Tag: bambu

  • Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    7cloud.asia – Indonesia memiliki 162 jenis bambu dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia. Banyaknya hutan bambu di Indonesia bisa menjawab tantangan krisis kayu yang dipakai sebagai bahan baku industri.

    Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budiyanto Dwi Prasetyo menjelaskan bambu punya kualitas yang tak kalah dari kayu.

    Selain itu bambu juga bisa dibentuk apapun melalui proses laminasi, sehingga diminati oleh pasar domestik maupun internasional.

    Baca: Teknik daisugi, cara berkelanjutan Jepang dalam memanen kayu

    Bambu laminasi bisa menghasilkan berbagai aneka perabotan rumah tangga mulai dari kursi, meja, lemari, pintu, plafon, hingga lantai parket.

    “Pemintaan tinggi terhadap kayu bisa disubstitusi dengan bambu,” kata Budiyanto seperti yang dikutip Antaranews.

    Bambu merupakan salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), nilai HHBK bambu bisa mencapai 90 persen dari nilai hasil hutan.

    Baca: Jaktim siapkan 8.5 hektare lahan untuk hutan kota

    Sedangkan kayu yang selama ini identik dengan hasil utama kehutanan hanya menyumbang 10 persen dari produksi hasil kehutanan.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, produksi bambu di Indonesia mencapai 66,92 juta batang.

    Wilayah persebaran produksi bambu terletak di Pulau Jawa mencapai 66,86 juta batang, Pulau Sumatera sebanyak 29.482 batang, dan Kepulauan Sunda Kecil sebanyak 30.872 batang.

    Selanjutnya Budiyanto memaparkan jika masyarakat lokal memiliki populasi bambu yang masif, maka hal ini harus dipelihara melalui eksploitasi.

    Baca: Komitmen Glasgow, cara dunia merawat hutan

    Sebab dengan eksploitasi tersebut, kerapatan rumpun dapat dikurangi. Selain itu dapat mencegah kerusakan tanaman bambu. “Bambu kalau tidak ditebang saat umur yang pas, tanaman bambu bisa rusak,” ungkapnya.

    Dia mencontohkan hutan bambu yang rusak ada di Gunung Ciremai, Jawa Barat. Hutan bambu ini termasuk kawasan taman nasional tidak boleh dipanen, sehingga rumpun bambu terlalu rapat.

    Jika rumpun bambu terlalu rapat bisa menyebabkan banyak batang bambu patah dan mengganggu sistem perakaran serta rimpang, sehingga bambu tumbuh tidak sehat.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia kena dampak aturan antideforestasi EU

    Jadi, sebuah desa bambu harus ada aktivitas panen lestari untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu.

    Sementara itu, Pengawas Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Jajang Agus Sonjaya mengatakan ada banyak pihak yang terlibat untuk menciptakan sebuah desa bambu yang ideal.

    Mulai dari pemerintah, rakyat, penggiat bambu, pengerajin dan tukang, pengusaha, masyarakat adat, hingga perempuan.

    Mereka terlibat dalam tahap proses pengelolaan mulai dari pembibitan, penanaman, pengelolaan rumpun hingga panen lestari.

    “Pada panen lestari ada satu kata kunci yang menarik bahwa cara terbaik merawat hutan bambu itu dengan panen,” kata Jajang.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Yuliani Siregar mengatakan penanaman bibit bambu ini untuk pemulihan alam pascabanjir bandang dan longsor.

    “Pascabanjir bandang ini kami telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin,” ujar Yuliani Siregar di Medan, Minggu (10/12/2023).

    Baca: Mengenal manfaat hutan bambu

    Menurutnya dua jenis tanaman ini mudah tumbuh dan akarnya kuat untuk menahan erosi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di lingkungan wilayah tersebut.

    “Selain itu, normalisasi sungai yang akan diperluas, dibuatkan dam untuk solusi penahan banjir sambil menunggu tanaman tersebut tumbuh,” tutur Yuliani.

    Pihaknya juga mengundang para pemangku kepentingan untuk membahas penanganan di kawasan yang terdampak pascabanjir bandang dan longsor.

    “Kami juga meminta masyarakat menjaga lingkungan seperti tidak menebang pohon sembarangan terutama di hutan lindung maupun di sekitar sungai,” ucapnya.

    Baca: Teknik daisugi, budidaya kayu hutan yang berkelanjutan

    Menurutnya dari pengamatan terjadi banjir bandang diakibatkan di antaranya curah hujan yang cukup tinggi di wilayah itu.

