Tag: demak

  • Tanggul Sungai Wulan Jebol, Ratusan Warga Karanganyar Demak Terpaksa Menjalankan Ibadah Puasa di Pengungsian

    Tanggul Sungai Wulan Jebol, Ratusan Warga Karanganyar Demak Terpaksa Menjalankan Ibadah Puasa di Pengungsian

    7cloud.asia – Jebolnya tanggul Sungai Wulan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah membuat banjir di wilayah itu semakin meluas. Ratusan warga harus menjalankan ibadah puasa di pengungsian.  

    Hingga Minggu (17/3/2024) malam jalur Pantura di Kecamatan Karanganyar, Demak, lumpuh total karena terendam banjir.

    Banjir dengan ketinggian hingga 1 meter masih merendam jalur Pantura di Demak dari Tanggulangin hingga Dukuh Cangkring Pos atau sepanjang 4 kilometer.

    Sebelumnya, tanggul Sungai Wulan juga pernah jebol pada awal Februari lalu dan mengakibatkan sejumlah wilayah dilanda banjir. 

    “Ini sama (kondisinya dengan banjir saat tanggul jebol pertama). Ini nanti kira-kira sampai empat hari pun sama debit airnya kalau pembuangan air nggak ada,” kata seorang warga setempat seperti dikutip detik.com.  

    Baca: Atasi banjir BNPB lakukan modifikasi cuaca

    Warga Dukuh Cangkring Pos itu ditemui di dekat jalur Pantura Karanganyar, Demak, Minggu (17/3/2024).

     

    Saat banjir pertama pada Kamis (8/2/2024) lalu, Ana mengungsi di masjid dekat rumahnya selama 12 hari. Kali ini dia juga mengungsi di lokasi yang sama.

    “Mau ke mana lagi kita bulan puasa, sana-sana sudah penuh. Ini tadi di sana sudah 150 orang. Ini semua sudah terendam,” imbuhnya.

    Ana mengaku, dirinya tidak menyangka tanggul bakal jebol lagi hanya dalam waktu 40 hari harus kembali mengungsi karena banjir

    “Dulu tanggal 8 Februari, ini tanggal 17 Maret 2024, Semoga aman lah, soalnya lagi puasa, kita lihat seperti ini miris sekali,” sambung Ana.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Jawa

    Sementara warga lain menyebutkan banjir mulai menggenangi Dukuh Cangkring Pos, Desa Cangkring, Kecamatan Karanganyar, sejak Kamis (14/3/2024) lantaran hujan deras.

    Setelah tanggul Sungai Wulan jebol, air merendam kampungnya hingga ketinggian sekitar satu meter.

    “Hari Kamis itu sudah masuk ke Dukuh Cangkring Pos, tapi itu banjir dari air hujan. Kalau masuknya (banjir akibat tanggul jebol) sekitar jam 02.30-03.00 WIB, masuk ke Cangkring Pos. Ketinggian air satu meter ada,” kata Saiful.

    Warga Cangkring Pos lainnya, Subadi mengatakan bahwa banjir kali ini tergolong besar dibanding sebelumnya. 

    “(Banjir) Di sini termasuk besar, iya lebih besar, lebih tinggi. Tanggul jebol, air masuk ke sini,” kata Subadi.

    Baca: Cuaca ekstrem meningkat signifikan, dampaknya sudah terasa

    Menurut dia, ada sekitar 80 warga dukuh Cangkring Pos yang mengungsi di Masjid Darussalam.

    Dia berharap ada bantuan makanan siap saji di tengah kondisi banjir dan listrik yang dipadamkan.

    “Sudah lapor RT, kepala desa, tadi belum ada bantuan. Ya ndak tahu lah, bencana kan yang memberi Allah SWT. Kita tinggal menerima, sabar atau tidak,” ujar Subadi.

    Dia menambahkan, bibit padi yang ia tanam pada musim tanam (MT) kedua ini juga terancam mati.

    “Kemarin MT pertama gagal, ini baru nyebar (bibit) gagal lagi ada banjir. Ya petani kalau bisa dibantu bibit lah,” pungkas Subadi.

