7cloud.asia – Sidak anggota DPR menemukan ada pendatang dari luar Bali dan Warga Negara Asing (WNA) ikut menikmati subsidi LPG 3 kilogram (Kg) bersubsidi.
Padahal, seharusnya LPG 3 kilogram bersubsidi hanya untuk waega kurang mampu di masing-masing daerah.
Sehingga sehingga pendatang, apalagi WNA tidak masuk dalam hitungan kuota yang berhak menggunakan LPG 3 kilogram bersubsidi di Bali.
“Ternyata mereka juga memanfaatkan (LPG 3 Kilogram) dan saya lihat di lapangan mereka juga nenteng (membawa) gas,” ungkap Anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Parta mengungkapkan Parta saat peninjauan pangkalan bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati di Denpasar, Minggu (30/7/2023).
Baca: DPR ingatkan LPG 3 kilogram bersubsidi hanya untuk warga tidak mampu
Parta meminta ketegasan Pertamina untuk menegakkan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak atas LPG 3 kilogram bersubsidi,”
Dalam keterangan yang dilansir Parlementaria, Parta menyebut banyak WNA yang memiliki rumah, vila, hingga pondok sendiri di Bali. Selain itu, banyak juga pendatang dari luar Bali yang mencari nafkah di Pulau Dewata dengan cara berjualan makanan hingga UMKM.
“Mereka tidak ber-KTP Bali, tapi menggunakan LPG 3 kilogram di Bali. Itukan jumlahnya sangat banyak. Jadi, banyak yang tidak berhak terhadap LPG 3 kilogram bersubsidi, tapi menggunakan LPG subsidi,” terang Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Baca: Pertamina luncurkan Pertamax 95 tetes tebu
Namun, Parta tak merinci lokasi temuan pendatang dari luar Bali dan WNA yang memanfaatkan LPG 3 Kg tersebut.
Di sisi lain, ia memastikan stok LPG 3 kilogram bersubsidi di tingkat agen dan pangkalan di sejumlah wilayah di Bali bisa dikatakan aman.
“Sesungguhnya kuota ada, tapi pengambilannya yang tidak tertib karena ada persoalan kekhawatiran akan tidak adanya gas. Intinya (warga) jangan panik dan jangan mengambil lebih,” tegasnya.
Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen ini plus minusnya
Parta mengingatkan bagi masyarakat yang berpenghasilan cukup, misalnya PNS dan profesi lainnya agar dapat menggunakan LPG 12 Kg.
“Restoran dan hotel di Bali juga gunakanlah (LPG) yang ukuran 12 Kg dan 50 Kg. Jangan membeli gas oplosan,” imbaunya.
Untuk diketahui, hingga kini ada 108 ribuan masyarakat Bali mendaftar untuk berhak mendapatkan LPG 3 kilogram.
Baca: Indonesia mulai serius jajaki pengembangan energi hidrogen
Seperti diketahui saat ini terjadi kelangkaan LPG 3 kilogram bersubsidi di berbagai daerah, seperti Balikpapan, Makasar, Bali, Banyuwangi, Sumbar, Jawa Timur, Kalimantan Tengah.
Untuk mengatasi kelangkaan LPG 3 kilogram ini pemerintah meluncurkan produk LPG 3 kilogram non subsidi bermerek Bright dengan harga yang lebih mahal.
Namun langkah pemerintah ini menuai kritisk dari DPR, apalagi harga LPG dunia sedang turun dalam dua tahun ini.

