Tag: artjog

  • Disponsori Didit Foundation, Gelaran ARTJOG Menuai Protes

    Disponsori Didit Foundation, Gelaran ARTJOG Menuai Protes

    7cloud.asia – Koalisi Seni ARTJOKE melancarkan aksi protes terhadap perhelatan ARTJOG 2026 di booth masuk ruang pameran, pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.

    Protes ini sebagai respons para seniman dan rakyat yang kecewa karena ARTJOG disponsori langsung oleh Didit Foundation, Djarum Foundation, serta sejumlah BUMN. 

    Kehadiran sejumlah donator tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi independensi seniman. Salah satu yang paling digarisbawahi adalah kehadiran Didit sebagai tamu pembuka pameran.

    Meski kehadiran Didit sebagai pembuka acara  dibatalkan, tetapi pola berulang tentang kongkalikong festival seni dan instansi negara dinilai sebagai alarm keras atas kebebasan ekspresi para seniman.

    Protes dilakukan lewat aksi performance art yang dilakukan oleh salah satu anggota koalisi. Performance art tersebut berlangsung selama nyaris lima menit.

    Namun, setelah performance art berjalan sekitar 5 menit, petugas keamanan tiba-tiba bertindam represif dengan melakukan penangkapan dan pemukulan terhadap performer.

    Aksi represif ini juga memicu terjadinya saling dorong antara pihak keamanan dan anggota  Koalisi ARTJOKE. Performer kemudian dibawa ke ruang pos satpam oleh petugas pengaman ARTJOG dan beberapa aparat kepolisian untuk diinterogasi.

    Di waktu yang sama, Gading Paksi, selaku Manajer Program ARTJOG hadir dan tak lama kemudian, performer dibawa ke dalam gedung kantor ARTJOG untuk diinterogasi oleh pihak internal ARTJOG.

    Sempat terjadi ketegangan karena para pengaman ARTJOG yang melarang jurnalis untuk mendokumentasikan kejadian.  

    Dalam pernyataannya, ARTJOkE mengecam tindakan represif ini.

    “Dari peristiwa ini, kami mengutuk keras aksi represif dan tindak pemukulan yang dilakukan pihak pengamanan ARTJOG,” demikian pernyataan wakil ARTJOKE kepada awak media.

    Ruang kesenian seharusnya menjadi ruang yang aman untuk setiap ekspresi seni yang dilakukan oleh seniman. Terlebih karena ekspresi responsif seni yang dilakukan merupakan bentuk kritik terhadap kooptasi rezim dalam ruang-ruang kebudayaan belakangan ini.

  • ARTJOG 2026 Diprotes Karena Dinilai Kehilangan Keberpihakan pada Rakyat

    ARTJOG 2026 Diprotes Karena Dinilai Kehilangan Keberpihakan pada Rakyat

    7cloud.asia – Gelaran ARTJOG 2026 yang berlangsung mulai Jumat (19/6/2026) hingga 31 Agustus 2026 mendatang menuai perhatian publik karena protes yang dilontarkan sejumlah seniman yang tergabung dalam ARTJOKEs.

    ARTJOKES menilai festival seni ARTJOG yang mulai digelar pada 2008 berangsur kehilangan keberpihakannya kepada rakyat. Tangan-tangan kekuasaan dan pemilik modal telah mempengaruhi gelaran ini lewat uang yang mereka miliki.

    Dalam pernyataan tertulisnya kepada media, seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mengakui, selama dua dekade ARTJOG berhasil membius jutaan pasang mata dari berbagai belahan dunia.

    “ARTJOG adalah panggung kesenian yang prestisius. Namun, di dinding dan ruang pameran itu jugalah penderitaan dan kenyataan hidup kita semua disulap sebagai komoditas yang bernilai fantastis di mata para kolektor,” demikian ARTJOKES dalam pernyataannya.

    Kondisi ini menurut para seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mbuat seni berubah menjadi komoditi semata dan ruang pamer kesenian menjelma sebagai pasar paling mewah.

    Sebagai sebuah brand, ARTJOG berhasil menyilaukan banyak mata generasi hari ini. Para seniman berlomba untuk masuk dan tercatat sebagai bagian dari perjalanan ARTJOG.

