Tag: ciamis

  • Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    7cloud.asia – Dampak El Nino mulai dirasakan petani di sejumlah daerah yang mengeluhkan hasil panen yang tidak maksimal atau bahkan mengalami gagal panen.

    Sektor pertanian dan petani memang sangat merasakan dampak El Nino yang diperkirakan akan memuncak pada Agustus dan September ini. 

    Tidak hanya mengalami kekeringan, petani juga harus menghadapi berbagai penyakit padi dan hama. El Nino menyebabkan hama dan penyakit menyebar lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.

    Seperti yang terjadi di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Lisnawati, petani padi di Dusun Batukurung, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Ciamis mengeluh panen padinya menurun akibat dampak El Nino.

    Baca: Mengapa El Nino terjadi dan apa dampaknya bagi petani?

    Pada musim panen bulan Juli lalu, ia hanya mampu memanen gabah kurang dari 2 ton dari 11 petak sawah yang ia miliki. Padahal biasanya hasil panennya
    mencapai 4 ton.

    Kondisi ini akibat adanya serangan hama tikus yang menggerogoti batang padi milik petani.

    Berbagai usaha telah dilakukan Lisna untuk menyelamatkan padinya dari hama
    tikus, seperti memberikan racun tikus yang banyak.

    “Semua orang kasih racun tikus, tapi ada terus (tikusnya). Mati (tikus) banyak, tetapi yang makan batang padi juga banyak. Makanya pada kaget semua orang karena mengalami semua,” jelas Lisnawati kepada 7cloud.asia.

    Baca: Warga diminta bersiap hadapi kekeringan akibat El Nino

    Ibu dua orang anak ini menjelaskan hama tikus adalah hama yang paling jahat dibandingkan hama lainnya. Sebab, hama tikus akan memakan batang padi
    terus menerus hingga jelang panen.

    Makanya tak heran petani merugi pada musim panen kali ini. Bahkan menurut Lisnawati, kondisi ini adalah yang terparah yang pernah ia hadapi dalam menghadapi hama tikus.

    Sebagai petani, Lisnawati mengaku tidak mendapat bantuan apapun untuk
    menghadapi hama tikus tersebut.

    “Padahal dulu kita suka dikasih obat (untuk hama tikus) dari desa, tapi sekarang nggak dikasih lagi,” katanya.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 T untuk antisipasi dampak El Nino

    Sementara itu, Kepala Desa Kawasen, Suharno mengatakan pihaknya memang
    tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang dikeluhkan warganya.

    Selain itu, ia juga tidak dapat memberikan obat untuk hama tikus secara gratis kepada warga. Sebab hal ini akan memperparah kondisi tanah. Paparan zat kimia
    dapat membuat tanah menjadi lebih kering.

    “Tanah menjadi kering karena pemakaian obat-obatan kimia. Sekarang kita mau mencoba bergeser ke obat-obat organik yang aman untuk tanah,” katanya.

    Dalam menghadapi El Nino, petani tidak hanya berurusan dengan hama saja.
    Tetapi juga gangguan musim tanam dan kekeringan.

    Baca: Seperti ini El Nino berdampak pada kesehatan manusia

    Mengantisipasi kekeringan ini, Suharno menjelaskan pihaknya tidak hanya
    mengandalkan irigasi yang sudah ada. 

    Pihak desa juga akan membangun pipa saluran air sepanjang 2,5 kilometer yang sumber air tersebut berasal dari desa terdekat yakni Desa Cimudal.

    Saluran air dengan debit air sebanyak 1,2 liter per detik ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga dan mengairi sawah.

    Selain itu, Suharno juga mengajak warga untuk melakukan reboisasi atau
    penghijauan secara mandiri terutama di sekitar mata air desa.

    “Reboisasi harusnya kesadaran sendiri, tetapi kadang susah,” ungkapnya.

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Suharno berharap ada kerjasama dari warga untuk menghadapi El Nino. Selain
    itu, ia juga berharap perhatian dari pemerintah daerah untuk meminimalisir dampak El Nino bagi petani di daerahnya. 

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu
    permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat
    dari biasanya.

    El Nino Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali berselang seling dengan fenomena La Nina.

    Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Penulis: Nurakhmayani