7cloud.asia – Ratusan ribu anak Palestina menderita malnutrisi di Gaza, akibat blokade Israel yang membatasi makanan dan bantuan kemanusiaan lainnya memasuki wilayah kantong Palestina tersebut.
Pada Jumat (22/8/2025), sebuah lembaga pemantau kelaparan yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa lebih dari setengah juta orang mengalami kelaparan di Gaza utara.
Ini merupakan status kelaparan pertama yang pernah tercatat di Timur Tengah dalam dekade ini.
Sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) memperingatkan bahwa angka tersebut dapat mencapai 614.000 karena kelaparan, dan diperkirakan akan menyebar ke wilayah Deir el-Balah dan Khan Younis pada akhir September.
Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, lebih dari 280 orang, termasuk lebih dari 110 anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan yang disebabkan oleh Israel sejak perang di Gaza meletus hampir dua tahun lalu.
Baca: Korban meninggal akibat kelaparan di Gaza terus bertambah
IPC dalam pernyataan pada Jumat, menyebut anak-anak sangat terdampak krisis ini, dengan perkiraan 132.000 anak di bawah usia lima tahun diproyeksikan berisiko meninggal dunia akibat malnutrisi akut pada Juni 2026.
Dr. Ahmad al-Farra, kepala dokter anak di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, mengatakan 120 anak sedang menjalani perawatan malnutrisi di fasilitas tersebut, sementara puluhan ribu lainnya menderita di kamp-kamp pengungsian dengan sedikit bantuan.
Ia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa anak-anak di Gaza akan menderita akibat malnutrisi seumur hidup mereka, karena rumah sakit di daerah kantong tersebut kekurangan sumber daya dan perlengkapan untuk merespons krisis.
Mohammed Abu Salmiya, direktur Rumah Sakit al-Shifa Kota Gaza, juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekitar 320.000 anak di seluruh Gaza berada dalam kondisi malnutrisi parah.
Ia mengatakan semua pasien yang terluka di rumah sakit juga menderita malnutrisi, di tengah blokade Israel yang terus berlanjut di daerah kantong tersebut.
Baca: 24 Negara desak Israel setop blokade terhadap Gaza
Israel telah menolak temuan IPC, kementerian luar negerinya mengatakan bahwa “tidak ada kelaparan di Gaza”. Meskipun banyak bukti ditemukan di lapangan.
Meskipun Israel telah mengizinkan pasokan terbatas ke wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir, PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan mengatakan bahwa apa yang diizinkan masuk masih sangat tidak mencukupi.
Skema distribusi bantuan yang didukung Israel yang dikenal sebagai Gaza Humanity Foundation yang dikelola pasukan Israel dan kontraktor AS juga dikecam, karena dinilai tidak efektif dan mematikan.
Gaza Humanity Foundation disebut bertanggung-jawab atas kematian lebih dari 2.000 warga Palestina saat mereka mencari makanan di lokasi tersebut sejak akhir Mei.
Baca: Hamas setujui usulan gencatan senjata di Gaza
Klasifikasi kelaparan IPC telah memicu gelombang seruan baru bagi Israel untuk segera mengizinkan masuknya bantuan dalam jumlah besar dan berkelanjutan ke Gaza.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Jumat bahwa kelaparan tersebut merupakan “bencana buatan manusia, sebuah dakwaan moral, dan kegagalan kemanusiaan itu sendiri”.
Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, juga mengatakan kelaparan terjadi “dalam radius beberapa ratus meter dari lokasi makanan” karena truk-truk bantuan tertahan di perlintasan perbatasan akibat pembatasan Israel.
Ia menuntut agar Israel mengizinkan masuknya makanan dan obat-obatan “dalam skala besar yang diperlukan”.
