Tag: barang pokok

  • Jelang Tahun Baru: Rakyat Miskin Menjerit Karena Lonjakan Harga Bahan Kebutuhan Pokok

    Jelang Tahun Baru: Rakyat Miskin Menjerit Karena Lonjakan Harga Bahan Kebutuhan Pokok

    7cloud.asia – Di balik euforia lampu Natal, ramainya pusat perbelanjaan, serta padatnya destinasi wisata selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, ironi justru dirasakan masyarakat kecil karena lonjakan harga bahan pokok.

    Berdasarkan laporan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), sejumlah harga barang pokok meroket menjelang dan selama libur Nataru.

    Seperti harga bawang merah naik dari Rp 35 ribu per kilogram (kg) ke Rp 40 ribu per kg dan bawang putih dari Rp 40 ribu ke Rp 50 ribu per kg.

    Kenaikan yang cukup signifikan juga terjadi pada harga cabai rawit, meski sempat turun menjadi Rp 45 ribu per kg, tetapi kini naik lagi ke angka Rp 80 ribu per kg.

    Kenaikan juga terjadi pada harga daging ayam dan sapi, yang semula Rp 35 ribu per kg menjadi Rp 45 ribu per kg untuk daging ayam, dan semula Rp 130 ribu per kg menjadi Rp 140 ribu untuk daging sapi.

    Lonjakan harga bahan pokok ini membuat momen bahagia akhir tahun berubah menjadi tekanan berat bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

    Baca: Tak ada pesta kembang api di malam perayaan tahun baru di Jakarta

    Anggota Komisi IV DPR, Johan Rosihan, menilai kenaikan harga pangan yang terjadi jelang dan selama Nataru 2025 tidak sepenuhnya dapat dibenarkan hanya dengan alasan meningkatnya permintaan masyarakat.

    Menurutnya, lonjakan konsumsi saat libur panjang memang merupakan fenomena tahunan yang wajar, tetapi ketika harga naik secara tajam dan tidak wajar, hal itu menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem distribusi dan lemahnya pengawasan.

    “Kenaikan harga yang berlebihan mengindikasikan terganggunya rantai pasok pangan serta potensi lemahnya pengawasan di tingkat lapangan,” kata Johan saat dihubungi Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (27/12/2025).

    Negara, lanjutnya, tidak boleh absen dalam situasi seperti ini dan harus memastikan distribusi berjalan normal serta tidak ada pihak yang mengambil keuntungan berlebihan di tengah momentum sensitif Nataru

    Politisi PKS itu mengungkapkan, di berbagai pasar tradisional masyarakat mengeluhkan harga beras, cabai, bawang, telur, hingga daging ayam yang terus merangkak naik. Keluhan serupa, kata Johan, hampir selalu muncul setiap musim libur panjang dan tak boleh dianggap sepele.

    “Bagi pekerja harian, buruh, dan masyarakat kecil, kenaikan harga sekecil apapun dampaknya sangat besar terhadap kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

    Baca: Potensi hujan lebat di sejumlah daerah maat libur tahun baru

    Di sisi lain, DPR terus mendorong pemerintah untuk memastikan stok pangan dalam kondisi aman, operasi pasar berjalan efektif, serta Satuan Tugas Pangan aktif turun langsung ke lapangan.

    Namun Johan mengingatkan bahwa pengawasan tidak boleh berhenti pada forum rapat semata.

    “Pengawasan harus benar-benar hadir di pasar dan sepanjang jalur distribusi agar potensi permainan harga bisa dicegah. Tanpa pengawasan langsung di lapangan, praktik spekulasi dan penimbunan akan terus berulang setiap musim libur panjang,” tegas Legislator Daerah Pemilihan NTB I tersebut.

    Johan menilai fenomena melonjaknya harga pangan saat Nataru 2025 kembali menegaskan ketimpangan antara meningkatnya konsumsi dan lemahnya daya beli masyarakat.

    Di satu sisi, sektor pariwisata dan konsumsi kelas menengah ke atas tumbuh pesat, sementara di sisi lain masyarakat kecil justru harus mengencangkan ikat pinggang.
    “Libur panjang yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi periode paling rawan inflasi pangan,” ujarnya.