Tag: Desa adat

  • Jalan-jalan ke Desa Adat, Berwisata sambil Belajar Kehidupan dari Masyarakat Adat

    Jalan-jalan ke Desa Adat, Berwisata sambil Belajar Kehidupan dari Masyarakat Adat

     

    Rumah Adat Suku Baduy | Sumber gambar: Wikipedia

    7cloud.asia – “Berkunjunglah ke desa adat di mana masyarakat adat tinggal jika kamu ingin tahu bagaimana memanfaatkan alam dengan cerdas dan bijak”

    Demikian seorang pegiat lingkungan pernah menyarankan saya untuk bisa belajar hidup berdampingan dengan alam. Dengan mengunjungi dan tinggal bersama masyarakat adat, kata dia,  akan membuka mata kita, bahwa kita bisa hidup tanpa harus menggunakan bahan kimia berlebih yang bisa mencemari lingkungan. 

    Beruntung, Indonesia memiliki begitu banyak desa adat dan masyarakat adat yang hingga kini masih mempertahankan budaya dan kearifan lokal mereka sebagaimana adanya. 

    Masyarakat adat ini hidup secara bijak tanpa mengambil dan mengotori alam secara berlebihan. 

    Baca: Berpetualang di Geopark, jalan-jalan sambil belajar soal Bumi

    Desa adat yang menjadi tempat tinggal masyarakat adat ini tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang dari Merauke. Jadi di manapun kita tinggal, kita bisa dengan mudah menemukan mereka. 

    Berikut beberapa masyarakat adat yang bisa kunjungi saat liburan, sebagaimana dirilis Traveloka: 

    1. Desa Adat Suku Baduy, Banten
    Masyarakat adat Baduy sudah sangat dikenal karena terletak tidka jauh dari Jakarta. Masyrakat adat Baduy terletak di Lebak, Banten.

    Suku Baduy sendiri terbagi menjadi kelompok, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Untuk mengunjungi Desa Baduy Dalam, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar 5 jam dengan medan yang sedikit menanjak.

    Urang Kanekes atau masyarakat Suku Baduy juga sangat memegang penuh kepercayaan leluhur. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan saat mengunjungi desa adat Indonesia satu ini, seperti:

    Dilarang memotret, Dilarang mengambil hasil alam tanpa izin, Dilarang menggunakan sabun, shampoo, maupun pasta gigi.

    Kalau kamu berwisata ke desa adat di Indonesia satu ini, selalu pastikan untuk menaati aturan-aturan tersebut untuk menghormati penduduk setempat, ya!

    2. Kampung Naga, Tasikmalaya

    Untuk kamu yang ingin mengenal lebih dekat masyarakat adat Sunda khas Jawa Barat yang masih sangat tradisional, kamu bisa mengunjungi desa adat di Indonesia satu ini.

    Tak hanya masih sangat tradisional, Kampung Naga yang berlokasi di Tasikmalaya ini juga memiliki pemandangan yang masih sangat asri nan hijau berpadu dengan rumah-rumah penduduk berarsitektur tradisional.

    3. Kampung Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur

    Kampung Wae Rebo wajib masuk ke dalam daftar wisata masyarakat adat kamu berikutnya. Sebab, kampung ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs kekayaan dunia oleh UNESCO.

    Meski desa adat di Indonesia ini terletak di Nusa Tenggara Timur, nenek moyang Wae Rebo justru berasal Minangkabau, Sumatera Barat yang dikenal dengan sebutan Empo Maro. Kemudian, Empo Maro bersama kerabat lain berlabuh di Flores dan menetap di Wae Rebo.

    Beberapa hal yang membuat Kampung Wae Rebo unik dan patut untuk dikunjungi ialah:
    – Iklimnya yang sejuk karena berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.
    – Memiliki rumah adat berbentuk kerucut yang unik dan selalu berjumlah tetap, yakni tujuh rumah, Menyajikan kebudayaan lokal dan didukung dengan pesona alam yang memukau,

    – Warga desa adat yang ramah dan telah bertahan selama 19 generasi

    Tak heran jika keunikan kampung adat Wae Rebo ini berhasil menarik wisatawan lokal maupun internasional.

