Tag: cop

  • Kontroversi Penggunaan Bahan Bakar Fosil dalam Penyelenggaraan COP 29

    Kontroversi Penggunaan Bahan Bakar Fosil dalam Penyelenggaraan COP 29

    7cloud.asia – Para aktivis lingkungan telah lama mendesak pengurangan atau bahkan penghentian segera penggunaan bahan bakar fosil guna menahan laju pemanasan global.

    Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan panas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia.

    Selanjutnya, emisi merupakan penyebab utama pemanasan global dengan memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Itu sebabnya banyak aktivis lingkungan menyebut Konferensi Iklim Global atau COP sebagai sebuah “lelucon” karena kehadiran ribuan perwakilan bahan bakar fosil.

    Hasil investigasi Global Witness di COP 29, terkait dugaan pendanaan dari perusahaan bahan bakar fosil dalam pertemuan tersebut telah memicu perdebatan

    COP tahun ini berlangsung di Baku, Azerbaijan, negara yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan wilayah penghasil minyak tertua di dunia.

    Baca: Ketua Eksekutif COP 29 diduga fasilitasi kesepakatan bahan bakar fosil

    Menurut Badan Energi Internasional (IEA), minyak dan gas menyumbang sekitar 90 persen pendapatan ekspor negara dan 60 persen anggaran pemerintah.

    Pada bulan April, Presiden Azerbaijan, Azeri Ilham Aliyev mengatakan negaranya akan terus berinvestasi dalam produksi gas untuk memenuhi permintaan energi Uni Eropa sebagai “tanda tanggung jawab.”

    Dia menegaskan, memiliki cadangan migas bukan salah negaranya. Itu adalah anugerah dari Tuhan. Kita, ujarnya harus dinilai bukan berdasarkan hal tersebut,

    Namun bagaimana kita menggunakan sumber daya ini untuk pembangunan negara, untuk pengentasan kemiskinan, pengangguran dan apa target kita sehubungan dengan agenda hijau,” kata Aliyev dikutip earth.org.

    Kepresidenan COP 29 juga dikritik karena gagal memasukkan penyebutan rencana penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap dalam Agenda Aksi pertemuan puncaknya, meskipun ada seruan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kesepakatan COP 28

    Baca: COP 28 tanpa mandat tegas akhiri bahan bakar fosil

    Seruan itu untuk “transisi dari bahan bakar fosil dalam sistem energi, dengan cara yang adil, teratur dan merata. untuk mencapai net-zero pada tahun 2050 sesuai dengan ilmu pengetahuan.”

    Azerbaijan adalah negara minyak ketiga berturut-turut yang menjadi tuan rumah perundingan tersebut setelah salah satu negara minyak terkaya di dunia, Uni Emirat Arab, menjadi tuan rumah COP 28 tahun lalu dan Mesir menjadi tuan rumah COP 27 pada tahun 2022.

    Setidaknya 2.456 pelobi minyak dan gas menghadiri COP 28 tahun lalu, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada COP 27 tahun 2022 di Sharm El-Sheikh, Mesir, sekitar 636 orang yang terkait dengan industri bahan bakar fosil diberikan akses.

    Investigasi yang dilakukan oleh Center for Climate Reporting (CCR) dan BBC tahun lalu mengungkapkan bahwa kepresidenan COP 28 berencana memanfaatkan pertemuan dengan negara-negara asing untuk mendorong kesepakatan minyak dan gas.

    Meskipun presiden COP 28 Sultan Al Jaber berulang kali menyangkal keterlibatannya, dokumen yang bocor menunjukkan bahwa bahan bakar fosil menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam pertemuan antara perusahaan energi UEA dan 15 negara menjelang KTT tersebut.

    “Seperti yang kita lihat di UEA tahun lalu, tuan rumah acara ini mempunyai agenda yang sangat bertentangan dengan keadilan iklim,” kata Schaaf dari Amnesty International.

  • Pasca Hasil COP 29 yang Mengecewakan, Saatnya Mencari Format Konferensi Perubahan Iklim yang Lebih Efektif

    Pasca Hasil COP 29 yang Mengecewakan, Saatnya Mencari Format Konferensi Perubahan Iklim yang Lebih Efektif

    7cloud.asia – Banyak orang yang telah lama terlibat dalam negosiasi iklim global melihat Konferensi Perubahan Iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai upaya yang cacat secara fundamental. Penulis termasuk di antaranya.

    Pada 24 November lalu, COP 29 selesai dihelat di Baku, Azerbaijan. Ini mungkin COP ke-25 yang penulis ikuti.

    Selama bertahun-tahun, penulis menghadiri konferensi perubahan iklim atau COP ini dalam berbagai peran, sering kali sebagai negosiator iklim untuk pemerintah Australia. Saat ini, saya hadir sebagai akademisi.

    COP 29, sayangnya, tidak membuahkan terobosan. Pertemuan ini hanya menyepakati peningkatan yang cukup lumayan dalam pembiayaan iklim untuk negara berkembang, serta kesepakatan tentang aturan pasar karbon.

