Tag: daging

  • AS Legalkan Penjualan Daging Hasil Budidaya Sel Hewan

    AS Legalkan Penjualan Daging Hasil Budidaya Sel Hewan

    7cloud.asia – Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS), Rabu (14/6/2023) waktu setempat, untuk pertama kalinya menyetujui penjualan daging ayam hasil budidaya sel hewan.

    Persetujuan tersebut memungkinkan dua perusahaan di California: Upside Foods dan Good Meat, menjual daging “yang diproduksi di laboratorium” ke restoran-restoran, dan akhirnya ke masyarakat luas.

    Langkah ini meluncurkan era baru produksi daging dan secara drastis mengurangi dampak lingkungan dari penggembalaan, penyediaan pakan untuk hewan, dan kotoran hewan.

    Josh Tetrick, salah satu pendiri dan CEO Eat Just, Inc., perusahaan yang mengoperasikan Good Meat, pada Oktober 2018, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, bahwa dengan kondisi dunia seperti sekarang, dengan pertumbuhan populasi, dengan tekanan pada sistem air dan tanah, dibutuhkan cara yang lebih baik.

    “Cara yang lebih bersih, cara yang lebih aman. Menurut kami, gagasan menyediakan daging yang mereka sukai tanpa membunuh hewan, mungkin merupakan cara yang baik untuk membantu kita makan dengan lebih baik pada masa depan.” ujarnya.

    Baca: Start up asal Singapura ini ubah limbah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Untuk menjual daging dan unggas di Amerika, perusahaan harus mengantongi hasil inspeksi yang dilakukan pemerintah federal.

    Persetujuan untuk daging hasil laboratorium ini didapat berbulan-bulan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan menganggap bahwa daging tersebut aman dikonsumsi.

    Jason Hull, koki di Marin County, mencicipi daging buatan ini. “Rasanya enak. Teksturnya pas, dan ini tidak mudah dilakukan, kan?”

    Daging hasil budidaya dikembangkan dalam tangki baja dengan menggunakan sel dari hewan hidup, telur yang dibuahi, atau bank khusus yang menyimpan sel-sel.

    Good Meat, yang sudah menjual daging budidaya di Singapura, negara pertama yang mengizinkannya, mengubah massa sel ayam menjadi irisan daging, nugget, daging yang disuwir, dan sate.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Upside Foods dan Good Meat berencana menawarkan makanan baru ini terlebih dahulu ke restoran eksklusif. Upside bermitra dengan Bar Crenn, restoran di San Francisco.

     
    Sedangkan Good Meat akan disajikan di restoran di Washington, DC, yang dikelola koki dan pemilik restoran, Jose Andrés.

    Pejabat-pejabat di kedua perusahaan menegaskan bahwa produk mereka betul-betul daging. Bukan pengganti daging yang terbuat dari protein nabati dan bahan lainnya.

    Amy Chen dari Upside Foods menjelaskan, “Jadi, daging yang kita cintai dan makan dalam puluhan ribu tahun sebenarnya secara biologis sama dengan daging yang kami budidayakan. Tetapi dibuat dengan cara yang benar-benar baru.”

    Baca: Ini yang bisa kamu lakukan untuk kurangi sampah makanan

    Secara global, lebih dari 150 perusahaan berfokus pada daging dari sel, tidak hanya daging ayam tetapi juga daging babi, domba, ikan, dan sapi, yang menurut para ilmuwan memiliki dampak terbesar terhadap lingkungan.

    Upside Foods dan Good Meat sama-sama menekankan bahwa produksi awal mereka akan dibatasi.

    Upside sekarang mampu memproduksi hingga 50.000 pon daging per tahun. Mereka akan meningkatkan produksi hingga 400.000 pon atau lebih dari 181 ribu kg per tahun. Good Meat tidak menetapkan target produksi.

    Sebagai perbandingan, Amerika menghasilkan sekitar 50 miliar pon atau 22.679.000.000 daging ayam per tahun. 

