Tag: bunga

  • Refleksi Spritual dalam Pameran Seni Merangkai Bunga Ikebana

    Refleksi Spritual dalam Pameran Seni Merangkai Bunga Ikebana

    7cloud.asia – Pameran seni merangkai bunga asal Jepang, Ikebana akan dihadirkan Ikebana International Chapter 224 bekerja sama dengan The Japan Foundation di Jakarta pada 27-29 Agustus 2025.

    Ikebana yang juga dikenal sebagai kadō, yang berarti “jalan bunga” bukan hanya sekadar merangkai bunga, tetapi bertujuan menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme, dan warna, dengan tiga titik utama yang melambangkan langit, bumi, dan manusia.

    Berbeda dengan rangkaian bunga gaya Barat, ikebana berfokus pada pengaturan garis dan bentuk, serta sering kali menampilkan keindahan alam dalam bentuk yang sederhana dan minimalis.

    Bagi masyarakat Jepang, proses merangkai bunga dianggap sebagai bentuk meditasi, ketenangan batin, dan refleksi spiritual, menghubungkan perangkai dengan alam dan kehidupan.

    Bahan yang biasa digunakan dalam Ikebana antara lain bunga, rumput, daun, ranting, dan kadang-kadang bahkan logam, plastik, dan batu dalam gaya modern.

    Baca: Kokedama, seni tanaman hias dari Jepang

    Prinsip Ikebana didasarkan pada tiga elemen utama yang mewakili langit (shin), bumi (soe), dan manusia (hikae), yang menunjukkan keseimbangan dan harmoni.
    Gaya dan Teknik

    Ada beberapa gaya utama dalam ikebana. Yang pertama adalah Rikka, yakni gaya tradisional yang sangat formal, fokus pada lanskap tanaman dan digunakan untuk perayaan keagamaan.

    Lantas ada Ikebana Shoka, yang kurang formal namun tetap tradisional, menyoroti bentuk asli tumbuhan.

    Selain itu ada juga Jiyuka yang lebih bebas dan modern, berkembang setelah Perang Dunia II, memungkinkan penggunaan kreativitas bebas dan bahan-bahan non-konvensional.

    Baca: Cara orang Jepang mengusir overthinking

    Publication Officer Communication Team Japan Foundation, Abdul Barry Sutan Pulungan menjelaskan pameran tahun ini akan menampilkan 60 karya ikebana dari enam aliran besar yang berkembang di Indonesia, yakni Ikenobo, Mishoryu, Ohara, Sogetsu, Ichiyo dan Shofukadokai.

    Setidaknya ada sebanyak 50 perangkai bunga akan tampil di pameran tersebut.

    Menurut dia, para perangkai akan menampilkan ragam ikebana yang harmoni baik dari linier, ritme, maupun warna dari tanaman-tanaman yang khususnya ada di Indonesia tanpa meninggalkan pakem ciri khas Jepang.

    Pakem Jepang, ujarnya, seringkali menampilkan ketidaksempurnaan sebagai bentuk keindahan.

    Pameran Ikebana akan diselenggarakan di The Japan Foundation, Jakarta, dan dibuka oleh Direktur Informasi dan Kebudayaan Kedubes Jepang di Indonesia Hoshino Daisuke dan Director General The Japan Foundation Jakarta Inami Kazumi.

  • Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    7cloud.asia – Rambut rontok kerap dianggap persoalan sepele. Namun ketika terjadi terus-menerus, terutama pada usia muda, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.

    Dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, mengungkapkan kerontokan rambut pada usia dua puluhan kini semakin banyak ditemukan dengan berbagai penyebab. Salah satu pemicu yang sering luput diperhatikan adalah stres.

    “Genetik dan hormon menjadi faktor terbesar dengan kontribusi sekitar 35 persen dari seluruh kasus. Setelah itu stres 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan PCOS sekitar 5 persen,” ungkap Elisabeth di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Baca: Cara Keramas Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Menurutnya, banyak orang baru mencari pertolongan ketika rambut sudah mengalami penipisan cukup parah. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat memperkecil peluang pemulihan.

    “Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Menunda penanganan berarti kehilangan kesempatan itu,” katanya.

    Meski demikian, Elisabeth mengingatkan tidak semua rambut rontok berarti gangguan kesehatan. Rambut rontok dalam jumlah tertentu masih merupakan kondisi normal. Umumnya, rambut yang rontok berada di kisaran 50 hingga 100 helai per hari.

    Baca: Jangan Anggap Sepele Masalah Gusi, Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Bagi masyarakat yang sulit menghitung jumlah rambut yang rontok, ia menyarankan memperhatikan jumlah rambut yang terkumpul.

    “Kalau bingung, lihat saja dari genggaman tangan. Kalau sudah terlihat lebih banyak atau lebih rimbun terkumpul, itu bisa menjadi tanda tidak normal,” katanya.

    Lebih jauh, Elisabeth menjelaskan pola kerontokan rambut memiliki perbedaan antara pria dan perempuan. Pada pria, kerontokan biasanya dimulai dari garis rambut yang semakin mundur dan penipisan di area ubun-ubun.

    Kondisi ini dapat muncul sejak usia 20-an akibat pengaruh hormon DHT (dihidrotestosteron) serta faktor genetik.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Mengincar Anak Indonesia

    Sementara pada perempuan, kerontokan lebih sering terlihat dari bagian tengah kepala yang semakin menipis dan melebar. Pemicu dapat berkaitan dengan perubahan hormon, PCOS, menopause, stres, hingga kekurangan nutrisi.

    Jika kerontokkan terjadi, Elisabeth menegaskan masyarakat sebaiknya tidak langsung mencoba berbagai terapi tanpa mengetahui penyebabnya.

    “Kerontokan rambut itu tidak semuanya sama. Terapi yang salah bisa memperburuk kondisi dan hanya menghabiskan waktu serta uang,” tegasnya.

    Menurut dia, pemeriksaan dan diagnosis menjadi langkah penting agar penanganan sesuai dengan penyebab. Sebab, rambut yang sehat bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga dapat menjadi gambaran kondisi tubuh secara keseluruhan.