7cloud.asia – Keindahan dan keunikan batik khas Jawa Barat belum banyak digali. Jika bicara batik, orang akan lebih terarah pada batik Solo, Yogyakarta ataupun batik pesisiran.
Padahal, batik khas Jawa Barat menyimpan sejarah dan kekayaan yang tak kalah menariknya jika dibanding batik dari daerah lainnya.
Keunikan batik khas Jawa Barat ini diulas habis dalam kegiatan tahunan Himpunan Wastraprema yang diberi tajuk “Wisata Wastra” pada 29–30 Oktober 2025 di Bandung dan Garut, Jawa Barat.
Kegiatan yang diikuti 35 peserta dari berbagai komunitas pecinta wastra ini menghadirkan Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar (Neneng Iskandar) dan Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat, Komarudin Kudiya.
Dalam paparannya, Sri Sintasari Iskandar menjelaskan bahwa batik Jawa Barat memiliki sejarah panjang yang telah berkembang sejak abad ke-12.
Baca: Akulturasi budaya Indonesia dan China dalam wastra tradisional
“Masyarakat Priangan sudah mengenal ragam hias batik sejak masa kerajaan. Budaya membatik di Jawa Barat dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era Kerajaan Mataram,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (30/10/2025)
Ia menyampaikan, setiap daerah memiliki ciri khas batik tersendiri, seperti Batik Cirebon dengan motif Mega Mendung, Batik Indramayu atau Dermayon yang dipengaruhi budaya China, hingga Batik Kuningan dan Batik Ciamis yang menampilkan motif khas daerah.
Menurut dia, pesona batik Jawa Barat terletak pada warna cerah dan dinamis yang mencerminkan alam dan budaya lokal.
“Batik Jawa Barat merupakan karya adi luhung yang tidak kalah indahnya dengan batik dari daerah lain di Indonesia,” tuturnya.
Baca: Wastra Bercerita perkenalkan batik pesisiran
Sementara itu, Komarudin Kudiya dalam sesi bertema “Gumading Priangan: Cahaya dari Batik Garutan” mengulas karakteristik batik Garut yang dikenal sederhana, adaptif, dan akrab dengan keseharian masyarakat.
“Batik Garutan berpijak pada teknik tutup celup, dengan ragam hias flora dan fauna seperti burung merak yang menjadi ikonnya. Motif merak melambangkan kegembiraan, martabat, dan semangat kemenangan,” ujarnya.
Ketua Umum Wastraprema, Sri Sintasari Iskandar menambahkan bahwa kegiatan tahunan ini bertujuan memperluas wawasan anggota dan masyarakat mengenai kekayaan wastra nusantara.
“Melalui Wisata Wastra, kami ingin memberikan edukasi langsung dengan mengunjungi para perajin dan melihat proses pembuatan batik di daerah,” katanya.
