Tag: bunuh diri

  • Kasus Bunuh Diri pada Anak Terus Meningkat, KPAI Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius

    Kasus Bunuh Diri pada Anak Terus Meningkat, KPAI Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius

    7cloud.asia – Kementerian kesehatan (Kemenkes) mencatat, kasus bunuh diri pada 2023 meningkat hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Menurut data Kemenkes, secara nasional terdapat 70 kasus orang yang mengakhiri hidupnya atau bunuh diri hingga November 2023.

    Peristiwa bunuh diri terbanyak terjadi di Jawa Timur (delapan orang), disusul Sulawesi Selatan (tujuh orang), Jawa Tengah (enam orang), dan Jawa Barat (lima orang).

    Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, Vensya Sitohang mengatakan bahwa upaya pencegahan warga mengakhiri hidup dengan bunuh diri telah diatur dalam Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

    Menurutnya, undang-undang tersebut ramah terhadap hak asasi manusia, dan juga mengedepankan peran keluarga serta masyarakat.

    Baca: Usia remaja rentan alami gangguan kesehatan mental

    Dilansir VOA Indonesia, Kemenkes juga memiliki program kerja yaitu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dengan target pada 2030 mengurangi sepertiga angka kematian dini.

    “PR besar negara kita, karena kita harus menjawab capaian penurunan kasus mengakhiri hidup pada SDGs tahun 2030, yakni sepertiga dari data baseline harus turun pada akhir 2030,” kata Vensya.

    Sementara, Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri mencatat terdapat 971 kasus orang yang bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Angka ini melampaui jumlah kasus sepanjang 2022, yakni 900.

    Vensya mengakui terdapat perbedaan jumlah kasus orang mengakhiri hidup antara Kemenkes dan kepolisian.

    Baca: Pentingnya pemahaman kesehatan mental sejak usia dini

    Menurutnya, Kemenkes telah berupaya mengarahkan warga ke polisi terkait kasus ini dan nantinya akan divalidasi Puskesmas agar datanya menjadi sinkron.

    “Ini adalah permasalahan yang cukup pelik sebetulnya. Kalau di kami data rutin sangat kecil, di kepolisian sangat besar,” tambahnya.

    Kemenkes juga telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah orang mengakhiri hidup mulai dari mempromosikan kesehatan jiwa, mencegah masalah kesehatan jiwa hingga meningkatkan kualitas tata kelola gangguan jiwa.

    Komisioner KPAI Diyah Puspitarini mengatakan munculnya peristiwa anak mengakhiri hidup di sejumlah daerah harus menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah.

    Baca: Tawuran remaja dan faktor pemicunya

    KPAI mencatat ada 11 peristiwa anak mengakhiri hidup, dengan 12 korban sepanjang 2023. Tujuh anak yang menjadi korban berada dalam rentang usia 15-17 tahun, dan salah satu peristiwa menelan dua korban.

    “Jenis kelamin anak yang menjadi korban paling banyak perempuan, kemudian laki-laki sebanyak 25 persen. Dan 25 persen lainnya tidak disebutkan jenis kelaminnya,” jelas Diyah di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

    Diyah menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang menjadi penyebab anak mengakhiri hidup, termasuk pelecehan fisik, kesehatan mental, perundungan, penelantaran, dan tekanan faktor ekonomi.

    Diyah menyarankan perlunya masyarakat mengenali tanda-tanda yang bisa menjadi petunjuk bahwa seorang anak berniat mengakhiri hidupnya.

    Baca: Kesadaran warga penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan

    “Anak yang akan mengakhiri hidup itu sudah bisa dilihat tanda-tandanya. Termasuk perubahan ekstrem, bisa jadi sudah membuat surat, dan menarik diri dari orang lain, serta perilaku merusak diri sendiri,” tambahnya.

    Lebih jauh Diyah mengatakan, pemerintah juga perlu memperkuat edukasi bagi keluarga,anak, dan para pemangku kepentingan lainnya, untuk mencegah kasus bunuh diri pada anak.

    Ia menegaskan kasus bunuh diri dapat diantusipasi dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, seperti konseling dan pendampingan psikologis.

    KPAI juga mendorong pemerintah dan DPR untuk bersinergi menjadikan perlindungan anak sebagai arus utama pembangunan, dengan perbaikan regulasi, kelembagaan, program, dan pendanaan untuk peningkatan layanan dan kualitas anak Indonesia.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Riset: Ide Bunuh Diri Bisa Terdeteksi Saat Usia Muda

    Riset: Ide Bunuh Diri Bisa Terdeteksi Saat Usia Muda

    7cloud.asia – Data terbaru dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa dari 921 kasus bunuh diri yang tercatat, sebagian besar melibatkan generasi muda.

