Tag: ambon

  • 488 Tahun Kota Ambon, dari Kota Pelabuhan Menjadi Kota Musik

    488 Tahun Kota Ambon, dari Kota Pelabuhan Menjadi Kota Musik

    7cloud.asia – Pada Kamis, 7 September 2023 besok kota Ambon akan merayakan hari jadinya yang ke-448.

    Tahun ini hari jadi Kota Ambon mengusung tema “Ambon Par Samua” atau Ambon untuk semua.

    Berbagai kegiatan dalam upaya memajukan budaya kota Ambon serta mengembangkan potensi wisata budaya digelar untuk menyambut hari jadi ibukota provinsi Maluku ini

    Pada Selasa (5/9/2023) pawai budaya digelar di lapangan Merdeka yang berada di pusat Kota Ambon. Karnaval Budaya yang digelar Pemkot Ambon ini diikuti oleh 25 Paguyuban yang ada di Kota Ambon.

    Baca: Mengenal Kota Kupang yang pernah jadi rebutan

    Penjabat walikota Ambon Boedewin Watimena mengatakan, perbedaan dan keunikan budaya yang ada di Ambon akan memberikan manfaat positif bagi warga Kota Ambon.

    “Menjadi penguatan ekonomi sehingga kita yakini sungguh bahwa, kegiatan-kegiatan budaya seperti karnaval budaya di hari ini, akan memperkuat roda perekonomian Kota Ambon yang semakin maju,” ujarnya sebagaimana dikutip Malukuterkini.com

    Boedewin berharap karnaval budaya dapat dikemas dengan baik dan kemudian dipromosikan, agar bisa menggairahkan perekonomian masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal. 

    Kota Ambon sendiri sejak beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai kota musik. Hal ini didasarkan banyaknya talenta musik yang lahir di kota itu.

    Baca: Sejarah panjang kota tertua di Indonesia

    Adapun penetapan hari jadi Kota Ambon didasarkan pada fakta sejarah, bahwa pada tanggal 7 September 1921 masyarakat Kota Ambon diberikan hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda.

    Sedangkan, tahun 1575 ditetapkan sebagai kelahiran Kota Ambon didasarkan pada tahun dimulainya pembangunan Benteng Kota Laha yang menjadi cikal bakal kota Ambon.

    Asal usul nama Kota Ambon sendiri menarik untuk dikulik. Kata Ambon diambil nama dari nama satu suku yang menghuni Maluku. Suku Ambon berasal dari Pulau Seram di sisi utara pulau.

    Dikutip Oketravel, menurut keterangan penduduk setempat, istilah itu diambil dari kata ombong yang merupakan bentukan lokal dari kata embun.

    Baca: Manado, kota di negeri jauh yang indah

    Dinamai embun karena letak geografis Kota Ambon yang dikelilingi oleh pegunungan. Puncak gunung di Pulau Ambon sering ditutupi embun yang tebal.

    Istilah Laha pun pernah dipakai untuk menamai Benteng Nossa Senhora de Anunciada yang menjadi cikal bakal kota. Dalam bahasa setempat, laha diartikan sebagai pelabuhan.

    Saat ini, istilah Ambon mengacu pada Kota Ambon, Pulau Ambon, dan suku Ambon. Namun dalam perkembangan sejarah, terutama pada abad ke-20, istilah Ambon mengacu kepada penduduk Maluku Tengah.

    Sementara itu, frasa orang Ambon sendiri mengacu pada masyarakat di Maluku Tengah yang memiliki budaya mestizo.

    Baca: Kota Salatiga yang pernah dijuluki kota tercantik di Indonesia

     

    Cikal bakal Kota Ambon lahir saat bangsa Portugis datang ke Maluku pada tahun 1513. Kota Ambon sempat jadi incaran bangsa Eropa karena hasil rempah-rempahnya yang melimpah.

