Tag: apk

  • Keren! Limbah APK Ini Disulap Jadi Furnitur

    Keren! Limbah APK Ini Disulap Jadi Furnitur

    7cloud.asia – Pesta demokrasi telah usai. Limbah APK (Alat Peraga Kampanye) pun menggunung. Untuk mengurangi limbah, Gudskul Rekayasa dan Dicoba-coba (GudRnD) mengubah APK menjadi barang bernilai lebih.

    Bermarkas di Kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, delapan orang itu bekerja sama agar APK tak terbuang sia-sia menjadi sampah.

    Salah satunya menjadikan spanduk menjadi multiplex banner yang bisa dibuat menjadi berbagai furnitur interior seperti kursi, meja, ubin, hingga papan permainan bernilai puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

    Melansir Antaranews, salah satu pegiat kelompok perekayasa barang GudRnD, Muhammad Aldino menjelaskan pihaknya mendaur ulang spanduk dan sejenisnya memiliki nilai jual dan unsur seni.

    Baca: Warga Kandanghaur keluhkan limbah pabrik

    Hal ini bisa lebih diperhatikan manfaatnya oleh masyarakat, bukan menjadi sampah yang tak bermakna.

    Berbekal satu mesin cacah dan dua mesin pres, mereka menggunakan dana pribadi untuk mendaur ulang limbah APK tersebut.

    Pihaknya juga turut mengamankan sejumlah APK pada hari pertama masa tenang Pemilu 2024 yang dimulai pada 11 Februari 2024.

    “Pas hari pertama masa tenang pemilu kemarin, kami bersama warga sekitar berhasil mengangkat 500 kilogram baliho dan APK lainnya sepanjang jalan (sejauh) 1 kilometer pada dini hari,” ungkap pria yang akrab disapa Dino tersebut.

    Inisiatif itu dilakukan demi bisa membantu tugas Satpol PP DKI, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk menertibkan APK tak terjangkau di wilayah.

    Baca: Upaya indiustri dan peritel fesyen kurangi limbah

    Selain itu, GudRnD juga menerima APK dari Kelurahan Cipedak dengan berat sekitar tiga ton dan daerah Pancoran Mas sekitar 2,5 ton yang siap untuk didaur ulang.

    Sebelum didaur ulang, pihaknya melakukan pemisahan jenis APK seperti spanduk, baliho, kawat, dan paku yang masih terpasang usai ditertibkan.

    Setelah itu, APK tersebut dibersihkan lalu dilakukan pemotongan atau pencacahan sesuai kebutuhan untuk melalui proses pres.

    Untuk satu papan multiplex banner membutuhkan 1,3 kilogram atau 90 spanduk berukuran kecil dengan proses pembuatan 3 jam per harinya. Setiap harinya pihaknya bisa menghasilkan 16 papan multiplex banner.

    Banyaknya limbah APK ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Dino berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pemangku jabatan terkait dapat menuntaskan masalah di lingkungan terutama sampah yang bisa menjadi menggunung di Jakarta.

    Baca: Sampah plastik ini diubah menjadi pot bunga

    Para peserta pemilu pun juga harus mampu bertanggung jawab untuk mengelola APK agar tidak menambah volume sampah di Jakarta.

    Dino mencontohkan para peserta pemilu dapat mengajak warga sekitar untuk mengumpulkan APK demi bisa diolah menjadi benda bernilai ekonomi.

    Dengan demikian warga sekitar juga dapat merasakan dampak ekonomi. Mereka akan mendapatkan pekerjaan sekaligus penghasilan dari sampah “politik” itu.

    Sementara itu, anggota DPRD DKI Jakarta, Simon Lamakadu  minta peserta Pemilu 2024 memanfaatkan kembali bambu bekas untuk pemasangan alat peraga kampanye (APK) demi mengurangi volume sampah.

    “Bisa digunakan jika masih bisa dimanfaatkan kembali seperti bambu, rangka baja ringan, termasuk baliho,” ujar Simon.

    Sangat disayangkan jika barang tersebut hanya tersimpan di gudang atau bahkan dibuang sehingga terjadi penumpukan sampah.

    Baca: Perairan pertanian tercemar limbah pabrik cokelat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri mengupayakan agar APK tak terpakai agar dibawa ke fasilitas pengolahan sampah di TB Simatupang untuk meningkatkan nilai lebih.

    Menurut Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Sarjoko, APK dari bahan kayu atau bambu yang banyak diterima pihaknya bisa diolah menjadi kompos.

    Adapun spanduk atau baliho yang berbahan plastik menjadi teknologi pengolah sampah plastik (anorganik) menjadi bahan bakar atau bahan baku berkualitas.

    “Untuk yang berbahan tekstil bisa masuk ke PLTSa Bantar Gebang, namun harus dilakukan pencacahan dulu di fasilitas TB Sumatupang,” kata Sarjoko.

    Reporter: Nurakhmayani