    “Di sana juga ada air terjun dan ada sungai yang mungkin mengarah ke desa. Di air terjun itu ada juga tebing dan bebatuan, mungkin saja karena tergerus hujan lebat bisa jadi batu itu sehingga menimbulkan erosi,” katanya.

    Sebelumnya, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat  Sumatra Utara Basarin Yunus Tanjung mengatakan, dokumen pemetaan risiko bencana DAS Asahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana.

    “Kajian pemetaan risiko ini menjadi penting untuk pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi bencana,” ujarnya.

    Baca: Bahaya deforestasi untuk lingkungan

    Ia menjelaskan pemetaan risiko bencana oleh BNPB merupakan panduan bagi kabupaten/kota untuk mengelola DAS Asahan Toba.

    Peta ini juga penting untuk mempertahankan daya dukung DAS dengan kondisi lahan, kualitas, kuantitas, kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan air, dan pemanfaatan ruang wilayah yang berfungsi sebagaimana mestinya.

    Oleh karena itu pemetaan risiko bencana DAS Asahan Toba amat bermanfaat dan bersifat strategis bagi Pemprov Sumut serta 10 pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan dan pengendalian DAS lebih baik di masa mendatang

    “Sehingga dapat mengurangi risiko bencana di sepanjang DAS,” kata Basarin.

    Sumber: Antaranewscom

  • Jejak Leluhur Masyarakat Suku Ngada di Flores dari Penggunaan Bambu

    Jejak Leluhur Masyarakat Suku Ngada di Flores dari Penggunaan Bambu

     

    7cloud.asia – Suku Ngada adalah salah satu masyarakat adat yang masih eksis di Indonesia sampai saat ini. Mereka bermukim di wilayah sekitar gunung Inerie di bagian tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Dalam kebudayaan Ngada, bambu hadir di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari rumah adat, instrumen musik ritual, hingga peralatan hidup sehari-hari. 

    Namun, penelitian terbaru kami menemukan bahwa kegunaan bambu di Ngada melampaui dimensi fisik. Ia tak terpisahkan dari sistem nilai, struktur sosial, dan budaya yang membentuk peradaban masyarakat.

    Sayangnya, desakan modernisasi menyebabkan pengetahuan tradisional tentang bambu, kohesi sosial, dan ekspresi artistik mulai pudar, digantikan individualisme, orientasi pasar, dan teknologi produksi massal.

    Jejak leluhur

    Studi etnografi klasik menyebutkan, leluhur Suku Ngada berasal dari Asia Selatan, yang membawa kebudayaan Hindu era megalitikum dari timur laut India.

    Sebuah studi genetik terbaru menyebut bahwa populasi di kepulauan Indonesia, termasuk Flores, merupakan keturunan campuran Afrika yang bermigrasi secara bergelombang selama puluhan ribu tahun lalu.

    Sementara syair Su’i Uwi dalam upacara Reba menceritakan leluhur orang Ngada adalah para migran yang berasal dari tempat bernama Sina (sering dikaitkan dengan “Cina” atau wilayah Yunnan). Reba merupakan ritual tahunan yang menandai perayaan tahun baru orang Ngada.

    Berbagai jejak tersebut menunjukkan bahwa orang Ngada kemungkinan adalah hasil percampuran budaya dan genetik dari berbagai gelombang migrasi selama puluhan ribu tahun.

    Bambu yang tumbuh di Ngada diyakini sudah ada jauh sebelum leluhur mereka menetap di Flores. Orang-orang Ngada menyebut bambu-bambu itulah yang membantu para leluhur mereka bertahan hidup.

    “Mereka bikin rumah, alat berburu, meramu makanan, bertani, mengolah makanan, dan alat musik atau permainan. Semuanya pakai bambu,” ujar informan riset di Bajawa.

     

    Mengelola pangan dan kebudayaan

    Temuan riset kami mendukung penuturan warga ini. Kami mengidentifikasi 54 alat tradisional berbahan bambu yang digunakan masyarakat Ngada di masa lalu. Hampir semua alat tradisional yang teridentifikasi dibuat dari satu spesies bambu, yakni famili Poaceae, subfamili Bambusoideae.

    Syair Su’i Uwi mengisahkan, sebelum menetap dan membangun kampung, leluhur Ngada mengembara di daratan Flores dari Muara Lege Lapu (sekarang Muara Wae Mokel) hingga ke wilayah Ngada. Mereka bertahan hidup dengan berburu. Di sini, bambu mulai digunakan jadi alat berburu.

    Setelah para leluhur menetap di Ngada, mereka membangun perkampungan (nua) dan rumah-rumah (sao) dari bambu.

