Tag: diabetes

  • Apakah Penderita Diabetes Sama Sekali Nggak Boleh Konsumsi Gula?

    Apakah Penderita Diabetes Sama Sekali Nggak Boleh Konsumsi Gula?

    7cloud.asia – Gula menjadi satu hal yang sangat dihindari oleh mereka yang didiagnosa memiliki diabetes. 

    Namun, ahli gizi atau Dietisien Instalasi Pelayanan Gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Sri Rejeki Wahyuningrum SKM puny apendapat beda soal konsumsi gula pada peasien diabetes.

    Menurutnya, pasien diabetes masih diperbolehkan mengonsumsi gula pasir sebagai pemanis dengan takaran yang sesuai.

    “Jadi sebetulnya komposisi glukosa atau sukrosa, gula pasir salah satu contohnya, itu dalam kebutuhan kalori kita sehari-hari masih boleh diberikan sebanyak 5 persen dari total kebutuhan kalori sehari,” ujar Sri Rejeki dalam webinar, Sabtu (30/9/2023) 

    Baca: Olahraga pada sore hari efektif turunkan kadar gula darah pada pasien daibetes tipe 2

    Dia mencontohkan, apabila kebutuhan kalori harian pasien diabetes adalah 1.700 kalori, maka 5 persen dari asupan karbohidrat dapat digunakan untuk gula pasir.

    Satu sendok makan gula pasir, kata dia, juga setara dengan satu porsi buah. Artinya, bila pasien diabetes ingin meminum teh dengan satu sendok gula pasir, maka hal itu setara dengan mengonsumsi satu porsi buah.

    Namun, penting untuk diingat bahwa saat mengonsumsi gula pasir, pasien diabetes hanya mendapatkan rasa manis saja, tanpa serat atau vitamin seperti yang terdapat dalam buah-buahan.

    Maka dari itu, mengonsumsi buah-buahan tetap menjadi pilihan yang lebih sehat karena mengandung nutrisi tambahan.

    Baca: Kenali gejala diabetes pada anak

    Sri Rejeki mengingatkan, saat minum manis atau gula pasir kita hanya mendapat manisnya saja karbohidrat saja.

    Tapi kalau kita makan buah, di buah itu ada serat, ada vitamin jadi lebih banyak keunggulan zat gizi saat mengonsumsi buah.

    “Tapi sesekali kalau mau gula ya gampangnya seperti itu,” ujar dia.

    Dalam kesempatan itu, Sri Rejeki juga menyampaikan bahwa dalam mengatur diet pasien diabetes, penggunaan gula yang tepat adalah kunci penting.

    Gula bisa ditemui dalam berbagai bentuk, mulai dari gula pasir, gula merah, sirup, madu, hingga kue-kue yang mengandung gula.

    Baca: Mengapa air kelapa tidak disarankan untuk pasien gagal ginjal

    Bagi pasien diabetes, menghindari atau membatasi konsumsi gula dapat membantu mengendalikan kadar glukosa darah.

    Namun demikian, penggunaan gula sebagai bumbu masih diperbolehkan dalam diet.

    Sri Rejeki menambahkan, dengan menghindari atau membatasi gula tentunya akan membantu pengendalian glukosa darah.

    “Tapi kalau kita pergunakan sebagai bumbu itu masih diperbolehkan, jadi bukan sama sekali tanpa gula,” kata dia.

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan

    Dia juga mengatakan bahwa mengonsumsi serat juga baik untuk pasien diabetes karena membuat perut lebih kenyang, membantu menurunkan gula darah, membantu menurunkan lemak darah, serta melancarkan buang air besar.

    Kandungan serat, terangnya, dapat ditemukan pada buah-buahan, sayur segar, roti gandum, kacang, kacangan, tahu, dan tempe.

    Sumber: Antaranews

     

  • Malas Gerak, Penyakit Jantung Mengintai

    Malas Gerak, Penyakit Jantung Mengintai

    7cloud.asia – Malas gerak atau mager banyak dilakukan berbagai kalangan baik muda maupun tua. Apalagi saat libur. Tentu sangat nikmat melanjutkan tidur atau sekadar membaca di atas tempat tdur. Padahal ini dapat berisiko terkena serangan jantung.

    Mager atau malas gerak (sedentary lifestyle) adalah setiap perilaku bangun yang ditandai dengan pengeluaran energi 1,5 METS, seperti duduk atau berbaring.

    Bukti terbaru menunjukkan bahwa malas gerak terus menerus (seperti duduk untuk waktu yang lama) terkait dengan metabolisme glukosa yang abnormal dan morbiditas kardio-metabolik, serta kematian secara keseluruhan.

    Anda dapat mengurangi mager dengan cara melakukan aktivitas fisik. Bentuknya macam-macam seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga, dan bentuk rekreasi aktif misalnya: menari, yoga, tai chi, dan latihan beban.