    Baca: Disponsori Didit Foundation, Gelaran ARTJOG 2026 Menuai Protes

    Popularitas yang ditawarkan, membutakan banyak mata bahwa ARTJOG bukan lagi ruang kebudayaan yang netral, alih-alih mengharapkan adanya pasar yang memiliki keberpihakan pada generasi yang nasibnya terkatung-katung bak layang-layang zaman.

    Tak mengherankan memang ketika kita melihat kaki-tangan rezim kekuasaan bercokol di atas dan belakang pasar semacam ini. Sebab, memang begitulah relasi kuasa yang sedang beroperasi di ruang kebudayaan kita saat ini.

    Sekalipun konon tak ada penyensoran dan para seniman tetap diberi ruang kebebasan dalam memvisualisasikan pemikiran mereka, tetapi kebebasan semacam apakah yang dimaksud ketika representasi wajah rezim ada di balik proses kerja-kerja tersebut?

    “Maka dari itu, kembali kami ingin mempertanyakan: Generatio semacam apakah yang dimaksud di sini?” lanjut pernyataan itu.

    Di saat jutaan generasi sedang memprotes berbagai kebijakan rezim yang dianggap memperkuat konsolidasi kekuasaan, ARTJOG justru kehilangan empati dan memilih jalan menjalin kedekatan dengan lingkar kekuasaan.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mensponsori dan lain sebagainya. Persoalannya adalah di mana sikap kita semua ketika ruang bernapas makin menyempit dan kesenian yang kita cintai justru secara telanjang bercumbu dengan rezim kekuasaan yang selama ini mengungkung ruang gerak kita?

    Baca: Sarat Kritik, Pameran Lukisan Tunggal Yos Suprapto Dibredel

    Artinya, lanjut ARTJOKES, kami adalah generasi yang tidak sedang memperdebatkan hak seseorang untuk mendukung kesenian sebagai satu dari banyak lajur perlawanan atau tidak.

    Kami hanya sedang mempertanyakan apa yang akan terjadi ketika seni kehilangan kemampuan untuk menjaga jarak dari patron-patron politik rezim yang zalim?

    ARTJOKES meyakini bahwa kekuasaan tidak selalu membungkam seni dan seniman lewat penyensoran maupun pengontrolan langsung. Sebab, sering kali rezim kekuasaan justru merangkulnya lewat berbagai instrumen yang dimiliki.

    Seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mengajak para pekerja seni dan rekan-rekan seniman yang pernah dan sedang terjebak dalam hubungan tidak transparan, manipulatif, dan eksploitatif yang ditawarkan oleh sebuah ruang kongkalikong antara elite kesenian dan para peng-peng untuk merenung.

    “Juga untuk kalian semua yang sikap politiknya telah ditukar dan dikubur dalam ruang hegemoni kekuasaan, kami ingin bertanya: Kalian duduk di mana?” ARTJOKES memungkasi pernyataannya.

    Tentang ARTJOG
    ARTJOG dikenal sebagai sebuah festival sekaligus pameran seni kontemporer yang rutin digelar di Yogyakarta. ARTJOG bukan hanya sekedar ajang pameran karya seni, tetapi juga tempat bertemunya kreativitas, budaya, dan interaksi masyarakat.

    Di sini, hasil karya para seniman dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat melalui nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Ajang ARTJOG juga menjadi tempat seniman mengekspresikan diri maupun menyampaikan isu-isu sosial.

    Baca: Mekanisme Sensor Seni di Era Digital

    Tak heran jika ARTJOG selalu berhasil menarik perhatian wisatawan, pecinta seni, hingga generasi muda yang penasaran dengan pengalaman unik di dalamnya.

    ARTJOG berawal dari Jogja Art Fair (JAF) yang diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 2008 sebagai bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta. Barulah pada tahun 2010, acara ini mulai berdiri sendiri dan resmi menggunakan nama ARTJOG.

    ARTJOG bermula dari sebuah konsep pasar seni yang menjadi wadah bagi seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik. Seiring berjalannya waktu, ARTJOG terus berkembang menjadi festival seni kontemporer berskala besar yang dikenal hingga mancanegara.

    Kehadiran ARTJOG membuktikan bahwa karya seniman Indonesia memiliki daya tarik yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional sehingga patut diperhitungkan di mata dunia.

