Tag: desain

  • Milan Design Week Kembali Digelar: Menggali Ide dan Tren Desain Arsitektur dari Seluruh Dunia

    Milan Design Week Kembali Digelar: Menggali Ide dan Tren Desain Arsitektur dari Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Acara desain tahunan terbesar dunia, Milan Design Week yang digelar di Milan, Italia tampilkan berbagai ide dan tren desain arsitektur terbaik dari seluruh dunia.

    “Milan Design Week adalah platform sempurna bagi merek untuk melibatkan pengunjung secara bermakna melalui bahasa desain, tema, dan pameran,” kata Desainer sekaligus LIXIL Global Design Leader Asia Antoine Besseyre des Horts dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (10/7/2024).

    Antoine menuturkan acara yang dihadiri oleh sekitar 400 ribu pengunjung dari berbagai kalangan ini dapat dijadikan peluang untuk meningkatkan perbincangan mengenai ide-ide baru dalam dunia desain.

    Di Milan Design Week ini, bertemu para arsitek, desainer, konsumen cerdas serta pelaku bisnis, berbagai pameran merek untuk membangun networking dan menggali kemungkinan kemewahan yang dipersonalisasi.

    Dialog publik bersama desainer terkemuka dapat dijadikan momen baik untuk menegaskan soal kolaborasi.

    Baca Juga: Mengenal Konsep Desain Biofilik: Menghadirkan Alam ke Dalam Lingkungan Binaan

    Dan, eksperimen akan menjadi kunci untuk memajukan solusi seputar arsitektur regeneratif dan bagaimana lingkungan binaan dapat berfungsi sebagai katalisator kesejahteraan.

    “Kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI), alat desain, dan teknologi material juga membantu menciptakan cara baru untuk membuat produk dan penyesuaian,” ucapnya.

    Antonie melanjutkan Milan Design Week memiliki dua acara utama yakni pameran dagang “Salone del Mobile” yang berfokus pada pengunjung bisnis dan “Fuorisalone” yang merupakan acara terpisah namun saling melengkapi.

    Fuorisalone sudah dimulai sejak tahun 1980-an itu akan menyambut pengunjung untuk menikmati pameran, diskusi, dan pengalaman merek yang dikurasi serta digelar di berbagai lokasi di seluruh kota pada waktu yang bersamaan.

    Antonie menjelaskn, tema Fuorisalone Materia Natura atau Matter Nature menyoroti keberlanjutan sebagai prinsip panduan dan kebajikan mendasar dalam proses kreatif dan desain.

    Baca Juga: Sama-sama untuk Berkelanjutan, Berikut Beda Desain Biofilik dan Desain Ramah Lingkungan

    “Hal ini mempengaruhi cara perusahaan dan merek memanfaatkan alam sebagai sumber inspirasi, bahan desain, dan panduan untuk masa depan berkelanjutan dalam instalasi mereka,” ujarnya.

    Menurut dia, tema tersebut juga mengangkat dialog desain tentang bagaimana proyek dan ide dapat mengintegrasikan keberlanjutan dan kesehatan ke dalam rumah, tempat kerja, dan perjalanan kita.

    Berbagai merek dapat menunjukkan dan mengusung bagaimana desain progresif, bersamaan dengan kemajuan teknologi digital dan manufaktur, menciptakan produk dengan fungsi baru dan emisi rendah karbon.

    Ada juga perkembangan penciptaan pengalaman transformatif melalui personalisasi melalui penggunaan material yang berbeda, pengaturan pengguna, warna, dan penyelesaian akhir yang disesuaikan.

    Milan Design Week coba memberdayakan konsumen yang cerdas untuk menciptakan beragam tampilan dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar ruangan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Desain Mahasiswa Arsitektur FTUI Menangi Kompetisi di Prancis

    Desain Mahasiswa Arsitektur FTUI Menangi Kompetisi di Prancis

    7cloud.asia – Desain karya mahasiswa arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) berhasil meraih dua juara pada ajang Architecture Student Contest (ASC) 2025.

