7cloud.asia – Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Delicia Y. Rahman mengajak para peneliti untuk melakukan riset mengenai domestikasi burung kareo padi (Amaurornis Phoenicurus) dikenal sebagai burung ruak-ruak.
Riset ini dilakukan untuk mengungkap potensi burung kareo padi sebagai kandidat unggas produksi, sebagaimana keberhasilan domestikasi burung puyuh yang sudah mapan.
Hal ini diungkap dalam webinar Sharing Session Zoopedia Series #18 : Kelompok Riset Domestikasi dan Pemuliaan Hewan Tropis yang dilaksanakan secara hybrid di Kawasan Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno Cibinong, Kamis (7/5/2026) lalu
“Kita sedang melihat bagaimana potensi burung ruak-ruak ini untuk dijadikan sebagai panggung riset domestikasi baru. Riset ini sejalan dengan apa yang dikerjakan oleh rekan-rekan di kelompok riset domestikasi hewan tropis,” terang Delicia seperti dilansir di laman resmi brin.go.id.
Dikatakan Delicia, Forum Zoopedia bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran informasi riset antara peneliti internal BRIN dengan pakar dari instansi eksternal secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini dia berharap, mampu membuka wawasan para peneliti muda bahwa kualitas riset domestikasi di Indonesia memiliki daya saing yang kuat di kancah internasional.
Peneliti dari PRZT BRIN Widya Pintaka Bayu Putra menyampaikan pemaparannya berjudul “Potensi Burung Kareo Padi (Amaurornis Phoenicurus) Untuk Produksi Daging Di Indonesia”.
Burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) merupakan salah satu spesies burung air yang kerap dijumpai di ekosistem lahan basah Indonesia.
“Meski sering terlihat di sekitar manusia, burung ini memiliki karakteristik unik baik dari segi reproduksi maupun kandungan nutrisinya,” terang Bayu.
Bayu menjelaskan bahwa siklus reproduksi burung kareo padi memiliki masa berkembang biak yang cukup panjang. Ia mengungkapkan bahwa masa reproduksinya atau musim kawin, terjadi antara bulan April hingga Oktober.
“Burung ini biasanya membangun sarangnya di atas pohon. Sedangkan, jumlah telur dapat menghasilkan 2 sampai 6 butir telur. Telur tersebut akan dierami selama kurang lebih 19 hingga 21 hari hingga menetas,” jelasnya.
Lebih jauh, Bayu menyebutkan bahwa burung kareo padi memiliki adaptasi yang baik di daerah perairan. Habitat utamanya meliputi kawasan rawa, tepian sungai, hingga area persawahan.
Secara global, populasi burung ini tersebar luas mulai dari Asia Selatan antara lain, Pakistan, India, Maladewa, Sri Lanka, hingga Asia Timur seperti, China, Taiwan, Jepang.
Di wilayah kepulauan, sebarannya mencakup Filipina, Sunda Besar, hingga wilayah terpencil seperti Pulau Christmas dan Mikronesia.
Bayu merinci, klasifikasi burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) yaitu kingdom : animalia, phylum :cordata, class : aves, order :gruiformes, family : Rallidae, genera : amaurornis, spesies : A.phoenicurus.
Selain itu, Bayu menambahkan, di beberapa daerah di Indonesia, burung kareo padi memiliki nilai ekonomi yang signifikan.
Salah satu contohnya adalah di Kota Siantar, Sumatera Utara, di mana daging burung ini telah menjadi kuliner legendaris yang banyak diburu wisatawan dan masyarakat lokal.
Selain menghadirkan pemaparan dari peneliti BRIN, webinar ini juga menghadirkan narasumber dari Department of Animal Science, Faculty of Veterinary Medicine, Selcuk University, Turkiye, yaitu Emre Arslan.
Dalam paparannya, ia menjelaskan “Principle Pheasant (Phasianus colchicus) production in Turkiye”.
