Tag: biogas

  • Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    7cloud.asia – Kebakaran di sejumlah tempat pembuangan akhir yang dipicu sampah organik pada musim kemarau tahun lalu menjadi perhatian tersendiri

    Tim peneliti dari The Purnomo Yusgiantoro Center menilai Indonesia seharusnya lebih serius menempuh langkah strategis memanfaatkan sampah dapur menjadi menjadi biogas, yaitu energi gas ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah organik.

    Berikut laporan yang disusun Muhammad Salman Hakim (Research Administrator, The Purnomo Yusgiantoro Center) dan Vivi Fitriyanti (Researcher, The Purnomo Yusgiantoro Center)

    Tak perlu muluk-muluk membangun fasilitas biogas berskala besar. Pemerintah daerah hanya perlu menyiapkan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi biogas di tingkat kelurahan atau desa bersama masyarakat setempat.

    Dengan langkah ini, kami meyakini sampah organik di kota-kota dapat berkurang. Masyarakat juga bisa memanfaatkan energinya untuk kegiatan sehari-hari, misalnya memasak.

    Baca: Restorasi tempat pembuangan sampah terpadu

    Beraneka manfaat biogas kelurahan
    Biogas adalah sumber energi ramah lingkungan diperoleh dari hasil penguraian material organik secara anaerob (tanpa oksigen) oleh mikroba. Gas ini terdiri dari gas metana, karbon dioksida, nitrogen, hitrogen sulfida, hingga uap air.

    Penggunaan biogas dapat menciptakan peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat melalui konsep waste to energy. Sampah dapur yang dahulu langsung dibuang kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan tidak menghasilkan emisi karbon.

    Keuntungan lainnya, pemakaian biogas dapat mengurangi ketergantungan warga dengan gas LPG (liquified petroleum gas) yang berasal dari energi fosil dan kebanyakan pasokannya masih diimpor.

    Pemakaian biogas dari sampah dapur pernah dilakukan di Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, pada 2011.

    Upaya tersebut diinisiasi Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling)–sebuah komunitas independen di Kelurahan Cibangkong.

    Baca: Contoh baik pengelolaan sampah di sejumlah negara

    Komunitas ini mengumpulkan sampah dapur yang dihasilkan oleh tiap rumah tangga. Setelah dikumpulkan, sampah akan diproses oleh alat bernama biodigester dan didistribusikan kepada beberapa rumah tangga.

    Biogas sampah dapur di Kelurahan Cibangkong dijual dengan harga Rp 20.000 per bulan–jauh lebih rendah dibandingkan harga LPG ukuran 12 kg saat itu sebesar Rp 70 ribu.

    Dengan harga tersebut, masyarakat bisa menghemat banyak pengeluaran. Harga biogas bahkan bisa lebih murah jika pemerintah memberlakukan program ini secara massal.

    Selain biogas, proses pengolahan sampah dapur juga menghasilkan cairan sisa organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia. Cairan organik itu dapat dijual sebagai pupuk sehingga menjadi peluang bisnis ramah lingkungan bagi masyarakat.

    Di Kelurahan Cibangkong, pupuk cair tersebut dijual dengan harga Rp 20 ribu per liter sehingga bisa menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat.

    Tantangan biogas kelurahan
    Usaha menjalankan proyek biogas kelurahan memang belum luput dari tantangan.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun dinilai ketinggalan zaman

    Pertama adalah masalah biaya. Per 2020, pemasangan biodigester berukuran 6 meter bisa memakan biaya sebanyak Rp 11 juta.

    Sumber pendanaan dari pemerintah pun cukup terbatas sehingga pelaksanaannya masih membutuhkan keterlibatan swasta (biasanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan).

    Pelaksanaan program biogas saat ini juga belum diiringi kerja sama yang baik antar lembaga. Sebagai contoh, dari tingkat pemerintah pusat, program pengembangan biogas tersebar di banyak kementerian dan tidak diiringi dengan koordinasi yang baik.

    Perkara lainnya, Indonesia juga tidak memiliki rencana khusus untuk pengembangan biogas seperti China, padahal potensi yang dimiliki sangat besar.

    Pada level masyarakat, koordinasi untuk mengumpulkan sampah dapur, operasionalisasi sistem biogas, dan proses pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat juga masih menilai penggunaan biogas cukup rumit apabila dibandingkan LPG.