    ARTJOG selalu punya tema yang berbeda setiap tahun, sehingga membuat ARTJOG senantiasa dinanti oleh masyarakat. Tema yang diangkat selalu berbeda dan penuh kejutan sehingga tidak membuatnya monoton.

    Tema-tema yang diangkat oleh ARTJOG biasanya mengangkat isu sosial, budaya, lingkungan, hingga kehidupan modern yang dekat dengan masyarakat. Adapun pada ARTJOG 2026 mengusung tema “Ars Longa: Generatio”. Makna Ars Longa sendiri adalah Seni itu panjang.

    Tema Ars Longa ini diturunkan menjadi Trilogi untuk tiga tahun ke depan dalam rangka menyambut 20 tahun gelaran ARTJOG. Tema ini diharapkan mampu membawa perubahan dan hal baru bagi seniman untuk menciptakan sebuah dialog antar generasi di antara para seniman, sekaligus menyambut dua dekade ARTJOG.

    Oleh karena itu, setiap penyelenggaraan ARTJOG selalu menghadirkan suasana baru. Pengunjung tak hanya datang menyaksikan karya seni, tetapi juga untuk memahami makna di balik setiap instalansi seni karya para seniman.

  • Kontroversi Artjog 2026: Saat Oligarki Masuk Ruang Seni, Independensi Budaya dalam Tanda Tanya

    Kontroversi Artjog 2026: Saat Oligarki Masuk Ruang Seni, Independensi Budaya dalam Tanda Tanya

    7cloud.asia – Jumat malam, 19 Juni 2026, seorang laki-laki berbaju hitam berdiri di pintu masuk Jogja National Museum, lokasi penyelenggaraan Artjog, pameran seni bergengsi di Yogyakarta.

    Ia menebar kembang lalu berkata, “Sastra telah mati, seni telah mati. Intelektual tanpa hasrat pemberontakan adalah perpanjangan tangan negara.” Beberapa saat kemudian, petugas keamanan menghentikan aksinya.

    Mudah menganggap peristiwa itu sebagai gangguan kecil di tengah perhelatan seni tahunan. Namun, kontroversi Artjog 2026 sesungguhnya tidak bermula dari aksi tersebut.

    Persoalan yang lebih penting dikritisi adalah keputusan Artjog menggandeng Didit Hediprasetyo Foundation—yayasan milik putra Presiden Prabowo Subianto—sebagai mitra strategis.

    Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal sponsor. Tetapi dalam politik kebudayaan, sumber dukungan tidak pernah sekadar soal pendanaan. Ia juga menyangkut legitimasi, kedekatan dengan kekuasaan, dan batas independensi institusi budaya.

    Karena itu, kontroversi Artjog layak dibaca bukan sebagai polemik penyelenggaraan acara, melainkan sebagai gejala yang lebih besar: semakin kaburnya batas antara ruang seni dan jaringan kekuasaan politik di Indonesia. 

    Patronase budaya dan pertukaran modal simbolik

    Kontroversi ARTJOG 2026 berawal dari satu keputusan: menggandeng Didit Hediprasetyo Foundation sebagai mitra strategis. Didit, yang merupakan seorang desainer mode berbasis di Paris, adalah putra Presiden Prabowo Subianto. Nama Didit kini tiba-tiba melekat pada festival seni kontemporer paling bergengsi di Indonesia.

    Di kalangan komunitas seni dan aktivis, persoalannya bukan tentang selera estetika Didit, melainkan logika politik tentang apa yang dipertukarkan dalam kemitraan semacam ini.

    Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa arena kebudayaan merupakan ruang tempat modal simbolis—prestise, legitimasi, dan pengakuan publik—diproduksi dan dipertukarkan. Ketika aktor yang memiliki modal ekonomi atau politik masuk ke arena budaya, yang berpindah bukan hanya sumber daya finansial, tetapi juga legitimasi.

    Dalam kondisi tertentu, hubungan semacam ini dapat dianggap wajar. Namun konteks menentukan makna. Di Indonesia hari ini, hubungan antara institusi budaya dan lingkar kekuasaan tidak bisa dibaca sebagai kerja sama yang sepenuhnya netral.

    Vedi Hadiz (2016) dalam analisisnya tentang oligarki predatoris pasca-Suharto, menunjukkan bahwa oligarki Indonesia pasca-Orde Baru memiliki kemampuan adaptif yang tinggi.

