Tag: BRIN

  • Indonesia Mulai Serius Jajaki Penggunaan Energi Hidrogen

    Indonesia Mulai Serius Jajaki Penggunaan Energi Hidrogen

    7cloud.asia –  Indonesia menjajaki pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi di tanah air. Hal ini sebagai upaya penerapan dekarbonisasi atau penggunaan energi bersih di Indonesia 

    Hidrogen disebut-sebut sebagai salah satu energi alternatif yang bersih sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Untuk mendorong hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan kajian terkait peta jalan strategi nasional hidrogen. Roadmap Strategi Nasional Hidrogen tersebut dilaunching Rabu (21/6/2023).

    Baca: Plus minus penggunaan biodiesel berbahan sawit

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN Eniya Listiani Dewi mengatakan BRIN telah mengidentifikasi kebutuhan hidrogen secara nasional sampai 2060.

    “Yang paling kita tekankan pada roadmap ini adalah perlunya ekosistem yang mendukung implementasi hidrogen di Indonesia,” terang Eniya dalam kesempatan itu.

    Menurutnya, sudah banyak industri yang tertarik berinvestasi di Indonesia, namun mempertanyakan komitmen pemerintah. Ia berharap, pertemuan ini menjadi trigger untuk mendeklarasikan komitmen berbagai pihak untuk membangun ekosistem hidrogen.

     

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Lebih lanjut Eniya membeberkan sudah ada 20 project dari industri yang melaksanakan pra-feasibility study teknologi hidrogen, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumba, NTT, hingga berikutnya Papua.

    “Namun saat akan feasibility study, mereka (industri) menanyakan, apakah ada roadmap-nya? Komitmennya? Ini yang perlu kita mulai dari sekarang,” tegasnya.

    Dia mengatakan, roadmap ini memaparkan peta jalan energi hidrogen yang terbagi menjadi tiga segmen, yaitu segmen pilot project atau demo plant, pengembangan dan introduksi ke pasar (market introduction), dan penetrasi pasar, serta efek kepada nilai tambah ekonomi.

     

    Baca: Mengapa operasional PLTU batu bara harus segera diakhiri

    Dengan soft launching ini, lanjut dia, akan dilakukan penyesuaian kembali terhadap roadmap sesuai kebutuhan industri.

    “Kedepan, ekonomi kita akan tertopang bukan hanya dari minyak, tapi juga hidrogen. Karena hidrogen bisa dipakai di berbagai sektor, dari sektor pembangkit listrik, industri terutama industri petrokimia, perumahan, hingga transportasi,” ungkap Eniya yang juga Presiden Indonesia Fuel Cell Hidrogen Energy ini.

    Dari Kementerian ESDM, menurutnya perlu membuat strategi hidrogen nasional yang juga mencakup tidak hanya potensi hidrogen, namun juga rantai produksi, distribusi, hingga pemanfaatan hidrogen di Indonesia.

    Eniya tidak menampik, untuk mewujudkan pemanfaaatan energi hidrogen memerlukan waktu. Pertama adalah komitmen dari pemerintah, dengan adanya peta jalan.

    Baca: Sisi gelap transisi menuju energi terbarukan

    Kemudian diperlukan regulasi, standar yang jelas, termasuk mekanisme insentif. Jika harus memulai pemanfaatan hidrogen, menurut Eniya yang paling potensial adalah dari sektor industri.

    Yaitu dengan memproduksi green hydrogen, walaupun masih skala kecil karena harganya masih relatif tinggi.

    “Saya yakin titik balik (turning point) harga akan turun pada 2030, namun tidak mungkin kita menunggu untuk memulai memanfaatkan hidrogen sampai 2030, bisa-bisa kita menjadi negara yang tertinggal lagi,” katanya.

    Baca: Kiat gunakan internet secara ramah lingkungan

    Setelah itu, lanjutnya akan didorong penangkapan karbon baik dengan metode carbon capture atau filter di industri.

    “Jadi istilah carbon recycling itu penting,” tambahnya.

    Sektor potensial berikutnya adalah sektor pembangkit listrik, kemudian sektor transportasi, dan rumah tangga.

    “Di Jepang saja, perlu waktu 10 hingga 20 tahun untuk masyarakat memahami hidrogen. Jadi, di Indonesia, harus kita mulai dari sekarang,” katanya.

     

  • Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    7cloud.asia – Indonesia memiliki 162 jenis bambu dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia. Banyaknya hutan bambu di Indonesia bisa menjawab tantangan krisis kayu yang dipakai sebagai bahan baku industri.

    Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budiyanto Dwi Prasetyo menjelaskan bambu punya kualitas yang tak kalah dari kayu.

    Selain itu bambu juga bisa dibentuk apapun melalui proses laminasi, sehingga diminati oleh pasar domestik maupun internasional.