    Seiring waktu, populasi masyarakat bertambah dan kebutuhan pangan pun meningkat. Budaya berburu berganti menjadi bertani. Bambu pun diolah menjadi alat-alat pertanian.

    Orang-orang Ngada juga mulai beternak. Mereka membuat pagar pelindung ternak babi seperti sala (pagar horizontal), subi (pagar anyaman), hingga folo (pagar bambu utuh).

    Struktur subi dan folo masih digunakan sampai sekarang, dilengkapi dengan gobe ranga, belahan bambu untuk wadah pakan ternak.

    Dalam mengolah dan mengamankan pangan, orang Ngada menggunakan bambu untuk alat dapur dan wadah pengawetan.

    Mereka sehari-hari makan uwi (ubi), nasi, maupun jagung yang dimasak menggunakan rodho (kukusan bambu) lalu disajikan di dalam rana (keranjang bambu).

    Sebagai lauk, daging ternak direbus atau dipanggang menggunakan tusukan (nusu) diletakkan dalam wadah-wadah tradisional dari bambu seperti nyiru bambu, yang mereka sebut dengan sege atau zezo.

    Mengantisipasi musim paceklik, mereka membuat wadah penyimpanan dari bambu seperti tuku sui untuk mengawetkan daging babi, tuku leko untuk menyimpan cadangan padi atau jagung, toke wae atau po’o wae untuk menyimpan air, rêmi untuk menampung tepung jagung, serta tuku koro dan tuku sie untuk wadah pelindung cabai dan garam.

    Di waktu senggang, orang-orang Ngada punya tradisi bermusik dan melakukan permainan rakyat berbasis bambu. Nasihat dan nilai-nilai luhur diwariskan orang tua kepada anak-anak lewat permainan foy doa, sebuah seruling bambu ganda.

    Berbagai permainan bambu menjadi perekat sosial antargenerasi. Mulai dari sagu alu (tarian lompat bambu) hingga aneka permainan replika taktik perang seperti nobe (lempar lembing), tempuling (tombak bambu), lengi tana (meriam bambu), topo (parang bambu), dan bedi (senapan bambu) yang digemari anak-anak.

    Ancaman modernitas dan mitigasinya

    Sayangnya, studi kami menemukan bahwa pemanfaatan bambu kini menurun akibat industri modern yang memproduksi peralatan plastik dan aluminium. Alat-alat buatan pabrik ini dinilai lebih murah, tahan lama, dan mudah didapat di toko dan kios, meski sebenarnya meninggalkan banyak limbah.

    Rumah-rumah di Ngada juga mulai beralih dari material bambu ke dinding beton dan atap aluminium. Di Kecamatan Golewa misalnya, rumah berdinding bambu turun dari 1.903 unit menjadi 1.165 unit pada rentang waktu 2015-2020.

    Sebaliknya, di rentang yang sama, penggunaan atap aluminium meningkat dari 3.112 menjadi 3.482 unit.

    Pergantian material ini pun turut melemahkan modal sosial dan mengikis tradisi gotong royong dalam pembangunan rumah bambu.

    Bersamaan dengan itu, pengetahuan praktis, memori kolektif, identitas, dan struktur sosial yang sebelumnya dipertahankan melalui praktik kolektif pemanfaatan bambu juga terkikis.

    Teknologi digital turut mengubah pola interaksi sosial. Masyarakat lebih memilih bermain gawai alih-alih memainkan permainan tradisional atau bermain musik bersama. Nilai sakral dan artistik bambu jadi kian memudar. Kini, alat musik dan permainan bambu hanya muncul dalam seremonial penyambutan tamu dan upacara adat.

    Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah kelompok masyarakat lantas menginisiasi berbagai gerakan pelestarian bambu di Ngada. Misalnya, pencanangan program seribu desa bambu untuk mendorong kembali budi daya bambu oleh masyarakat.

    Selain itu, ada juga pendirian kampus bambu di Turetogo dan Labuan Bajo yang diinisiasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari sebagai sentra edukasi bagi pelestarian bambu di Ngada, baik secara material maupun secara budaya.

    Berbagai inisiatif tersebut tentu membutuhkan dukungan banyak pihak. Sudah saatnya pemerintah, akademisi, pihak swasta, dan organisasi non pemerintah bahu-membahu bersama masyarakat Ngada untuk menyelamatkan bambu Ngada, bukan hanya sebagai spesies, tapi juga sebagai identitas peradaban.


    Budiyanto Dwi Prasetyo, Peneliti Sosiologi Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Handoyo, Peneliti bidang ekologi manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.