    Aktifitas fisik juga bisa berupa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, memasak, dan lain-lain.

    Rekomendasi WHO anak-anak dan remaja usia 5 hingga 17 tahun dianjurkan melakukan aktifitas dengan intesitas sedang selama 60 menit sehari.

    Sedangkan dewasa usia 18 hingga 64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas sedang selama 150 menit atau 75 menit melakukan aktivitas berat dalam satu hari.

    Usia 65 tahun keatas, WHO menganjurkan melakukan aktivitas sedang 150 menit atau aktivitas berat 75 menit ditambah olahraga 2 kali seminggu.

    Pada usia ini sebenarnya lebih direkomendasikan untuk melakukan aktifitas sedang selama 300 menit sehari.

    Hasil studi yang dilakukan para peneliti di Stanford Universit, Indonesia merupakan negara paling malas berjalan kaki di seluruh dunia.

    Studi tersebut menyebut bahwa rata-rata orang Indonesia berjalan kaki hanya 3.513 langkah per hari.

    Para peneliti Stanford University menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang di seluruh dunia yang menggunakan Argus, aplikasi pemantau aktivitas yang ada di telepon seluler.

    Para peneliti terkejut ketika menemukan fakta bahwa kesenjangan aktivitas juga didorong berdasarkan gender. Di Indonesia perempuan cenderung lebih mager ketimbang pria.

    Ada tiga faktor yang menyebabkan orang Indonesia menjadi malas untuk jalan kaki, yaitu infrastruktur pedesterian tidak memadai, cuaca panas dan catcalling atau pelecehan verbal yang dilakukan saat berjalan kaki.

    Jiika malas gerak kerap terjadi akan berisiko terkena penyakit jantung, sebab:
    1. Malas gerak berkaitan erat dengan penurunan metabolisme lemak darah, yang menghasilkan peningkatan LDL (kolesterol jahat) penurunan HDL (kolesterol baik).

    Sehingga penumpukan lemak darah ke dinding pembuluh darah semakin masif. Hasilnya dalam jangka panjang adalah aterosklerosis sebagai faktor risiko serangan jantung.

    2. Malas gerak menurunkan jumlah pengeluaran energy (kalori) sehingga penumpukan lemak akan meningkatkan berat badan. Berat badan yang berlebih sampai obesitas akan memperberat kerja jantung.

    3. Malas gerak akan menurunkan fungsi otot gerak (ekstremitas). Di level seluler, akan terjadi disfungsi mitokondria (sumber energi sel) dan terjadi atrofi otot.

    Otot yang mengecil tidak mampu menerima kelebihan glukosa yang dikonsumsi sehingga akan menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin ini faktor risiko penyakit diabetes dan penyakit jantung.

    4. Risiko penyakit jantung dari malas gerak hampir setara dengan hipertensi, merokok, dan diabetes mellitus.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Neuropati Perifer Kerap Muncul Pada Penderita Diabetes, Begini Cara Mencegahnya

    Neuropati Perifer Kerap Muncul Pada Penderita Diabetes, Begini Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencegah neuropati perifer, salah satunya adalah dengan pengendalian berat badan terutama penderita diabetes yang rentan mengalami hal ini.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Endokrinologi Rumah Sakit DMH Pune India Dr. Vaishali Deshmukh dalam forum bincang media oleh P&G Health dalam rangka Hari Diabetes Sedunia 2023.

    “Kita harus lebih fokus pada pencegahan daripada pengobatannya karena begitu penyakit ini muncul maka sudah tidak bisa disembuhkan lagi,” ujar Dr. Vaishali Deshmukh seperti yang dikutip Antaranews.

    Neuropati perifer adalah gangguan pada saraf tepi yang menimbulkan sensasi kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi panas pada bagian ujung tubuh, misalnya tangan dan kaki.

    baca: apakah penderita diabetes sama sekali nggak boleh konsumsi gula

    Kerusakan saraf tepi bisa mengenai sistem saraf sensorik atau perasa, sistem saraf motorik, sistem saraf otonom, atau kombinasi dari ketiga sistem saraf tersebut.

    Karena itu, lanjut Vaishali, ada tiga cara untuk mencegah neuropati adalah pengendalian berat badan, pengendalian glikemik (peningkatan gula darah dari karbohidrat pangan), dan pemenuhan vitamin.

    Selain itu, mencegah kecanduan juga dapat mengurangi dampak neuropati pada pengidapnya.

    Menurutnya ketiga strategi ini amat mudah dijalankan untuk mencegah penyakit neuropati perifer.

    Selanjutnya Vaishali menjelaskan langkah-langkah ini penting diperkenalkan bagi masyarakat karena di India khususnya, 74,2 juta penduduknya mengidap diabetes dan setengah dari mereka berisiko tinggi mengalami neuropati.

    https://www.rubaca: kenali gejala dan penanganan diabetes melitus pada anak

    Sementara itu, ahli farmasi dan Asisten Wakil Direktur, Akademik dan Riset dari Lyceum of the Philippines University Davao, Dr. Kenny James Merin mengatakan ahli farmasi juga bisa berperan menangani neuropati perifer sesuai dengan kejuruannya.