    Sumber: detik.com

     

  • Komplek Pemakaman Sunan Kalijaga Banjir, Warga Tetap Ramai Berziarah

    Komplek Pemakaman Sunan Kalijaga Banjir, Warga Tetap Ramai Berziarah

    7cloud.asia – Air setinggi 30 hingga 60 sentimeter masih merendam komplek makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Para peziarah tetap ramai berkunjung.

    Hingga Selasa (19/03/2024) sore, air yang merendam kawasan makam salah satu Wali Songo ini masih belum surut.

    Melansir detik.com, sejumlah makam area terluar hingga area cungkup makam terendam air. Kaki cungkup Makam Sunan Kalijaga terendam sekitar 30 sentimeter.

    Namun, makam masih tetap terbuka untuk para peziarah. Hanya lapak pedagang yang biasanya ramai, kini tertutup terpal akibat terendam air.

    Pengurus makam Sunan Kalijaga menyebut banjir hingga merendam makam komplek makam Sunan Kalijaga seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya .

    Baca: Warga Demak menjalankan puasa di pengungsian

    Menurut  salah satu peziarah, M Ali Akbar (27) mengaku tetap nyaman dalam berdoa meski dalam kondisi banjir.

    “Setiap majelis kita datang, entah sebulan sekali, atau berapa. Kebetulan aja ini pas banjir,” jelas Ali.

    Pria yang berasal dari Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang ini sengaja mendatangi makam Sunan Kalijaga setelah mengetahui kabar cungkup Makam Sunan Kalijaga kebanjiran.

    “Tadi pagi juga nengok dari sosial media bahwa di sini banjir, maka kemari (mengecek),” katanya.

    “Ya agak hati-hati karena lantainya licin, kan sudah beberapa hari kan banjir. Sama itu juga sudah disediakan beberapa bangku bagi yang nggak tahan berdiri. Kalau opsinya berdiri karena saat ini banjir begini kan,” lanjutnya.

    Baca: Ribuan hektar sawah terancam gagal panen gara-gara banjir

    Tak hanya berziarah, Ali beserta temannya juga salat di Masjid Kanjeng Sunan Kalijaga. Beruntung, masjid ini tidak terendam banjir.

    Selain berdoa untuk Sunan Kalijaga, Ali juga berdoa agar banjir di Demak cepat surut. Ia turut berempati kepada korban.

    “Kita ziarah ke Mbah Sunan Kalijaga, istilahnya kita juga mendoakan beliau, kita sama-sama mendoakan warga Demak juga. Semoga selesai semua masalah-masalahnya, sama banjir ini diangkat sama Allah,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

  • ESDM: Banjir di Demak Tak Akan Memicu Terbentuknya Selat Muria

    ESDM: Banjir di Demak Tak Akan Memicu Terbentuknya Selat Muria

    7cloud.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan Selat Muria di Pesisir Demak, Jawa Tengah tidak akan terbentuk dalam waktu dekat.

    Namun demikian diakui penurunan tanah di daerah pesisir Demak, Jawa Tengah ini cukup besar, yakni berkisar 5-11 centimeter per tahun.

    “Meskipun terjadi penurunan tanah di daerah Demak dan sekitarnya, Selat Muria bukan berarti akan terbentuk kembali dalam waktu dekat,” kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dikutip Antaranews.com, Jumat (22/3/2024).

    Wafid menjelaskan wilayah pantai atau dataran pantai merupakan wilayah paling dinamis yang dibentuk oleh proses geologi, kondisi oseanografi, dan klimatologi.

    Secara umum proses pembentukannya masih berlangsung hingga sekarang melalui proses-proses transportasi, pengendapan, dan konsolidasi sedimen, sehingga rawan terhadap bencana banjir rob, penurunan tanah, dan abrasi.

    Baca: Tanggul Sungai Wulan jebol picu banjir besar di Demak 

    Penelitian Badan Geologi mengungkapkan daerah Demak dan sekitarnya secara umum didominasi dan disusun oleh endapan kuarter berupa endapan aluvial pantai atau aluvium.

    Hasil survei geofisika bawah permukaan yang dilakukan oleh Badan Geologi menunjukkan ada sedimen bersifat lunak dan tebal.