    Dikutip dari laman resmi BRIN, data dari 2012 hingga 2023 menunjukkan bahwa angka bunuh diri tertinggi terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda.

    Untuk usia remaja, faktor-faktor yang sering disebut sebagai pemicu bunuh diri termasuk tekanan akademis, harapan tinggi untuk berprestasi, perubahan hormon, masalah keluarga, serta meningkatnya bullying dan cyber bullying.

    Selain itu, pengaruh media sosial dan kurangnya akses ke dukungan emosional juga turut berperan.

    Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ memaparkan bahwa ide mengakhiri hidup bisa terdeteksi pada remaja, menurut hasil studi.

    Baca: Kasus bunuh diri pada anak meningkat

    “Ini adalah disertasi saya tahun 2019 yang mana datanya diambil pada akhir 2019, sebelum pandemi di Jakarta. Yang berisiko adalah 13,8 persen dari 910 remaja (125),” kata Nova dalam forum diskusi Denpasar 12 secara daring di Jakarta, Rabu (31/7/2024).

    Nova menjelaskan anak muda atau remaja adalah orang yang masih senang mengambil risiko dan merasa mampu melakukan segala-galanya.

    Pada usia remaja, kematian sepertinya masih jauh sehingga akhirnya banyak mengambil keputusan-keputusan yang ceroboh (reckless). Pemikiran mereka juga abstrak.

    Adapun ketahanan jiwa remaja, menurut dia, bergantung dari ada atau tidaknya perasaan kesepian, ketiadaan harapan, merasa menjadi beban, serta keinginan menjadi bagian dari sesuatu, ujarnya.

    “Ketika itu ada terdeteksi, risikonya 5,39 kali lebih besar untuk mempunyai ide bunuh diri dibandingkan yang tidak,” kata Nova dikutip Antaranews.com.

    Baca: Usia remaja rentan alami gangguan kesehatan mental

    Pada 2021, Nova mengulangi pengambilan sampel tersebut dengan menyasar mahasiswa-mahasiswi satu kampus di Kota Bogor sebanyak 2.181 sampel.

    Hasilnya terlihat ide bunuh diri terdeteksi pada 49,1 persen dari 2.181 atau sekitar 1.070 sampel.

    Menurut Nova, Jawa Barat memiliki angka prevalensi depresi dua minggu terakhir pada penduduk umur 15 tahun ke atas, tertinggi di tingkat nasional yakni sebesar 3,3 persen.

    Lebih dari dua kali lipatnya Jakarta yang tercatat di angka 1,5 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Kasus Bunuh Diri Tertinggi Terjadi di Bali, Berkaitan dengan Kesejahteraan Masyarakatnya?

    Kasus Bunuh Diri Tertinggi Terjadi di Bali, Berkaitan dengan Kesejahteraan Masyarakatnya?

       

    7cloud.asia – Anggota DPR, I Nyoman Parta mengingatkan pemerintah daerah untuk memberi perhatian serius terkait kasus bunuh diri yang semakin meningkat, terutama di Provinsi Bali.

    Berdasarkan laporan yang dia terima pada tahun 2023, ada 135 orang di Bali yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Angka ini merupakan angka kasus bunuh diri tertinggi tingkat nasional.

    Melihat peningkatan tren kasus bunuh diri ini, Parta menilai faktor pergeseran gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab sejumlah masyarakat memilih bunuh diri.

    ”Kasus bunuh diri tertinggi ada pada masyarakat Bali, khususnya Gianyar, sebagai daerah pariwisata kena imbas, sehingga harga barang-barang cukup mahal. Impitan ekonomi tinggi, Bali memiliki risiko dan stres tinggi,” tutur Parta dalam rilis media yang dikutip Parlementaria, Senin (7/10/2024).

    Baca: Beban Kerja picu keinginan bunuh diri, ini cara mengatasinya

    Politisi PDI-Perjuangan itu menjelaskan orang-orang yang memilih bunuh diri karena berbagai alasan, salah satunya adalah alasan ekonomi.

    Parta melihat, sistem pengupahan tenaga kerja yang tidak adil dan tuntutan kebutuhan pokok yang semakin menjulang tinggi menjadi penyebab tingginya angkavbunuh diri.

    Ia pun menyayangkan BPJS belum bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi orang pasca bunuh diri.

    Oleh karena itu, Parta mendorong seluruh pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Daerah di Bali, mendukung program pendampingan sekaligus terapi bagi para penyintas bunuh diri dengan jasa psikolog.