    Sumber: VOA Indonesia

     
  • Kurangi Konsumsi Daging Berpotensi Buka Lahan Penghasil Energi Hijau Sekaligus Serap Emisi Karbon

    Kurangi Konsumsi Daging Berpotensi Buka Lahan Penghasil Energi Hijau Sekaligus Serap Emisi Karbon

    7cloud.asia – Suplai daging, susu, dan produk lain yang bersumber dari hewan mungkin akan jauh berkurang pada beberapa dekade mendatang. Penyebabnya, makin banyak orang yang beralih drai produk hewani ke berbagai produk alternatif.

    Berkurangnya daging dan produk hewani bisa membuka peluang penggunaan lahan luas yang saat ini masih digunakan untuk beternak hewan dan bercocok tanam untuk memberi makan mereka.

    Baru-baru ini, kami menerbitkan penelitian untuk melihat apa yang mungkin terjadi jika permintaan produk hewani benar-benar menurun sehingga lahan untuk produksi serta kebutuhan pendukungnya digunakan untuk menghasilkan sumber energi terbarukan dan penghilangan karbon.

    Ternyata, potensi manfaatnya sangat besar. Penggantian produk hewani dalam skala besar mungkin tampak mustahil saat ini.

    Namun, alternatif baru, seperti daging tiruan nabati atau daging hasil laboratorium, bisa sangat mirip daging asli dalam hal rasa dan tekstur.

    Seiring waktu, bukan tidak mungkin keduanya mengalahkan daging betulan dalam hal biaya.

    Baca: Industri peternakan penyumbang deforestasi terbesar

    Untuk saat ini, penggantian produk berbasis hewan masih berbiaya mahal dan sering mengorbankan rasa. Mayoritas konsumennya adalah kelompok-kelompok tertentu yang peduli terhadap kesehatan, lingkungan, atau kesejahteraan hewan.

    Namun, di masa depan, pengalaman serupa dengan biaya lebih rendah bisa jadi akan menjadikan ‘daging’ alternatif lebih populer.

    Membuka potensi lawas
    Pengurangan daging dapat membebaskan lahan dan mengurangi kebutuhan air dalam jumlah besar. Sebab, kebutuhan lahan ternak sapi, ayam, babi, atau lahan produksi tanaman pakan juga akan berkurang.

    Riset kami memperkirakan bahwa penggantian sepenuhnya produk-produk hewani akan membebaskan lebih dari 60% lahan pertanian dunia. Peneliti lain bahkan mengungkapkan potensi yang lebih besar, yaitu sebanyak 75%.

    Peternakan mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Namun, laporan dari sejumlah lembaga konsultan setidaknya menunjukkan bahwa pasokan daging dapat menurun hingga 10%-30% pada 2030 atau 30%-70% pada 2050.

    Jumlah segitu, tetap saja, akan membuka lahan pertanian yang luas. Apa yang akan kita lakukan dengan seluruh lahan itu?

    Dalam banyak kasus, membiarkannya saja mungkin menjadi solusi paling masuk akal. Dengan cara ini, lahan dapat kembali secara bertahap ke keadaan aslinya, menyimpan karbon, mengatur iklim, dan menyediakan habitat bagi satwa liar.

    Baca: Komoditas Indonesia terkena aturan antideforestasi Uni Eropa

    Namun, kita juga dapat memanfaatkan lahan tersebut untuk menghasilkan energi sekaligus menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer, melalui proses yang dikenal sebagai bioenergi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon (Beccs).

    Beccs sudah ketinggalan zaman
    Tanaman energi, yang ditanam di lahan pertanian yang baru dibebaskan, akan menangkap CO₂ dari atmosfer dan menyimpannya sebagai karbon (tumbuhan dan hewan sebagian besar tersusun dari air dan karbon).

    Hasil panen akan digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi, yang akan mengubah karbon kembali menjadi CO₂.

    Namun, alih-alih melepaskannya kembali ke atmosfer (seperti yang dilakukan sistem bioenergi konvensional saat ini), CO₂ dapat ditangkap dan disimpan secara permanen jauh di bawah tanah.

    Dengan cara ini, sistem Beccs akan menghasilkan penyerapan bersih CO₂ dari atmosfer.

