7cloud.asia – Sungai Bengawan Solo kembali tercemar. Kali pencemarannya akibat limbah ciu yang diduga dibuang oleh pengusaha industri etanol. Akibatnya air keruh, bau dan ikan-ikan mati.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyurati pengusaha industri etanol di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban.
Surat itu menerangkan regulasi pembuangan limbah sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Menurut kepala DLH Sukoharjo, Agus Suprapto, pihaknya juga telah melakukan pengecekan langsung Sungai Bengawan Solo.
“Dari hasil pengecekan oleh petugas, didapati bladu (ikan muncul di permukaan air) ini muncul karena tercemar limbah ciu. Pembuatan ciu tersebut berada di Polokarto perbatasan sungai dengan Kecamatan Grogol,” jelas Agus seperti yang dilansir CNN Indonesia.
Baca: Sungai Bengawan Solo tercemar
Selain itu pihaknya juga melakukan koordinasi dengan kades-kades di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban serta melayangkan surat yang sama untuk pengusaha industri etanol dan alkohol .
Lebih lanjut Agus menjelaskan ada tiga poin yang diterangkan dalam surat tersebut. Pertama mengolah air limbah yang dihasilkan sehingga memenuhi baku mutu.
Kedua, tidak membuang air limbah ke badan air permukaan dan/atau media lingkungan hidup lainnya sebelum memenuhi baku mutu. Ketiga, ancaman sanksinya.
“Apabila melanggar, dapat dikenakan sanksi berupa sanksi administratif dan pidana sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Agus.
Meski terjadi pencemaran air akibat limbah ciu, namun pencemaran ini masih belum menggganggu kualitas air yang diproduksi PDAM Toya Wening Solo.
Baca: Limbah pabrik cokelat mencemari aliran irigasi
Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) PDAM Solo, Bayu Tunggul menjelaskan debit air di Sungai Bengawan Solo saat ini masih cukup besar.
Sehingga antara polusi dan air yang ada di Bengawan Solo masih bisa dinetralisir. “Walaupun terhadap biota sungai sudah berpengaruh, tapi kita masih bisa mengolah dan hasil olahan sesuai dengan batu muku Kementerian Kesehatan,” terang Bayu.
Meski saat ini belum terpengaruh, namun Bayu khawatir jika kondisi tersebut masih tetap terjadi saat musim kemarau.
Sebab, beberapa tahun belakangan PDAM sempat menghentikan produksi air bersih akibat limbah ciu muncul saat debit air mengecil akibat kemarau.
Karena itu, lanjut Bayu, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mulai dari hulu hingga hilir. Serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Reporter: Nurakhamayani