    “Pertama, tanyakan pertanyaan yang tepat pada pasien, lalu lakukan tes sederhana supaya kita tahu apakah pasien itu menderita penyakit neuropati yang melemahkan mereka,” jelas Merin.

    Selain itu, ahli farmasi juga dapat memberi suplemen vitamin B kompleks, yang terdiri dari B1, B6, dan B12, serta merujuk pasien supaya dapat diperiksa oleh dokter, ucap Merin.

    Senada dengan Vaishali, untuk mencegah penyakit saraf tersebut, Merin juga mengatakan perlu mengendalikan berat badan serta tingkat gula, hipertensi, dan trigliserida dalam tubuh.

    “Kemungkinan pengidap diabetes mengalami neuropati perifer kemudian hari akan tinggi jika nilai abnormal pada tubuh kita yang diketahui lewat tes laboratorium tidak kunjung dikendalikan,” ujarnya.

    Sementara itu, endokrinologis dan peneliti diabetes dari Universitas Stellenbosch Afrika Selatan Dr. Ankia Coetzee berkata bahwa praktisi kesehatan hendaknya memahami pasien dengan penuh kesabaran.

    Sebab, tidak semua dari mereka mengeluhkan sakit pada tubuh meskipun bisa jadi merupakan gejala neuropati. “Jadi, pahami apa yang pasien tidak keluhkan, apalagi hal-hal yang mereka keluhkan,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Simak cara Mencegah Diabetes Sejak Bayi dalam Kandungan

    Simak cara Mencegah Diabetes Sejak Bayi dalam Kandungan

    7cloud.asia – Kasus diabetes anak di Indonesia terus meningkat dan telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan pada Januari 2023 jumlah kasus diabetes anak naik tujuh puluh kali lipat dibandingkan tahun 2010.

    Telah banyak riset yang menyerukan pembatasan jumlah asupan gula per hari pada anak untuk mencegah diabetes pada anak.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menggaungkan pentingnya aktivitas fisik pada anak dan mewaspadai adanya kandungan gula tersembunyi pada makanan dan minuman berpemanis.

    Namun, eskalasi jumlah kasus diabetes itu belum mendorong pendekatan pencegahan diabetes anak yang lebih baru, yakni upaya preventif sejak masa kehamilan ibu.

    Kementerian Kesehatan dan profesional kesehatan masyarakat perlu segera mempertimbangkan pencegahan diatebes pada anak sejak dalam kandungan.

    Baca: Apakah penyintas diabetes sama sekali nggak boleh mengonsumsi gula

    Dampak gula darah tinggi saat hamil
    Sebuah penelitian pada 2019 menyatakan ibu hamil dengan gula darah tinggi memiliki risiko kesehatan pada diri dan bayinya.

    The International Association of Diabetes and Pregnancy Study Groups (IADPSG) membuat batasan bahwa gula darah ibu hamil masuk kategori tinggi saat gula puasanya 92mg/dl.

    Ini artinya satu jam setelah diberi cairan glukosa dalam tes toleransi glukosa oral (TTGO) mencapai 180mg/dl, atau dua jam setelah TTGO angkanya 153mg/dl.

    Dampak tinggi gula darah bisa terjadi dalam jangka pendek maupun panjang.

    Dampak jangka pendek pada ibu di antaranya adalah mempersulit proses persalinan akibat bayi besar serta meningkatnya risiko terjadinya persalinan caesar dan preeklampsia.

    Sedangkan efek negatif jangka panjangnya adalah ibu berisiko tujuh kali lipat untuk terkena diabetes tipe 2 pada masa mendatang.

    Baca: Olah raga pada sore hari bagu suntuk penderita diabetes tipe 2

    Pada bayi, dampak jangka pendek yang terjadi bisa berupa stillbirth (lahir mati), lahir prematur, ataupun hipoglikemi (gula darah rendah) saat lahir.

    Selain itu, dampak jangka panjangnya adalah bayi yang lahir akan lebih mudah mengalami obesitas pada usia anak, dan lebih berisiko mengalami diabetes.

    Oleh karena itu, mengelola gula darah ibu pada masa kehamilan adalah satu hal kecil tetapi berdampak besar bagi masa depan anak.

    Bila gula darah ibu hamil yang tinggi bisa dikelola dengan baik, maka dengan sendirinya risiko anak terkena diabetes pun dapat diminimalkan.

    Pada masa hamil, tubuh ibu menggunakan insulin secara kurang efektif (resistensi insulin) yang menyebabkan naiknya gula darah. Keadaan ini disebut diabetes gestasional.