    Sebagai contoh, Kelurahan Cihaurgeulis di Bandung sempat mendapatkan bantuan untuk pengembangan biogas, tapi hal tersebut tidak bertahan lama diakibatkan kurangnya pengetahuan warga dan bimbingan tentang sistem biogas.

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Rekomendasi pemanfaatan biogas
    Untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari sampah dapur, kami memiliki lima rekomendasi:

    Pertama, pemerintah harus mengupayakan berbagai bentuk pembiayaan lain untuk mengembangkan biogas di perkotaan.

    Misalnya melalui pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan ataupun pengalokasian anggaran daerah untuk pengeluaran modal (capital expenditure).

    Kedua, pemerintah perlu mendampingi masyarakat mulai dari wawasan lingkungan hingga aspek teknis pemanfaatan biogas dari sampah dapur. Pemerintah Daerah dan organisasi masyarakat dapat menjadi tokoh dalam aksi pendampingan tersebut.

    Ketiga, memotivasi masyarakat dalam memisahkan sampah dapur melalui program-program yang menyentuh kebiasaan masyarakat. Misalnya, warga diajak untuk melihat perjalanan sampah mereka. Bisa juga melalui penghargaan, bahkan perlombaan ‘minim sampah’ antar-RT.

    Keempat, memastikan tata kelola dan petunjuk pelaksanaan yang jelas agar proyek biogas tidak mangkrak. Karena itu, pengelolaan biogas oleh perusahaan daerah, koperasi, dan organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) haruslah menjunjung prinsip tata kelola yang baik.

    Terakhir, saat ini masyarakat masih menggunakan LPG karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, kondisi lapangan pun membuktikan bahwa subsidi LPG tidak tepat sasaran.

    Dalam jangka panjang, pemerintah semestinya dapat mengalihkan anggaran subsidi LPG ke pengembangan biogas khususnya di daerah yang potensial sehingga mampu meningkatkan minat masyarakat.

    Sumber: The Conversation

  • Pengolahan Limbah Peternakan Sapi di Cikoko, Jakarta Selatan Jadi Contoh Peternakan Perkotaan

    Pengolahan Limbah Peternakan Sapi di Cikoko, Jakarta Selatan Jadi Contoh Peternakan Perkotaan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI terus melakukan penataan peternakan sapi di RT 009/RW 003 Jalan Cikoko Barat III, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

    Penataan peternakan sapi di Cikoko ini dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di dinas yakni tata cara mengelola, mengemas, hingga perbaikan saluran pipa-pipa instalasi biogas di kawasan ini.

    Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, saat mengunjungi peternakan sapi Cikoko, mengatakan bahwa limbah dari peternakan sapi ini diolah menjadi energi terbarukan berupa biogas yang sudah tersalurkan ke 27 rumah di sekitar lokasi.

    Saatvini, penggunaan biogas ini masih gratis. Namun, ke depannya akan dikenakan tarif Rp30.000 per rumah setiap bulan.

    “Kalau warga biasanya menggunakan dua tabung elpiji tiga kilogram bisa habis Rp60.000. Sekarang cukup Rp30.000, gasnya bisa dipakai tanpa batas. Silakan saja dipakai,” ujar Heru Budi.

    Baca: Peternakan terpadu di Balaraja

    Selain menjadi gas, limbah peternakan sapi Cikoko ini juga diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat. Satu botol pupuk cair dijual seharga Rp25.000. Uang penjualan pupuk, susu hingga biogas dari olahan peternakan itu akan masuk ke koperasi.

    Heru Budi berharap peternakan sapi Cikoko ini menjadi percontohan bagi kawasan lain secara bertahap dengan menggandeng program CSR yang ada di sekitar kawasan peternakan.

    “Ini adalah bukti komplit yang sudah pemda lakukan karena merupakan bagian langkah ramah lingkungan, energi terbarukan dan organik yang menghasilkan biogas,” ujarnya seperti dilansir Antaranews.com.

    Pada 2023, peternakan sapi di Cikoko, Jakarta Selatan, ini sempat menjadi sorotan publik. Selain menguarkan bau tak sedap nan menyengat, melainkan juga menjadi sarang nyamuk lantaran lembab.

