Tag: ampas kopi

  • Inovasi Energi Terbarukan: Briket dari Ampas Kopi

    Inovasi Energi Terbarukan: Briket dari Ampas Kopi

    7cloud.asia – Beragam inovasi dilakukan untuk mencari sumber energi terbarukan. Antara lain dengan membuat briket dari berbagai sampah organik seperti serbuk gergaji, ampas kopi dan sebagainya.

    Itu juga yang dilakukan Dimas Aji, Dianto, dan Amar, pemilik kafe Dad’Cobean Café di Kota Bogor Jawa Barat yang mengolah limbah alias ampas kopi menjadi sumber energi terbarukan.

    Tiga anak muda yang masih kuliah di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor tersebut mampu menciptakan energi terbarukan (EBT) dari ampas kopi.

    Ampas kopi yang biasanya dibuang begitu saja, oleh mereka diolah dalam bentuk briket.

    Baca: Pertamax 95 berbahan tetes tebu

    “Kami memulainya dari tugas kuliah untuk membuat briket dari ampas kopi. Hingga akhirnya kami terus sempurnakan menjadi briket,” kata Dimas Aji, salah seorang pendiri kafe.

    Berkat inovasi ini, Dimas dkk mendapat beasiswa dari Kementerian Pertanian untuk dapat menyempurnakan briket dari ampas kopi ini. 

    Motivasi mereka dalam membuat produk briket ampas kopi karena briket merupakan bahan bakar yang sedang tren di masyarakat saat ini. Bahkan menjadi salah satu produk berkualitas yang ekspor.

    Itulah yang antara lain mendorong mereka mengolah ampas kopi yang melimpah di kedai mereka.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen, ini plus minusnya

    Saat ini, proses pemasaran briket energi terbarukan dari ampas kopi masih dalam tahap pengembangan. Briket ini dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. 

    Proses mengubah ampas kopi menjadi briket melewati beberapa langkah, yang dimulai dari pengeringan. Lantas, ampas kopi yang telah kering dicampur dengan bahan perekat alami, seperti tepung tapioka. 

    Campuran ampas kopi dan bahan perekat diolah lalu dipres menjadi bentuk-bentuk briket yang diinginkan.

    Briket yang baru dibentuk dikeringkan lagi untuk benar-benar menghilangkan kelembaban.

    Baca: Indonesia rampungkan peta jalan pengembangan energi hidrogen

    Ada perbedaan yang signifikan antara briket dari ampas kopi dan briket biasa.

     

    Briket ampas kopi cenderung menghasilkan sedikit asap dan aroma yang khas dari biji kopi.

    Proses pembakaran briket berbahan ampas kopi juga bisa lebih efisien dan menyebarkan panas dengan baik.

    Secara potensi, energi baru terbarukan termasuk inovasi briket kopi, mampu membuka lapangan kerja baru.

    Penulis Esti Utami, disarikan dari Antaranews.

    Baca: Plus minus biodiesel berbahan sawit

     

     

  • Ekonomi Sirkular: Perusahaan Ini Mengolah Ampas Kopi Menjadi Beragam Produk

    Ekonomi Sirkular: Perusahaan Ini Mengolah Ampas Kopi Menjadi Beragam Produk

    7cloud.asia – Selama ini banyak anggapan, ampas apapun, entah itu ampas kecap, tebu, maupun ampas kopi adalah barang tidak berguna sehingga layak dibuang.

    Padahal, ampas kopi punya banyak manfaat yang jarang diketahui dan bisa didaurulang menjadi beragam produk.

    Wiwin Nospitalia, bisa dianggap sebagai pelopor yang memanfaatkan ampas kopi yang diolah menjadi berbagai produk berguna, di antaranya lilin, sabun, aromaterapi dan pupuk.

    Dilansir VOA Indonesia, perempuan kelahiran Ciamis itu mengenang awal munculnya ide memanfaatkan ampas kopi.

    Teman saya dari komunitas datang, ujarnya, dan bertanya kenapa dibuang ampas kopinya? Kenapa tidak dibuat lilin, sabun dan lainnya?