    4. Desa Adat Sijunjung, Sumatera Barat

    Desa Adat Sijunjung | Sumber gambar: Wikipedia

    Kalau kamu tertarik untuk mempelajari budaya Sumatera Barat, maka mengunjungi Desa Adat Sijunjung bisa menjadi pilihan tepat. Letak kampung adat di Indonesia satu ini berada sekitar 120 kilometer dari pusat Kota Padang.

    Desa Adat Sijunjung dihuni oleh enam suku yang berbeda. Meski begitu, keenam suku ini memiliki rumah adat yang serupa. Di kawasan perkampungan adat ini terdapat 76 rumah dengan bangunan khas adat Minangkabau.

    Uniknya, jumlah rumah di desa adat ini selalu sama, seolah-olah kawasan ini enggak mengenal pertumbuhan ekonomi. Bahkan, angka tersebut terus bertahan dari 1950-an hingga sekarang. Wow!

    5. Desa Sade, Lombok

    Desa Adat Sade | Sumber gambar: Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah

    Kurang lengkap rasanya berkunjung ke Pulau Lombok tanpa berwisata ke Desa Adat Sade. Meski lokasi desa adat di Indonesia satu ini terletak di pinggir jalan raya dan telah tersentuh teknologi modern, masyarakatnya masih mempertahankan budaya leluhur, lho!

    Salah satu budayanya yang dipertahankan ialah kegiatan ‘menculik’ pengantin wanita sebelum pernikahan. Perempuan di desa ini baru bisa menikah dan dianggap dewasa ketika ia berhasil menenun kainnya sendiri.

    Rumah-rumah di desa adat di Indonesia satu ini terlihat sederhana dengan atap daun kering. Begitu memasuki rumahnya, kamu pasti akan terkejut saat mengetahui bagian lantai rumah dibangun menggunakan kotoran sapi.

    6. Desa Adat Kete Kesu, Sulawesi Selatan

    Desa Kete Kesu | Sumber gambar: Flickr

    Desa adat di Indonesia selanjutnya ini terletak di Tana Toraja dan menyimpan peninggalan nenek moyang yang telah ada sejak 500 tahun lalu. Kalau kamu ingin mempelajari lebih lanjut mengenai kebudayaan Toraja, Desa Kete Kesu wajib masuk ke dalam daftar wisata desa adat yang dikunjungi.

    Berbeda dengan prosesi yang biasa kamu temui, jenazah di desa adat Indonesia ini diletakan di sebuah pemakaman yang berbentuk goa batu. Pemakaman tradisional ini dipenuhi dengan tulang belulang dari warga-warga yang telah meninggal dunia, lengkap dengan peti mati yang diukir.

    Selain itu, pesona desa adat di Indonesia ini bisa terlihat dari rumah para warganya yang disebut dengan Tongkonan. Atap rumah ini berbentuk panjang menyerupai perahu dengan hiasan tanduk kerbau yang melambangkan status pemilik rumah.

    Semakin banyak tanduk kerbau dipasang, berarti semakin tinggi pula status sosial pemilik rumah. Sebab, kerbau di kawasan tersebut memiliki harga yang sangat mahal dan dipercaya sebagai hewan yang sakral.

    7. Desa Adat Wisata Setulang, Kalimantan Utara

    Desa Wisata Setulang | Sumber gambar: Kabupaten Malinau

    Desa adat di Indonesia ini adalah salah satu ‘hidden gem’ yang bisa kamu nikmati pesonanya. Berada di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, kampung ini memiliki bentang alam yang memukau.

    Mulai dari Hutan Desa Tana’ Ulen, hingga air terjun dan sungai yang terletak di sekitar desa.

    Keunikan yang terlihat di dalam kawasan desa adat di Indoensia satu ini ialah balai pertemuannya. Sering digunakan untuk gelar acara kesenian, balai tersebut memiliki motif yang terlihat sangat rumit. Ada unsur ranting, daun, hingga hewan yang dirangkai dalam satu kesatuan yang indah.

    Sepulang dari desa adat di Indonesai satu ini, kamu pasti akan belajar banyak hal! Mulai dari tradisi setempat yang sangat menghormati alam, keramahan dan kebijaksanaan masyarakatnya, dan dibungkus dengan kenangan akan pesona alamnya yang indah.