    Sejak Beccs pertama kali diusulkan dua dekade lalu, banyak ilmuwan yang menerima gagasan tersebut dan memasukkannya ke dalam rencana untuk mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Mengenal apa itu carbon capture storage

    Namun, dalam beberapa tahun terakhir, mereka menyarankan untuk tidak melakukan hal tersebut karena menanam lebih banyak tanaman berarti mengonversi lebih banyak hutan dan ekosistem alami lainnya menjadi lahan pertanian.

    Sementara air yang digunakan untuk mengairi hasil panen berarti mengurangi jatah bagi manusia dan ekosistem. Mereka menekankan bahwa persaingan lahan dapat mengancam ketahanan pangan.

    Beccs dapat mengatasi tantangan utamanya. Penelitian kami memperkirakan bagaimana peralihan dari produk hewani dapat membantu mengatasi tantangan persaingan lahan tersebut dan membuka potensi besar bagi Beccs.

    Dengan menggunakan lahan peternakan menganggur, Beccs dapat menghindari kebutuhan perluasan lahan pertanian atau kekurangan air. Artinya, masih tersedia cukup makanan untuk semua orang.

    Kami memperkirakan Beccs dapat menggantikan peternakan di sebagian besar dunia. Rueda et al (2024) / One Earth, CC BY-SA

    Jika 50% produk hewani digantikan pada tahun 2050, akan ada lahan yang cukup bagi Beccs untuk menghasilkan listrik sebanyak yang dihasilkan pembangkit listrik energi batu bara saat ini (sekitar sepertiga dari total produksi global).

    Baca: Pertemuan G20 gagal sepakati pengurangan emisi karbon 

    Listrik tersebut turut menghilangkan jumlah karbon yang hampir sama dengan emisi batu bara saat ini.

    Alternatifnya, Beccs dapat memproduksi sekitar setengah dari proyeksi permintaan hidrogen global pada tahun 2050, dengan jumlah “emisi negatif” — emisi yang tak jadi terlepas — yang serupa.

    Kami menaksir emisi negatif dengan menghitung jumlah karbon yang diambil Beccs dari atmosfer dan disimpan di bawah tanah, lalu dikurangi emisi dari penanaman tanaman bioenergi dan konversinya menjadi energi.

    Jumlah itu lalu kami kurangi dengan jumlah karbon yang tersimpan dalam tanaman — jika kita hanya membiarkan lahan peternakan yang dibebaskan.

    Kami juga menemukan bahwa banyak negara, termasuk para penghasil polusi terbesar, dapat menyimpan semua CO₂ yang ditangkap jauh di bawah tanah di dalam wilayah mereka.

    Semua ini terdengar sangat menarik. Kita tidak bisa menganggap remeh potensi yang dimiliki Beccs untuk benar-benar dimanfaatkan.

    Tantangan keberlanjutan produk hewani yang ada mungkin dapat kita atasi dengan mengurangi konsumsi daging. Namun, berbagai tantangan teknis, sosial, dan politik bisa saja menghambat penerapannya.

    Kita juga masih belum mengetahui secara pasti bagaimana daging nabati dan daging hasil bioteknologi akan dikonsumsi dan apa dampaknya.

    Kabar baiknya, alternatif daging nabati yang tersedia saat ini sudah menawarkan potensi yang lebih pasti untuk membebaskan lahan dan air dalam jangka pendek. Seberapa jauh pemanfaatannya akan tergantung pada negara dan individu.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

  • Mau Tetap Sehat Usai Menyantap Daging Kurban? Ini Dia Tips nya

    Mau Tetap Sehat Usai Menyantap Daging Kurban? Ini Dia Tips nya

    7cloud.asia – Daging kurban memang lezat untuk disantap dalam beraneka masakan. Tetapi dalam mengonsumsinya harus diimbangi dengan banyak mengonsumsi sayuran dan buah.

    Hal ini untuk mengurangi dampak negatif yang timbul akibat mengonsumsi daging kambing dan sapi.

    Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Jakarta, Fitri Hudayani mengatakan konsumsi sayuran dan buah tersebut juga untuk mengatasi kelebihan asupan lemak dari daging yang dikonsumsi.