    Awalnya rakyat Ambon mengira bahwa bangsa Portugis datang untuk menjalin perdagangan. Tapi seiring berjalannya waktu, sifat asli mereka terlihat yakni ingin menguasai sumber produksi rempah-rempah.

    Bangsa Portugis menjajah dan memonopoli perdagangan di Ambon. Portugis memaksa penduduk sebagai pekerja untuk membangun benteng Nossa Senhora da Anunciada.

    Setelah kedatangan bangsa Portugis, tahun 1605 Pulau Ambon dikuasai oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC). Pada awal masa VOC, terjadi beberapa pergantian gubernur. Salah satunya Adrian Martinez Block yang terkenal otoriter.

    Baca: Berawal dari Sunda Kelapa, lahirlah Kota Jakarta

    Dia memaksa warga untuk melakukan kerja paksa guna memperluas Benteng Victoria.

    Tahun 1796, VOC ditaklukkan oleh tentara Inggris di bawah pimpinan Laksamana Pieter Ramier sehingga Kota Ambon menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Inggris.

    Inggris menguasai Kota Ambon sampai tahun 1803 dan mengembalikannya kepada Belanda.

    Jepang juga pernah menjajah Ambon. Jepang berhasil menaklukan Belanda dan sekutunya dalam Pertempuran Ambon untuk merebut Kota Ambon yang merupakan markas angkatan laut Sekutu pada tahun 1942.

    Setelah Indonesia merdeka, Kota Ambon kemudian ditetapkan menjadi ibukota Maluku. Saat ini sedang ada wacana untuk memindahkan ibukota Maluku ke Pulau Masohi.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • 25 Tahun Warga Ambon, Maluku Merajut Toleransi dan Kebersamaan

    25 Tahun Warga Ambon, Maluku Merajut Toleransi dan Kebersamaan

    7cloud.asia – Tak terasa di bulan Januari 2024 ini genap 25 tahun sejak konflik pernah merebak di Ambon, Maluku. 

    Kini setelah lebih dua dekade berlalu, warga Ambon terus merajut kebersamaan dan toleransi agar konflik serupa tidak pernah terjadi lagi,  

    Tanggal 19 Januari 1999 menjadi hari yang tak bisa dilupakan bagi warga Ambon, Maluku. Perpecahan yang dipicu konflik saat itu seolah menciptakan sekat antarwarga Maluku.

    Konflik ini sempat mengoyak kedamaian di Kota Ambon, Maluku selama beberapa waktu sebelum akhirnya warga sadar konflik hanya akan membuat mereka menderita.   

    Warga Ambon Maluku yang terkenal akan kuatnya rasa persaudaraan — setelah peristiwa kelabu itu — segera sadar dan bangkit agar tak lantas makin berkonflik.

    Atas panggilan ikatan persaudaraan yang kuat, konflik tersebut justru membuat masyarakat Maluku mempererat persatuan dan kesatuan di antara mereka.

    Baca: Konflik Hamas-Israel picu Islamofobia di Inggris

    Tak memandang latar belakang suku ras dan agama, warga Maluku kembali cepat berdamai dan mengubur dalam-dalam konflik yang pernah terjadi di antara mereka.

    Terwujudnya perdamaian setelah konflik yang melanda Maluku bersumber dari revitalisasi nilai budaya yang dikandung masyarakat Nusa Ina itu jauh sebelum konflik terjadi.

    Ungkapan Ale rasa beta rasa, sagu salempeng patah dua, dan potong di kuku rasa di daging seolah menjadi ungkapan yang menyudahi konflik di antara masyarakat Maluku.

    Ale rasa beta rasa. Ungkapan ini punya makna untuk saling menghormati dan menghargai antarsesama. Hubungan persaudaraan yang kental orang Maluku hingga kini masih tertanam dalam jiwa setiap insan Nusa Ina itu.

    Bagi orang Maluku ungkapan Ale rasa beta rasa tak hanya sebuah ungkapan pertemanan atau persaudaraan. Lebih dari itu, mengandung makna perdamaian yang mendalam atas peristiwa kelam yang pernah terjadi di Maluku.