    Biasanya masyarakat menganggap ini adalah perubahan biasa yang akan hilang saat bayi lahir, atau lazimnya disebut ‘bawaan bayi’. Padahal, kondisi ini sebagian ada yang hilang setelah persalinan, tetapi juga ada yang menetap.

    Menurut riset pada 2015, kondisi ibu hamil dengan gula darah tinggi bisa ditangani dengan beberapa cara.

    Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk kesehatan

    Pertama, modifikasi gaya hidup yang bisa dilakukan meliputi perubahan pola makan, pengaturan berat badan selama hamil dan aktivitas fisik.

    Seorang ibu hamil dengan gula darah tinggi perlu mendapatkan informasi dan pengetahuan seputar pengaturan makanan mereka.

    Sebaiknya tenaga kesehatan tidak hanya memberi saran umum untuk sekadar mengurangi nasi dan gula, seperti yang selama ini sering kita dengar.

    Namun perlu informasi spesifik yang menjelaskan jenis dan jumlah makanan yang sebaiknya ibu hamil konsumsi.

    Kedua, pilihan makanan yang tepat akan menentukan keberhasilan diet sehat ibu.

    Makanan bergizi seperti sayuran, biji-bijian dan protein sangat penting bagi ibu. Makanan yang mengandung tinggi gula dan karbohidrat sederhana sebaiknya dihindari.

    Konsumsi buah perlu menjadi perhatian karena beberapa buah mengandung gula alami yang tinggi.

    Baca: Cara mengurangi risiko autoimun

    Hal-hal tersebut di atas membantu ibu mengelola berat badannya selama hamil. Perubahan pola makan ini adalah hal yang gampang-gampang susah.

    Pola makan seseorang adalah kebiasaan yang telah terbentuk dalam kurun waktu lama yang biasanya sulit untuk dimodifikasi.

    Oleh sebab itu, ibu hamil perlu mendapat dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan untuk mengubah pola makan.

    Manfaat olahraga rutin dan obat
    Selain perubahan pola makan, ibu hamil dengan gula darah tinggi perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin.

    Olahraga ringan seperti jalan pagi dapat membantu mencegah terjadinya lonjakan gula darah.

    Sayangnya, masih jarang kita lihat ibu hamil yang melakukan aktivitas fisik. Kehamilan seringkali dipandang sebagai masa rentan, karena ibu hamil dianggap dalam kondisi ‘lemah’.

    Baca; Dampak polusi udara, dari ISPA hingga serangan jantung

    Sehingga, ibu hamil disarankan untuk istirahat dan tidak melakukan hal-hal yang berbau ‘fisik’ demi keselamatan ibu dan bayi.

    Padahal, di atas kertas, lebih dari 50% ibu hamil dengan diabetes gestasional dapat dikelola dengan modifikasi gaya hidup.

    Bila cara-cara di atas ternyata tidak berhasil menurunkan kadar gula darah ibu ke level yang diinginkan, maka jalan lain yang bisa diambil adalah menggunakan obat-obatan.

    Sebuah penelitian melaporkan bahwa obat oral penurun gula terbukti aman bagi ibu hamil. Meski demikian, hal ini masih menjadi perdebatan.

    Pilihan lain yang dapat diambil adalah dengan terapi insulin. Cara ini dipercaya aman dan efektif untuk pengelolaan gula darah selama kehamilan.

    Jika kondisi gula darah tinggi pada kehamilan ditangani dengan baik, ibu dan bayi dapat memperoleh manfaat kesehatan.

    Ibu dapat terhindar dari berbagai komplikasi kehamilan, dan menurunkan risiko mengalami diabetes di masa depan.

    Sedangkan bagi bayi, pengelolaan gula darah ibunya dapat membantu mengurangi risiko terjadinya kegemukan dan diabetes pada masa kanak-kanak. Langkah ini adalah tawaran ‘investasi’ untuk kesehatan ibu dan anak Indonesia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis Ririn Wulandari PhD Student at School of Healthcare, University of Leeds

     

  • Penderita Diabetes Mau Makan Nasi Putih? Ini Dia Syaratnya

    Penderita Diabetes Mau Makan Nasi Putih? Ini Dia Syaratnya

    7cloud.asia – Banyak penderita diabetes yang tidak mengonsumsi nasi putih karena khawatir kadar gula darah akan naik. Padahal, penderita diabetes boleh saja mengonsumsi nasi putih dengan sejumlah syarat.

    Dokter spesialis gizi klinik dr. Cindy J. Pudjiadi, Sp.GK, membagikan tips mengonsumsi nasi putih bagi penderita diabates agar aman terhadap gula darah.

    Jika penderita diabetes ingin mengonsumsi nasi putih, dr. Cindy menyarankan untuk mengombinasikannya dengan lauk pauk dan sayur untuk menurunkan indeks glikemik.

