Tag: bediding

  • BRIN Sebut Ada Kaitan Fenomena Aphelion dan Bediding

    BRIN Sebut Ada Kaitan Fenomena Aphelion dan Bediding

    7cloud.asia – Sejak awal Juli, beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara mengalami penurunan suhu secara ekstrem atau bediding.

    Fenomena ini memiliki kaitan dengan fenomena belahan selatan Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari atau aphelion.

    Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan beberapa waktu lalu.

    Menurutnya kaitan antara bediding dan aphelion memang tidak secara langsung.

    “Sekilas memang iya, seperti tidak ada kaitannya, karena memang jauh sekali jika dibandingkan dengan dampak yang terjadi di beberapa kota di Indonesia,” jelas Eddy.

    Baca: Ini penyebab udara dingin di musim kemarau

    Melansir Antaranews, Eddy menjelaskan beberapa wilayah Indonesia di bumi bagian selatan dan bertipe monsunal seperti Pulau Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara mengalami penurunan suhu udara pada 15 Juli lalu.

    Seperti Bandung yang suhunya turun mencapai suhu terendahnya tahun ini dengan 15 derajat celsius, di mana suhu udara pada belakangan ini tercatat di sekitar 22 derajat celsius.

    Sementara untuk wilayah Indonesia yang berada di bumi bagian utara seperti Medan dan Pontianak hanya mengalami penurunan yang sedikit dan tidak signifikan, dari sekitar 28 derajat menjadi 24-25 derajat celsius. 

    Baca: Ini dampak bediding bagi pertanian dan peternakan

    Eddy menyebut peristiwa itu terjadi setelah adanya aphelion, yang pasti terjadi setahun sekali sebelum tanggal 8 Juli.

    “Jika memang (informasi) ini hoaks, maka pertanyaannya adalah apakah ada satu atau dua kota, khususnya di kawasan timur Indonesia yang suhu udaranya jauh di bawah suhu terendahnya, jauh sebelum terjadinya aphelion,” terangnya.

    Selanjutnya Eddy membenarkan penurunan suhu yang terjadi akibat bertiupnya udara dingin dari wilayah Australia seperti yang diberitakan selama ini.

    Namun, ia mengungkapkan udara dingin dari wilayah Australia tersebut bertiup dari wilayah Kutub Selatan yang menjadi lebih dingin.

    Akibat fenomena aphelion tersebut yang menyebabkan wilayah bumi bagian selatan tidak mendapatkan panas matahari sama sekali.

    Baca: Suhu dingin landa Gunung Gede, para pendaki harus waspada

    “Dugaan saya, boleh dicek, hampir semua kawasan bertipe monsunal khususnya, yang mengalami fenomena suhu rendah, sebagian besar terjadi setelah peristiwa aphelion muncul, karena adanya lag-time atau jeda waktu,” tegas Eddy.

    Karena itu, dia meminta kepada para periset untuk kembali mendiskusikan hal tersebut dengan tidak hanya berfokus pada hembusan udara dingin dari Australia tetapi juga diikuti dengan penelitian sebab lainnya.

    “Dengan kata lain, evolusi pergerakan semu Matahari terhadap Bumi akan diikuti dengan evolusi suhu permukaan bumi. Polanya mirip, namun ada jeda waktu,” ujarnya.

     

  • BMKG: Udara Dingin di Jakarta dan Sejumlah Daerah di Jawa Akan Berlangsung Hingga Juli

    BMKG: Udara Dingin di Jakarta dan Sejumlah Daerah di Jawa Akan Berlangsung Hingga Juli

     

    7cloud.asia – Sejumlah warga Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan udara dingin dalam beberapa hari terakhir. Suhu di Jakarta dalam beberapa hari terakhir tercatat berada di kisaran 25 hingga 27 derajat Celsius pada pagi dan malam hari.

    Udara dingin ini sebenarnya sering terjadi di bulan Juni-Juli atau saat musim kemarau mulai melanda. Lantas, apa penyebab udara dingin yang melanda sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya?