    Hal itu dibuktikan dengan pemboran di dataran aluvium hingga kedalaman 100 meter didominasi oleh lapisan lempung lunak dalam kondisi normally consolidated dengan sedikit sisipan pasir lepas.

    “Kondisi itu menyebabkan mudah mengalami pemampatan alamiah maupun pemampatan karena beban antropogenik yang dikerjakan di wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan tanah,” katanya.

    Beberapa tempat di daerah pesisir memiliki elevasi yang lebih rendah dibanding muka air laut, sehingga bila terjadi banjir rob akan menjorok jauh masuk ke daratan.

    Baca: Atasi banjir besar di Demak, BNPB lakukan modifikasi cuaca   

    Wafid menjelaskan banjir saat ini yang lama surut lebih dipengaruhi oleh iklim, yakni curah hujan yang tinggi, kerusakan infrastruktur tanggul sungai.

    Juga kondisi lapisan tanah di bawah permukaan yang didominasi lapisan lempung lunak yang cenderung bersifat impermeable, sehingga lama meloloskan air.

    Selain itu, terjadinya banjir rob juga menyebabkan banjir yang cukup tinggi di daerah pesisir dan akan mengalami genangan yang cukup lama.

    Wafid menambahkan, secara teori, Selat Muria mungkin saja terbentuk kembali, yakni apabila terjadi proses geologi yang dahsyat.

    “Misalnya terjadinya gempa bumi tektonik berkekuatan sangat besar yang menyebabkan terjadinya amblesan tiba-tiba dan mencakup areal yang luas,” ujarnya.

    Baca: Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Amblesan tiba-tiba atau graben tersebut merupakan bahaya ikutan (collateral hazard) dari kejadian gempa bumi selain dari bahaya guncangan dan sesar permukaan (fault surface rupture).

    Menurut dia, penurunan tanah tidak cukup sebagai faktor penyebab Selat Muria terbentuk kembali.

    “Kalau pun terjadi akan memerlukan waktu yang sangat lama (skala waktu geologi; ratusan sampai ribuan tahun) dan kecepatan penurunannya harus seragam mulai dari Demak hingga Pati,” katanya.

    Menurut kajian Badan Geologi terdapat perbedaan kecepatan penurunan tanah, di mana pada daerah pesisir lebih cepat dibanding daratan.

    Beberapa perkiraan faktor dominan kemungkinan akan kembali terbentuknya Selat Muria, menurut Wafid, adalah terjadinya penurunan muka tanah yang besar yang juga disertai kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

    “Serta terganggunya pola aliran sungai karena elevasi daratan lebih rendah dibanding muka air laut,” tutur Wafid.

    Sumber: Antaranews.com

  • Cara Nelayan Demak Atasi Kenaikan Permukaan Laut: Meninggikan Lantai Rumah hingga Migrasi

    Cara Nelayan Demak Atasi Kenaikan Permukaan Laut: Meninggikan Lantai Rumah hingga Migrasi

    7cloud.asia – Banjir besar di kawasan pantai utara Jawa, khususnya Demak, Jawa Tengah menjadi fokus penanggulangan bencana pemerintah pada bulan April lalu.

    Banjir sempat merendam 11 kecamatan sampai-sampai menimbulkan isu munculnya selat Muria—yang sempat memisahkan kawasan gunung Muria dan Jepara dengan Pulau Jawa.

    Banjir di Demak disebabkan hujan ekstrem yang merusak tanggul hingga penurunan permukaan tanah sehingga air laut (rob) masuk ke permukiman.

    Perubahan iklim akibat ulah manusia yang menyebabkan cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut juga turut memperparah dampak banjir di Demak.

    Melalui artikel ini, tim dari BRIN menyoroti bagaimana keluarga nelayan skala kecil yang terdampak banjir hampir setiap tahun beradaptasi untuk mempertahankan ruang hidup dan pendapatan mereka.

    Tulisan ini berdasarkan temuan riset BRIN yang mendapati bahwa keluarga nelayan di Demak melakukan sejumlah langkah adaptasi, mulai dari meninggikan rumah setiap tahun hingga berpindah sementara untuk menumpang hidup dengan kerabat di luar Demak.

