Tag: anggur

  • Upaya Industri Anggur Dunia Membangun Keberlanjutan dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    Upaya Industri Anggur Dunia Membangun Keberlanjutan dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Meskipun jejak karbon yang dihasilkan dari perkebunan, konsumsi, dan transportasi anggur cukup besar, yakni diperkirakan mencapai 1-2 kilogram karbondioksida (CO2) per botol, tetap tidak sebanding dengan jejak karbon dari penerbangan atau penghasil emisi utama lainnya.

    Karena itu, pendiri dan Direktur Eksekutif Sustainable Wine Roundtable, Tobias Webb menyebut industri anggur mulai dari penanaman hingga menjadi sebotol wine “memiliki jejak sosial yang luar biasa,”

    “Orang-orang menghormatinya. Bisnis anggur memiliki kemampuan untuk melampaui bebannya,” ujarnya kepada Earth.Org.

    Sustainable Wine Roundtable adalah sebuah platform global independen yang didedikasikan untuk memajukan keberlanjutan dalam industri anggur,

    Webb percaya bahwa bisnis anggur berada dalam posisi unik untuk menunjukkan berbagai praktik terbaik yang akan meningkatkan atau mempertahankan kualitas, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dan menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.

    Dilansir Earth.org, sebanyak 130 anggota Roundtable mencakup seluruh rantai nilai anggur, termasuk petani dan produsen, pengecer, pemilik standar, pemasok kemasan, dan akademisi.

    Baca: Cara kita mengonsumsi mempengaruhi jejak karbon

    Dengan mempertimbangkan area ini, para produsen anggur, distributor, dan pengecer telah bersatu dengan inisiatif untuk meningkatkan standar tenaga kerja, mengurangi berat botol, dan mengembalikan teknik pertanian tradisional yang menghemat air dan karbon serta melindungi keanekaragaman hayati.

    “Wilayah di seluruh dunia, terutama di Dunia Baru, seperti California, Chili, dan Australia, menciptakan program keberlanjutan, mengorganisir skema dengan aspek kualitatif dan kuantitatif, yang membantu meningkatkan kinerja produsen,” kata Joao Barroso, Direktur Pembangunan Berkelanjutan komisi tersebut, kepada Earth.Org

    Berkaitan dengan hal ini, Sustainable Wine Roundtable telah mengembangkan daftar periksa untuk menciptakan konsistensi terkait apa yang seharusnya ada dalam standar lokal – sebuah standar dari berbagai standar – termasuk tenaga kerja dan kondisi kerja.

    “Standar global tampak seperti ide yang bagus, tetapi yang Anda inginkan adalah standar lokal yang tepat,” kata Webb.

    Kondisi tenaga kerja di antara para pekerja perkebunan anggur menjadi sorotan publik pada bulan Januari 2025, ketika kilang anggur di wilayah Piedmont, Italia, diketahui mengandalkan tenaga kerja migran ilegal.

    Menurut Webb, masalah seperti dokumen yang ditahan, kurangnya slip gaji, dan kurangnya verifikasi akomodasi masih terus berlanjut.

    Baca: Perilaku Generasi Z dan produksi sampah makanan

    Dulu, ujarnya, para pekerja ditempatkan di lokasi, tetapi sekarang hal ini mustahil, sehingga kilang anggur bergantung pada kontraktor. Produsen anggur bekerja sama dengan banyak petani kecil untuk menciptakan konsistensi.

    “Di kebun anggur yang memiliki sertifikasi yang tepat untuk standar keberlanjutan yang kredibel, kondisinya biasanya akan jauh lebih baik,” ujarnya.

    Para peritel memperhatikan aspek sosial dan lingkungan dari keberlanjutan anggur. Beberapa, seperti Tesco, telah bergabung dengan Sustainable Wine Roundtable, sementara yang lain membuat persyaratan mereka sendiri.

    “Para peritel jelas tertarik. Mereka sadar akan tanggung jawab mereka, dan mereka menginginkan rantai pasokan yang tangguh,” ujar Anne Jones, Direktur Pengembangan Regenerative Viticulture Foundation, kepada Earth.Org.

    Dia menambahkan, “Para peritel berada di titik istimewa itu, titik tumpu antara pelanggan dan produsen. Mereka memiliki banyak kekuatan dan tanggung jawab.”

    Para pelaku industri terutama telah mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan untuk menghadapi realitas perubahan iklim, alih-alih didorong oleh permintaan konsumen.

    Baca: Menguak kebohongan di balik konsumerisme

    “Mendapatkan sertifikasi berkelanjutan atau organik penting bagi banyak konsumen, tetapi bukan pendorong utama,” kata Greg Jones dari Abacela Winery.

    “Konsumen masa kini mencari pengalaman yang memberi mereka pengetahuan dan lebih dekat dengan pertanian, di mana petani berfokus pada pemeliharaan ekosistem, baik di dalam maupun di luar kebun anggur.”

    Mengingat semakin banyaknya tantangan dari cuaca dan iklim, para produesn anggur bekerja di lingkup pengaruh mereka masing-masing untuk menemukan jalan keluar.

    “Saya tidak dapat mengubah terjadinya gelombang panas 42°C, dan saya juga tidak dapat menguranginya,” kata Greg Jones.

    “Namun, jika saya dapat mengurangi dampak karbon dan produk sintetis secara keseluruhan terhadap lingkungan dalam operasi saya, saya dapat memanfaatkan sisi tersebut, sekaligus mencoba beradaptasi dengan hal-hal yang berada di luar kendali kami. Kami harus menangani pendekatan yang kami bisa, dalam kerangka kerja yang kami miliki.”

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Genevive Hilton, aktivis sekaligus penulis berkelanjutan.