5.000 hingga 7.500 langkah per hari dapat membantu memperlambat perubahan otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

    Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine itu melacak 294 orang dewasa berusia 50 hingga 90 tahun dengan fungsi otak normal selama hampir 14 tahun.

    Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (4/11/2025) oleh penerbit jurnal ilmiah Springer Nature di situs web Australian Science Media Center, para peneliti mengamati jumlah langkah harian mereka, fungsi otak, dan penumpukan protein yang berkaitan dengan Alzheimer pada otak.

    Penelitian itu menemukan, aktivitas fisik –termasuk jalan kaki– yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan fungsi otak yang lebih lambat.

    Baca: Tumpukan lemak perut picu risiko Alzheimer

    Laporan itu juga menyebutkan bahwa aktivitas fisik juga berhubungan dengan penumpukan protein yang berhubungan dengan Alzheimer yang lebih lambat pada otak.

    Orang yang menunjukkan tanda-tanda Alzheimer dini pada otak mereka mungkin dapat memperlambat perkembangannya dengan olahraga ringan setiap hari, kata tim peneliti dari Universitas Melbourne di Australia.

    Tim sistem perawatan kesehatan Mass General Brigham ini berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Harvard di Amerika Serikat, dan Universitas Toronto di Kanada.

    Menurut studi tersebut, partisipan yang berjalan lebih dari 5.000 langkah per hari menunjukkan penurunan yang lebih lambat dalam hal memori dan kemampuan berpikir.

    Baca: Kenali perbedaan penyakit Alzheimer dan demensia

    Yang mana, kondisi ini berkaitan dengan penurunan penumpukan tau, protein yang berhubungan dengan perkembangan penyakit Alzheimer.

    Kognisi dan akumulasi tau mencapai level stabil pada tingkat aktivitas moderat dengan 5.001-7.500 langkah per hari, kata para peneliti.

    Mereka menambahkan bahwa bahkan olahraga ringan, dengan sekitar 3.000 hingga 5.000 langkah, dapat dikaitkan dengan perlambatan signifikan dalam penumpukan tau dan penurunan kognitif.

    Dengan semakin luasnya penggunaan perangkat digital yang dapat dikenakan (wearable), seperti jam tangan pintar, studi tersebut menyoroti “target aktivitas fisik yang mudah diakses yang dapat mendorong partisipasi yang lebih besar di kalangan orang dewasa lanjut usia yang kurang aktif.”

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Drama Korea “Memory“: Perjuangan Penderita Alzheimer Menghadapi Ingatannya yang Terus Memudar

    Drama Korea “Memory“: Perjuangan Penderita Alzheimer Menghadapi Ingatannya yang Terus Memudar

    7cloud.asia – Lima menit sebelum acara dimulai, pengacara sukses Park Tae-seok mendapat telepon dari dokter pribadi yang juga sahabatnya, yang memberitahu dirinya menderita alzheimer.

    Antara percaya dan marah, Tae Seok kemudian meninggalkan panggung menuju ke lobby agar bisa lebih leluasa berbicara.

    Lantas, dari layar televisi yang ada di lobby dia menyaksikan siaran televisi yang memberitakan dokter Kim, klien yang berhasil dia serang karena penyakit alzheimer telah bunuh diri dengan melompat dari kantornya.

    Di saat itulah Tae Seok teringat ucapan dokter Kim di pertemuan terakhir mereka, “Kemalangan dapat mengetuk pintumu tanpa peringatan. Kemalangan itu dapat datang diam-diam hingga tak ada waktu bagi kita untuk mempersiapkan diri untuk menghadapinya“.

    Itulah adegan pembuka drama Korea berjudul Memory yang saya tonton baru-baru ini. Drama Korea yang dirilis pada 2016 lalu di TVN ini menyuguhkan perjuangan penderita alzheimer menjalani hidupnya.

    Skenario Memory yang ditulis Kim Ji Woo dengan jeli mengungkap penderitaan sekaligus perjuangan Park Tae-Seok (Lee Sung Min) melawan alzheimer untuk bertahan.

    Baca: Drama korea ini memotret penderita kepribadian ganda

    Drama Korea besutan sutradara Park Chan Hong ini berhasil memotret usaha keras Tae Seok untuk melindungi nilai berharga dari kehidupan dan cinta keluarganya, saat ingatannya setahap demi setahap memudar.

    Lee Sung Min dengan apik memainkan tokoh Tae Seok, seorang pengacara brilian dan pekerja keras harus menghadapi kenyataan pahit ingatannya terus memudar karena serangan alzheimer.

    Sinopsis
    Divonis menderita alzheimer di puncak usia yakni pertengahan 40an, saat kariernya sebagai pengacara juga sedang berada di puncak bukanlah hal mudah.