    “Jadi di nasi merah itu kan ada vitamin, mineral, dan serat. Nah kita bikin nasi putih itu ada tambahan vitamin, mineral dan serat. Caranya tambahkan sayur yang banyak. Adanya sayur yang banyak itu akan mendapatkan serat, vitamin, dan mineral di situ. Jadi jangan hanya makan nasi putih saja tanpa adanya tambahan teman-temannya tersebut,” jelasnya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Cara cegah diabetes sejak dalam kandungan

    Memang pilihan terbaik bagi penderita diabetes adalah karbohidrat kompleks, seperti nasi merah dan roti gandum, karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah.

    Selanjutnya dr. Cindy mengatakan penderita diabetes perlu menghindari mengonsumsi karbohidrat sederhana seperti donat dan minuman kemasan.

    Sebab donat dan minuman kemasan seringkali mengandung jumlah gula yang tinggi, yang dapat berdampak negatif pada kadar gula darah.

    Penderita diabetes juga harus memperhatikan camilan yang sehat seperti  buah utuh, kacang rebus, atau tomat ceri dan lain-lain, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

    Baca: Penderita diabetes boleh konsumsi gula?

    Menurutnya makanan dan minuman apapun yang dikonsumsi penderita diabetes, harus disesuaikan dengan faktor-faktor individu seperti usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan.

    “Jadi kalorinya itu tidak ada yang baku untuk semua orang karena ditentukan dari umurnya, dari jenis kelaminnya, berat badannya, tinggi badannya, aktivitasnya, dan kondisi kesehatan masing-masing. Jadi ada masing-masing porsinya dan kita mesti batasi yang manis-manis dan mengandung gula,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Catat! Dua Hal Penting Bagi Penderita Diabetes Sebelum Konsumsi Obat Herbal

    Catat! Dua Hal Penting Bagi Penderita Diabetes Sebelum Konsumsi Obat Herbal

    7cloud.asia – Pengobatan herbal memang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu pengobatan alternatif. Tetapi bagi penderita diabetes harus memahami dua hal ini jika ingin melakukan pengobatan herbal.

    Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD dalam sebuah diskusi pada Sabtu (20/01/2024).

    “Pertama, yang penting dari pengobatan herbal itu ada studi dan bukti bahwa itu aman dan efektif untuk pengobatan,” ujar dokter Tri Juli seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Penderita diabetes perlu perhatikan ini jika ingin makan nasi putih

    Sebelum melakukan pengobatan herbal, pasien hendaknya mencari informasi bahan herbal yang akan digunakan untuk pengobatan.

    Lebih bagus lagi, jika sudah ada penelitian pengobatan herbal tersebut baik khususnya untuk penderita diabetes yang membuat gula darahnya stabil.

    Pasien sebaiknya mencari penelitian obat herbal yang dilakukan pada banyak kelompok tidak hanya penderita diabetes tapi juga pada kelompok kontrol atau orang tanpa penyakit diabetes.

    Pasien juga harus mempertimbangkan menggunakan obat herbal jika pengobatan herbal tersebut masih belum diteliti kebenarannya lewat riset dan masih bersifat testimoni atau berdasarkan pengalaman orang.

    Baca: Penderita diabetes sama sekali tidak boleh konsumsi gula, benarkah?

    “Cari bukti-bukti bahwa pengobatan tersebut memang bermanfaat, jangan berdasarkan testimoni seseorang dan dijadikan dasar untuk mengadopsinya karena metode pengobatan yang tepat itu harus melalui penelitian yang baik,” jelasnya.

    Kedua, pasien harus tetap meminum obat yang telah diresepkan oleh dokter agar tetap bisa menjaga kondisi gula darahnya stabil.

    Obat yang diresepkan dokter pada penderita diabetes biasanya telah disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, apabila dihentikan besar kemungkinan kondisi kesehatannya dapat menurun.

    “Pengobatan herbalnya boleh dijalankan asal obat yang biasa digunakan jangan disetop,” ujar dokter Tri.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Penderita Diabetes yang Akan Menjalankan Ibadah Haji Wajib Menyimak Rekomendasi Ini

    Penderita Diabetes yang Akan Menjalankan Ibadah Haji Wajib Menyimak Rekomendasi Ini

    7cloud.asia – Mulai hari ini, Minggu (12/5/2024) jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan menuju Mekah atau Madinah di Arab Saudi

    Untuk jemaah haji yang hendak menunaikan ibadah haji diingatkan untuk mempersiapkan beberapa hal terkait kesehatan sebelum berangkat ke Tanah Suci.

    Hal ini terutama untuk jemaah haji penderita diabetes, karena ada hal-hal yang harus diantisipasi saat menjalankan ibadah haji mengingat ibadah haji ini berlangsung di bawah cuaca panas.