    Baca: Teknik daisugi, cara berkelanjutan Jepang dalam memanen kayu

    Bambu laminasi bisa menghasilkan berbagai aneka perabotan rumah tangga mulai dari kursi, meja, lemari, pintu, plafon, hingga lantai parket.

    “Pemintaan tinggi terhadap kayu bisa disubstitusi dengan bambu,” kata Budiyanto seperti yang dikutip Antaranews.

    Bambu merupakan salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), nilai HHBK bambu bisa mencapai 90 persen dari nilai hasil hutan.

    Baca: Jaktim siapkan 8.5 hektare lahan untuk hutan kota

    Sedangkan kayu yang selama ini identik dengan hasil utama kehutanan hanya menyumbang 10 persen dari produksi hasil kehutanan.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, produksi bambu di Indonesia mencapai 66,92 juta batang.

    Wilayah persebaran produksi bambu terletak di Pulau Jawa mencapai 66,86 juta batang, Pulau Sumatera sebanyak 29.482 batang, dan Kepulauan Sunda Kecil sebanyak 30.872 batang.

    Selanjutnya Budiyanto memaparkan jika masyarakat lokal memiliki populasi bambu yang masif, maka hal ini harus dipelihara melalui eksploitasi.

    Baca: Komitmen Glasgow, cara dunia merawat hutan

    Sebab dengan eksploitasi tersebut, kerapatan rumpun dapat dikurangi. Selain itu dapat mencegah kerusakan tanaman bambu. “Bambu kalau tidak ditebang saat umur yang pas, tanaman bambu bisa rusak,” ungkapnya.

    Dia mencontohkan hutan bambu yang rusak ada di Gunung Ciremai, Jawa Barat. Hutan bambu ini termasuk kawasan taman nasional tidak boleh dipanen, sehingga rumpun bambu terlalu rapat.

    Jika rumpun bambu terlalu rapat bisa menyebabkan banyak batang bambu patah dan mengganggu sistem perakaran serta rimpang, sehingga bambu tumbuh tidak sehat.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia kena dampak aturan antideforestasi EU

    Jadi, sebuah desa bambu harus ada aktivitas panen lestari untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu.

    Sementara itu, Pengawas Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Jajang Agus Sonjaya mengatakan ada banyak pihak yang terlibat untuk menciptakan sebuah desa bambu yang ideal.

    Mulai dari pemerintah, rakyat, penggiat bambu, pengerajin dan tukang, pengusaha, masyarakat adat, hingga perempuan.

    Mereka terlibat dalam tahap proses pengelolaan mulai dari pembibitan, penanaman, pengelolaan rumpun hingga panen lestari.

    “Pada panen lestari ada satu kata kunci yang menarik bahwa cara terbaik merawat hutan bambu itu dengan panen,” kata Jajang.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

    BRIN Perkirakan Bulan Oktober Puncak Suhu Panas Ekstrim  

     

    7cloud.asia – Musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Diperkirakan suhu panas ekstrim mencapai puncaknya pada Oktober ini.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan menjelaskan normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus.

    Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

    “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Warga diminta waspada, kamarau panjang bisa picu kebakaran hutan

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Suhu panas ekstrem juga diperkirakan terjadi di Kota Semarang mencapai 40 derajat Celcius, dan Jakarta dengan suku udara maksimum 37 derajat Celcius pada pertengahan Oktober 2023.

    Baca: Sebagian wilayah di Indonesia sudah masuki musim hujan

    Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

    Kondisi itu membuat Indonesia yang terletak di antara kedua fenomena tersebut mengalami musim kering yang cenderung panjang.

    “Saya berharap Oktober 2023 adalah akhir dari cerita kemarau terik. El Nino dan IOD diprediksi menuju fase netral pada akhir Februari atau awal Maret 2024,” harapnya.

    Baca: BRIN sebut El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Cilacap adalah daerah yang saat ini mengalami kekeringan ekstrem karena lebih dari 60 hari tidak hujan.

    Sejumlah kecamatan di Cilacap yang mengalami kekeringan ekstrem diantaranya Kecamatan Majenang, Wanareja, Cimanggu, Cipari, dan Karangpucung.

    Sedangkan wilayah lainnya masuk kategori menengah hingga sangat panjang atau 11-60 hari tidak hujan.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    BRIN Mulai Jalankan Program Ekspedisi untuk Mengeksplorasi Biodiversitas di Kalimantan Tahun Ini

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun ini akan mulai fokus menjalankan program ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan untuk menemukan spesies atau taksa baru

    Program ekspedisi yang dilakukan BRIN di Kalimantan ini diharapkan dapat meningkatkan koleksi biodiversitas Indonesia.

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Bayu Adjie mengatakan alasan fokus ekspedisi itu di Kalimantan karena selama ini temuan taksa baru dari pulau tersebut masih sangat sedikit.

