Tag: bakteri

  • Riset: Bakteri Pemakan Metana Bisa Membantu Menahan Laju Pemanasan Global

    Ilustrasi: sampah makanan sebagai sumber utama gas metana

    7cloud.asia – Satu lagi kabar baik untuk Bumi. Peneliti dari Universitas Washington berhasil menemukan adanya bakteri pengonsumsi gas metana yang dapat memperlambat laju pemanasan global.

    Peneliti dari Universitas Washington mengusulkan metode untuk menghilangkan metana guna menahan laju pemanasan global dengan menggunakan sekelompok bakteri.

    Bakteri yang dikenal sebagai metanotrof ini secara alami mengubah metana menjadi karbon dioksida dan biomassa, sehingga efektif mengurangi pemanasan global yang dipicu metana.

    Metana adalah gas rumah kaca pemicu pemanasan global yang dihasilkan dari energi (gas alam dan sistem minyak bumi), industri, pertanian, penggunaan lahan, dan aktivitas pengelolaan limbah.

    “Semua bakteri dalam kelompok ini ‘memakan’ metana, mengeluarkannya dari udara dan mengubah sebagiannya menjadi sel sebagai sumber protein berkelanjutan,” menurut peneliti utama, Mary E Lidstrom seperti dikutip The Guardian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tim Lidstrom telah menemukan strain bakteri dalam kelompok ini yang disebut methylotuvimicrobium buryatense (5GB1C) yang dapat menghilangkan metana secara efisien meskipun jumlahnya lebih sedikit.

    Jika teknologi ini tersebar luas, maka teknologi ini berpotensi membantu memperlambat pemanasan global, kata para peneliti.

    Biasanya, kelompok bakteri ini tumbuh subur di lingkungan dengan tingkat metana yang tinggi (antara 5.000 dan 10.000 bagian per juta (ppm)).

    Konsentrasi normal metana di atmosfer jauh lebih rendah dari angka itu, yaitu hanya sekitar 1,9 ppm.

    Namun area tertentu seperti tempat pembuangan sampah, sawah, dan sumur minyak mengeluarkan konsentrasi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 500 ppm.

    “Bakteri yang dengan cepat memakan metana pada konsentrasi yang lebih tinggi yang ditemukan di sekitar peternakan, dan lain-lain, dapat memberikan kontribusi besar dalam mengurangi emisi metana, terutama dari pertanian tropis,” kata Euan Nisbet, profesor ilmu bumi di Royal Holloway, Universitas London, mengomentari tentang temuan penelitian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan cangkang lalat untuk bikin bioplastik

    Tingkat konsumsi metana yang tinggi pada strain ini diperkirakan dipicu oleh kebutuhan energi yang rendah dan ketertarikan yang lebih besar terhadap metana – lima kali lebih banyak dibandingkan bakteri lain, menurut penelitian tersebut.

    “Bakteri mengoksidasi metana menjadi CO2 (gas rumah kaca yang tidak terlalu kuat) sehingga Anda bahkan dapat menggunakan gas buang tersebut untuk memompa ke dalam rumah kaca dan menanam tomat,” kata Nisbet.

    Hambatan terbesar yang dihadapi Tim Lidstrom dalam penerapannya saat ini adalah masalah teknis: kita perlu meningkatkan unit pengolahan metana sebanyak 20 kali lipat.

    “Jika kita bisa mencapainya, maka hambatan terbesarnya adalah modal investasi dan penerimaan masyarakat,” kata Lidstrom.

    Lidstrom yakin, timnya dapat melakukan uji coba lapangan dalam waktu tiga hingga empat tahun, dan peningkatan skalanya akan bergantung pada modal investasi dan komersialisasi

    Baca: Pemanasan global sebabkan ribuan danau mengering

    Sektor pertanian merupakan sumber emisi metana terbesar yang disebabkan oleh kotoran ternak dan pelepasan saluran pencernaan.

    Metana sendiri disebut sebagai pemicu pemanasan global, dengan kekuatan  pemanasan 85 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam 20 tahun pertama setelah mencapai atmosfer.

    Metana juga menimbulkan masalah khusus sebagai gas rumah kaca.

    Konsentrasi Metana di atmosfer telah meningkat pesat selama 15 tahun terakhir, mencapai rekor tertinggi, dan saat ini menyumbang setidaknya 30% dari total pemanasan global.

    Pada tahun 2021, beberapa negara dengan perekonomian terbesar di dunia sepakat pada Cop26 untuk bekerja sama guna segera mengurangi tingkat metana. Namun, jumlahnya terus meningkat.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada pemanasan global

    Untuk menerapkan bakteri pemakan metana dalam skala besar, diperlukan ribuan reaktor yang berfungsi tinggi.