    Praktik umum menghadapi banjir
    Penelitian BRIN menemukan bahwa peninggian rumah adalah praktik adaptasi yang umum digunakan keluarga nelayan pesisir Demak untuk menghadapi banjir. Studi ini berbasiskan observasi lapangan dan diskusi terpumpun di Desa Morodemak dan Purworejo, Demak.

    Warga meninggikan rumah dengan cara mengurug lantai dasar dengan tanah atau pasir. Setelah itu, mereka membuat lantai baru dengan ketinggian tertentu.

    Ketika lantai dasar masih memungkinkan untuk dihuni, meskipun saat memasuki rumah perlu membungkuk, maka mereka masih bisa beraktivitas di lantai tersebut.

    Namun, jika ketinggian air yang memasuki rumah semakin tinggi dari tahun ke tahun, pengurugan untuk menambah ketinggian rumah bisa mencapai tiga hingga empat meter—seolah-olah mereka telah membuat lantai dua.

    Selain meninggikan rumah, banyak pula penduduk yang membangun tanggul sederhana di sepanjang batas rumah mereka. Hal ini berguna untuk mencegah air masuk ke rumah.

    Strategi adaptasi ini memang menekankan tanggapan warga terhadap ancaman genangan pesisir yang semakin meningkat akibat kenaikan permukaan air laut. Ini menyoroti pendekatan proaktif yang diambil oleh unit keluarga untuk mengurangi potensi risiko rob.

    Walau begitu, upaya peninggian rumah ataupun pembuatan tanggul memaksa nelayan mengeluarkan dana lebih. Padahal, di tengah risiko pencarian ikan dan cuaca ekstrem, pendapatan nelayan semakin tidak menentu.

    Strategi-strategi adaptasi memang dimulai dari hal-hal yang bisa dikontrol dan dikerjakan oleh tiap keluarga, seperti meninggikan rumah, pembangunan tanggul di sekitar pemukiman, dan pemindahan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi.

    Tanggapan awal tersebut dirancang untuk mengurangi risiko langsung yang terkait dengan peristiwa rob.

    Namun hal tersebut memiliki konsekuensi penurunan kualitas hidup apabila dilakukan setiap tahun tanpa ada solusi lain.

    Peninggian rumah dan pembuatan tanggul akan menjadi never ending story karena selalu berulang setiap tahun dan membutuhkan biaya yang sangat besar.

    Hal ini tentu saja meningkatkan kerentanan dan memberatkan keluarga nelayan. Mereka tidak bisa mengalokasikan penghasilan untuk hal yang lebih penting seperti memperbarui alat tangkap hingga membiayai kuliah anak.

    Migrasi sementara dan permanen
    Pertimbangan lingkungan, ekonomi, sosial, dan infrastruktur berperan penting dalam proses pengambilan keputusan keluarga nelayan skala kecil dalam menanggapi kenaikan permukaan laut dan kejadian banjir.

    Awalnya, keluarga cenderung menerapkan strategi adaptif seperti meninggikan rumah sebelum mempertimbangkan opsi migrasi permanen. Selama kejadian banjir, mereka juga sering berpindah sementara untuk mencari perlindungan dari rob.

    Perpindahan penduduk sementara adalah adaptasi lanjutan yang merupakan pemandangan umum ketika keluarga mengungsi sementara ke daerah yang lebih aman sampai rumah surut dari rob.

    Ini adalah langkah praktis untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan anggota keluarganya jika peningkatan intensitas rob tidak bisa diikuti dengan langkah adaptasi sebelumnya.

    Setelah semua dilakukan dan tidak ada perubahan, pilihan sulit harus diambil masyarakat pesisir Demak: migrasi permanen.

    Migrasi berperan penting dalam meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang sedang berlangsung.

    Ini dianggap sebagai salah satu dari berbagai cara populasi manusia beradaptasi dengan perubahan lingkungan sejak zaman dulu.

    Sayangnya, meskipun migrasi dapat memberikan peluang peningkatan kehidupan dan akses sumber daya para keluarga nelayan, hal itu tidak selalu merupakan strategi adaptasi yang efektif.