    Baca: Ide bunuh diri bisa terdeteksi sejak muda

    Selain isu bunuh diri, ia menyoroti upah pekerja di Bali yang sangat kecil. Pesatnya industri pariwisata di Bali tak serta merta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

    Parta menerangkan banyak pekerja pariwisata di Bali yang bertahun-tahun bekerja malah masih berstatus pekerja harian.

    Oleh karena itu, ia meminta seluruh kepala daerah dan anggota DPRD kabupaten dan DPRD Provinsi Bali membenahi sistem proteksi pekerja di Bali.

    ”Diperlukan jalan keluar dari semua pihak, pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat umum untuk bekerja bersama mengatasi berbagai permasalahan komplek ini,” tandas politisi asal Guwang ini.

  • Kasus Bunuh Diri di Jepang Cetak Rekor Tertinggi pada Tahun 2024

    Kasus Bunuh Diri di Jepang Cetak Rekor Tertinggi pada Tahun 2024

    7cloud.asia – Sebanyak 529 pelajar di Jepang mengakhiri hidupnya sendiri sepanjang tahun 2024, jumlah kasus bunuh diri ini meningkat 16 kasus dibanding tahun sebelumnya

    Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang kasus bunuh diri pada 2024 ini menjadi angka tertinggi sejak data mulai tersedia pada 1980.

    Total kasus bunuh diri pada siswa pada 2024 itu mencakup 15 pelajar sekolah dasar (SD), 163 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 351 murid sekolah menengah atas (SMA).

    Adapun angka siswa SMP yang melakukan bunuh diri tercatat sebagai yang tertinggi dalam sejarah, menurut Buku Putih tentang Pencegahan Bunuh Diri (White Paper on Suicide Countermeasures) edisi 2025 yang diadopsi dalam sebuah rapat kabinet pada Jumat (24/10/2025).

    Baca: Jumlah penduduk Jepang terus turun dan makin tua

    Menurut laporan itu, isu-isu terkait sekolah menjadi penyebab paling umum dalam kasus bunuh diri di kalangan siswa berusia 19 tahun ke bawah, disusul oleh isu kesehatan dan keluarga.

    Laporan itu juga menemukan banyak mahasiswa yang meninggal akibat bunuh diri berusia 21 tahun. 

    Angka ini mencerminkan berbagai kekhawatiran terkait mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Baca: Cara orang Jepang mengusir overthinking

    Angka bunuh diri masih tinggi di kalangan pemuda berusia 15 hingga 29 tahun, dengan lebih dari 3.000 kematian terjadi setiap tahunnya sejak 2020, ungkap laporan tersebut.

    Laporan itu menyatakan bahwa angka bunuh diri di kalangan perempuan muda terus meningkat, dengan 40 persen dari mereka yang berusia 20-an tahun yang meninggal akibat bunuh diri sebelumnya pernah berupaya melakukannya.

    Selain itu, total kasus bunuh diri secara keseluruhan di Jepang mencapai 20.320 pada 2024, turun 1.517 dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus jumlah terendah kedua sejak pencatatan statistik dimulai pada 1978.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Kegagalan Sistem Pendidikan, Politik, dan Sosial Picu Bunuh Diri pada Anak

    Kegagalan Sistem Pendidikan, Politik, dan Sosial Picu Bunuh Diri pada Anak

    7cloud.asia – Fenomena bunuh diri di kalangan anak dan remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 anak bunuh diri sepanjang Januari-Oktober 2025.

    Pada 2024, jumlahnya bahkan mencapai 43 kasus. Tragedi ini menyesakkan dada karena di balik setiap angka, ada anak dan remaja yang kesulitan untuk menjelaskan kesedihannya.

    Sayangnya, masyarakat umumnya cenderung mengaitkan fenomena bunuh diri remaja dengan paparan media sosial yang berdampak pada psikologis personal mereka.

    Padahal, bunuh diri remaja bukan semata-mata akibat kerentanan psikologis personal, tetapi juga bisa akibat interaksi kompleks antara faktor individual, keluarga, budaya, dan sosial.

    Banyak asumsi yang menyebut bahwa remaja yang lahir di era digital lebih rentan bunuh diri karena banyak mengonsumsi konten seputar persona ideal dan capaian-capaian gemilang.

    Ketidakmampuan memenuhi ekspektasi tersebut diyakini menimbulkan kekecewaan dan rasa cemas, yang akhirnya menuntun tindakan bunuh diri.

    Namun, asumsi tersebut dibantah oleh sebuah studi meta-analisis psikologi lintas negara, yang menyatakan bahwa tidak ada kaitan langsung antara konsumsi media sosial dengan tindakan bunuh diri remaja.