    Baca: Sulitnya perempuan masuk ke parlemen 

    Tak hanya itu, nilai pela gandong yang terkandung dalam setiap suku di Maluku juga menjadi inspirasi perdamaian.

    Banyak kelompok masyarakat Maluku menjalin hubungan persaudaraan antardesa, tanpa melihat latar belakang agama. Nilai persaudaraan inilah yang menjadi pijakan untuk mempertemukan kelompok yang pernah tercerai-berai.

    Menurut Guru besar Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon, Maluku, Prof. Jhon Ruhulessin, sejarah konflik sosial di Ambon Maluku merupakan suatu pelajaran dan pengalaman berharga bagi segenap orang Maluku khususnya, dan Indonesia pada umumnya

    “Tanpa pembelajaran itu kita akan salah arah dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat yang majemuk dalam berbangsa dan bernegara dengan asas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” katanya.

    Sebagai refleksi konflik Maluku 25 tahun lalu, Ruhulessin mengajak seluruh elemen masyarakat terus memperkuat hubungan persaudaraan.

    “Mari kita menegaskan komitmen kebangsaan kita, komitmen kemalukuan kita untuk betul-betul menata masa depan. Sebab, konflik itu tidak menyelesaikan permasalahan tapi malah menimbulkan persoalan dan kekerasan baru,” jelasnya.

    Baca: Koalisi perempuan tolak penafsiran ajaran agama yang mendiskriminasi perempuan

    Mantan Ketua Sinode GPM ini, juga mengatakan bahwa pembangunan di Maluku juga sepatutnya dilakukan dari sisi sosial budaya untuk menjaga toleransi antarumat di daerah itu.

    Senada dengan Ruhulessin, Ketua Pusat Rekonsiliasi dan Mediasi Maluku Dr. Abidin Wakano berpendapat bahwa masyarakat Maluku juga harus cerdas dalam melihat situasi dan kondisi yang terjadi.

    Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi dengan rumor yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

    Konflik kemanusiaan yang melanda Maluku tersebut boleh dikatakan sebagai salah satu konflik sipil terbesar di abad 20. Konflik itu sudah banyak memakan korban jiwa dan harta benda.

    Dosen IAIN Ambon ini menepis prediksi banyak orang bahwa pemulihan keamanan pascakonflik membutuhkan waktu 20 sampai 50 tahun. Nyatanya, Maluku bisa kembali normal jauh lebih cepat dibandingkan prediksi banyak kalangan.

    “Hanya dalam waktu beberapa tahun saja kita punya kisah sukses yang luar biasa, dan ini menjadi sebuah catatan dan cerita yang baik untuk semua orang,” jelasnya.

    Baca: Berbagi dengan sesama sambil belanja 

    Oleh sebab itu, Maluku juga harus menjadi laboratorium untuk orang belajar tentang bagaimana mewujudkan perdamaian dalam waktu cepat. Kendati begitu, memang ada satu atau dua hal yang perlu masih dibenahi bersama.

    Secara umum Maluku kembali pulih dari konflik sosial dengan waktu yang sangat cepat sehingga pantas menjadi laboratorium perdamaian di Indonesia bahkan di dunia.

    Membahas toleransi di Maluku juga tak lepas dari kaum perempuan dan anak yang menjadi kaum rentan akibat konflik yang terjadi itu.

    Di tengah ketegangan yang terjadi di antara masyarakat Maluku, muncullah Gerakan Perempuan Peduli, yang dipelopori Suster Brigita Renyaan untuk mengonsolidasikan para perempuan lintas agama dalam penyelesaian konflik tersebut.

    Modal sosial dan persaudaraan yang solid membuat setiap kelompok berjuang untuk mewujudkan perdamaian.

    Sumber: Antaranews.com penulis: Ode Dedy Lion Abdul Azis