    Efektivitas migrasi sebagai strategi adaptasi bergantung pada berbagai faktor, antara lain ketersediaan sumber daya, jaringan sosial, dan sistem pendukung di daerah tujuan.

    Masalah sosial bisa saja muncul karena migrasi, seperti pengangguran keluarga nelayan akibat tidak memilki keterampilan lain selain di sektor perikanan.

    Riset dari proyek penelitian kolaboratif, BlueUrban, menemukan warga dusun Simonet di Pekalongan kehilangan akses ke mata pencaharian, umumnya sebagai petani melati atau nelayan muara, karena desa mereka tenggelam.

    Kesejahteraan mental penduduk yang mengungsi juga menuntut pertimbangan yang cermat, mengingat potensi trauma dan stres yang timbul dari akar budaya yang tercerabut.

    Upaya mitigasi bencana
    Dalam hubungan antara bencana dan perubahan iklim, migrasi dan perpindahan berperan penting dalam transformasi masyarakat. Namun, upaya untuk mengatasi kompleksitas migrasi lingkungan memerlukan pendekatan yang menyeluruh.

    Pemerintah perlu segera membuat kebijakan dan strategi untuk mengurangi dampak bencana dan perubahan iklim terhadap migrasi dan pengungsian. Keluarga nelayan skala kecil di Demak yang tengah menghadapi tantangan ganda akibat kenaikan permukaan air laut dan banjir dapat menjadi contoh sasaran.

    Saat ini belum ada kebijakan dan program khusus dari pemerintah untuk menangani banjir rob akibat kenaikan muka air laut. Sebab, rob belum dikategorikan sebagai bencana.

    Pemerintah memang memiliki kebijakan penanggulangan bencana banjir akibat tingginya curah hujan. Sayangnya, penerapan kebijakan—khususnya di Demak—masih belum menyeluruh karena belum memerhatikan karakteristik bentang lahan daerah tersebut yang mengalami penurunan muka tanah.

    Migrasi dari desa yang terendam memang keputusan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, langkah ini seharusnya bukan menjadi sekadar strategi “pelarian” masalah.

    Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya perlu ikut serta dengan upaya mitigasi bencana lainnya seperti pembuatan “benteng pesisir” melalui pemulihan ekosistem mangrove yang sehat.

    Dibutuhkan juga perencanaan penggunaan lahan yang bijaksana, dan penggabungan langkah-langkah adaptasi perubahan iklim lainnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation Penulis: Mochammad Wahyu Ghani (Peneliti BRIN) dan Inayah Hidayati (Peneliti Mobilitas Penduduk di Pusat Riset Kependudukan BRIN).

  • Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Puluhan Ribu Rumah di Demak Tergenang Banjir Selama Berhari-hari

    Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Puluhan Ribu Rumah di Demak Tergenang Banjir Selama Berhari-hari

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jebolnya tanggul Sungai Tuntang dapat memicu banjir berkepanjangan dan berdampak masif di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bencana banjir masih berdampak luas di Kabupaten Demak sejak tanggul Sungai Tuntang jebol pada 17 Mei 2025 lalu.

    “Sebanyak 37 desa di lima kecamatan terdampak langsung, dengan jumlah populasi terdampak sekitar 10.104 Kepala Keluarga (KK),” kata dia, Kamis (19/6/2025) di Jakarta.

    Ia memaparkan banjir tersebut juga menimbulkan dampak kerusakan materi yang signifikan.

    Baca: Banjir di Demak tak akan memicu terbentuknya kembali Selat Muria

    Data yang diterima BNPB menyebutkan bahwa kerusakan material akibat banjir terjadi pada lebih dari 10.000 rumah warga, 39 fasilitas pendidikan terganggu, dan sekitar 730 hektare lahan pertanian tergenang air.

    “Serta fasilitas umum seperti pasar, kantor, tempat ibadah, dan akses jalan, juga ikut terdampak akibat banjir itu,” imbuhnya.

    Menurut dia, sebagai bentuk respons cepat yang dilakukan tim BPBD Kabupaten Demak bersama instansi lainnya sudah melakukan penanganan darurat, termasuk penutupan tanggul, pompanisasi di titik kritis, serta pendistribusian logistik dan alat berat.

