Tag: bioleaching

  • Bioleaching, Teknologi Pengolahan Bijih Nikel dengan Menggunakan Mikroorganisme

    Bioleaching, Teknologi Pengolahan Bijih Nikel dengan Menggunakan Mikroorganisme

    7cloud.asia – Sebagai produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54 hingga 61 persen pasokan global, Indonesia sering disebut sebagai kunci transisi energi global.

    Kontribusi produksi nikel Indonesia bahkan diproyeksikan meningkat hingga 74 persen pada 2028. Namun, di balik narasi indah hilirisasi nikel untuk transisi energi ini, ada ancaman besar yang luput dari sorotan mata masyarakat

    Ancaman itu adalah buruknya kondisi kerja, ancaman limbah beracun industri nikel pada lingkungan dan kesehatan manusia, dan juga goyahnya kehidupan sosial masyarakat setempat.

    Seperti diketahui hampir semua pengolahan nikel di Indonesia menerapkan metode High Pressure Acid Leaching (HPAL). Dengan teknologi HPAL ini, limonite atau bijih nikel kadar rendah (0,8 hingga 1,5 persen) diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku baterai listrik.

    Teknologi HPAL memang mampu mengubah bijih nikel rendah kadar menjadi bahan baterai, tapi menghasilkan limbah dalam jumlah banyak lagi mengandung logam berat berbahaya bagi lingkungan.

    Baca: Film dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih” menguak dampak lingkungan hilirisasi nikel

    Direktur Eksekutif Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat/AEER, Pius Ginting mengatakan hanya sekitar 1 persen dari bijih limonite yang bisa diubah menjadi nikel bernilai ekonomi. Sisanya akan menjadi limbah tailing yang mencemari lingkungan.

    Kabar buruknya, sebagian besar tailing ini dibuang begitu saja tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.

    Pius memperkirakan tailing yang dihasilkan dari pengolahan biji nikel kadar rendah di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dua kali lipat sampah yang dihasilkan warga kota Jakarta.

    Karena itu Pius mengusulkan, ketimbang HPAL industri nikel Indonesia lebih baik menerapkan teknologi bioleaching dalam mengolah bijih nikel kadar rendah tersebut.

    Bioleaching, yang juga dikenal sebagai biomining, adalah proses ekstraksi logam dari bijih atau limbah dengan menggunakan mikroorganisme seperti bakteri dan fungi.

     

    Baca: Mencari solusi penambangan nikel yang berkelanjutan

    Proses ini memanfaatkan kemampuan mikroba untuk melarutkan logam dari bijih atau limbah yang sulit larut, mengubahnya menjadi bentuk yang larut dalam air sehingga lebih mudah diekstraksi.

    Teknologi bioleaching sudah digunakan di Finlandia, dan proses produksinya memakan waktu hingga beberapa minggu hingga bulanan.

    “Meski memakan waktu lebih lama, bioleaching lebih ramah lingkungan selain juga mengurangi laju pembukaan lahan,“ ujar Pius dalam diskusi usai pemutaran film dokumenter “Limbah Nikel dan Mimpi Energi Bersih” pada Jumat (15/8/2025) lalu.

    Bioleaching juga kerap digunakan untuk mendaur-ulang baterai Li-ion yang menawarkan dampak lingkungan yang lebih ringan, efisiensi pemulihan yang tinggi, biaya yang lebih rendah, dan kemampuan adaptasi terhadap berbagai jenis baterai.

    Dilansir dari lppm.itk.ac.id, teknik mikrobiologi menawarkan aspek lingkungan lainnya karena mikroorganisme dapat diperoleh dan dibiakkan menggunakan produk limbah industri yang bersifat organik.

    Baca: Ekspansi tambang nikel pinggirkan masyarakat adat

    Untuk mendaur ulang baterai Li-ion, digunakan jamur Aspergillus niger. Jamur ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menjadi pilihan yang menarik dalam proses bioleaching untuk daur ulang baterai Li-ion.

    Kemampuannya untuk menghasilkan asam-asam organik, toleransi terhadap logam berat, dan kemampuan bertahan dalam kondisi yang berfluktuasi membuatnya menjadi mikroorganisme yang potensial untuk menguraikan komponen baterai Li-ion secara efisien dan ramah lingkungan.

    Proses inkubasi dilakukan selama 14 hari dengan media sukrosa yang dicampur dengan 10 persen POME (Palm Oil Mill Effluent). Selanjutnya dilakukan pemantauan pH dan hasil akhir dipanen ketika pH larutan sudah di bawah 2.

    Selanjutnya media asam organik difilter untuk dipisahkan dari jamur. Media inilah yang digunakan untuk mengekstraksi katoda baterai Li-Ion