    BMKG menyebut fenomena udara dingin yang umum terjadi di musim kemarau ini sebagai fenomena Bediding.

    “Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai Bediding. Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal karena memang proses fisisnya berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau,” tulis BMKG di lamannya.

    Pada musim kemarau, kata BMKG, jarang terjadi hujan dan tutupan awan berkurang. Hal ini menyebabkan panas permukaan bumi akibat radiasi matahari lebih cepat dan lebih banyak yang dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang.

    Kemudian, curah hujan yang kurang juga menyebabkan kelembapan udara juga rendah yang berarti uap air di dekat permukaan bumi juga sedikit.

    Baca: Penyebab udara terasa dingin saat musim kemarau

    Bersamaan dengan kondisi langit yang cenderung bersih dari awan, maka panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepaskan ke atmosfer luar.

    Hal tersebut membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

    “Kondisi ini umum terjadi pada wilayah Indonesia dekat khatulistiwa hingga bagian utara. Pada wilayah ini, meski pagi hari cenderung lebih dingin namun pada siang hari udara akan terasa lebih panas,” jelas BMKG.

    Guswanto, Deputi Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa fenomena udara dingin di Jakarta dan sekitarnya disebabkan oleh beberapa faktor.

    Salah satu penyebab udara dingin dalam beberapa waktu terakhir adalah Angin Monsun Australia. Menurut dia angin ini bertiup dari Benua Australia menuju Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia.

    Musim dingin yang kini terjadi di Australia mengakibatkan pergerakan udara ini memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah, sehingga menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin.

    Baca: Fenomena bediding juga berdampak pada pertanian dan peternakan

    “Angin ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, sehingga pada malam hari suhu mencapai titik minimumnya dan udara terasa lebih dingin,” jelas Guswanto dikuti CNN Indonesia, Senin (30/6/2025).

    Faktor lain yang membuat udara dingin adalah badai tropis di wilayah utara Indonesia atau sebelah timur Filipina yang menyebabkan aliran udara dari Benua Australia ke Asia semakin menguat.

    Hal ini membuat wilayah Jawa bagian barat menerima uap air yang cukup tinggi dan mengalami suhu yang lebih dingin.

    “BMKG memprakirakan bahwa suhu dingin ini akan terus terjadi hingga menjelang akhir Juli, dengan suhu di Jakarta dan sekitarnya mencapai 25-27 derajat Celcius pada pagi hingga siang hari, dan turun menjadi 25 derajat Celcius pada malam hari,” ujar Guswanto.

    Fenomena ini disebut cukup terasa pada bulan Juli di mana pada periode tersebut angin timuran atau monsun Australia yang kering mengalir melewati wilayah-wilayah tersebut.

    “Pada bulan Juli juga merupakan puncak musim dingin Australia sehingga udara dinginnya mengintrusi masuk wilayah Jawa Bagian Selatan hingga Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat,” demikian penjelasan BMKG.

    Baca: Dampak fenomena bediding pada kesehatan

     

  • Terjadi Kemarau Basah Tetapi Bediding Tetap Terjadi, Simak Penjelasannya

    Terjadi Kemarau Basah Tetapi Bediding Tetap Terjadi, Simak Penjelasannya

    7cloud.asia – Dalam kalender musim, normalnya Juli ini sudah memasuki musim kemarau 2025. Namun, hujan masih mengguyur di sebagian wilayah Indonesia, tak terkecuali Jabodetabek.

    Menariknya, meski kemarau telat datang, masyarakat di bagian Selatan Indonesia tetap merasakan fenomena bediding.

    Berasal dari istilah bahasa Jawa, bediding adalah kondisi suhu lebih dingin di malam hingga dini hari sampai bisa membuat orang menggigil, ciri khas musim kemarau.