    Ada kasus hukum yang harus dia selesaikan. Ada masalah keluarga yang harus ditangani. Juga kejadian masa lalu yang belum sepenuhnya terurai sehingga menyisakan rasa bersalah dalam hatinya

    Tae Seok yang baru saja mengalami kejadian mengguncangkan -kliennya meninggal karena bunuh diri- harus terjebak dalam rasa tak percaya, penyangkalan dan bahkan menyalahkan semesta mengapa hal ini harus menimpanya.

    Semua tumpukan masalah ini membuat kondisi Tae Seok makin buruk. Ingatannya datang dan pergi, bahkan tak jarang juga kabur.

    Baca: Drama Korea ini memotret perjuangan penyintas bipolar melawan penyakitnya

    Beberapa kali, Tae Seok tidak dapat membedakan antara masa lalu dan masa kini.
    Kadang dia lupa telah lama bercerai dengan hakim Na Eun Sun. Dia juga lupa bahwa Dong Woo, putranya dengan Eun Sun telah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan.

    Sadar alzheimer mengancam kariernya, Tae Seok menyembunyikan penyakitnya ini dari keluarga dan rekan kerjanya. Dia selalu mencoba berbagai alasan, seperti sedang mabuk atau lelah.

    Namun, sejumlah kesalahan demi kesalahan yang dia lakukan membuat orang-orang di sekitarnya di sekitarnya bertanya-tanya. Mereka heran melihat perubahan Tae Seok yang selama ini dikenal pekerja keras dan teliti.

    Di sisi lain Tae Seok yang mulai menerima kondisinya, akhirnya menyadari berkah yang dia rasakan ketika segala kelebihannya perlahan-lahan hilang.

    Mungkin sudah terlambat, mungkin tidak ada cukup waktu tersisa bagi Tae Suk untuk memperbaiki kesalahannya. Namun, Tae Seok memutuskan untuk tetap berusaha.

    Baca: Drama korea yang mengangkat isu kesehatan mental

     

  • Riset: Mengonsumsi Cukup Vitamin D Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

    Riset: Mengonsumsi Cukup Vitamin D Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

    7cloud.asia – Penelitian terbaru menghubungkan kadar vitamin D pada kelompok usia paruh baya dengan gumpalan protein tau beracun yang menumpuk di otak penderita penyakit Alzheimer.

    Protein tau adalah sejenis protein pengikat mikrotubulus yang berfungsi menstabilkan mikrotubulus di dalam neuron otak.

    Protein ini berperan penting dalam menjaga struktur sel saraf, namun jika mengalami kelainan (patologis) dapat membentuk serat abnormal yang dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

    Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan di Neurology Open Access, dijelaskan kesimpulan ini diambil dari analisis data statistik dari sampel darah dan pemindaian otak dari 793 orang dewasa.

    Hasilnya, menunjukkan bahwa semakin banyak vitamin D dalam tubuh seseorang di usia paruh baya, semakin rendah jumlah gumpalan protein tau yang cenderung mereka miliki beberapa tahun kemudian.

    Temuan ini berasal dari tim peneliti internasional, dan meskipun tidak membuktikan sebab dan akibat secara langsung, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang patut diteliti lebih lanjut.

    Baca: Jalan kaki 5000 langkah sehari kurangi risiko Alzheimer

    Ahli saraf dari Universitas Galway di Irlandia, Martin David Mulligan yang memimpin penelitian mengatakan, hasil ini menunjukkan bahwa kadar vitamin D yang lebih tinggi di usia paruh baya dapat memberikan perlindungan terhadap pembentukan endapan tau di otak.

    ”Dan bahwa kadar vitamin D yang rendah berpotensi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan diobati untuk mengurangi risiko demensia,” katanya seperti dikutip sciencealert.com.

    Dia menambahkan, tentu saja, hasil ini perlu diuji lebih lanjut dengan studi tambahan.

    Para peneliti mengukur kadar vitamin D para pasien sekali, sebagai bagian dari penilaian awal pada usia 39 tahun. Pemindaian otak yang dilakukan rata-rata 16 tahun kemudian digunakan untuk menilai kadar tau dan amiloid-beta, protein lain yang terkait erat dengan Alzheimer.

    Penelitian ini tidak meneliti diagnosis demensia –tidak satu pun dari peserta ini menderita penyakit Alzheimer pada saat pencitraan otak– tetapi perilaku protein tau dan amiloid-beta yang abnormal digunakan sebagai indikator masalah otak mirip Alzheimer yang mungkin sedang berkembang.

    Baik protein tau maupun amiloid-beta bukanlah protein yang secara alami merusak; otak membutuhkannya agar tetap sehat.

    Baca: Tumpukan lemak perut picu risiko Alzheimer

    Kerusakan yang terkait dengan Alzheimer dimulai ketika protein-protein ini mulai kacau dan menyumbat neuron, karena sel-sel otak rusak dan komunikasi antar sel terganggu.

