Tag: britney spears

  • Harga yang Harus Dibayar Bintang Cilik yang Tenar Sejak Kanak-kanak

    Harga yang Harus Dibayar Bintang Cilik yang Tenar Sejak Kanak-kanak

    7cloud.asia – Dalam memoarnya bertajuk The Woman in Me, Britney Spears secara terang-terangan membuka bagaimana menjadi tenar sejak kecil ternyata jadi bumerang dalam kehidupannya. 

    Dalam The Woman in Me, Britney Spears menggambarkan bagaimana dampak negatif yang harus ia rasakan seumur hidup karena ia menjadi bintang cilik.

    Tak hanya Britney Spears, bintang cilik sudah dikenal sejak masa keemasan Hollywood, hingga komedi situasi dan acara televisi pada pertengahan abad ke-20.

    Bintang cilik juga dikenal di era kebangkitan industri pop dan film pada dekade-dekade berikutnya, serta lonjakan popularitas reality TV dan pertunjukan bakat di awal abad ke-21.

    Selain Britney Spears, sebagian dari kita mungkin juga mengenal Judy Garland dan Michael Jackson, Macaulay Culkin yang dibawa ke medan berbahaya bernama bintang cilik yang berarti ketenaran masa kanak-kanak.

    Baca: Memoar Britney Spears yang bikin gempar

    Banyak bintang cilik yang harus membayar mahal untuk ketenaran mereka yang seringkali berlangsung singkat.

    Kisah sedih tentang kecanduan narkoba dan alkohol, perselisihan keluarga, aktivitas kriminal dan hubungan toxic sering diberitakan oleh media.

    Hal ini memperkuat narasi stereotip “bintang cilik menjadi buruk” dan “terlalu banyak, terlalu muda” yang diharapkan oleh masyarakat luas.

    Misalnya, banyak cerita tentang Macaulay Culkin “menceraikan” orang tuanya yang suka mengontrol dan kesulitannya dalam bertransisi ke kehidupan dewasa.

    Ia juga merasa terjebak dalam gambaran kepolosan masa kanak-kanak dari karakternya yang paling terkenal yaitu Kevin dalam film Home Alone.

    Baca: Artis ini dikenal karena kepeduliannya pada masalah sosial

    Dalam otobiografinya aktris Drew Barrymore menulis tentang penerimaannya pada pesta-pesta Hollywood dan konsumsi alkohol di usia yang sangat muda, mengikuti perannya dalam E.T. (1982) saat ia masih berumur lima tahun.

    Ada juga kehidupan dan kematian tragis Gary Coleman, bintang cilik lucu dari sitkom Amerika Diff’rent Strokes (1978-1986).

    Coleman, yang meninggal pada usia 42 tahun karena riwayat penyalahgunaan zat dan depresi, dilaporkan sangat terhina oleh pertanyaan yang diajukan kepadanya.

    Orang-orang sering bertanya: “Bukankah kamu dulu…?” ketika dia bekerja sebagai penjaga keamanan di supermarket saat dewasa.

    Namun, penting untuk dicatat bahwa lintasan yang sulit tidak dialami semua bintang cilik dan mantan bintang cilik.

    Baca: Meski kaya raya, aktor ini hidup damai dengan frugal living

    Para aktor dari film Harry Potter, misalnya, tampaknya sebagian besar telah bertransisi dengan baik ke dalam kehidupan dan karier dewasa – meskipun beberapa menjadi sorotan, sementara yang lainnya tidak.

    Generasi baru anak-anak dan bintang remaja seperti Millie Bobby Brown, bintang acara Netflix Stranger Things (2016-sekarang), tampaknya lebih siap untuk terkenal dibandingkan pendahulunya.

    Mereka memiliki kontrol atas citra dan identitas mereka melalui platform media sosial mereka sendiri.

    Bintang cilik era sekarang ini jug alebih berpotensi dilindungi sampai batas tertentu dari seksualisasi ekstrem berkat  gerakan MeToo.

    Meski begitu, Brown berkata di ulang tahunnya yang ke-16 bahwa: “Ada momen-momen saat saya merasa frustrasi dari ketidakakuratan, komentar yang tidak pantas, seksualisasi, dan penghinaan yang tidak perlu.”

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Detail Kehidupan Britney Spears di “The Woman in Me”

    Detail Kehidupan Britney Spears di “The Woman in Me”

    7cloud.asia – Memoar baru Britney Spears, The Woman in Me, membuat gempar publik. 

    Di buku The Woman in Me ini, Britney Spears sekarang mampu membagikan detail tahun-tahunnya yang luar biasa, baik di dalam maupun di luar sorotan publik.

    The Woman in Me, sekali lagi menggambarkan bagaimana dampak negatif yang dirasakan seumur hidup ketika seseorang seperti  Britney Spears menjadi bintang cilik.