    “Dianjurkan mengonsumsi sayur dan buah karena serat dapat membantu mengatasi kelebihan asupan lemak,” ujar Fitri seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Pasca lebaran hindari makan daging dan gorengan

    Selanjutnya Fitri menjelaskan berbagai dampak negatif yang timbul akibat mengonsumsi daging kambing dan sapi berlebihan.

    Diantaranya adalah menyebabkan kelebihan berat badan, meningkatnya kadar kolesterol darah, dan hipertensi.

    Karena itu sebaiknya daging kurban tidak dikonsumsi semua dalam satu waktu. Dia menyarankan ada ketentuan dalam mengonsumsi daging. Misalnya dalam satu minggu hanya dua sampai tiga potong.

    Sementara apabila daging ingin disimpan untuk dikonsumsi di lain waktu, daging tersebut dapat disimpan dengan suhu minus lima sampai minus 10 derajat Celcius.

    Baca: Cara sehat mengolah daging kambing

    “Sehingga daging tidak perlu habis saat ini juga. Hal ini turut mencegah konsumsi yang berlebihan,” katanya.

    Selain itu, lanjut Fitri, pengolahan daging kurban harus melalui cara yang tepat agar membawa manfaat kesehatan bagi tubuh karena sumber energi, protein dan lemak.

    Daging kurban akan lebih bermanfaat bagi kesehatan tubuh jika dimasak sampai matang karena mampu mencegah adanya bakteri di dalam daging maupun akibat proses penyembelihan atau penanganannya.

     

  • Yuk, Kurangi Konsumsi Daging Olahan untuk Kurangi Risiko Kematian Akibat Penyakit Kardiovaskular

    Yuk, Kurangi Konsumsi Daging Olahan untuk Kurangi Risiko Kematian Akibat Penyakit Kardiovaskular

    7cloud.asia – Daging olahan tak asing buat masyarakat Indonesia. Pengolahannya yang praktis dan rasa yang enak menjadikan daging olahan sebagai menu favorit.

    Meski enak dan praktis, sebaiknya mengonsumsi daging olahan dikurangi. Dengan demikian dapat mencegah kematian akibat penyakit kardiovaskular, diabetes dan kanker kolorektal.

    Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Lancet Planetary Health yang mengungkapkan dengan mengurangi 10 potong bacon (daging asap olahan) setiap minggu dapat mengurangi kematian akibat penyakit-penyakit tersebut.

    Penelitian itu mengatakan perubahan pola makan kecil ini berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa, sehingga patut dipertimbangkan demi masa depan yang lebih sehat.

    Dalam laman Medical Daily, Jumat (5/7), tim peneliti tersebut dari Global Academy of Agriculture and Food Systems, University of Edinburgh bersama dengan University of North Carolina, Chapel Hill.

    Menurut mereka mengurangi konsumsi daging olahan sekitar sepertiga atau setara dengan sekitar 10 potong daging asap seminggu dapat mencegah lebih dari 350.000 kasus diabetes di AS selama 10 tahun.

    Hal ini juga dapat menyebabkan 92.500 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit dan 53.300 kasus kanker kolorektal lebih sedikit selama satu dekade.

    “Mengurangi konsumsi (daging olahan dan tidak olahan) hingga 30 persen menghasilkan 1.073.400 kasus diabetes lebih sedikit, 382.400 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit, dan 84.400 kasus kanker kolorektal lebih sedikit.

    Mengurangi asupan daging merah tidak olahan saja hingga 30 persen – yang berarti mengurangi sekitar satu burger daging sapi seberat seperempat pon seminggu – menghasilkan lebih dari 732.000 kasus diabetes lebih sedikit. Hal ini juga menghasilkan 291.500 kasus penyakit kardiovaskular lebih sedikit dan 32.200 kasus kanker kolorektal lebih sedikit,” demikian pernyataan penelitian.

    Selain itu, para peneliti mencatat bahwa lebih banyak kasus penyakit dapat dicegah dengan mengurangi daging merah yang tidak diolah dibandingkan dengan daging olahan.