    “Kita punya pulau terbesar Kalimantan yang ternyata masih sangat jarang riset-riset biodiversitas di situ, bukannya tidak ada, tetapi relatif jarang, sehingga penemuan-penemuan jenis baru dari Kalimantan tidak banyak,” ujarnya di Jakarta, Rabu (28/2/2024).

    Baca: Mengenal biodiversitas Tanah Papua

    Bayu Adji mengatakan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan pihaknya akan fokus untuk mengeksplorasi biodiversitas di Kalimantan.

    Ia mengatakan, selama ini riset spesies paling banyak dilakukan di Pulau Jawa yang telah dimulai sejak zaman kolonial, lalu riset di Garis Wallace.

    Garis Wallace yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua menarik minat para peneliti di seluruh dunia karena wilayah itu adalah garis perbatasan Asia dan Australia yang membuat biodiversitas di sana tampak unik.

    Menurut Bayu, dari data-data riset Belanda sampai sekarang ekspedisi ke Pulau Kalimantan tergolong sedikit hanya 1 sampai 2 ekspedisi saja sepanjang tahun.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di Papua

    Selama tiga sampai lima tahun ke depan, BRIN akan membuat platform, menempatkan orang-orang (periset), dan merekrut pascasarjana untuk bergabung ke dalam ekspedisi biodiversitas terestrial di Pulau Kalimantan.
    ​​​​​
    “Kami ingin mencetak sebanyak mungkin taksonom-taksonom baru,” kata Bayu.

    Pada tahun 2023, BRIN berhasil menemukan 49 taksa baru dengan komposisi 96 persen spesies baru merupakan spesimen asal Indonesia.

    Jumlah taksa yang ditemukan di Kalimantan hanya 2 jenis. Adapun spesies terbanyak berasal dari Sulawesi mencapai 18 taksa, Papua sebanyak 7 taksa, dan Kepulauan Natuna 5 taksa.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Dilansir wikipedia, suatu takson (jamak: taksa) adalah pengelompokan makhluk hidup dengan makhluk hidup lain yang serupa yang diberi nama secara ilmiah, suatu kumpulan yang mencakup mahluk-makhluk hidup tertentu 

    Pada tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 taksa baru. Ekspedisi terbesar pencarian taksa baru tahun ini dilakukan di Pulau Kalimantan dengan jumlah mencapai 19 ekspedisi.

    “Setelah kami telusuri berbagai macam literatur ternyata penemuan-penemuan jenis baru di Kalimantan minim sekali,” kata Bayu.

    “Dengan ekspedisi, kami akan terus menambah koleksi-koleksi kami. Kenapa itu penting? itu adalah semacam dokumentasi kami. Itu penting untuk riset-riset taksonomi,” pungkasnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    Indonesia Jadi Surga Penelitian Biodiversitas, BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

    7cloud.asia =  Penemuan 49 spesies atau taksa baru pada tahun 2023, adalah bukti bahwa tanah Indonesia sangat kaya dan menjadi “surga” bagi penelitian biodiversitas atau keanekaragamanhayati. 

    Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Bayu Adjie mengatakan bahwa pengungkapan biodiversitas Nusantara, khususnya melalui penemuan spesies baru, menjadi salah satu prioritas utama BRIN.

    Meskipun hanya sebagian kecil dari cakupan riset biosistematika dan evolusi, penemuan jenis baru memiliki dampak besar dalam asesmen biodiversitas serta menarik perhatian publik dan media massa.

    Untuk itu, BRIN menarget jumlah penemuan spesies baru setiap tahunnya. Tahun 2024, BRIN menargetkan penemuan 50 jenis baru, termasuk dari hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

    Dalam mendukung upaya itu, berbagai skema pendanaan diluncurkan, seperti Rumah Program dan Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi.

    “Kami saat ini sedang mempersiapkan RIIM Invitasi Strategis Ekspedisi Biodiversitas Terestrial yang akan difokuskan di pulau Kalimantan,” ujar Bayu  seperti dilansir di laman resmi BRIN.

    Baca: BRIN luncurkan ekpedisi untuk eksplorasi keragaman biodiversitas di Kalimantan

    Menurut Bayu, sekitar 96 persen dari spesies baru yang ditemukan merupakan spesimen asal Indonesia.

    Ini terjadi karena fokus penelitian yang kuat pada spesies-spesies di Indonesia, yang terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa.

    Meskipun sudah dieksplorasi sejak zaman kolonial, masih banyak yang belum terungkap di negeri ini, karena luasnya wilayah Indonesia dengan beragam ekosistem yang menjadi tempat penelitian biodiversitas.

    Lebih jauh, Bayu menjelaskan bahwa Indonesia demikian luas, terestrial maupun akuatik. Dengan demikian banyak tipe ekosistem, pulau-pulau, menjadi surga bagi penelitian biodiversitas.

    Menurutnya, negara-negara maju, rata-rata memiliki keanekaragaman hayati yang relatif rendah. Dengan SDM periset, anggaran dan infrastruktur yang maju bisa dianggap riset biodiversitas selesai di negaranya.

    Baca: Mengenal biodiversitas tanah Papua

    Sehingga mereka mengincar negara-negara dengan biodiversitas tinggi yang kebanyakan adalah negara berkembang untuk bekerja sama dalam riset biodiversitas.

    Untuk riset biodiversitas ini BRIN menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri, seperti lembaga riset, universitas, dan NGO.

    “Kolaborasi menjadi kunci untuk mengatasi kendala-kendala seperti SDM, anggaran, dan infrastruktur dalam riset biodiversitas,” tandas Bayu.

    Di sisi lain, setelah penemuan spesies tersebut, Bayu menjelaskan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh BRIN adalah melakukan identifikasi dan studi lebih lanjut terhadap spesies baru tersebut.

    Hal ini meliputi studi biologinya, pemanfaatan atau bioprospeksi, serta upaya konservasi jika diperlukan.

    Baca: KLHK temukan spesies baru dari hutan Indonesia 

    Penemuan jenis baru membuka potensi baru dalam pemahaman kita akan keanekaragaman hayati dan mendesak perlunya perlindungan dan pelestarian spesies-spesies tersebut mengingat berbagai ancaman yang mereka hadapi.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Amir Hamidy menjelaskan proses pencarian dan identifikasi 49 taksa baru yang baru-baru ini diumumkan.

    Penemuan itu melalui serangkaian eksplorasi sebelumnya dan validasi spesimen yang ada, peneliti BRIN berhasil mengungkapkan keberadaan taksa-taksa baru yang mengagumkan.

    Dalam menentukan apakah sebuah taksa atau spesies merupakan taksa baru, Amir menekankan beberapa kriteria utama, termasuk karakter morfologi, molekuler, fisiologi, dan ekologi.

    “Pengamatan mendalam terhadap ciri-ciri ini membantu para peneliti dalam mengklasifikasikan dan mengidentifikasi spesies baru dengan akurat,” ungkapnya.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

    Waktu yang dibutuhkan untuk menentukan sebuah spesies baru sangat bervariasi, bisa kurang dari satu tahun atau bahkan lebih dari 30 tahun.

    Hal ini tergantung pada sejauh mana penelitian manusia telah mempelajari taksa atau spesies tersebut.

    Amir menerangkan dalam proses identifikasi, metode DNA Barcoding menjadi alat yang sangat berguna. Dengan menggunakan data sekuen DNA terkait, peneliti dapat dengan cepat membandingkan dan mem-validasi keberadaan spesies baru.

    Amir juga membagikan pengalamannya yang berkesan dalam penelitian dan eksplorasi biodiversitas di Indonesia.

    Menurutnya, setiap pengamatan menawarkan keunikan dan kekayaan keanekaragaman alam Nusantara yang memukau para peneliti.

  • Sulitnya Mengembangkan Raflesia Patma, Sejak Ditanam 2004 Baru Berbunga 16 Kali

    Sulitnya Mengembangkan Raflesia Patma, Sejak Ditanam 2004 Baru Berbunga 16 Kali

    7cloud.asia –  Rafflesia patma sebagai kerabat dekat Rafflesia arnoldii merupakan salah satu tumbuhan dilindungi karena keberadaannya di alam sudah langka dan terancam kepunahan.

    Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Yayan Wahyu Kusuma mengatakan pengembangan Rafflesia patma ini dilakukan sejak 2004.

    “Sejak 2004, kami telah berhasil meneliti dan menumbuhkan Rafflesia patma beserta tanaman inangnya. Tumbuhan endemik asal Pangandaran itu setidaknya telah mekar lebih dari 16 kali di Kebun Raya Bogor,” kata Yayan dalam keterangan di Jakarta, Minggu (3/3/2024).

    Pemerintah selama ini mendorong upaya konservasi kerabat Rafflesiaceae di habitat asalnya secara in situ di kawasan lindung, maupun di luar habitat asalnya atau secara ex situ seperti kebun raya, arboretum, dan taman kehati.

    BRIN meneliti keragaman genetik Rafflesia patma yang berasal dari lima lokasi yang berada di luar kawasan lindung.

    Baca: BRIN luncurkan ekspedisi untuk mengeksplorasi keragamanhayati di Kalimantan 

    Lima lokasi pelestarian Rafflesia patma itu yaitu Kebun Raya Bogor, Leuweung Cipeucang Geopark Ciletuh, Bojong Larang Jayanti, Leuweung Sancang, dan Pangandaran.

    Yayan menuturkan hasil penelitian selam dua dekade itu menunjukkan bahwa keragaman genetik Rafflesia patma yang berasal dari Leuweung Cipeucang paling tinggi karena punya poin 0,36 melebih keragaman generik spesies lainnya.