    Lantas, apa penyebab musim kemarau tak kunjung datang, sementara gejala seperti ‘bediding’ tetap terasa?

    Kemarau datang terlambat dan lebih singkat
    Ada banyak faktor penyebab musim kemarau tak kunjung datang. Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor atmosfer dan laut yang membuat udara tetap lembap dan memicu hujan, seperti:

    Melemahnya angin Monsun Australia, yang biasanya membawa udara kering dari benua Australia ke Indonesia dan memicu musim kemarau.

    Aktivitas atmosfer, seperti gelombang ekuator (Kelvin dan Rossby Equator) dan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sering muncul di Indonesia karena posisi negara kita yang berada di wilayah tropis. Gelombang tersebut membawa massa udara basah dan membentuk awan hujan.

    Anomali arah angin, yaitu munculnya angin baratan (dari Samudra Hindia ke Indonesia bagian barat) yang menggantikan angin timuran—yakni angin yang bertiup dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang biasa membawa udara kering.

    Padahal normalnya, musim kemarau di Indonesia ditandai oleh dominasi angin timuran—yakni angin dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang membawa udara kering dan menyebabkan berkurangnya curah hujan.

    Karena kondisi inilah, kendati El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)—interaksi antara atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik serta Hindia yang memengaruhi pola curah hujan—berada dalam fase netral, curah hujan masih terus terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Mei dan kemungkinan berlanjut hingga Oktober 2025.

    Lantas, apakah semua anomali cuaca ini berkaitan dengan perubahan iklim? Banyak indikasi menunjukkan korelasi kuat semua anomali cuaca (seperti kemunduran musim kemarau, peningkatan suhu muka laut, serta anomali arah angin) berkaitan dengan perubahan iklim.

    Namun, para ilmuwan dan peneliti perlu terus melakukan pemantauan dan analisis data iklim lebih dalam untuk menyatakan apakah anomali saat ini adalah dampak langsung dari perubahan iklim atau masih dalam rentang variabilitas iklim alami yang diperburuk oleh pemanasan global.

    Selain datang terlambat, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan berlangsung lebih singkat dari biasanya, terutama akibat curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata normal dalam beberapa bulan terakhir.

    Berdasarkan peta analisis curah hujan BMKG, sebagian besar wilayah di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara masih akan diguyur hujan cukup lebat—bahkan mencapai lebih dari 100 mm per hari, di atas rata-rata normal.

    Mengapa ‘bediding’ khas kemarau tetap terasa?
    Di tengah kemarau yang tertunda dan curah hujan yang masih tinggi di sebagian wilayah, masyarakat tetap merasakan fenomena bediding.

    Fenomena tahunan ini umumnya terjadi pada musim kemarau yang biasanya berlangsung di periode Juni-September, terutama pada di wilayah selatan katulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Pada periode ini, angin Monsun Australia aktif membawa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, sehingga suhu udara di malam dan pagi hari menjadi lebih rendah.

    Selain itu, pada musim kemarau, langit biasanya lebih cerah dan nyaris tanpa awan. Akibatnya, panas matahari yang diserap siang hari dilepaskan kembali oleh permukaan bumi saat malam melalui radiasi. Karena tidak ada awan yang menahan panas itu, suhu pun turun drastis.

    Kondisi ini makin terasa karena rendahnya kelembapan dan sedikitnya uap air di udara, membuat malam hari terasa lebih menusuk dinginnya.

    Munculnya bediding meskipun musim kemarau belum sepenuhnya berlangsung adalah hal wajar.

    Sebab, ini tetap merupakan bagian dari dinamika peralihan menuju musim kemarau yang biasa terjadi, di mana kelembapan tanah mulai menurun secara bertahap sebelum musim kemarau benar-benar berlangsung secara penuh.

    Jadi, masyarakat tak perlu cemas berlebihan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Agita Vivi Wijayanti (Senior Forecaster, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMKG) dan Nurdeka Hidayanto (Analis Meteorologi dan Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)