    Kala itu, peternakan sapi hanya terdapat beberapa bak penampungan sementara dalam tanah. Namun, bak tersebut hanya berfungsi sebagai tempat penampungan limbah tanpa ada pengolahan lebih lanjut.

    Baca: Peternakan ayam petelur tanpa sangkar

    Jika musim hujan dan bak terisi penuh, maka limbah kandang dari peternakan itu akan meluap ke saluran pembuangan (parit) di permukiman warga. Tanpa ada pengolahan limbah peternakan maka menyebabkan polusi udara, air, dan tanah.

    Peternakan dengan populasi 40 sapi itu disebut bisa menghasilkan kotoran padat rata-rata 40 kilogram (kg)/ekor/hari atau total kotoran padat yang dihasilkan dari kandang 1.600 kg per hari.

    Jumlah yang cukup besar untuk volume kotoran ternak di perkotaan padat penduduk.

    Melihat permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menawarkan salah satu solusi mengolah limbah itu menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, yakni melalui biogas.

    Pemerintah–melalui BAZIS Baznas–lalu memasang dua unit digester biogas dengan kapasitas 17 meter kubik (m3) dan satu unit instalasi biourine untuk mengolah limbah feses dan urin di kandang sapi pada Maret 2024.

    Baca: Peternakan sumbang 41 persen deforestasi global

    Instalasi biogas yang terpasang tersebut bisa mengurangi volume limbah per hari hingga 60 persen. Sisanya sebanyak 40 persen akan keluar sebagai bioslurry yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair dan padat.

    Burhan, pemilik peternakan sapi di kawasan itu, merasakan adanya perubahan yang dialami usai peternakannya dilengkapi instalasi pengolahan biogas.

    Burhan kini merasakan peternakannya menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan lebih banyak untung karena ada pendapatan dari hasil pengolahan limbah.

    Limbah kotoran sebanyak 1.600 kg per hari itu akan menghasilkan 20 m3 biogas per hari dengan asumsi 1 kg kotoran dengan bahan kering 21 persen, akan menghasilkan 0,06 m3 biogas.

    Pemanfaatan biogas ini dapat digunakan untuk menyalakan kompor dan lampu dengan maksimal pemakaian 20 rumah serta 27 kompor tungku, yang bisa menghemat pengeluaran untuk membeli bahan bakar.

     

    Baca: Mengurangi konsumsi daging ternyata lebih ramah lingkungan

    “Sampai 3 bulan ini penggunaan biogas ke rumah warga masih gratis,” ujar Burhan. Tidak disebutkan kapan biogas tersebut dimonetasi karena saat ini masih dihitung.

    Selain itu, hasil buangan sisa pembuatan biogas masih juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

    Per harinya dari pengolahan pupuk itu bisa menghasilkan 10–20 kantong (isi 1 kg) yang dihargai Rp10.000 per kantong.

    Dalam reaktor biodigester ini dilakukan penguraian bahan-bahan organik yang terkandung dalam kotoran sapi menjadi asam-asam organik. Selanjutnya asam-asam organik ini akan terurai secara anaerobik menjadi biogas.

    Selanjutnya, biogas yang tertampung akan mengalir melalui pipa koneksi/selang menuju ke rumah-rumah. Biogas inilah yang digunakan sebagai bahan bakar generator dan kompor biogas.

    Baca: Membangun instalasi pengolahan biogas skala mikro

    Solusi pengolahan limbah kotoran seperti biogas bisa menjadi model pengelolaan peternakan. Selain lebih ramah lingkungan, juga mampu memberi tambahan pendapatan bagi peternak.

    “Kalau bisa (usaha kami) dibikin maju, misalnya, pupuk kebutuhan pemerintah diambil dari peternakan kami. Dinas Pertamanan bisa memanfaatkan pupuk kami,” ujarnya.

    Sukses pengolahan limbah di peternakan milik Burhan itu mendorong Lurah Cikoko, Fadhilah Nursehati, mengusulkan program ini dalam lomba kelurahan tingkat Provinsi DKI Jakarta.

    Masih ada 73 peternakan di Jakarta yang belum menerapkan pengolahan limbah. Setiap peternakan rata-rata memiliki 10 sampai 15 ekor sapi yang diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih bagi lingkungan sekitar.