7cloud.asia – Matahari belum tinggi saat kami tiba di Banjir Kanal Timur atau BKT yang terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur.
Desir angin sejuk yang berhembus semilir diselingi kicauan burung membuat kami sangat menikmati pagi di BKT yang dibangun untuk mengendalikan banjir di Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
Sekumpulan kupu-kupu terbang kesana-kemari, seakan tak mau tertinggal dalam menyapa indahnya suasana di sepanjang BKT yang kini menjadi tujuan favorit warga Jakarta.
Deretan ratusan pohon hijau yang menaungi sepanjang tepi BKT membuahkan suasana yang asri dengan udara yang segar sehingga menjadi pilihan warga Jakarta untuk mengisi hari liburnya untuk jalan santai, lari atau bersepeda.
Namun. suasana di kawasan pintu air sedikit berbeda. Suara hingar bingar, riuh dengan atraksi ondel-ondel khas betawi bercampur dengan musik kekinian yang diputar komunitas senam aerobik.
Baca: Setelah BKT, kini ada sodetan kali Ciliwung untuk kendalikan banjir Jakarta
Pedagang dan warga berbaur di sana. Bagi para ibu dan remaja di Jakarta, ke BKT artinya adalah olahraga sambil belanja dan menikmati kuliner. Banyak jajanan yang dijual di sini.
Segala macam sayuran, perkakas dapur, barang elektronik, sepatu, tas, baju dan kemeja, topi hingga pakaian dalam, tersedia semua di BKT saat hari libur.
Macam-macam jajanan kuliner, seperti gudeg, ketoprak, bubur ayam, bakso, dimsum, soto betawi, cilok, cilung, es potong, es doger dan jajanan lainnya juga tersedia.
Warga juga menjadikan BKT sebagai tempat piknik bersama keluarga. Seraya menikmati pemandangan sungai BKT yang mengalir tenang sembari menikmati jajanan kuliner di sekitarnya.
Sejumlah balita memilih naik odong-odong, mengendarai kuda menyusuri ruas jalan BKT didampingi sang kusir, bermain mandi bola, naik komidi putar atau memancing ikan di kolam yang terbuat dari karet dan melakukan permainan lainnya.
Baca: Pemkot Jakarta Timur siapkan 8,5 hektare lahan untuk hutan kota
BKT dibangun sejak awal tahun 2003 oleh Pemprov DKI bersama Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, semula bertujuan untuk mengatasi bencana banjir di Jakarta bagian timur dan sebagian wilayah Jakarta Utara.
Pencanangan proyek pembangunan BKT dilakukan oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di bulan Juli 2003 dan menelan biaya sekitar Rp 2,1 triliun.
Lahan BKT membentang sepanjang 2 kilometer dari muara ke hulu, dengan
pembangunan kanal sekitar 200 meter dan muara sekitar 300 meter dengan kedalaman 4 meter.
Saluran BKT ini memotong Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jatikramat, dan Kali Cakung di perbatasan timur wilayah DKI Jakarta dan dialirkan ke utara.
Dalam perjalanannya, BKT menjadi tempat favorit bagi banyak orang, lantaran bisa menjadi sarana santai, pelepas lelah dan penat setelah beberapa hari bekerja.
Baca: Mengapa Pemprov Jakarta lebih memilih pengelolaan sampah RDF ketimbang ITF
Tak urung beberapa kegiatan penting juga pernah digelar di tempat ini. Dari mulai pagelaran seni, bazaar, gerak jalan bersama warga.
Minggu lalu BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menggelar edukasi tentang cara pemakaian pelampung, dayung, perahu serta memberikan konseling pada masyarakat yang berkunjung yang akan rutin dilakukan tiap bulan.
“Kita di sini melakukan edukasi pada masyarakat tentang cara memakai pelampung, dayung, perahu serta memberikan layanan dukungan petugas sosial pada mayarakat dengan melibatkan petugas pemadam kebakaran (Damkar), PMI, satpol PP. Semuanya gratis dan tidak dipungut biaya,” kata Wahyudi, salah satu pegawai BNPB pada ruangkota.
Selain itu, masyarakat juga diajak menyusuri sekitar sungai BKT dengan perahu karet menggunakan pelampung dada dan dayung didampingi beberapa petugas,
Untuk anak-anak, BNPB juga bekerjasama dengan petugas Damkar menyediakan
flying fox dengan tali yang dibentang dari tangga mobil Damkar dan berakhir di ujung jalan jembatan pintu air BKT.
Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau
Sarana bermain untuk mengenalkan cara menghadapi bencana ini menjadi hiburan tersendiri dan langsung diserbu oleh puluhan anak yang penasaran dan antusias ingin mencoba bermain flying fox.
Bocah-bocah tersebut dengan sabar mengantri di bawah matahari pagi yang makin terik.
Mereka pun berteriak girang saat meluncur di udara dengan tali dan akhirnya mendarat dengan selamat dibantu oleh puluhan petugas Damkar dan BNPB yang menolong mereka.
.
