7cloud.asia – Banyak orang yang belum tahun sejarah panjang Kota Depok yang dapat ditelusuri hingga ratusan tahun lalu, tepatnya sejak akhir abad 17.
Embrio Kota Depok Lama berawal dari mantan petinggi VOC bernama Cornelis Chastelein yang membeli ribuan hektare lahan di selatan Batavia pada 1696.
Untuk mengelola tanahnya yang kini dikenal sebagai Depok Lama, Chastelein mempekerjakan 150 pekerja pribumi untuk mengelola pertanian dan menetap di sana.
Berbeda dari praktik perbudakan yang umum dilakukan oleh orang Eropa pada masa itu, Chastelein justru memberikan pendidikan serta kehidupan yang layak kepada para pekerjanya.
Sebelum meninggal, Chastelein berwasiat agar para pekerjanya dimerdekakan serta diberi warisan berupa lahan. Nilai-nilai yang telah diajarkan Cornelis Chastelein pun diwariskan dari generasi ke generasi oleh komunitas Kaum Depok (atau oleh warga lokal disebut Belanda Depok).
Hingga saat ini, ada 12 keluarga dari keturunan Belanda dan sampai sekarang adat istiadat dan budayanya juga masih terjaga dengan baik.
Baca: Mewujudkan Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng Yogyakarta
Meski memiliki sejarah yang panjang dan masih banyak peninggalan bangunan yang tersisa, cerita mengenai asal muasal Depok ini belum banyak diketahui oleh masyarakat.
Padahal, kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai kota lama yang sarat akan wisata sejarah yang edukatif sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan aspek historis, budaya, dan prinsip pelestarian.
Hingga kemudian Pemerintah Kota Depok di bawah kepemimpinan Supian Suri – Chandra Rahmansyah menjadikan Kawasan Depok Lama sebagai Kawasan Cagar Budaya.
Sebagai langkah pelestarian berkelanjutan untuk menjaga warisan budaya, menyebarluaskan pentingnya sejarah Depok, sekaligus menggerakkan ekonomi komunitas, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia menerbitkan paspor wisata Depok.
Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, koordinator program sekaligus Guru Besar FTUI mengatakan, program ini digagas Klaster Sejarah, Teori, dan Pelestarian Arsitektur FTUI.
Mereka menggagas program pengabdian masyarakat melalui pembuatan media promosi wisata yang dikemas dalam bentuk Paspor Wisata Depok Lama.
Baca: Pemprov DKI Jakarta Tetapkan 305 Objek Menjadi Cagar Budaya dalam Empat Tahun Terakhir
Paspor Wisata Depok Lama menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya kota Depok, tidak hanya sebagai warisan sejarah tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi mendatang.
“Dengan melibatkan berbagai pihak, kami ingin memastikan bahwa cerita dan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah Depok dapat terus hidup dan menjadi kebanggaan bersama, baik bagi masyarakat lokal maupun komunitas global,” kata Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, Rektor UI.
Dukungan juga datang dari Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR. Wakil Ketua BKSAP DPR RI Husein Fadlulloh menyatakan pihaknya siap mendukung upaya Pemerintah Kota Depok dalam mengembangkan kawasan Depok Lama Heritage melalui penguatan kerja sama dengan Negara Belanda.
Menurutnya, sejarah dan warisan budaya yang masih terjaga di Kota Depok menjadi potensi diplomasi yang dapat dikembangkan bersama mitra internasional.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Depok telah meminta saran sekaligus dukungan BKSAP untuk menjembatani komunikasi dengan sejumlah kota di Belanda.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjalin kerja sama antarkota (sister city) yang diharapkan dapat mendukung pengembangan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki Kota Depok.
Baca: Pemerintah Kota Yogyakarta Serius Kurangi Tekanan di Kawasan Sumbu Filosofi
Pemerintah Kota Depok telah meminta saran dan juga meminta bantuan BKSAP untuk bisa menyambungkan antara Kota Depok dan juga beberapa kota-kota di Belanda sebagai sister city-nya mereka.
Pasalnya memang di Depok, khususny di Depok Lama ada yang mereka sebut Kaum Depok yang dulunya biasa disebut sebagai Belanda Depok.
Husein menambahkan, upaya membangun kerja sama sister city sebelumnya sempat menghadapi sejumlah tantangan, terutama birokrasi yang panjang.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut kini mulai membaik sehingga peluang realisasi kerja sama menjadi semakin besar.
“Pada kasus Depok memang kendalanya lebih kepada birokrasi, dan sekarang birokrasinya sudah mulai lebih ringkas lagi, lebih mudah lagi. Jadi harapannya ini supaya bisa cepat terealisasi dan mereka juga optimistis bahwa ini akan bisa lebih cepat lagi direalisasikan dengan birokrasi yang sekarang,” pungkasnya.