    Rafflesia yang berasal dari Kebun Raya Bogor (0,32), Bojong Larang Jayanti (0,08), Leuweung Sancang (0,32), dan Pangandaran (0,04).

    Menurutnya, kegiatan konservasi jenis-jenis tumbuhan langka yang tumbuh di luar kawasan lindung perlu terus digalakkan untuk meningkat keragaman genetik.

    “Selain Rafflesia patma, kami juga menemukan data serupa pada jenis tumbuhan langka lainnya yang tumbuh di luar kawasan lindung, seperti Vatica Bantamensis dan Hopea bilitonensis,” kata Yayan.

    Baca: Mengenal keanekargaman hayati tanah Papua

    Sebelumnya, kurator Koleksi Anggrek dan Raflesia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sofi Mursidawati mengatakan, sejak awal dilestarikan pada 2004, baru berhasil (tumbuh dan mekar) di 2010.

    “Jadi selama jangka waktu itu, saya tunggu kan sampai berhasil, berbunga. Dari 2010 sampai saat ini yang berhasil tumbuh hingga mekar bunganya baru ada 16,” katanya dikutip detik.com Kamis (3/3/2022).

    Jadi, lanjutnya, kalau pertanyaannya berapa Rafflesia patma yang tumbuh dan mekar, itu sudah 16, terakhir itu berbunga pada 2019.

    “Kalau ‘bayi-bayi’ raflesia sendiri itu ada sejak 2004, tetapi tidak semua tumbuh hingga mekar bunganya,” tambah Sofi, yang kini terus melakukan penelitian terhadap Rafflesia patma di Kebun Raya Bogor.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di hutan Indonesia

    Mungkin banyak dari kita yang mengenal bunga Rafflesia Arnoldi tetapi kurang familiar dengan Rafflesia patma. 

    Dua tanaman ini memang masih satu marga yakni dari Rafflesiaceae. Bunga Rafflesia merupakan salah satu tumbuhan dengan sifat unik sekaligus menyimpan misteri bagi ilmu tumbuh-tumbuhan.

    Rafflesia sangat unik karena jenis ini hanya berupa kuncup atau bunga mekar, tidak ada batang, daun, dan akar.

    Di samping kuncup atau bunga, Rafflesia hanya dilengkapi haustorium, jaringan yang mempunyai fungsi mirip akar yang mengisap sari makanan hasil fotosintesa dari tumbuhan inang.

    Baca: Indonesia menjadi surga riset tentang biodiversitas

    Rafflesia dimasukkan dalam kelompok holoparasit, tumbuhan yang tidak bisa melakukan proses fotosintesa sendiri, seperti layaknya tumbuhan berbunga lainnya, dan sangat tergantung kepada inang.

    Tumbuhan inang Rafflesia sangat spesifik yaitu pada marga Tetrastigma. Walaupun begitu tidak semua jenis Tetrastigma menjadi inang Rafflesia, dan
    hanya jenis-jenis tertentu dalam marga ini yang menjadi inang Rafflesia.

    Banyak orang mengira bahwa bunga rafflesia adalah bunga bangkai (Amorphophallus), padahal sejatinya Rafflesia adalah flora yang berbeda dengan bunga bangkai.

    Meskipun sama-sama mengeluarkan bau tak sedap menyerupai bangkai, bunga rafflesia adalah parasit yang hanya bisa hidup bergantung dari pohon inangnya.

    Baca: Mengenal hari spesies terancam punah sedunia

    Sementara bunga bangkai atau Amorphophallus berasal dari keluarga talas-talasan sehingga memiliki umbi, batang, hingga akar sendiri sehingga bisa mencari makan sendiri.

    Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah meneliti keragaman genetik bunga Rafflesia patma yang berasal dari lima lokasi yang berada di luar kawasan lindung.

     

  • BRIN Rampungkan Riset Soal Candi Borobudur: Ancaman Pencabutan Status World Heritage Teratasi

    BRIN Rampungkan Riset Soal Candi Borobudur: Ancaman Pencabutan Status World Heritage Teratasi

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyelesaikan hasil kajian riset terhadap Candi Borobudur yang telah dimulai sejak tahun 2022.

    Dalam laporannya, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengemukakan terdapat dua isu yang menjadi concern BRIN terkait pelestarian Candi Borobudur.

    Pertama yaitu pada saat tahun 2022 adanya ancaman pencabutan status world heritage oleh UNESCO terhadap Candi Borobudur akibat pembangunan fasilitas baru yang waktu itu masih kurang terkoordinasi dengan Kemendikbud.

    Poin kedua, pemasangan chatra untuk penguatan status Candi Borobudur sebagai pusat ibadah Umat Buddha sejak 2023. Chatra ini dipasang di stupa teratas Candi Borobudur

    Pada prinsipnya, BRIN bersama Kemenag khususnya Ditjen Bimas Buddha, Kemdikbud, Kemenkomarves, Kemenparekraf serta BUMN telah memberi solusi jalan tengah bahwa chatra memiliki justifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi arkeologi.

