7cloud.asia – Riset mengungkap diabetes melitus pada anak terus meningkat beberapa waktu belakangan ini.
Untuk mencegah kondisi yang lebih buruk, orang tua perlu mengenali gejala diabetes melitus pada anak sehingga bisa ditangani sejak dini.
Karena penanganan dini diabetes melitus akan memudahkan proses penyembuhan, sekaligus mencegah kondisi yang lebih buruk. Lantas apa sih gejalan diabetes melitus pada anak?
Dokter spesialis anak dari Divisi Endokrinologi RS Cipto Mangunkusumo, dr. Ghaisani Fadiana mengatakan, secara umum gejala diabetes melitus pada anak disebut dengan 3P.
Baca: Lari pada sore hari efektif untuk atasi diabetes melitus tipe-2
“Yaitu poliuri atau sering pipis di malam hari, polidipsi atau sering merasa haus, dan poliphagi atau mudah lapar,” kata Ghaisani pada diskusi kesehatan secara daring di Jakarta, Jumat (8/9/2023).
Ia menambahkan, biasanya 3P disertai hal khas lainnya, yaitu berat badan anak tidak naik atau malah turun. Kondisi ini banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja dengan diabetes.
Dokter di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM ini mengatakan gejala lain yang dialami anak dengan diabetes melitus adalah cepat lelah dan tidak bisa mengikuti aktivitas yang sedang sampai berat.
Sebagian kecil anak dengan kelainan diabetes juga akan ada infeksi berulang, seperti infeksi paru dan jamur berulang.
Baca: Pro kontra penggunaan ganja untuk pengobatan
Untuk mengetahui anak terindikasi diabetes melitus, orang tua harus memahami beberapa gejalanya. Selain melalui 3P, rutin cek kadar gula darah juga termasuk deteksi dini untuk mengetahui apakah anak terindikasi diabetes atau tidak.
Jika gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl, ditambah ada gejala 3P, maka sudah bisa dipastikan kemungkinan besar anak mengalami diabetes melitus.
Sayangnya, seringkali orang tua terlambat membawa anaknya ke rumah sakit dan datang sudah dalam kondisi yang berat, seperti sesak napas, dehidrasi bahkan sampai penurunan kesadaran.
Ghaisani mengatakan sebagian besar diabetes melitus pada anak merupakan tipe 1, di mana ada masalah di pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin untuk tubuh dalam keadaan yang cukup.
Baca: Polusi udara picu 7 juta kematian dini setiap tahun
Berbeda dengan diabetes melitus pada orang dewasa yang kebanyakan adalah tipe 2, dengan pankreas bisa memproduksi insulin namun insulin tersebut tidak bisa mengontrol gula darah dalam tubuh.
“Akibatnya akan berbeda pada tatalaksana dan terapinya pada anak-anak, karena sebagian besar DM tipe 1 yang badannya tidak bisa menghasilkan insulin maka yang harus dilakukan sebagai terapi adalah terapi suntik insulin,” katanya.
Suntik insulin diwajibkan untuk mencegah komplikasi yang berat itu dan risiko komplikasi yang lebih kecil jika rajin suntik insulin sesuai anjuran.
Anak yang sudah mendapatkan terapi insulin, gula darahnya tetap harus diperiksa secara berkala dalam satu hari untuk mengetahui kecukupan dosis insulin dan pengaturan makannya.
Baca: Risiko terlalu sering mendengarkan musik dari earphone
Idealnya anak perlu periksa gula darah setiap sebelum makan dan 2 jam setelah makan atau paling tidak 3-4 kali sehari.
Hal ini ditujukan untuk mengetahui apakah makanan yang diberikan sudah cukup memenuhi kadar gula darah dalam tubuhnya.
“Tapi kalau kondisi demam sebaiknya diperiksa lebih sering karena kalau pada kondisi sakit itu akan berisiko terjadi peningkatan atau gula darah yang lebih rendah,” kata Ghaisani menjelaskan.
Selain suntik insulin, anak dengan diabetes melitus juga perlu dijaga pola makannya, diet seimbang, hindari asupan kadar gula tinggi, dan yang mengandung pemanis buatan seperti permen dan soda.
Baca: Air kelapa muda tak bagus untuk orang-orang dengan kondisi khusus
Namun, tetap harus memperhatikan asupan karbohidratnya karena prinsipnya anak yang mengalami diabetes melitus masih memerlukan karbohidrat untuk bertumbuh dan berkembang.
Anak dengan diabetes melitus masih bisa mengonsumsi makanan manis namun yang bersifat gula kompleks seperti buah-buahan.
Jika didapati gula darah anak rendah, penanganan mandiri yang bisa dilakukan yaitu memberikan karbohidrat yang kerja cepat seperti air gula, teh manis, permen atau kismis.
Ghaisani mengatakan anak dengan diabetes melitus harus tetap melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat. Aktivitas fisik ini direkomendasikan dilakukan 3-4 kali seminggu.
Ghaisani menegaskan, anak dengan diabtes melitus tidak bisa berjalan sendiri, butuh support system dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