    Mary Ann Bruns, profesor mikrobiologi tanah di Pennsylvania State University mengatakan, agak menakutkan tetapi jika kelangsungan hidup kita bergantung pada penurunan kadar metana di atmosfer, maka biaya mungkin menjadi prioritas yang lebih rendah dalam mengalokasikan sumber daya.

    “Kurangnya kemauan politik dan pemahaman di sektor swasta dan publik mengenai pentingnya mengurangi gas metana saat ini akan memperburuk pemanasan global di tahun-tahun mendatang,” katanya

    Saat ini, sebagian besar solusi pengurangan gas metana terfokus pada penurunan emisi, namun hal ini tidak selalu memungkinkan.

    Para peneliti menekankan bahwa strategi penghilangan metana dan penurunan emisi diperlukan untuk memenuhi target iklim.

    Baca: Start up Singapura ini mengubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Namun, Lidstrom mengingatkan, semua strategi pengurangan emisi yang meningkatkan aktivitas bakteri di komunitas alami juga dapat mengakibatkan peningkatan emisi dinitrogen oksida (N2O), yang memiliki potensi pemanasan global 10 kali lipat dibandingkan emisi metana.

    Yang terpenting, teknologi berbasis bakteri metanotrofik ini tidak menghasilkan emisi dinitrogen oksida.

    Proyeksi terbaru memperkirakan bahwa pemanasan global dapat dikurangi 0,21C hingga 0,22C dengan menghilangkan 0,3 hingga 1 petagram metana pada tahun 2050.

    Penurunan suhu sebesar ini diperkirakan akan signifikan, terutama bila dikombinasikan dengan strategi pengurangan emisi lainnya.

    Sumber: The Guardian baca artikel asli di sini

  • Kasus Dengue di Yogyakarta Turun Setelah Menerapkan Teknologi Bakteri Wolbachia

    Kasus Dengue di Yogyakarta Turun Setelah Menerapkan Teknologi Bakteri Wolbachia

    7cloud.asia – Kasus dengue di Yogyakarta turun di bawah incindent rate global 10 per 100.000 populasi. Penurunan ini karena adanya implementasi program penelitian bakteri Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

    “Anomali yang terjadi di Yogyakarta, yang berhasil menurunkan incident rate di bawah standar dunia secara konsisten, ini ternyata disebabkan oleh implementasi program penelitian Wolbachia dari teman-teman kita di UGM,” jelas Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin pada postingan Instagram-nya.

    Budi menjelaskan, sejak tahun 1968, insiden rate dengue di Indonesia terus menjauh dari standar dunia.

    Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah fogging atau pengasapan, larvasida/abate, hingga 3M Plus. Tetapi insiden rate dengue tetap saja jauh dari standar dunia.

    Baca: Teknologi baru nyamuk Aedes Aegypti mengandung bakteri Wolbachia kendalikan kasus demam berdarah

    Saat ini insiden rate dengue di Indonesia berada pada angka 28,5 per 100.000 populasi.

    “Bahkan, angka tersebut di Yogyakarta pernah menyentuh 300 sampai 400 per 100.000 populasi,” ungkapnya.

    Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kemenkes RI, laju kasus dengue di Indonesia rata-rata mencapai 74.000 hingga 140.000 per tahun.

    Sejak bulan Januari hingga November 2023 kasus dengue mencapai 76.449 pasien dan 571 diantaranya berujung pada kematian.

    Baca: Aksi gerebek jumantik langkah sederhana berdampak besar untuk lingkungan

    Sebenarnya angka ini sudah menurun jika dibandingkan dengan tahun  2022 yang mencapai 143.300 pasien dan 1.236 diantaranya meninggal.

    Penurunan ini berkat adanya upaya menekan kasus dengue berupa pengasapan, larvasida, pemakaian kelambu, 3M plus, hingga Gerakan Satu Rumah Satu Jumatik.

    Bila kita ingat kematian anak di gagal ginjal akut berjumlah 200an orang, sedih rasanya melihat ribuan kematian anak-anak karena dengue.

    “Maka kita tiru suksesnya Yogyakarta menyelamatkan nyawa anak-anak mereka,” jelasnya.

    Baca: Suhu tinggi dan polusi picu pertumbuhan nyamuk malaria

    Karena itu, lanjut Budi, pemerintah memutuskan untuk menerapkan program wolbachia. Yaitu dengan memasukkan bakteri wolbachia ke tubuh nyamuk aedes aegypti.

    Nantinya bakteri ini akan  membuat nyamuk aedes aegypti tersebut tidak mampu lagi membawa virus dengue yang menimbulkan penyakit DBD.

    “Kebanyakan anak-anak yang wafat setiap tahun karena dengue. Kami menerapkan program wolbachia yang sukses di Yogyakarta,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.