    ”Nah, dari situlah akhirnya saya waktu itu membuat body scrub (krim penggosok kulit tubuh) dulu, lalu lilin. Akhirnya ruangan jadi wangi kopi. Karena banyak, akhirnya jadi souvenir (cindera mata),” tuturnya.

    Baca: Daur ulang ampas kopi menjadi briket

    Usaha Wiwin itu kini berkembang menjadi kursus atau pelatihan membuat berbagai produk dari ampas kopi.

    Proyek yang dikenal dengan “zero waste” ini, disambut baik oleh pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin), yang mendukung proyek pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai jual.

    Timmy Rorimpandey, Wakil Ketua Kadin Jakarta Selatan, Bidang Perindustrian dan IKM (Industri Kecil Menengah) menjelaskan, proyek zero waste coffee ini merupakan langkah yang sangat positif dalam mendukung upaya lingkungan berkelanjutan dan pengelolaan limbah secara lebih baik.

    ”Kami sudah melakukan workshop (lokakarya), para pengusaha kedai kopi kami undang dan kami beri pelatihan, supaya ampas kopi itu tetap bernilai. Jadi tidak mencemari lingkungan, tapi tetap memiliki value (nilai),” imbuhnya.

    Pertumbuhan kedai kopi di Jakarta sangat cepat. Menurut Timmy, untuk Jakarta Selatan saja terdapat sekitar 200 kedai kopi. Kemudian, bagaimana Wiwin memperoleh ampas kopi?

    Salah seorang mitranya, pemilik café, Kopi Bumi, Amalia Lutfiati mengatakan bahwa kedai kopinya setiap hari bisa menghasilkan 3-4 kilogram ampas kopi.

    Baca: Daur ulang minyak jelantah jadi bisnis yang menjanjikan

    Cafenya juga sering menjadi tempat untuk pelatihan membuat produk dari ampas kopi yang dipandu oleh Wiwin Nospitalia.

    “Kebetulan mbak Wiwin itu dengan tim sering mengundang beberapa orang, nah untuk makan paginya memakai tempat dan sajian dari café kami,” tukas Lia.

    Wiwin mengatakan, tentu saja ada kemitraan yang saling menguntungkan di antara mereka, pihak kedai kopi juga memperoleh barang-barang hasil produksi dari ampas kopi itu, jelasnya.

    Dia mengaku, bekerja sama dengan café-café. Misalnya ampasnya dia ambil, lalu mereka tambahkan uang untuk biaya produksi. Nanti saya kembalikan sudah dalam produk siap jual, seperti sabun, lilin, aroma terapi, yang mereka jual di café.

    ”Kedua, biasanya dengan masyarakat umum untuk kado dan yang ketiga dengan komunitas dan wedding organizer, biasanya untuk souvenir,” ujar Wiwin.

    Baca: Mengenal apa itu ekonomi sirkular

    Salah seorang pengguna sabun dari ampas kopi, Dewi Prihatiningsih mengatakan, seluruh keluarganya menggunakan sabun ini. Alasannya dibuat dari bahan-bahan alami dan menyukai aroma kopi.

    “Manfaatnya bagus ya, seperti mengangkat sel kulit yang mati, semacam scrub. Kebetulan kulit mukaku kan agak sensitif ya, aku coba pakai sabun itu ya jerawatku agak berkurang,” akunya.

    Bagi mereka yang tidak menyukai aroma kopi yang terlalu keras, kini lilin dari ampas kopi itu dicampuri wewangian, baik dari bunga maupun buah-buahan, seperti mawar dan melati, strawberry, dan lain sebagainya.

    Olahan ampas kopi yang semula dianggap tidak berguna itu, kini menjadi berbagai produk dengan nilai jual, sekaligus bermanfaat bagi lingkungan dan menambah penghasilan.

    Manfaat ganda ini disyukuri oleh Wiwin Nospitalia yang sebelumnya juga pernah membuat sabun dari garam dan teh. Upaya itu ia lakukan untuk membantu para petani garam dan teh di Jawa Barat.

    Usaha yang diberi nama West Java Mahakaya itu, bisa mempekerjakan warga setempat sambil memanfaatkan kearifan lokal. (Sumber: VOA Indonesia)