    Seperti banyak orang sebelumnya, termasuk Judy Garland dan Michael Jackson, Britney Spears dibawa ke medan berbahaya bernama ketenaran masa kanak-kanak.

    Ironisnya ketenaran yang juga dirasakan Britney Spears ini didorong oleh orang dewasa yang seharusnya melindunginya, dan sama sekali tidak siap menghadapi dampaknya.

    Baca: Artis ini layak jadi panutan

    Kondisi ini semakin pelik dengan masalah kesehatan mental yang mengganggu hidup Britney Spears, hingga ia bersitegang dengan sang ayah soal hak konservatori.

    Hak konservatori yang dimiliki ayah Spears, mengendalikan setiap aspek kehidupan pribadi dan profesional Britney Spears, akhirnya dicabut pada tahun 2021.

    Konservatori sendiri merupakan konsep hukum di Amerika Serikat (AS) yang memungkinkan hakim untuk memberikan wali (atau beberapa wali) kontrol penuh atas keuangan dan kehidupan personal individu, jika orang tersebut secara fisik atau mental tidak dapat mengelolanya sendiri.

    Dari sudut pandang sosiologi, masa kanak-kanak dianggap terkonstruksi secara sosial. Artinya, ada cara-cara khusus dalam membesarkan anak yang ditentukan secara sosial dan budaya.

    Kita membuang konvensi seputar tahun-tahun awal kehidupan ini karena membahayakan kita sendiri.

    Baca: 50 tahun Christine Hakim berkarya di film

    Batasan dan aturan mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak dapat diterima pada masa kanak-kanak, serta aktivitas dan institusi normal yang membentuk pengalaman menjadi seorang anak telah berkembang selama berabad-abad karena suatu alasan – untuk mencoba menjaga anak-anak agar aman dari kenyataan pahit dunia dewasa.

    Hal inilah yang  mempengaruhi kehidupan Britney Spears yang Desember tahun ini akan genap berumur 42 tahun.

    Menjadi objek seksual dan dihargai karena penampilan, dibayar untuk bekerja, harus menghadapi kritik dan perhatian yang tidak diinginkan dari orang asing – ini semua adalah aspek sulit dalam pertumbuhan.

    Anak-anak dan remaja membutuhkan dukungan dan bimbingan yang cermat jika mereka ingin menjalani kehidupan dan identitas dewasa mereka dengan aman.

    Pengalaman ketenaran yang didapat pada masa kanak-kanak mengesampingkan jaring pengaman sosial bagi anak-anak dengan segala cara, dan konsekuensinya bisa menjadi bencana.

    Baca: Detilnya seorang Wregas Bhanuteja dalam menggarap film

    Namun bagi Britney Spears, ini lebih dari sekadar momen. Dalam The Woman in Me, ia merinci dalam memoarnya bagaimana pengawasan publik yang terus-menerus terhadap tubuh dan penampilan fisiknya.

    Bagaimana ia merasa dihargai hanya karena seksualitasnya dan diperlakukan sebagai komoditas telah menjadi ciri seluruh hidupnya.

    Tidak mengherankan Britney Spears mencukur rambutnya pada tahun 2007. Sebuah tindakan yang ditafsirkan media sebagai “kegilaan”.

    Padahal aksi ini sebenarnya merupakan indikasi kuat ekpresi kemarahan Britney Spears  karena dianggap tidak lebih dari boneka seks yang menari. Sebagaimana dia tulis dalam memoarnya:

    “Saya tahu banyak laki-laki menganggap rambut panjang itu seksi. Mencukur kepala adalah cara untuk mengatakan kepada dunia: persetan. Kamu ingin aku menjadi cantik untukmu? Persetan denganmu. Kamu ingin aku menjadi baik untukmu? Persetan denganmu. Kamu ingin aku menjadi gadis impianmu? Persetan denganmu.”

    Baca: Cerita Nicholas Saputra, lingkungan, teater dan film

    Sosiolog Erving Goffman menulis tentang stigma memiliki “spoiled identity” atau identitas yang bocor di mana orang membawa serta rasa malu di depan umum karena pelanggaran atau perbedaan fisik.

    Menjadi mantan bintang cilik dapat menimbulkan stigma karena berbagai alasan, termasuk terus-menerus dibandingkan dengan versi ideal dirimu yang lebih muda.

    Menjadi bintang cilik juga membuat Britney Spears tidak memiliki masa kanak-kanak yang “normal” atau hubungan keluarga yang konvensional.

    Dalam memoar ini, Britney berupaya untuk menghilangkan stigma tersebut dan mendapatkan kembali identitas dan kepribadiannya sebagai orang dewasa.

    Dengan melakukan hal ini, ia menunjukkan bahwa kita bisa saja meninggalkan lingkungan berbahaya yang dulu pernah kita kenal – meskipun perjalanan tersebut pasti sulit.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris