7cloud.asia – Raflesia atau Rumah Reflektif Surya Indonesia. Demikian nama yang disematkan untuk hunian rendah emisi hasil inovasi bersama tim dari Universitas Pembangunan Indonesia (UPI) Bandung, dan sejumlah lembaga seperti Domus dan Grenlam Laminated ini.
Hunian rendah emisi Raflesia ini merupakan rumah knockdown dengan struktur baja ringan yang dikombinasikan dengan penggunaan cat reflektif surya BeCool Indonesia pada genteng metal dan penutup dindingnya.
Ruangkota.com, berkesempatan menyaksikan Raflesia ini di sela gelaran Arch.id, yang digelar di kawasan BSD City, Banten pada akhir April lalu.
Adalah Dr. Eng. Beta Paramita, dosen sekaligus peneliti dari Program Studi Artsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus Founder BeCool Indonesia yang berada di balik inovasi ini.
Dalam perbincangannya dengan 7cloud.asia, Beta mengatakan, penggunaan BeCool bisa jadi solusi alternatif untuk mengatasi efek pulau panas perkotaan terutama di kawasan padat penduduk.
Dijelaskannya, hal ini dikarenakan BeCool memiliki kemampuan tinggi dalam memantulkan sebagian dari radiasi matahari kembali ke atmosfer sambil menyerap panas melalui kemampuan pendinginan radiasinya.
Baca: Kiat Membangun Rumah yang Nyaman Lagi Hemat Energi
Karena itu teknologi ini layak untuk meningkatkan efisiensi energi dan kualitas lingkungan di iklim panas dan lembab.
BeCool yang dapat diterapkan pada atap dan dinding memiliki emitansi (kemampuan memancarkan kembali energi atau panas yang diserap) sebesar 0,90, reflektansi (memantulkan) matahari hingga 72,1 persen dan serapan surya hingga 27,9 persen.
Indeks Reflektan Surya (Solar Reflectance Index/ SRI) rumah Raflesia mencapai 88,0 atau di atas angka ideal untuk material yang mampu mendinginkan diri (yakni di angka 78).
Bahan dengan SRI tinggi membantu menurunkan suhu perkotaan karena panas tidak terperangkap atau dipantulkan kembali ke udara.
“Sekaligus mendukung efisiensi energi karena menjaga suhu di bawah atap atau bangunan tetap sejuk, sehingga mengurangi konsumsi listrik untuk pendingin ruangan (AC),“ terang Beta.
Beta menambahkan, BeCool yang merupakan produksi cat reflektif surya produksi lokal pertama di Indonesia, kini telah diterapkan di sejumlah bangunan pabrik ataupun perumahan pribadi.
Adapun proyek percontohan lingkungan binaan yang telah dibangun dengan mengedepankan prinsip bangunan, area dan komunitas berkelanjutan diberi nama Kampung BeCool, Desa Tipar, Padalarang, Kabupaten Bandung.
Baca: Masyarakat Bisa Berkontribusi Kurangi Panas Perkotaan dengan Langkah Kecil dari Rumah
Kampung BeCool ini merupakan lingkungan binaan yang dibangun berbasis Corporate Social
Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan yang digagas oleh BeCool Indonesia dan Tatalogam Group.
Secara tidak langsung, hasil inovasi dapat mendorong penghematan energi untuk pendinginan bangunan. Beta memaparkan, penggunaan BeCool dalam skala rumah tangga terbukti menurunkan biaya listrik.
“Dari semula dengan pembelian token sebesar Rp500 ribu hanya untuk kebutuhan listrik rumah tangga, setelah menggunakan BeColl bisa tambah untuk mengecharge kendaraan listrik,“ paparnya.
Dari ujicoba yang dilakukan timnya, Beta menyebutkan penggunaan Becool untuk pelapisan atap mampu menurunkan suhu dalam ruangan hingga 11 derajat Celcius, sehingga efektif memperbaiki temperatur dalam bangunan.
Kemampuan ini dapat lebih dioptimalkan dengan mengombinasikannya dengan penataan lanskap, shadowing atau naungan pepohonan serta perbanyakan ruang terbuka hijau.
Jika digunakan dalam skala luas, ujarnya, penggunaan BeCool akan mampu menurunkan panas kawasan perkotaan secara signifikan.
