7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi subspesies baru tanaman bisbul (Diospyros blancoi) asal Papua yang diberi nama Diospyros blancoi subsp. papuensis.
Tanaman bisbul merupakan tanaman buah tropis yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat dalam pengobatan tradisional. Spesies ini umumnya tersebar di Filipina dan beberapa wilayah Asia Tenggara, namun sebelumnya tidak tercatat secara resmi di Papua.
Tumbuhan ini berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam. dapat tumbuh hingga ketinggian 15–32 meter. Diameter batangnya dapat mencapai 80 cm.
Berbatang lurus, dengan pepagan berwarna hitam atau kehitaman, diameter hingga 50 cm atau lebih di pangkal batang, bercabang kurang lebih mendatar dan bertingkat, dengan tajuk keseluruhan berbentuk kerucut yang lebat dan rapat daun-daunnya sehingga gelap di bagian dalamnya.
Hasil penelitian BRIN telah dipublikasikan dengan judul: “Discovery of a New Subspecies of Diospyros blancoi A. DC. through Phenetic and Phylogenetic Analyses”, dapat diakses melalui jurnal Egyptian Journal of Botany.
Baca: Tantangan Konservasi Tumbuhan Langka di Indonesia
Mereka yang tertarik dapat mengakses laporan BRIN ini melalui https://ejbo.journals.ekb.eg/article_491898.html
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Irvan Fadli Wanda dalam keterangan di Jakarta, Selasa (21/4/2026) mengungkapkan tim menganalisis sebanyak 93 karakter morfologi subspesies tersebut, yang terdiri dari 53 karakter vegetatif dan 40 karakter generatif.
Hasilnya menunjukkan adanya variasi signifikan pada 32 karakter, terutama pada bagian buah dan biji, yang menjadi kunci dalam membedakan populasi dari Papua dengan populasi dari Filipina.
“Subspesies dari Papua memiliki jumlah biji lebih banyak, berkisar 5–10 biji per buah, dengan bentuk biji menyerupai irisan (wedge-shaped), serta kepadatan rambut pada permukaan buah yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi dari Filipina,” kata Irvan.
Selain analisis morfologi, kata Irvan, penelitian ini juga menggunakan pendekatan molekuler melalui penanda DNA, yaitu gen matK dan psbA-trnH.
Baca: Tanaman Endemik Bali, Palem Nyabah Terancam Punah
Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa populasi dari Papua membentuk kelompok tersendiri yang berbeda secara genetik dari populasi lainnya, sehingga mendukung penetapan sebagai subspesies baru.
“Pendekatan kombinasi antara morfologi dan data molekuler memberikan bukti yang kuat bahwa populasi dari Papua memiliki jalur evolusi yang berbeda, sehingga layak ditetapkan sebagai subspesies baru,” ujarnya.
Menariknya, menurut dia, spesimen yang menjadi bagian dari kajian ini juga merupakan koleksi Kebun Raya Bogor, yang berperan penting sebagai pusat konservasi tumbuhan dan sumber data ilmiah bagi penelitian biodiversitas di Indonesia.
Penelitian juga menunjukkan bahwa variasi morfologi pada tanaman ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti intensitas cahaya dan kondisi habitat, serta faktor genetik yang mengatur karakter reproduktif yang lebih stabil.
Penemuan subspesies baru ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan morfologi dan molekuler dalam kajian taksonomi.
Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.
