7cloud.asia – Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) menambah koleksi satwanya dengan kelahiran dua bayi binturong (Arctictis binturong) pada 17 April 2025 dari indukan bernama Bunder dan Bibi.
Binturong adalah sejenis musang bertubuh besar, anggota suku Viverridae. Beberapa dialek Melayu menyebutnya binturong, menturung atau menturun.
Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Binturong, Malay Civet Cat, Asian Bearcat, Palawan Bearcat, atau secara ringkas Bearcat.
Nama ini diperkirakan karena omnivora berbulu hitam lebat ini bertampang mirip beruang yang berekor panjang, sementara juga berkumis lebat dan panjang seperti kucing (bear: beruang; cat: kucing).
Baca: Deforestasi dan perubahan iklim jadi tantangan konservasi lingkungan
Dilansir Antaranews.com, Humas Bandung Zoo Ully Rangkuti mengatakan, kelahiran ini menambah jumlah total binturong di lembaga konservasi tersebut menjadi 33 ekor.
“Umumnya dalam satu kelahiran, binturong bisa melahirkan dua hingga enam anak. Dengan usia harapan hidup 15 sampai 18 tahun, setiap individu binturong memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan populasi,” kata Ully di Bandung, Sabtu (31/5/2025)
Dia menyampaikan bahwa Bandung Zoo berkomitmen dalam menjaga populasi satwa liar yang berstatus rentan dan dilindungi, termasuk binturong, melalui upaya konservasi di luar habitat aslinya.
“Keberhasilan penangkaran binturong tidak hanya bertujuan memperbanyak jumlah individu, tetapi juga bagian dari strategi konservasi jangka panjang,” kata dia.
Baca: Pro-kontra konservasi Ex-situ dalam pelestarian satwa
Menurut dia, langkah ini juga dinilai penting untuk mencegah over populasi dan memastikan setiap individu mendapatkan kualitas hidup yang layak.
“Kami melakukan pemantauan genetik dan merancang pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain untuk menjaga keberlanjutan populasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, binturong saat ini berstatus rentan akibat penurunan populasi di alam liar. Penurunan ini dipicu oleh perburuan untuk perdagangan ilegal, kerusakan habitat karena deforestasi, serta fragmentasi hutan.
Oleh karena itu, Bandung Zoo secara aktif melakukan manajemen populasi yang cermat, termasuk pemantauan genetik dan rencana pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain.
“Hal ini untuk memastikan keberlanjutan genetik dan kesehatan populasi binturong dalam jangka panjang,” katanya.
Baca: Meski termasuk satwa dilindungi, trenggiling tetap marak diperdagangkan