    Baca: Upaya menghidupkan relief Candi Borobudur di tengah masyarakat sekitar Candi  

    Sehingga, menurut Laksana, tidak perlu ditakutkan adanya potensi akan merusak keaslian Candi Borobudur seperti yang disampaikan para budayawan.

    “Kami mengusulkan bentuk chatra yang berbeda yang lebih sesuai dengan relief yang selama ini sudah ada dan sudah dianalisa secara digital oleh periset arkeologi di BRIN,” paparnya

    Laksana menegaskan, pembuatan chatra ini juga berbasis data pengukuran dari batu eks catra yang sudah ditemukan meskipun itu tidak utuh.

    Ia berharap itu akan segera bisa diputuskan khususnya oleh Kemendikbud dan juga diterima oleh Kementerian Agama sebagai solusi jalan tengah dan yang bisa dipertanggungjawabkan baik dari sisi arkeologi, agama dan juga  pariwisata,

    Dalam pemaparannya, Laksana mengatakan, pihaknya bersama Kemendikbud, BUMN, PT TWC dan Kemenparekraf telah melakukan kaji ulang Heritage Impact Assessment (HIA).

    Baca: Mengenal tradisi thudong, di mana para bhante Budha berjalan ribuan kilometer ke Candi Borobudur

    Hasil kajian ini kemudian telah diserahkan Kemenkomarves kepada badan budaya dunia, UNESCO di Paris pada tahun 2023.

    Secara prinsip, kaji ulang soal Candi Borobudur ini telah bisa diterima meskipun belum ditetapkan oleh UNESCO.

    Menanggapi paparan Laksana ini ini, anggota Komisi VII DPR Bambang Patijaya menginginkan BRIN meningkatkan koordinasi dengan Kemdikbud dalam pelestarian Candi Borobudur.

    BRIN, menurut Bambang bisa bertindak sebagai katalisator penghubung dalam mengakselerasikan Candi Borobudur sebagai daerah pariwisata yang tetap menjadi kebanggaan Indonesia.

    Baca: Pohon hayat juga ada di relief Candi Borobudur 

    Ia menekankan hal ini pada posisi Candi Borobudur sebagai world heritage site dan juga kebanggaan Umat Buddha Indonesia yang salah satunya melalui pemasangan chatra di puncak Borobudur.

    Yang diperlukan, ujar Bambang, adalah bagaimana langkah-langkah berikutnya di dalam mempersiapkan Heritage Impact Assessment. Kami intinya menginginkan BRIN lebih meningkatkan koordinasinya dengan Kemendikbud.

    ” Kami mengerti bahwa yang namanya konservasi itu juga kita menjaga kelestarian dan sebagainya, tetapi juga jangan kaku-kaku amat,” ujarnya saat RDP dengan Kepala BRIN di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (13/3/2024).

    Dengan demikian, ungkap Bambang Patijaya yang juga Sekjen Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) ini, ketiga aspek spiritual, aspek konservasi dan aspek ekonomi komersial ini dapat tercapai.

    “Sehingga akan dicapai satu titik keseimbangan baru sehingga kemudian semuanya bisa optimal. Ini yang kami harapkan dukungan daripada BRIN,” tandas Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.

     

     

  • BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Sampah makanan atau food waste terjadi peningkatan saat Ramadhan. Perlu upaya pengurangan sampah makanan sebagai salah satu bentuk melindungi bumi dari gas rumah kaca.

    Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Maryati menjelaskan sampah makanan tersebut merupakan sampah organik yang dapat menghasilkan gas metan.

    “Gas metan merupakan gas rumah kaca dengan dampak pemanasan sekitar 30 kali gas karbon dioksida,” ungkap Maryati seperti yang dilansir Antaranews.

    Karena itu, sampah makanan seharusnya dapat berkurang di bulan Ramadhan bukannya justru bertambah.

    Baca: Pemkot Tangerang dorong pengelolaan sampah organik jadi bernilai ekonomi

    “Seharusnya dalam bulan Ramadhan ini kita lebih bisa menghargai makanan, sehingga dapat mengurangi food waste,” katanya.

    Menurut Maryati, kepentingan bisnis menawarkan makanan justru melonjak saat Ramadhan, baik dari sisi jumlah maupun keanekaragaman jenis.

    Lonjakan ini terjadi karena belanja makanan ketika perut lapar dan dorongan untuk berbagi berkontribusi dalam meningkatkan belanja umat Islam pada bulan Ramadhan.

    “Pada prinsipnya sampah itu harus diolah. Sampah makanan adalah sampah organik yang bisa dijadikan kompos, degradasi oleh magot,” jelasnya.