    Meskipun penelitian ini tidak menemukan hubungan antara vitamin D dan amiloid-beta, hubungan antara vitamin D dan protein tau menjadi jelas.

    Hal ini berlaku untuk otak secara keseluruhan, serta beberapa wilayah yang diketahui terpengaruh oleh Alzheimer pada tahap paling awal.

    “Sejauh pengetahuan kami, belum ada penelitian sebelumnya yang mengevaluasi hubungan antara vitamin D serum dan penanda neuroimaging demensia praklinis,” tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan.

    Suplementasi dengan dosis vitamin D yang lebih tinggi, dan/atau dalam jangka waktu yang lebih lama pada individu yang lebih muda dan sehat secara kognitif mungkin bermanfaat, karena peluang untuk modifikasi penyakit lebih besar.

    “Namun, ini akan membutuhkan pengujian formal dalam uji klinis.” imbuh laporan tersebut.

    Baca: Kenali perbedaan penyakit alzheimer dan demensia

    Penelitian sebelumnya telah menghubungkan vitamin D dengan berbagai manfaat kesehatan dan perlindungan terhadap demensia, tetapi sekarang kita memiliki hubungan antara vitamin D dan protein yang terkait dengan Alzheimer.

    Meskipun masih belum jelas apakah kekusutan tau merupakan penyebab utama penyakit atau hanya gejalanya, kekusutan tau tetap menjadi salah satu tanda paling awal bahwa ada sesuatu yang salah.

    Para peneliti merujuk pada studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa vitamin D dapat menyempurnakan sistem kekebalan tubuh di otak menjadi lebih baik, sementara kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan protein tau yang berperilaku tidak normal di otak tikus.

    Kita tahu bahwa sejumlah faktor berbeda berperan dalam risiko Alzheimer, mulai dari protein berbahaya hingga genetika yang kita miliki sejak lahir. Ini adalah gambaran yang kompleks, tetapi para ilmuwan secara bertahap semakin memahami detailnya.

    Studi ini menunjukkan bahwa sebagian kecil dari risiko penyakit tersebut dapat dikurangi dengan mendapatkan cukup vitamin D, jadi para peneliti merekomendasikan untuk mempertimbangkan pasien lebih banyak berjemur di bawah sinar matahari atau menambahkan lebih banyak ikan ke dalam dietnya.

    Namun mereka diingatkan, asupan vitamin D harus dilacak lebih lengkap selama beberapa dekade, dan dikaitkan dengan diagnosis, untuk mengetahui dengan pasti.

    “Hasil ini menjanjikan, karena menunjukkan adanya hubungan antara kadar vitamin D yang lebih tinggi di usia paruh baya awal dan beban tau yang lebih rendah rata-rata 16 tahun kemudian,” kata Mulligan.

    “Usia paruh baya adalah waktu di mana modifikasi faktor risiko dapat memiliki dampak yang lebih besar,” katanya.

  • Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    Studi: Konsumsi Vitamin C Meningkatkan Fungsi dan Kesehatan Otak

    7cloud.asia – Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri, jadi kita perlu mengonsumsi cukup nutrisi penting ini melalui makanan kita. Vitamin C mengalir melalui tubuh kita, dari lambung, ke dalam darah, dan naik ke otak.

    Studi sebelumnya telah mengisyaratkan betapa pentingnya vitamin C bagi fungsi otak. Vitamin C terkonsentrasi di jaringan otak, dengan cairan serebrospinal yang membasahi otak mengandung vitamin C dua kali lebih banyak daripada darah.

    Asupan vitamin C yang cukup juga telah dikaitkan dengan risiko lebih rendah terkena penyakit Alzheimer.

    Sebuah penelitian baru yang telah diterbitkan di PLOS One memberi tahu lebih banyak tentang bagaimana vitamin C dapat meningkatkan kesehatan otak di usia lanjut.

    Sebelumnya diketahui bahwa vitamin C adalah antioksidan dan terlibat dalam berbagai reaksi kimia dalam tubuh kita.

    Tetapi kita tidak banyak mengetahui tentang bagaimana kadar vitamin C dalam darah (yang lebih mudah diambil sampelnya) mungkin berhubungan dengan kesehatan otak.

    Untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut, para peneliti di Universitas Hirosaki di Jepang mengambil sampel darah dari 2.044 sukarelawan dengan usia rata-rata 69 tahun.

    Mereka lalu mempelajari bagaimana kadar vitamin C dalam sampel tersebut sesuai dengan fitur-fitur tertentu pada pemindaian otak.