    “Untuk mengatasi risiko-risiko memang harus ada persiapan khusus yang dipersiapkan pasien diabetes sebelum berangkat haji, dimulai dari konsultasi dokter,” kata dokter spesialis penyakit dalam dari Divisi Endokrin, Metabolik, dan Diabetes RSCM Jakarta, Farid Kurniawan dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta pada Sabtu (11/5/2024).

    Konsultasi ini penting untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan penyesuaian dosis obat atau tipe insulin yang akan digunakan.

    Ia menyarankan, agar calon jemaah haji penyintas diabetes meminta dokter untuk memberikan surat keterangan mengenai kondisi dan pengobatan diabetes pasien yang bersangkutan.

    Baca Juga: Lima Risiko Kesehatan yang Mengintai Jamaah Haji di Mekah

    Surat keterangan mengenai kondisi dan pengobatan diabetes diperlukan untuk memudahkan petugas kesehatan haji melakukan tindakan saat pasien membutuhkan penanganan medis di Tanah Suci.

    “Isinya namanya siapa, kontak yang bisa dihubungi, grup atau kloter, termasuk juga informasi obat-obatan yang dikonsumsi apa saja. Nah itu biasanya memudahkan tim kesehatan atau panitia penyelenggara mengidentifikasi kebutuhan jamaah,” kata Farid.

    Farid juga menganjurkan penderita diabetes yang hendak menunaikan ibadah haji membawa persediaan obat dalam jumlah yang memadai atau berlebih agar bisa selalu tersedia sewaktu-waktu dibutuhkan.

    Menurut dia, penderita diabetes sebaiknya memastikan obat yang akan digunakan dalam waktu 3×24 jam selalu ada di dalam tas tenteng bersama identitas saat beraktivitas di Tanah Suci.

    Penderita diabetes yang membutuhkan insulin, ujarnya, sebaiknya menaruh insulin di dalam tas tenteng atau tas pendingin selama berada di dalam pesawat dan langsung menyimpannya di kulkas setelah tiba di pemondokan agar kondisinya tetap baik.

    Baca Juga: Kemenag Ingatkan Warga Waspadai Potensi Penipuan di Balik Tawaran Ibadah Haji Tanpa Antrean

    Dia juga mengingatkan pasien diabetes untuk memastikan persediaan insulin pens dan jarum memadai selama menunaikan ibadah haji.

    “Jika memungkinkan, sebelum dan sesudah ibadah seperti tawaf dan sa’i lakukan pengukuran gula darah sehingga kadar gula darah bisa terjaga. Jaga-jaga juga, bawa sumber gula seperti permen atau cemilan untuk mencegah hipoglikemia,” katanya.

    Ia menyampaikan bahwa pasien diabetes juga perlu mendapatkan vaksinasi seperti meningitis, influenza, dan pneumonia untuk meminimalkan kemungkinan terserang infeksi selama menunaikan ibadah haji.

    Menurut Laporan Penyelenggaraan Kesehatan Haji 2023 dari Kementerian Kesehatan, diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang diderita oleh banyak anggota jamaah haji Indonesia.

    Dalam pelaksanaan ibadah haji tahun 2023, sebanyak 183 anggota jamaah yang menderita diabetes mellitus harus menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

    Penderita diabetes di antaranya bisa mengalami masalah kesehatan kalau tidak memperhatikan kondisi yang bisa menyebabkan komplikasi pada kaki saat menunaikan ibadah haji.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset: Pekerja Shift Malam Lebih Rentan Terkena Diabetes dan Obesitas

    Riset: Pekerja Shift Malam Lebih Rentan Terkena Diabetes dan Obesitas

    7cloud.asia – Sebuah studi dari Washington State University and Pasific Northwest Nation Laboratory menyebut bekerja pada waktu (shift) malam dapat menyebabkan para pekerja rentan terkena penyakit diabetes dan obesitas.

    Dilansir dari Medical Daily, Mei lalu, alasan risiko tersebut meningkat pada pekerja yang bekerja pada shift malam karena ritme protein dalam tubuh yang terganggu, terlebih bila shift malam dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

    Lewat penelitian tersebut, para peneliti mengeksplorasi bagaimana pekerja shift malam lebih rentan terhadap gangguan metabolisme termasuk diabetes dan obesitas.

    Menurut hasil yang diterbitkan dalam Journal of Proteome Research, bekerja pada jadwal shift malam terbukti hanya beberapa hari pada jadwal shift malam mengganggu ritme protein yang berkaitan dengan regulasi glukosa darah, metabolisme energi, dan peradangan, proses yang dapat mempengaruhi perkembangan kondisi metabolisme kronis.

    Peneliti kemudian merekrut sukarelawan yang menjalani imulasi jadwal shift malam atau siang selama tiga hari.

    Baca: Kebiasaan begadang bisa memicu diabetes

    Para peserta kemudian tetap terjaga selama 24 jam setelah giliran kerja terakhir mereka, di bawah pencahayaan, suhu, postur, dan asupan makanan yang konstan.