    Namun, banyak isu yang ditunda pembahasannya hingga COP 30 tahun depan. Konferensi pun berlangsung lambat.

    COP atau pertemuan membahas langkah mengatasi perubahan iklim tahunan ini sering dipandang hanya sebagai ajang “menang atau kalah,” sehingga dinamika diskusinya menjadi rumit.

    Negara-negara produsen minyak bumi dan para pelobi bekerja keras menghindari pembahasan tentang penghentian penggunaan bahan bakar fosil.

    Di lain pihak, tuan rumah sering kali hanya membutuhkan “kemenangan” yang acap hanya berupa “komitmen” tanpa perubahan nyata. Sebelum pembicaraan tahun ini dimulai, tokoh-tokoh besar dalam iklim sudah menyerukan reformasi proses COP.

    Namun, terlepas dari kelemahannya, pertemuan COP adalah satu-satunya cara untuk mengumpulkan seluruh negara-negara di dunia dalam satu ruangan untuk merundingkan langkah-langkah menghadapi perubahan iklim.

    Dalam beberapa tahun terakhir, fokus para pemimpin global terganggu oleh pandemi Covid, perang Ukraina-Rusia, dan kini konflik di Timur Tengah.

    Namun, apa mau dikata, perubahan iklim terus memburuk. Tidak lama lagi, kejadian di dunia nyata akan mengarahkan perhatian kita kembali ke ancaman terbesar yang akan kita hadapi.

    Sejak 1995, pembicaraan COP telah menjadi pendorong utama aksi global terhadap perubahan iklim. Forum ini akan terus penting hingga transisi menuju energi bersih selesai dan pembakaran bahan bakar fosil tidak lagi menjadi rutinitas kita.

    Perubahan iklim hanya memiliki satu kata solusi: investasi. Setiap hari, perusahaan dan pemerintah menginvestasikan uang. Mereka bisa memilih untuk berinvestasi pada teknologi lama yang memperburuk polusi karbon, atau beralih ke alternatif yang lebih bersih.

    Konferensi iklim sejauh ini berperan mengubah arah investasi. Contohnya terlihat jelas dengan banyaknya investasi untuk energi hijau, pembaruan jaringan listrik, dan efisiensi energi.

    Nilainya dua kali lipat lebih besar dari investasi untuk bahan bakar fosil baru. (Sayangnya, jika kita memasukkan subsidi bahan bakar fosil, gambaran ini akan sangat berbeda.)

    Tahun lalu, negara-negara peserta COP akhirnya memasukkan teks tentang kebutuhan transisi dari bahan bakar fosil. Itu adalah kemenangan yang sulit. Namun malang tak dapat ditolak.

    Tahun ini, para diplomat dari Arab Saudi dan sekutunya berhasil menghapus segala penyebutan tentang isu bahan bakar fosil tersebut.

    Meskipun teks terkait bahan bakar fosil tidak mengikat, dampaknya akan cukup besar dalam ruang-ruang rapat tempat keputusan investasi disepakati.

    Proses atau kemajuan?
    Perencanaan konferensi iklim saat ini masih jauh dari ideal. Setiap tahun, para peserta memilih negara baru sebagai presidensi sekaligus tuan rumah pertemuan. Pembicaraan berlangsung selama dua pekan dengan segudang agenda.

    Tahun ini, tuan rumah Azerbaijan tampak kelimpungan mengendalikan agenda. Akibatnya, isu seperti Global Stocktake—yang memuat seruan penghentian bahan bakar fosil—justru ditunda hingga COP 30 tahun depan di Brasil.

    Karena konferensi iklim hanya berlangsung sekali setahun, banyak agenda yang menumpuk. Ini membuat pembahasan sangat berantakan.

    Setiap Juni, para negosiator iklim bertemu dalam pertemuan antar-sesi sebelum pembicaraan COP berikutnya di Bonn, Jerman—lokasi kantor pusat Sekretariat PBB untuk Perubahan Iklim.

    Dalam pertemuan ini, sering kali ada upaya untuk membatalkan pengumuman yang dibuat di pembicaraan COP resmi. Kadang-kadang, upaya tersebut berhasil.

    Setiap delegasi dalam COP hadir karena dua alasan. Pertama, karena pemerintah mereka berkomitmen untuk menyelesaikan masalah besar perubahan iklim. Lima atau enam negara mungkin tidak, tetapi lebih dari 190 lainnya berkomitmen.

    Alasan kedua adalah melindungi kepentingan nasional masing-masing. Tentu saja, keduanya bisa dilakukan bersamaan.

    Namun, ini membawa masalah tersembunyi. Banyak orang yang menghadiri acara ini, menurut saya, terlalu berfokus pada proses ketimbang hasil.

    Dua kali setahun, mereka menghadiri konferensi iklim dan pertemuan antar-sesi di Bonn, beranjangsana dengan teman dan kolega.

    Sayangnya, silaturahmi ini justru menjadi rutinitas. Bagi beberapa orang, bahkan, prosesnya telah menjadi tujuan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Howard Bamsey (Honorary Professor, School of Regulation and Global Governance, Australian National University)

  • Lima Gagasan Agar Penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim Berjalan Lebih Efektif

    Lima Gagasan Agar Penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim Berjalan Lebih Efektif

    7cloud.asia – Banyak orang yang telah lama terlibat dalam negosiasi iklim global melihat Konferensi Perubahan Iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai upaya yang cacat secara fundamental.

    Penulis yang sudah 25 kali mengikuti Konferensi Perubahan Iklim tahunan ini termasuk yang memiliki pendapat seperti di atas.

    Sejak 1995, pembicaraan COP telah menjadi pendorong utama aksi global terhadap perubahan iklim.

    Forum ini akan terus penting hingga transisi menuju energi bersih selesai dan pembakaran bahan bakar fosil tidak lagi menjadi rutinitas kita.

    Konferensi perubahan iklim sejauh ini berperan mengubah arah investasi. Contohnya terlihat jelas dengan banyaknya investasi untuk energi hijau, pembaruan jaringan listrik, dan efisiensi energi.

    Perencanaan konferensi iklim saat ini masih jauh dari ideal. Setiap tahun, para peserta memilih negara baru sebagai presidensi sekaligus tuan rumah pertemuan. Pembicaraan berlangsung selama dua pekan dengan segudang agenda.

    Tahun ini, tuan rumah Azerbaijan tampak kelimpungan mengendalikan agenda. Akibatnya, isu seperti Global Stocktake—yang memuat seruan penghentian bahan bakar fosil—justru ditunda hingga COP 30 tahun depan di Brasil.

    Karena konferensi iklim hanya berlangsung sekali setahun, banyak agenda yang menumpuk. Ini membuat pembahasan sangat berantakan.

    Setiap Juni, para negosiator iklim bertemu dalam pertemuan antar-sesi sebelum pembicaraan COP berikutnya di Bonn, Jerman—lokasi kantor pusat Sekretariat PBB untuk Perubahan Iklim.

    Dalam pertemuan ini, sering kali ada upaya untuk membatalkan pengumuman yang dibuat di pembicaraan COP resmi. Kadang-kadang, upaya tersebut berhasil.

    Setiap delegasi dalam COP hadir karena dua alasan. Pertama, karena pemerintah mereka berkomitmen untuk menyelesaikan masalah besar perubahan iklim. Lima atau enam negara mungkin tidak, tetapi lebih dari 190 lainnya berkomitmen.

    Alasan kedua adalah melindungi kepentingan nasional masing-masing. Tentu saja, keduanya bisa dilakukan bersamaan.

    Namun, ini membawa masalah tersembunyi. Banyak orang yang menghadiri acara ini, menurut saya, terlalu berfokus pada proses ketimbang hasil.

    Dua kali setahun, mereka menghadiri konferensi iklim dan pertemuan antar-sesi di Bonn, beranjangsana dengan teman dan kolega.

    Sayangnya, silaturahmi ini justru menjadi rutinitas. Bagi beberapa orang, bahkan, prosesnya telah menjadi tujuan.

    Pembicaraan di Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP memang memiliki kekurangan, tetapi dunia tetap memerlukannya.

    Lantas, bisakah kita memperbaikinya? Berikut lima usulan dari penulis untuk memperbaiki pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim PBB

    1. Pecahkan proses negosiasi
    Pertemuan lembaga-lembaga di bawah COP, seperti Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) yang salah satunya bertugas mengembangkan metodologi pengukuran emisi gas rumah kaca, memiliki misi diplomatik di kota-kota tempat sebagian besar negara.

    Badan ini semestinya dapat bertemu lebih sering, menciptakan tekanan dan momentum mempercepat proses dan membuahkan hasil lebih baik.

    2. Rombak pengaturan kepresidenan COP
    Negara tuan rumah sering mencoba mengontrol hasil. Pilihan yang lebih baik adalah negosiator dari setiap negara, yang sejatinya melakukan sebagian besar pekerjaan—dan memastikan mereka bertanggung jawab atas hasilnya.

    3. Perkuat pertemuan regional
    COP adalah perhelatan yang terlalu besar. Akan lebih efektif jika pembicaraan COP didelegasikan ke pertemuan regional yang lebih kecil dan rutin.

    4. Kumpulkan negara-negara yang lebih ambisius
    Beberapa koalisi, seperti High Ambition Coalition, bisa mendorong aksi lebih cepat. Namun, koalisi ini memerlukan kepemimpinan yang konsisten.

    5. Tindakan langsung oleh negara penghasil emisi terbesar
    Tahun 2015, Amerika Serikat dan Cina menemukan titik temu yang membantu suksesnya Perjanjian Paris. Pendekatan serupa dapat mengulangi keberhasilan itu.

    Kebutuhan: Kemauan politik baru
    Sepuluh tahun lalu, dunia tampak bersatu dalam isu iklim. Namun, meskipun Perjanjian Paris membantu mencegah skenario emisi terburuk, emisi global belum menurun.

    Perubahan iklim kini masuk dalam daftar prioritas isu global yang lebih rendah. Namun, dampak yang semakin parah akan memaksa dunia untuk kembali memberikan perhatian.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Howard Bamsey (Honorary Professor, School of Regulation and Global Governance, Australian National University)