7cloud.asia – Bagi penduduk asli Cilangkap, Jakarta Timur, pergantian nama Waduk Giri Kencana menjadi Waduk Batu Licin Cilangkap menyimpan makna mendalam.
Bagi mereka, perubahan nama menjadi waduk Batu Licin ini sebagai bentuk penghormatan identitas, sejarah, serta cara masyarakat memandang dan merawat alam yang sejak lama menjadi bagian kehidupan warga setempat.
Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi mengembalikan nama Batu Licin menjadi nama waduk di kawasan itu. Keputusan tersebut diambil setelah mendengarkan penuturan para sesepuh dan tokoh masyarakat terkait sejarah dan latar belakang budaya setempat.
Sejumlah sesepuh yang menjadi narasumber dalam penelusuran sejarah Waduk Batu Licin antara lain Bapak Komboy (78), Bapak Samin (70), Bapak Nasir (70), Bapak Ampu (70), Bapak Nasan (70), Bapak Toncit (60), serta Ibu Simah (68).
Mereka menuturkan bahwa Batu Licin selama puluhan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial, budaya, dan spiritual warga Cilangkap.
Pergantian nama ini dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap sejarah lokal dan ingatan kolektif warga yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kawasan tersebut.
Baca: Revitalisasi Waduk Giri Kencana di Cilangkap
Nama Batu Licin merujuk pada sebuah batu besar yang dahulu berada di pertemuan tiga aliran sungai, yakni Kali Cilangkap, Kali Gondang, dan Kali Wangsaan. Pada masanya, kawasan ini menjadi pusat aktivitas warga—tempat mencuci, mandi, hingga beristirahat setelah bekerja di sawah.
Batu tersebut dinamai batu licin memiliki permukaan datar dan licin, sekaligus menjadi penanda ruang sosial yang diperlakukan secara khusus.
Menurut penuturan para sesepuh kampung, Batu Licin bukan sekadar batu alam biasa. Dalam cerita lisan yang berkembang, bahkan hewan ternak disebut enggan menginjak batu tersebut.
Hal ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kawasan tersebut memiliki nilai simbolik yang menuntut sikap hormat dan kehati-hatian.
Dalam tradisi setempat, nama Cilangkap dipercaya berasal dari istilah “buang celaka”. Di masa lampau, kawasan ini diyakini menjadi tempat pembuangan ilmu hitam dan kesaktian.
Kepercayaan tersebut membentuk pandangan hidup masyarakat agar setiap orang yang datang ke sana menjaga sikap, ucapan, dan perbuatannya. Wilayah ini pun dikenal sebagai kawasan yang dijauhi oleh pelaku perbuatan maksiat dan tindakan tercela lainnya.
Baca: DKI Jakarta andalkan 147 waduk dan embung untuk atasi krisis air
Sejumlah kisah turun-temurun juga mengaitkan Batu Licin dengan jejak sejarah kerajaan kuno. Batu tersebut digambarkan berbentuk cekung menyerupai kuali dan dipercaya pernah berfungsi sebagai meja perjamuan atau tempat duduk raja.
Beberapa warga bahkan menuturkan, pernah ditemukan struktur berundak menyerupai tangga di bawah batu, meski upaya penggalian tidak pernah dilanjutkan karena berbagai kendala teknis.
Selain itu, air di sekitar Batu Licin dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Cerita tentang hewan ternak yang kembali sehat setelah meminum air dari kawasan tersebut masih hidup dalam ingatan warga, meski tidak pernah dibuktikan secara ilmiah.
Ada pula kepercayaan bahwa aliran sungai di lokasi itu kerap digunakan sebagai media ritual pembuangan susuk maupun ilmu hitam, dengan cara mandi di sungai menghadap arus air.
Secara simbolik, aliran sungai dipercaya membawa pergi penyakit, sihir, dan energi buruk bersama derasnya air.
Seiring perubahan tata ruang dan pembangunan kota, aliran sungai di kawasan tersebut dialihkan untuk kebutuhan irigasi dan pengendalian air. Sungai lama mengering dan ditimbun, sementara Batu Licin perlahan menghilang, tertutup tanah dan pembangunan.
Baca: DKI Jakarta bangun 9 waduk untuk kurangi intensitas banjir
Kawasan itu kemudian dikembangkan menjadi waduk dan diberi nama Waduk Giri Kencana.
Namun bagi masyarakat Cilangkap, nama tersebut dinilai kurang mencerminkan sejarah dan identitas lokal.
Aspirasi untuk mengembalikan nama Batu Licin muncul dari para sesepuh kampung dan tokoh masyarakat, lalu disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta melalui KH Lukman Hakim Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap.
“Nama Batu Licin adalah bagian dari sejarah kampung ini. Menghidupkan kembali nama tersebut berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat, bukan soal kepercayaan semata,” ujar Lukman Hakim.
Ia menambahkan, berdirinya Waduk Batu Licin Cilangkap diharapkan menjadi titik temu sinergi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kawasan tersebut, terutama mengingat fungsi waduk yang sangat vital sebagai benteng pertahanan kampung saat cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi.
“Dengan berdirinya Waduk Batu Licin Cilangkap, kami berharap kerja sama antara pemerintah dan warga bisa terus terjaga. Waduk ini harus dirawat bersama, salah satunya dengan memastikan kawasan ini bersih dari sampah,” katanya.
Baca: DKI Jakarta terancam krisis air
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan dapat diperkuat dengan menghidupkan kembali ingatan sejarah kawasan Batu Licin itu sendiri.
“Dulu kawasan ini ditakuti oleh banyak penganut ilmu hitam dan pelaku perbuatan maksiat. Ada rasa segan untuk berbuat sembarangan. Nilai itu ingin kita hidupkan kembali dalam makna yang lebih etis—supaya orang takut merusak, takut membuang sampah sembarangan, dan merasa berkewajiban menjaga lingkungan,” ujarnya.
Usulan perubahan nama tersebut mendapat respons positif dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo. Setelah mendengarkan penuturan sejarah dan latar belakang budaya yang disampaikan para tokoh masyarakat, Pemprov DKI Jakarta memutuskan menerima aspirasi tersebut dan secara resmi menetapkan nama Waduk Batu Licin Cilangkap.
Kini, Waduk Batu Licin Cilangkap tak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian banjir, tetapi juga menjadi penanda bahwa pembangunan kota tetap memberi ruang bagi sejarah dan kearifan lokal.
Di balik nama tersebut, tersimpan kisah tentang hubungan manusia dengan alam, ingatan kampung yang diwariskan lintas generasi, serta upaya menjaga lingkungan agar tetap lestari di tengah perubahan kota yang kian cepat.
Penulis: Kemal Maulana