    8. Kampung Tablanusu, Papua

    Kampung Tablanusu | Sumber gambar: Merdeka

    Kalau biasanya kampung nelayan terletak di pesisir pantai berpasir, Kampung Tablanusu justru berbeda. Masyarakat di kawasan ini tinggal di wilayah yang didominasi oleh batu koral berwarna hitam.

    Batu koral yang diinjak ini menimbulkan suara yang khas dan menyerupai siak tangis. Itu sebabnya kawasan desa adat di Indonesia satu ini sering disebut dengan Kampung Batu Menangis.

    Selain itu, batu-batu koral ini juga dapat digunakan untuk pijat refleksi alami, lho! Kamu bisa memancing, berenang, dan menikmati pesona pantai Kampung Tablanusu yang indah. Cocok untuk kamu yang senang dengan suasana laut yang eksotis.

    9. Desa Trunyan, Bali

    Desa Terunyan di Bali | Sumber gambar: Wikipedia

    Desa adat di Indonesia yang terletak di kecamatan Kintamani, Bali ini sudah sangat mendunia karena kemistisannya. Sebab, Desa Terunyan atau Trunyan memiliki tradisi pemakaman yang unik.

    Di desa adat Indonesia satu ini, jenazah bukan dikuburkan, melainkan diletakan di bawah pohon Taru Menyan hingga menyatu dengan tanah. Bukannya menimbulkan bau busuk, jenazah yang diletakan di atas tanah ini justru menimbulkan bau yang harum.

    Bau yang harum ini dipercaya berasal dari pohon Taru Menyan yang juga dapat menyerap bau busuk dari mayat. Pohon ini juga lah yang diyakini sebagai asal usul nama Trunyan

    Di balik prosesi pemakamannya yang mistis, Desa Trunyan juga memiliki pemandangan alam yang begitu indah, lho! Siapapun pasti terpikat dengan pesona Danau Batur yang dekat dengan desa adat di Indonesia ini.

    10. Desa Adat Praijing

    Kampung Adat Praijing di Sumba Barat | Sumber gambar: National Geographic Indonesia

    Untuk kamu yang tengah berlibur ke Sumba, Nusa Tenggara Timur sempatkan untuk mampir ke perkampungan adat di Indonesia satu ini.

    Desa Adat Praijing merupakan kawasan perkampungan dimana nilai-nilai luhur dari nenek moyang masih dipegang erat oleh para penduduknya.

    Selain bisa mengenal dan melihat lebih dekat kebudayaan lokal, daya tarik lain dari desa adat di Indonesia satu ini adalah keindahan arsitektur tradisional yang masih menyatu dengan alam di kawasan ini.

    Dengan segala keunikannya tersebut, tentu desa-desa adat di Indonesia layak masuk bucket list liburanmu selanjutnya.

  • Menggali Keunikan Desa Adat Wae Rebo: Hanya Memiliki 7 Rumah Adat Mbaru Niang

    Menggali Keunikan Desa Adat Wae Rebo: Hanya Memiliki 7 Rumah Adat Mbaru Niang

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu, majalah wisata, TimeOut yang berbasis di Inggris memasukkan Desa Adat Wae Rebo menjadi kota kecil terindah kedua di dunia.

    Terletak di Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, desa adat Wae Rebo juga pernah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam UNESCO Asia Pacific Heritage Awards 2012, yang diumumkan di Bangkok pada Agustus 2012. 

    Lepas dari sederet penghargaan ini, desa adat Wae Rebo memang menyimpan daya tarik karena sederet keunikan yang dimilikinya.

    Wae Rebo adalah desa adat kecil yang berlokasi jauh dari kawasan perkotaan. Bahkan di desa ini listrik dibatasi pun tidak ada jaringan seluler. 

    Dilansir wikipedia, pendiri Desa Wae Rebo adalah seorang pria bernama Empu Maro yang berdarah Minangkabau.

    Dia membangun desa adat Wae Rebo tersebut sekitar 1200 tahun yang lalu dan kemudian dilestarikan oleh penduduk lokalnya hingga sekarang mencapai keturunan generasi ke-20.