    Dalam kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Saint-Gobain dan diikuti lebih dari 1.300 mahasiswa dari 30 negara tersebut, tim mahasiswa arsitektur FTUI meraih Juara 2 dan Juara 3.

    Kedua tim sukses menunjukkan kapasitas luar biasa mahasiswa Arsitektur FTUI dalam menyelaraskan desain visioner dengan isu global keberlanjutan.

    Proyek bertajuk “The Flux” karya tiga mahasiswa arsitektur FTUI, yaitu Vine Novia Pakpahan, Syahlaisa Afra Amani, dan Luqman Kamaludin di bawah bimbingan Dr. Miktha Farid Alkadri, S.Ars, M.Ars meraih juara 2.

    Proyek ini mengangkat konsep sirkularitas dalam arsitektur sebagai jembatan antara manusia, alam, dan budaya.

    Inovasi yang mencakup dua zona di Prancis ini meliputi revitalisasi bangunan lama di Chimilin sebagai pusat digital ramah lingkungan, serta pengembangan kompleks laboratorium dan asrama baru di Villefontaine.

    Baca: Beda desain biofilik dan desain ramah lingkungan

    “The Flux bukan sekadar proyek desain, melainkan narasi tentang bagaimana arsitektur bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Seluruh rancangan menggunakan strategi pasif, memanfaatkan material lokal, dan menerapkan prinsip desain peka air atau water-sensitive design,” ujar Syahlaisa.

    Sementara, Zahari Syafi Arradhin, Valencia Yvonne, dan Kevin Suryawijaya yang juga merupakan mahasiswa FTUI meraih juara 3 lewat proyek bertajuk “Breaking Territory Through Terroir”.

    Di bawah bimbingan Dr. Ova Chandra Dewi, mereka mengeksplorasi konsep terroir—yang terbentuk dari iklim, ekologi, material lokal, dan tradisi—untuk menyatukan kawasan terfragmentasi.

    Studi kasus proyek ini berfokus pada wilayah Nord-Isère, Prancis, dengan menyatukan zona pedesaan Chimilin dan kawasan urban Les Grands Ateliers melalui integrasi jalur kereta cepat Lyon–Turin sebagai katalis pertukaran budaya dan ekologis.

    Zahari mengatakan bahwa proyek ini adalah upaya untuk merancang arsitektur yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga mampu merespons konteks dan budaya lokal secara menyeluruh.

    “Terroir bukan hanya soal tempat, tetapi juga identitas, dan kami ingin menciptakan ruang yang dapat menjembatani batas-batas wilayah melalui pemahaman tersebut,” ujarnya.

    Baca: Desain Bandara Banyuwangi raih Aga Khan Award

    Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, mengapresiasi prestasi kedua tim. Menurutnya, capaian ini adalah cerminan semangat inovasi, keberlanjutan, dan kecermatan dalam membaca konteks lokal yang terus ditanamkan.

    Menurutnya, kemenangan ini bukan hanya kebanggaan bagi FTUI, melainkan juga kontribusi terhadap masa depan arsitektur yang berkelanjutan dan inklusif.

    ”Kami sangat mengapresiasi dedikasi dan kerja keras para mahasiswa dan dosen pembimbing. Prestasi ini memperkuat komitmen FTUI dalam melahirkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global sekaligus mampu berkontribusi bagi pembangunan arsitektur berkelanjutan di Indonesia,” kata Prof. Kemas.

    Kedua proyek tersebut dapat menginspirasi pengembangan ruang-ruang publik dan bangunan multifungsi di Indonesia yang lebih berkelanjutan dan kontekstual.

    Pendekatan terroir dalam memahami ekologi lokal, serta konsep sirkularitas dan strategi pasif dalam perancangan bangunan, selaras dengan kebutuhan arsitektur tropis yang hemat energi, adaptif terhadap lingkungan, serta berpihak pada kearifan lokal.

    Baca: Desain pemukiman nelayan yang adaptif terhadap perubahan iklim