7cloud.asia – Gunung Anak Krakatau beberapa pekan terakhir ini kerap erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik.
Akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ini aktivitas warga menjadi terganggu. Seperti yang diungkapkan oleh Riko, Kepala Dusun Regan Lada di Desa Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Menurutnya sudah lima hari warga tidak bisa dengan leluasa keluar rumah terkena dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau .
“Sekarang ini warga mau beraktivitas ke luar rumah sudah tidak bisa leluasa lagi. Kita keluar enggak bisa naik motor. Kalau tidak pakai kaca mata, abunya masuk ke mata,” jelas Riko seperti yang dilansir Antaranews pada Sabtu (16/12/2023).
Karena itu, ia berharap ada bantuan dari pemerintah berupa masker atau kacamata agar warga dapat kembali beraktifitas.
Baca: Ahli geologi imbau masyarakat patuhi kawasan rawan bencana
Sementara itu, Angga Irawan, seorang warga Desa Pulau Sebesi, mengkhawatirkan dampak buruk hujan abu dari Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan.
“Bagaimana tidak, kita ke luar rumah saja yang kita hirup udara itu sudah tidak sehat lagi, udaranya sudah bercampur debu, abu vulkanik, dan sangat mengganggu jarak pandang,” unkap Angga.
berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu pukul 07.35 WIB, pukul 08.26 WIB, dan pukul 10.24 WIB.
bBca: Gunung Anak Krakatau Meletus Hingga 8 Kali
Selama erupsi, gunung api itu melontarkan abu vulkanik setinggi 500 meter sampai 1.000 meter di atas puncak gunung.
Sebelumnya Gunung Anak Krakatau juga beberapa kali mengalami erupsi pada Selasa hingga Jumat (12-15/12/2023).
Menurut PVMBG, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda di wilayah Kabupaten Lampung Selatan statusnya berada di Level III atau Siaga.
Warga, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas di area dalam radius 5 km dari kawah aktifnya.
Reoporter: Nurakhmayani