    Memang sampah makanan yang tidak dikelola dan hanya dikumpulkan pada suatu tempat, seperti tempat pembuangan akhir atau TPA, maka sampah tersebut tetap akan menjadi kompos. 

    Baca: Perbanyak bank sampah di DKI

    Proses pembentukan kompos di TPA dapat menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari tanah dan air sekitarnya, juga dihasilkan gas metan.

    “Jika gas metan dipanen bisa menjadi bahan bakar gas. Jadi, bagaimana dampak sampah makanan terhadap iklim, kembali tergantung pada bagaimana kita mengelola sampah tersebut,” paparnya.

    Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan timbulan sampah saat Ramadhan kerap naik hingga 20 persen karena sisa makanan dan sampah kemasan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • BRIN Sukses Kembangkan Tepung Sorgum yang Berpotensi Mengurangi Impor Gandum

    BRIN Sukses Kembangkan Tepung Sorgum yang Berpotensi Mengurangi Impor Gandum

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menciptakan tepung sorgum yang dapat diolah 100 persen menjadi mie.

    Tepung sorgum temuan BRIN ini berpotensi melepaskan ketergantungan Indonesia pada tepung gandum dari luar negeri.

    Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari mengatakan, sorgum bagian dari komoditas pangan utama yang menjadi alternatif substitusi gandum dan bagian dari diversifikasi pangan di Indonesia.

    “Sorgum menjadi kandidat yang menjanjikan,” ujarnya dalam lokakarya pengembangan sorgum yang dipantau di Jakarta, Selasa (2/4/2024).

    Baca: Promosi pangan lokal untuk gantikan beras

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka impor bijih gandum dan meslin mencapai 10,58 juta ton dengan nilai mencapai 3,66 miliar dolar AS pada tahun 2023.

    Volume impor gandum terum meningkat. Pada 2023 impor gandum mengalami kenaikan 1,23 juta ton dibandingkan setahun sebelumnya.

    Pada tahun 2022, Indonesia mengimpor bijih gandum dan meslin sebanyak 9,35 juta ton dengan nilai mencapai 3,77 miliar dolar AS.

    Puji memandang bahwa diversifikasi menjadi bagian yang penting untuk mengurangi kerentanan terhadap situasi produksi pangan.

    Baca: Beragam pangan lokal untuk ketahanan pangan

    “Sorgum masih affordable dengan yang lain (gandum). Sorgum mengandung vitamin, mineral ataupun antioksidan yang bisa dimaksimalkan potensinya,” kata Puji.

    Produk mie hasil inovasi BRIN terbuat dari 100 persen tepung sorgum dan masih mengandung aktivitas antioksidan, serta bebas gluten. Konsumen yang memiliki penyakit autoimmune gluten dan intoleransi gluten dapat mengonsumsi tepung sorgum.

    BRIN telah merencanakan untuk mengusulkan paten dari produk mie yang menggunakan 100 persen tepung sorgum tersebut.

    Melalui alat pencetak mie berupa ekstruder panas temperatur 80 derajat Celcius, BRIN mampu membuat adonan menjadi untaian mie.

    Baca: Penyediaan pangan global jadi masalah serius untuk lingkungan

    Setelah mie terbentuk, proses selanjutnya pengeringan selama satu jam pada temperatur 40 derajat Celcius.

    Tak hanya diolah menjadi mie, tepung sorgum juga bisa dibuat makanan olahan cookies dan roti tawar, es krim, biskuit, kue, muffin, wafel, brownies, hingga snack bar maupun food bar.

    Adapun olahan tradisional tepung sorgum berupa dodol, onde-onde, nagasari, kue lapis, balutan gorengan, hingga kue gelang bergoyang kini mulai gencar disosialisasikan.

    Indonesia memiliki setidaknya 16 varietas unggul baru sorgum yang dapat diperuntukkan sebagai sumber pangan, energi, dan pakan.

    Baca: Dibutuhkan pendekatan jangka panjang untuk stabilkan harga pangan

    Sorgum juga bisa menjadi bahan baku luang berkelanjutan dan bisa menjadi bahan pertimbangan ke depan.

    “Pengembangan dan pemanfaatan sorgum dalam upaya diversifikasi pangan dapat menjadi salah satu solusi yang inovatif dan berkelanjutan,” pungkas Puji.

    Sumber: Antaranews.com

  • Tantangan Kepemimpinan Indonesia Pasca Pemilu 2024: Tingkatkan Literasi Politik dan Menyudahi Politik Dinasti

    Tantangan Kepemimpinan Indonesia Pasca Pemilu 2024: Tingkatkan Literasi Politik dan Menyudahi Politik Dinasti

    7cloud.asia – Tahun 2024 menjadi tahun politik yang penting untuk melihat perkembangan rezim demokrasi di era digital.