    Sebagian karena asupan harian rata-rata daging merah yang tidak diolah lebih tinggi (47 g per hari) dibandingkan dengan daging olahan (29 g per hari).

    Pemotongan konsumsi daging juga telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi nasional dan internasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk Komite Perubahan Iklim di Inggris dan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau IPCC.

    “Penelitian kami menemukan bahwa perubahan pola makan ini juga dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan di AS, sehingga ini merupakan solusi yang menguntungkan bagi manusia dan planet ini,” jelas Profesor Lindsay Jaacks, salah satu penulis penelitian tersebut.

     

     

  • Daya Beli Turun, Masyarakat Kurangi Konsumsi Daging

    Daya Beli Turun, Masyarakat Kurangi Konsumsi Daging

    7cloud.asia – Pedagang daging di Pasar Gede Solo, Jawa Tengah mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada penurunan omzet mereka.

    Hal ini terungkap saat Komisi IV DPR melakukan peninjauan ke Pasar Gede Hardjonagoro, Rabu (19/2/2025) untuk memastikan ketersediaan bahan pokok serta kestabilan harga menjelang bulan Ramadan.

    “Yang mereka keluhkan adalah daya beli yang rendah. Kadang dagangan mereka tidak habis dalam sehari. Para pedagang daging sapi, misalnya, kini hanya bisa menjual 25 kilogram sehari, padahal dulu mereka bisa memotong sapi sendiri,” ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR Abdul Kharis Almasyhari

    Harga daging sapi relatif stabil sejak pandemi Covid-19 melanda lebih dari lima tahun lalu, yaitu berkisar antara Rp120.000–Rp140.000 per kg, tergantung tingkat kebersihan dari lemaknya.

    Sementara harga daging ayam berada di kisaran Rp32.000 per kilogram (kg). Kharis berharap harga bahan pokok tetap stabil dan pasokan terjaga menjelang Ramadan dan Idulfitri 1446 H.

    Baca: Badai PHK turunkan daya beli masyarakat

    Kharis menambahkan, daya beli masyarakat harus ditingkatkan melalui kebijakan ekonomi yang tepat dari pemerintah.

    Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR juga menemukan kosongnya stok beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang didistribusikan Perum Bulog di Pasar Gede.

    Saat ini, hanya beras premium dengan harga Rp72.000 per 5 kilogram yang dijual di pasaran.Terkait kelangkaan beras SPHP, Kharis menjelaskan bahwa Perum Bulog hanya mendistribusikan beras sesuai arahan Badan Pangan Nasional.

    Saat ini, belum ada instruksi dari Badan Pangan Nasional, sehingga Bulog masih menunggu keputusan lebih lanjut.

    “Saya kira pasokan beras SPHP perlu ditingkatkan karena banyak diminati masyarakat,” tandasnya.

    Baca: Menurunnya jumlah kelompok kelas menengah bakal pengaruhi daya beli

    Selain itu, Komisi IV juga menemukan kelangkaan santan kemasan. Semua produk santan kemasan menghilang dari peredaran, sehingga dikeluhkan para pembeli.

    “Santan kemasan sulit didapat, bahkan pedagang hanya bisa menjualnya jika beruntung. Harganya pun tidak menentu,” ujar Kharis.

    Di sisi lain, harga minyak goreng masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), meskipun pedagang harus mengambilnya sendiri langsung ke pasar.

    Sementara itu, harga bawang merah mengalami penurunan, sedangkan bawang putih mengalami sedikit kenaikan namun masih dalam batas wajar.

    Kharis menegaskan bahwa hasil dari kunjungan kerja spesifik ini akan dibahas bersama mitra kerja Komisi IV untuk memastikan ketersediaan pasokan dan kestabilan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

    “DPR akan membahas temuan ini dengan mitra kerja terkait. Ini adalah gambaran kecil dari kondisi pasar di Indonesia. Tentunya, pasar-pasar lain di seluruh Indonesia juga perlu mendapat perhatian agar masyarakat tidak terbebani harga tinggi dan pasokan tetap terjamin,” tutupnya.

    Baca: Paradoks efisiensi anggaran pemerintahan Prabowo-Gibran