    “Ini untuk mengukur ritme biologis internal mereka tanpa pengaruh luar,” katanya.

    Sementara para peserta tetap terjaga, sampel darah diambil untuk mengidentifikasi protein dalam sel sistem kekebalan berbasis darah.

    Beberapa protein ini terkait erat dengan jam biologis utama. Karena jam utama yang menjaga tubuh pada ritme 24 jam tahan terhadap perubahan jadwal shift, tidak banyak perubahan pada protein ini.

    Namun, pada sebagian besar jenis protein lain, seperti yang terlibat dalam regulasi glukosa, terdapat perubahan ritme yang substansial di antara peserta shift malam dibandingkan dengan peserta shift siang.

    Baca: Sering begadang bisa percepat demensia

    Di samping itu, mereka turut mencatat bahwa terdapat pembalikan ritme glukosa yang hampir sempurna pada peserta shift malam.

    Peserta pekerja shift malam juga tidak memiliki sinkronisasi dalam proses produksi dan sensitivitas insulin.

    Proses-proses ini biasanya harus bekerja sama untuk menjaga kadar glukosa dalam kisaran yang sehat.

    Hal ini disebabkan oleh regulasi insulin yang mencoba membatalkan perubahan glukosa yang dipicu oleh jadwal shift malam, yang mungkin merupakan respons yang sehat saat ini, namun menimbulkan masalah dalam jangka panjang.

    Baca: Hal yang pelu diperhatikan penderita diabetes saat konsumsi obat herbal

    Penulis senior dari WSU Elson S. Floyd College of Medicine Hans Van Dongen menambahkan, ada proses yang terkait dengan jam biologis utama di otak yang mengatakan bahwa siang adalah siang dan malam adalah malam.

    Sementara, proses lain yang mengikuti ritme yang diatur di tempat lain di tubuh yang mengatakan malam adalah siang dan siang adalah malam.

    Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi dini mungkin dilakukan untuk mencegah diabetes dan obesitas, yang juga dapat diterapkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke pada pekerja shift malam.

    “Ketika ritme internal tidak teratur, anda mengalami stres berkepanjangan dalam sistem tubuh anda yang kami yakini memiliki konsekuensi kesehatan jangka panjang,” kata Dongen.

    Sumber:Antaranews.com

     

     

  • Pentingnya Deteksi Awal Diabetes untuk Penanganan Sejak Dini

    Pentingnya Deteksi Awal Diabetes untuk Penanganan Sejak Dini

    7cloud.asia – Dokter anak dan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A(K) mengatakan sebanyak 75 dari 100 orang, baik anak-anak maupun dewasa tidak sadar bahwa mereka terkena diabetes.

    Padahal, deteksi awal diabetes memegang peran penting dalam pengobatan pasien diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2.

    ”Sangat penting, orang tua mengetahui gejala diabetes pada anak dengan memahami trias diabetes yaitu polidipsi, poliuri, polifage,” kata Piprim dilansir Antaranews.com, Minggu (21/7/2024)

    Dia menjelaskan, gejala diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 sebenarnya sama, anaknya sering minum, sering kencing, dan sering lapar lapar terus, jadi mesti waspada pada anak-anak yang dia minumnya banyak, kencingnya banyak.

    ”Laper terus apalagi minumnya ingin yang manis terus ini gejala diabetes,” imbuhnya

    Baca: Riset mengungkap pekerja shift malam rentan terkena diabetes

    Ia mengatakan kurangnya edukasi tentang diabetes pada anak mengakibatkan anak datang berobat dalam fase yang sudah lanjut atau fase koma.

    Dengan memahami tiga gejala diabetes di awal orang tua bisa identifikasi sebagai gejala diabetes yang perlu penanganan dokter anak segera.

    Piprim mengatakan skrining yang tepat sangat penting untuk pemberian obat yang juga tepat untuk kondisi medis anak.

    Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan melihat kadar C-peptide untuk memeriksa produksi insulin. Jika anak diabetes tipe 1 C-peptide akan menunjukkan kadar negatif insulin yang berarti harus ditambah dengan suntikan insulin.

    Namun, pada anak diabetes tipe 2, kadar C-peptidenya menunjukkan positif insulin tapi harus mengubah gaya hidup yang lebih sehat.

    Baca: Kebiasaan begadang bisa memicu diabetes

    “Sangat penting screening awal karena nanti pengobatannya berbeda, kalau ada yang terkena diabetes gula darah tinggi dia harus segera pastikan tipe 1 atau tipe 2, karena tatalaksananya jauh berbeda, kalau tipe 1 mutlak harus diberikan insulin bahkan seumur hidup,” kata Piprim

    Ia juga menambahkan, diabetes tipe 1 pada anak paling sering baru diketahui setelah anak berusia 10 tahun atau saat usia sekolah.