    Oligarki predatoris adalah sistem ketika segelintir elite memanfaatkan kekuasaan untuk menguasai dan mengeksploitasi sumber daya demi kepentingan mereka sendiri.

    Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui partai politik atau birokrasi negara, tetapi juga meresap ke berbagai arena sosial yang tampak independen, termasuk masyarakat sipil dan kebudayaan. Dalam konteks ini, sponsor budaya dapat berfungsi sebagai mekanisme akumulasi modal simbolik bagi jaringan kekuasaan.

    Ini bukan tentang apakah Didit Hediprasetyo Foundation berhak mendukung kegiatan seni, tetapi soal mengapa institusi budaya perlu membuka ruang legitimasi bagi yayasan yang memiliki kedekatan langsung dengan pusat kekuasaan politik. 

    Hegemoni bekerja melalui normalisasi

    Untuk memahami signifikansi kasus ini, kita perlu melihat kondisi ruang sipil Indonesia secara lebih luas. Laporan Civicus Monitor People Power Under Attack 2025 memberi Indonesia skor 42 dari 100 dan menempatkannya dalam kategori Hindered atau Terhambat.

    Laporan tersebut juga mencatat adanya kasus aktivis yang menghadapi tindakan hukum karena mengekspresikan pendapat di media sosial.

    Hamid dan Hermawan (2024) , dalam tinjauan akhir tahun yang diterbitkan oleh University of Melbourne, mencatat menyempitnya ruang gerak kelompok progresif, meluasnya peran militer di ranah sipil, serta semakin dalamnya penetrasi kepentingan negara ke dalam organisasi masyarakat sipil.

    Dalam situasi seperti ini, kemitraan antara institusi seni dan yayasan keluarga presiden tidak dapat dipahami sekadar sebagai urusan pendanaan acara.

    Antonio Gramsci (1971) menjelaskan bahwa hegemoni yang efektif tidak terutama bekerja melalui paksaan, melainkan melalui produksi persetujuan. Kekuasaan menjadi kuat ketika kehadirannya dianggap normal, bahkan diterima secara sukarela.

    Justru karena tidak ada karya yang disensor, tidak ada seniman yang dilarang berpameran, dan tidak ada larangan resmi terhadap kritik, persoalan ini menjadi penting. Hegemoni yang matang tidak datang melalui ancaman terbuka, melainkan melalui normalisasi hubungan yang sebelumnya dianggap problematis.

    Mengapa kritik publik penting?

    Aksi kelompok Artjokes, pengkritik Artjog tahun ini, pada malam pembukaan dapat dipahami sebagai bentuk institutional critique , yaitu tradisi dalam seni kontemporer yang mempertanyakan relasi antara institusi seni dan struktur kekuasaan yang menopangnya.

    Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap metode mereka, kritik tersebut mengangkat pertanyaan yang sah mengenai independensi ruang budaya. 

    Artjog kemudian menghapus nama Didit Hediprasetyo Foundation dari daftar sponsor, sementara Didit membatalkan kehadirannya dalam pembukaan acara. Respons ini menunjukkan bahwa tekanan publik masih memiliki daya koreksi.

    Namun, langkah tersebut tidak menghapus pertanyaan mendasar: mengapa kemitraan itu dianggap layak sejak awal?

    Laporan Arts Professional (2024) menunjukkan bahwa pemerintah yang tengah mengonsolidasikan kekuasaan sering memperluas pengaruhnya ke sektor budaya melalui cara-cara yang tampak lunak, termasuk patronase dan penempatan figur yang dekat dengan elite politik.

    Karena itu, isu utama dalam kontroversi Artjog bukanlah satu aksi protes atau satu nama sponsor. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan institusi budaya menjaga jarak kritis dari kekuasaan.

    Dalam situasi ketika jaringan politik semakin piawai memperoleh legitimasi melalui kebudayaan, pertanyaan tentang independensi ruang seni menjadi semakin mendesak.

    Jika batas itu terus kabur, seni berisiko kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: menjadi ruang yang mampu berbicara kepada kekuasaan, bukan sekadar berbicara bersama kekuasaan.


    M.Febriyanto Firman Wijaya, Peneliti MOSSA Institute, Universitas Muhammadiyah Surabaya

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.