    Namun pihaknya menilai upaya percepatan pemulihan tanggul atau infrastruktur serupa lainnya dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana lanjutan harus tetap diprioritaskan.

    Baca: Cara nelayan di Demak atasi kenaikan permukaan laut

    Hal ini, kata dia, karena Demak tidak hanya berhadapan dengan bahaya banjir dari luapan aliran sungai, tetapi juga banjir pesisir atau rob, yang sampai saat ini masih terjadi khususnya di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura).

    “Genangan air rob masih terjadi di kawasan Pantura. Banjir di sejumlah wilayah, seperti Desa Sayung dan Kalisari, kini mulai surut, dibantu pompanisasi di titik kritis sebagai bentuk respon yang dilakukan tim BPBD Demak,” kata Abdul Muhari.

    Banjir di Demak ini semakin sering terjadi beberapa tahun terakhir. Selain perubahan iklim, kondisi ini juga disebabkan masifnya pembangunan berbagai proyek pemerintah seperti kawasan industri maupun pembangunan jalan tol Semarang-Demak.

    Baca: Kawasan industri dan pembangunan Tol Semarang-Demak persempit ruang tangkap nelayan

  • Hujan Deras Picu Banjir di Demak, Ratusan Warga Mengungsi dan Satu Lainnya Hilang

    Hujan Deras Picu Banjir di Demak, Ratusan Warga Mengungsi dan Satu Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Hujan deras memicu banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Jumat (3/4/2026) pagi. Satu warga dilaporkan hilang dan 583 jiwa harus mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

    Dalam keterangan tertulis kepada media, BNPB menyebut banjir di Demak ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu yang menyebabkan peningkatan debit air hingga mengakibatkan tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko jebol, sehingga air meluap dan merendam permukiman warga.

    Hasil kaji cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, wilayah yang terdampak mencakup empat kecamatan dengan total delapan desa terdampak.

    Adapun rinciannya; di Kecamatan Guntur meliputi Desa Trimulyo, Desa Sidoharjo, Desa Turirejo, dan Desa Sumberejo.

    Baca: Bencana alam makin intens terjadi akibat perubahan iklim

    Di Kecamatan Karangtengah mencakup Desa Ploso. Sementara itu, di Kecamatan Wonosalam terdapat Desa Lempuyang. Adapun di Kecamatan Kebonagung meliputi Desa Solowire dan Desa Sarimulyo.

    Berdasarkan data sementara, sebanyak 1.070 kepala keluarga atau 4.280 jiwa terdampak banjir dan sebanyak 583 warga mengungsi di sejumlah titik pengungsian. Di antara para pengungsi, terdapat beberapa warga yang membutuhkan penanganan kesehatan.

    Selain berdampak pada pengungsian warga, banjir juga berdampak pada 1.230 unit rumah, dengan empat unit rumah mengalami rusak berat.

    Fasilitas pendidikan sebanyak 10 unit dan fasilitas ibadah sebanyak 15 unit turut terdampak. Sementara itu, sekitar 194 hektare lahan sawah ikut terendam.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan La Nina dan El Nino makin sulit diprediksi

    BPBD Kabupaten Demak bersama unsur terkait telah melakukan berbagai upaya penanganan darurat, antara lain kaji cepat di lokasi terdampak, evakuasi warga, koordinasi lintas sektor, penyiapan lokasi pengungsian, serta pemberian layanan kesehatan bagi para pengungsi.

    BPBD telah melakukan penguatan tanggul sementara serta pencarian terhadap warga yang dilaporkan hilang, serta pendirian posko lapangan. Pemerintah daerah juga tengah memproses penetapan status tanggap darurat.

    Hingga sore hari, kondisi air masih terpantau tinggi dan proses evakuasi warga masih berlangsung, khususnya di wilayah Desa Trimulyo. Layanan kebutuhan dasar bagi pengungsi, seperti permakanan dan layanan kesehatan, terus diberikan di lokasi pengungsian.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat kondisi tanggul dan debit air yang masih tinggi.