7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan warga untuk menangani limbah yang dihasilkan warga dan industri. Tak terkecuali pelajar SMA di Jakarta yang membuat bahan bangunan ramah lingkungan dengan berbahan limbah dari PLTU batu bara.
Itulah yang dilakukan Sheina Ashley Pribadi, siswi kelas 12 Jakarta Intercultural School. Ia menginisasi projek ACE untuk menciptakan bangunan yang lebih ramah lingkungan berbahan limbah.
“Proyek ACE bertujuan untuk menggantikan batu bata semen, tanah liat yang menimbulkan polusi. Caranya dengan mengganti sebagian besar semen pada batu bata dengan fly ash,” jelas Sheina dikutip detik.com.
Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi produk bernilai tinggi
“Fly ash adalah produk sampingan atau limbah PLTU batu bara. Jika tidak dimanfaatkan untuk pembuatan semen ini, fly ash hanya jadi sampah yang dapat mencemari saluran air dan berakhir di tempat pembuangan sampah,” paparnya.
Selanjutnya Sheina mengungkapkan ide pembuatan batu bata ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu.
“Idenya muncul saat kursus solusi tentang lingkungan di Stanford tahun lalu. Saya banyak konsultasi dengan Profesor, insinyur dan mempraktikkannya sendiri di Jakarta,” ungkapnya.
Baca: Insectta olah limbah pangan jadi bahan kosmetik
Untuk produk ini, Sheina bereksperimen sendiri, membuat prototipe rumah sampai menguji prototipe di laboratorium.
“Formula yang terakhir dapat mencegah 50 persen lepasnya karbondioksida,” imbuhnya.
Setiap kilogram semen yang diganti dengan fly ash menghemat 0.9 kilogram karbondioksida agar tidak terbuang ke atmosfer,” katanya.
Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan
Tahap selanjutnya adalah uji kekuatan. Sembilan prototipe batu bata terkuat diuji di lab Universitas Tarumanegara Jakarta untuk dilakukan penguatan dengan uji kompresi.
“Formula terakhir bisa melampaui standar FC20 (mutu sedang beton standar Kementerian PUPR),” ujar juara Technovation Girls Indonesia tahun 2023 ini.
Batu bata ramah lingkungan ini mulai diproduksi. Sheina mengaku dibantu lokakarya lokal di Bogor untuk memproduksi dengan bahan baku fly ash dari PLTU Paiton Malang.
Baca: Briket dari ampas kopi, inovasi menuju energi terbarukan
Sementara untuk desain, finalis Global RISE for The World 2023 ini banyak dibantu pamannya, yang kebetulan seorang arsitek.
Dia berharap dengan penemuannya ini, masyarakat akan semakin sadar pentingnya menggunakan bahan bangunan rendah polusi. Dengan demikian dampak perubahan iklim dapat diminimalisir.
Sayangnya, batu bata buatan Sheina ini masih belum dijual secara komersil. Penggunaannya saat ini masih diperuntukkan membangun kepentingan umum.
Baca: Ilmuwan AS ciptakan bioplastik dari bangkai lalat
Salah satunya untuk membangun trotoar yang rusak. Seperti yang sudah dibangun di trotoar di kawasan sekolah Al-Firdaus di BSD.
“Meskipun kami punya harapan di masa depan, proyek ini tidak bertujuan menjual batu bata secara komersial. Batu bata ini akan digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.
Atas batu bata temuannya ini, Sheina telah menerima hibah dari The Iris Project yang memungkinkan Sheina membeli bahan baku dan perlatan yang diperlukan.
Baca: Botol dan kaca, mana lebih ramah lingkungan
Ia berharap, ke depan temuan ini bisa dipatenkan dan bisa mengembangkan produk ini bermitra dengan perusahaan bangunan di Indonesia agar bisa memproduksi secara massal.
“Untuk menciptakan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan, untuk mengurangi emisi karbon,” harapnya.
Reporter: Nurakhmayani