    Pada tahun yang sama, selain Indonesia, terdapat 56 negara demokratis lainnya yang akan menyelenggarakan pemilu untuk suksesi kepemimpinan periode selanjutnya, termasuk India dan Amerika Serikat.

    Ini menjadi hal yang menarik untuk ditelaah dan dianalisis lebih lanjut oleh para periset BRIN.

    BRIN telah menyelenggarakan seminar nasional untuk membahas disrupsi demokrasi dan tantangan kepemimpinan pasca pemilu untuk memperkuat pemerintahan demokratis yang stabil dan efektif.

    Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami mengatakan, kegiatan tersebut untuk meningkatkan literasi politik masyarakat dan kesadaran publik terkait perkembangan dan proyeksi perpolitikan Indonesia, khususnya pada tahun politik seperti saat ini.

    “Melalui kegiatan ini, kita berharap masyarakat dapat secara bijak, kritis, dan cerdas dalam menghadapi hajat besar demokrasi tahun 2024 dan mengetahui posisi Indonesia di tingkat global. Kita perlu meningkatkan partisipasi politik dan bersama-sama mengawal pelaksanaan Pemilu 2024 yang berkualitas dan berintegritas,” ujarnya.

    Pandangan-pandangan yang akan disampaikan, yaitu klaster riset Perwakilan Politik, Pemerintahan, dan Otonomi Daerah, menyampaikan secara umum kondisi demokrasi di tingkat global yang mengalami stagnasi.

    Termasuk kondisi demokrasi di Indonesia yang juga cenderung mengalami stagnasi ataupun regresi.

    Dalam konteks pergantian kepemimpinan nasional 2024, persoalan konstitusional, etika politik, dan isu-isu tentang demokrasi substansial menjadi catatan penting.

    Dalam hal ini, persoalan konstitusionalisme dan isu pelanggaran etika politik dalam pemilu 2024 yang jelas menghambat demokrasi pada era disrupsi saat ini.

    Di sisi lain, potensi pengulangan pelanggaran dalam pemilu 2024 baik dalam pemilu presiden, anggota DPR provinsi/kabupaten/kota maupun pemilihan kepala daerah (pilkada), dan munculnya isu netralitas penyelenggara pemilu yang masih menjadi ancaman bagi integritas penyelenggaraan pemilu.

    Untuk itu, diperlukan upaya kolektif guna mendorong praktik demokrasi substansial. Caranya dengan menyelamatkan konstitusi sebagai pondasi bernegara, mencukupkan dinasti politik dan mendorong politik meritokrasi dalam berbagai level kepemimpinan politik.

    BRIN juga merekomendasikan upaya untuk memperkuat institusi kepartaian, institusi penyelenggaraan pemilu, penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran pemilu.

    Juga dibutuhkan upaya untuk memperkuat mitigasi kerawanan pemilu di berbagai daerah, serta mendorong netralitas aparatur negara dan penjabat kepala daerah dalam politik elektoral 2024.

    Sedangkan klaster Ekonomi Politik dan Isu-Isu Strategis akan menyampaikan tentang ketimpangan antara investasi energi fosil dengan energi terbarukan yang dapat diminimalisasi.

    Hal itu melalui implementasi transisi energi dengan penurunan emisi karbon, penekanan laju deforestasi, dan rehabilitasi lahan hutan.

    Klaster Pertahanan, Keamanan, dan Konflik menyampaikan pandangannya bahwa secara procedural, pemilu 2024 di Papua kemungkinan besar terlaksana dengan lancar.

    Namun, secara substansial, pemilu 2024 belum tentu dapat menyelesaikan konflik dan menyejahterakan Orang Asli Papua (OAP).

    Di sisi lain, klaster Agama, Gender, dan Minoritas mengungkapkan bahwa isu perang Israel-Hamas di Gaza, Palestina direspon oleh para capres peserta pemilu 2024 sebagai isu kemanusiaan untuk menunjukkan sikap politik Indonesia yang anti penjajahan.

    Meskipun demikian, penguatan isu Palestina ini akan bersifat disrupsi bagi demokrasi jika diikuti oleh penguatan politik identitas, sebagaimana terjadi pada pemilu 2014 dan 2019.

    Terkait hal tersebut, potensi penggunaan politik identitas bangkit kembali menjadi semakin besar jika terjadi pengerucutan pada dua paslon di pemilu putaran kedua.

    Selanjutnya, klaster Politik Luar Negeri dan Isu Internasional menyatakan bahwa Indonesia menghadapi tantangan dinamika geopolitik regional, keamanan maritim, isu hak asasi manusia, isu ekonomi dan perdagangan, perubahan kepemimpinan global, perubahan iklim, dan isu keberlanjutan.

    Tantangan-tantangan tersebut hanya dapat dihadapi bila Indonesia menggabungkan kepentingan nasional dan menerapkan diplomasi yang aktif dan fleksibel, serta mempertahankan peran kepemimpinan dalam kancah internasional.