    Baca: Mengonsumsi Cukup Vitamin D Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

    Mereka sangat tertarik pada sirkuit otak utama yang disebut jaringan mode default (DMN) yang bekerja secara diam-diam, menghubungkan banyak bagian otak, bahkan ketika Anda merasa tidak melakukan apa pun.

    Pelonggaran DMN juga telah dikaitkan dengan penurunan kognitif, jadi para peneliti ingin melihat seberapa erat koneksi tersebut di antara orang Jepang lanjut usia.

    Terdapat hubungan yang jelas di antara para peserta dalam penelitian ini: Lebih banyak vitamin C dalam darah dikaitkan dengan volume materi abu-abu yang lebih tinggi, jaringan otak yang menangani memori, gerakan, dan emosi.

    Kadar vitamin C yang lebih tinggi juga berkorelasi dengan konektivitas yang lebih kuat di DMN.

    Namun, ini hanya penilaian satu kali, jadi ini tidak membuktikan bahwa vitamin C secara langsung memengaruhi koneksi otak tersebut.

    Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa vitamin C mungkin berperan dalam menjaga kesehatan otak – dan mungkin, secara tidak langsung, membantu mencegah demensia.

    “Temuan ini menghasilkan hipotesis menarik bahwa diet kaya vitamin C mungkin berperan mendukung dalam menjaga kesehatan otak dan mengurangi penurunan kognitif terkait usia pada orang dewasa yang lebih tua,” kata ahli radiologi Tomohiro Shintaku, dari Universitas Hirosaki.

    Jaringan Mode Default (DMN) menghubungkan beberapa wilayah otak penting, termasuk korteks prefrontal ventromedial di dekat bagian depan otak kita (terkait dengan pemrosesan risiko, ketakutan, dan emosi), dan korteks cingulate posterior di tengah (terlibat dalam memori dan kontrol motorik).

    Baca: Lima Tahap Perkembangan Otak

    Secara keseluruhan, DMN telah dikaitkan dengan sejumlah fungsi kognitif yang berbeda, meliputi apa yang kita ingat tentang diri kita sendiri dan bagaimana kita menyebut diri kita sendiri, memikirkan masa depan, dan mengendalikan perhatian kita.

    Studi sebelumnya menemukan bahwa penderita penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan depresi cenderung memiliki DMN yang lebih lemah dan kurang terhubung dengan baik.

    Masih banyak penelitian yang diperlukan untuk meneliti hubungan ini secara lebih detail, tetapi implikasinya adalah bahwa jumlah vitamin C yang sehat dapat membantu menjaga DMN tetap berjalan lebih lancar, dan mencegah beberapa gangguan kesehatan otak ini.

    “Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan antara kadar vitamin C plasma dan konektivitas DMN,” tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan.

    Konektivitas otak
    Para peneliti melihat tiga wilayah materi abu-abu yang membentuk jaringan mode default, dan menghubungkannya dengan kadar vitamin C dalam sampel darah. (Nagaya dkk., PLOS One, 2026)

    Dalam analisis mereka, para peneliti menyesuaikan beberapa faktor yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak, termasuk usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi.

    Namun mereka ingin melihat apakah mereka dapat mereplikasi temuan mereka dalam studi longitudinal yang melacak orang selama beberapa tahun, dan dalam kelompok yang lebih beragam.

    Baca: Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    Hal itu akan membantu kita memahami apakah hubungan yang ditemukan di sini, pada orang-orang yang relatif lanjut usia yang tinggal di Jepang, berlaku untuk populasi atau kelompok usia lain.

    Meskipun demikian, ini adalah alasan lain untuk mempertimbangkan untuk mendapatkan lebih banyak vitamin C dalam diet Anda. Vitamin C tidak hanya terdapat pada jeruk, sumber yang paling terkenal, tetapi juga pada banyak buah dan sayuran lainnya.

    Studi sebelumnya telah menghubungkan kadar vitamin C yang optimal dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat – tetapi vitamin C tidak banyak membantu mengatasi flu biasa.

    Saran bahwa vitamin C juga dapat melindungi dari polusi udara, menjadi rahasia kulit yang tampak lebih muda – atau meningkatkan kesehatan otak – mungkin tidak begitu jelas.

    Hubungan ini tentu layak untuk dieksplorasi, dan sementara itu, merupakan pengingat akan manfaat mengonsumsi makanan yang seimbang sementara para ilmuwan menggali detailnya.

    “Hal yang paling menarik bagi saya dari penelitian ini adalah kami mampu mendeteksi hubungan yang halus namun signifikan antara satu faktor nutrisi dan jaringan otak skala besar dengan memanfaatkan kohort berbasis komunitas yang kuat yang terdiri dari lebih dari 2.000 orang dewasa lanjut usia,” kata Shintaku.

    “Ini benar-benar menyoroti potensi dampak kebiasaan diet kita sehari-hari terhadap struktur otak kita.” imbuhnya