    Deteksi awal bisa dilakukan dengan cara melakukan medical check up pada anak termasuk pengecekan gula darah yang rata-rata masih jarang dilakukan.

    Piprim mengatakan medical check up juga penting untuk memantau berbagai penyakit yang dicurigai orang tua jika anak ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

    Beberapa kondisi yang disarankan untuk melakukan medical check up pada anak jika mendapati anak sangat kurus, lebih pendek dibandingkan teman seusianya, ada perbedaan aktivitas pada anak seperti sering sesak dan kurang aktif, maka disarankan untuk dokter anak supaya diarahkan untuk panduan check up-nya.

    Baca: Dua catatan penting bagi penderita diabetes yang ingin konsumsi herbal

    “Kalau orang tua mau periksa laboratorium medical check up biasa boleh-boleh saja tapi disarankan ke dokter dulu biar lebih terarah mau cari apa, curiga apa, karena kalau cek semua mahal, jadi lebih terarah dengan keluhan khas untuk anak tersebut,” kata Piprim.

    Namun jika anak tidak ada keluhan yang berbeda, tumbuh kembang anak bisa dipantau secara mandiri melalui buku KIA atau melalui aplikasi Primaku dari IDAI.

    Pertumbuhan anak yang baik bisa dipantau melalui penambahan berat badan dan ukuran tinggi badan, dan orang tua juga perlu memantau perkembangan kecerdasan dan kemampuan anak.

    Selama tumbuh kembangnya sesuai dengan milestone anak, Piprim mengatakan medical check up tidak terlalu disarankan.

  • Banyak Kasus Diabetes dan Gagal Ginjal Pada Anak, Pemerintah Diminta Atur Produksi Jajanan

    Banyak Kasus Diabetes dan Gagal Ginjal Pada Anak, Pemerintah Diminta Atur Produksi Jajanan

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu viral di platform media sosial, banyak anak yang menjadi pasien cuci darah rutin di rumah sakit karena kasus gagal ginjal.

    Banyaknya anak yang terpapar diabetes dan gagal ginjal sehingga harus jalani cuci darah ini akibat gaya hidup dan pola makan tidak sehat.

    Salah satu penyebab terbesar adalah konsumsi makanan yang banyak mengandung gula, garam dan lemak yang berlebih.

    Angka kasus diabetes dan gagal ginjal anak terus mengalami tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengonfirmasi kasus diabetes anak meningkat 70 persen sejak 2010 hingga 2023.

    Sementara berdasar survei IDAI, 1 dari 5 anak usia 12-18 tahun urinenya mengandung hematuria atau proteinuria sebagai gejala awal gagal ginjal.

    Wakil Ketua Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati mengungkapkan keprihatinan dengan semakin rentannya anak-anak terhadap penyakit tidak menular, seperti gagal ginjal maupun diabetes.

    Baca: Pentingnya deteksi diabetes sejak dini

    Mengatasi kondisi ini, Kurniasih menyebut pemerintah perlu membuat kebijakan komprehensif mulai dari promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif.

    “Ayo kita sama-sama pasang alarm jangan sampai fenomena penyakit yang penderitanya semakin muda ini jadi bom waktu”

    Ia menegaskan, pemerintah berkewajiban melindungi anak-anak kita dari dampak berbahaya penyakit yang kini menyerang usia muda.

    “Jangan sampai upaya kita fokus melindungi balita dari stunting tapi kecolongan di usia atasnya karena penyakit seperti gagal ginjal dan diabetes anak mengancam,” urai Kurniasih dalam keterangannya yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (27/7/2024).

    Legislator Dapil DKI Jakarta II ini meminta agar pemerintah memperkuat edukasi tentang bahayanya makanan dengan kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) berlebih, terutama pada jajanan anak.

    Baca: Cara mencegah diabetes sejak anak dalam kandungan

    Selain itu, Kurniasih mendorong agar ada pencantuman level kadar gula dalam makanan dan minuman kemasan oleh industri. Kurniasih menyebut, saat ini Komisi IX sedang dalam pembahasan Panja Pengawasan Makanan Mengandung Gula, Garam, Lemak (GGL).

    Proses Panja GGL tersebut saat ini sedang meminta masukan dari PB IDI, Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat dan para pakar lainnya.

    “Ini tugas DPR bersama pemerintah menghasilkan regulasi untuk mengatur kandungan GGL termasuk pada makanan atau jajan anak-anak. Salah satunya untuk melindungi mereka dari asupan yang merusak kesehatan,” terangnya.

    Dia berharap pemerintah bisa lebih cepat dalam tindakan agar fenomena semakin mudanya penderita penyakit tidak menular ini tidak menjadi bom waktu.

    “Ayo kita sama-sama pasang alarm jangan sampai fenomena penyakit yang penderitanya semakin muda ini jadi bom waktu. Mencegah lebih baik daripada mengobati. InsyaAllah demi generasi mendatang kita bisa,” pungkasnya.