    Jika merujuk pada sudut pandang psikologi, keputusan bunuh diri lahir dari kehadiran stimultan dua konstruksi interpersonal, yakni rasa tidak diterima dan perasaan menjadi beban, serta keputusasaan atas keadaan tersebut.

    Tekanan tersebut bisa berasal dari interaksi kompleks antara faktor individual, keluarga, budaya, dan lingkungan sosialnya.

    Baca: Kasus bunuh diri pada anak terus meningkat

    Kegagalan sistem sosial politik
    Banyak remaja yang juga kerap menjadi the forgotten citizens (masyarakat yang terlupakan).

    Dalam konteks ini, remaja dapat dianggap sebagai kalangan quasi-subaltern, yakni kelompok yang terpinggirkan dari kelompok yang dominan dalam masyarakat dan negara berdasarkan kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Biasanya, kalangan ini eksistensinya tidak tampak dalam perhatian publik.

    Ketika mereka luput dari perhatian publik, mereka tidak bisa mengartikulasikan penderitaannya. Situasinya makin berbahaya ketika mereka sedang dalam keadaan depresi berat.

    Contohnya, guru di sekolah sering kali menunggu konfirmasi cerita bullying dari korban, dan tidak peka bahwa aduan itu sebenarnya jeritan minta tolong. Pun setelah ada aduan, kerap kali respons pihak sekolah cenderung lambat, bahkan abai.

    Remaja tersebut jadi merasa makin tak didengar dan dilupakan, sehingga hanya memperdalam luka mereka.

    Contoh ini memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan belum menjadi tempat perlindungan yang aman. Sistem pendidikan kita tampak tertib dan birokratis, tetapi sering kehilangan sensitivitas dan empati.

    Lebih parah lagi, jika siswa mengadu terkait kondisi mental mereka, tak jarang mereka menghadapi stigma, seperti kurang pemahaman agama.

    Kondisi lingkungan keluarga mereka juga tak jarang meremehkan kondisi mental tersebut, menganggapnya hanya akibat stres karena beban belajar dan kurang bergaul. Pengalaman subjektif yang dialami remaja itu nyaris hilang–atau dihilangkan.

    Sementara itu, dalam skala yang lebih luas, para pejabat sibuk berbicara tentang “generasi emas 2045” tanpa memberi ruang yang cukup bagi remaja untuk berbicara mengenai masa depannya sendiri.

    Baca: Usia 16-24 tahun jadi masa kritis untuk kesehatan mental

    Pada masa pemilu, para kontestan politik menempatkan pemilih remaja sebagai objek kampanye.

    Mereka melihat remaja hanya sebatas segmen pemilih untuk kalkulasi pemenangan pemilu. Topik tentang permasalahan kerentanan remaja nyaris absen dalam perbincangan politik.

    Mendengarkan sebelum terlambat
    Dalam masyarakat yang sibuk, tetapi miskin kedalaman emosional, bunuh diri bisa jadi merupakan bentuk protes paling sunyi. Tindakan yang tragis itu menggambarkan betapa dalamnya krisis empati masyarakat.

    Kita menciptakan sistem sosial yang menuntut remaja untuk kuat, tetapi tidak menyediakan tempat ketika mereka lemah. Kita menuntut mereka berprestasi, tetapi lupa mengajarkan cara menghadapi kegagalan.

    Karena itu, langkah krusial untuk mencegah tragedi serupa adalah meningkatkan sensitivitas masyarakat kita atas kerentanan remaja. Kita perlu lebih dekat untuk mendengarkan mereka, tanpa menghakimi.

    Keluarga, bagaimanapun kesibukannya, harus memberikan perhatian, belajar memahami dan membuka hati. Akan lebih baik jika orang tua memiliki pemahaman dasar konseling remaja.

    Sekolah perlu meningkatkan empati guru, bukan hanya kemampuan mengajar. Negara wajib memastikan setiap sekolah memiliki konselor terlatih dan hotline konseling yang lebih tersosialisasikan kepada masyarakat.

    Masyarakat tidak boleh membiarkan tindakan-tindakan bunuh diri di kalangan remaja ini terulang lagi.

    Publik harus bersama-sama menciptakan kondisi sekolah, keluarga, dan negara yang mampu “mendengar” permasalahan remaja rentan dan menjadikan mereka sebagai warga yang berhak hidup bahagia dengan penuh harapan.

    Untuk mewujudkan ini semua, sokongan dari sistem sosial politik sangat penting. Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan.

    Atikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ari Ganjar Herdiansah (Lecturer in Political Sociology, Universitas Padjadjaran)