    Baca Juga: Wae Rebo, Kota Kecil Terindah Kedua di Dunia

    Desa Adat Wae Rebo memiliki populasi kecil yaitu sekitar 1,200 jiwa, desa ini terdiri dari 7 rumah adat yang disebut Mbaru Niang

    Rumah adat Mbaru Niang yang tinggi dan berbentuk kerucut serta tertutup ilalang lontar dari atap hingga ke tanah menjadi salah satu keunikan dan menjadi ciri khas dari Wae Rebo 

    Rumah adat Mbaru Niang ini tersusun mengitari batu melingkar yang dinamakan compang sebagai titik pusatnya. Compang merupakan pusat aktivitas warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, dan Tuhan.

    Arsitektur Mbaru Niang mengandung filosofi dan mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Wae Rebo tapi juga masih memiliki unsur Minangkabau.

    Unsur Minangkabau terlihat dari Niang Dangka atau atap Mbaru Niang, yakni bertanduk rangkap dua yang dijadikan satu.

    Rumah tradisional ini merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial Suku Manggarai.

    Baca Juga: Jalan-jalan ke Desa Adat, Berwisata sambil Belajar Kehidupan dari Masyarakat Adat

    Suku Manggarai meyakini lingkaran sebagai simbol keseimbangan, sehingga pola lingkaran ini diterapkan hampir di seluruh wujud fisik desa, dari bentuk kampung sampai rumah-rumahnya.

    Mbaru Niang terdiri dari 5 lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh ijuk. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing, seperti tempat berkumpul, menyimpan bahan makanan, beribadah, dan fungsi lainnya.

    Rumah ini juga mengikuti prinsip leluhur yang sangat kuat dan tidak boleh menyentuh tanah.

    Dari tujuh mbaru Niang yang ada, ada satu rumah yang dikhususkan untuk keperluan ritual bagi masyarakat di Desa Adat Wae Rebo.

    Penduduk lokal di desa ini mayoritas beragama Katolik tetapi masih menganut kepercayaan lama. Di rumah ini tersimpan pusaka suci berupa gendang dan gong.

    Rumah Mbaru Niang ini memiliki lima lantai, di mana setiap tingkat dirancang untuk tujuan tertentu dan punya makna tertentu dalam keseharian warga Wae Rebo. Lantai pertama, yang disebut lutur atau tenda, adalah tempat tinggal keluarga besar.

    Baca Juga: Mengenal Tradisi Naik Dango di Kalangan Masyarakat Adat Dayak Kanayatn

    Lantai kedua, yang disebut lobo atau loteng, dikhususkan untuk menyimpan makanan dan barang-barang.

    Lantai ketiga yang disebut lentar adalah tempat penyimpanan benih untuk musim tanam berikutnya.

    Lantai keempat yang disebut lempa rae adalah untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan.

    Terakhir, atau lantai kelima dan teratas yang disebut hekang kode, juga yang dianggap paling suci, adalah tempat persembahan untuk leluhur.

    Desa adat Wae Rebo terletak sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dan untuk mengunjunginya, dibutuhkan sekitar 3-4 jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Denge, desa modern terdekat.

    Meski telah berusia ratusan tahun, desa adat Wae Rebo masih terjaga keasliannya. Termasukjumlah Mbaru Niang yang dipertahankan tetap tujuh buah.

    Baca Juga: Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

     

    Desa adat Wae Rebo dikelilingi oleh pegunungan yang indah serta Hutan Todo yang rindang serta kaya akan vegetasi.

    Di hutan ini, pengunjung dapat menemukan anggrek, berbagai jenis pakis, serta mendengar kicauan merdu dari beragam burung yang membuat suasana menjadi semakin ceria.

     

    Makanan pokok penduduk desa adalah singkong dan jagung. Namun, di sekitar desa mereka juga menanam kopi, vanili, dan kayu manis yang mereka jual di pasar yang terletak sekitar 15 km dari desa.

    Belakangan ini, Desa Adat Wae Rebo semakin populer sebagai tujuan wisata bagi para pencinta ekowisata domestik dan mancanegara. Hal ini tentunya juga menambah kesejahteraan ekonomi desa tersebut.

    Harus diingat nih, tidak ada jangkauan seluler di desa ini, dan listrik hanya tersedia dari pukul 6 hingga 10 malam.