Tag: DLH

  • Atasi Sampah, Perumda Pasar Juara Kota Bandung Terapkan Metode Tong Komposter  

    Atasi Sampah, Perumda Pasar Juara Kota Bandung Terapkan Metode Tong Komposter  

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah masih menjadi masalah di Kota Bandung, Jawa Barat. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Juara Kota Bandung, Jawa Barat akan menggunakan metode tong komposter.

    Penggunaan komposter untuk mengolah sampah ini dikatakan oleh Plt Direktur Utama Perumda Pasar Juara Kota Bandung, Ricky Ferlino Shafri pada Jumat (29/09/2023).

    Ricky mengatakan metode komposter ini dilakukan sebagai upaya menuntaskan kedaruratan sampah di Kota Bandung yang diperpanjang hingga 25 Oktober 2023.

    Baca: Menggunakan tumbler, langakh kecil yang berdampak besar pada lingkungan

    Pihaknya juga akan menyosialisasikan secara masif kepada para pedagang di seluruh pasar untuk mengurangi sampah organik.

    “Ke depannya kita akan melakukan pembuatan komposter yang menggunakan pipa, yang mana kita akan berkoordinasi dengan semua pedagang. Kami berkolaborasi untuk mengurangi sampah sisa organik,” jelas Ricky seperti yang dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Ricky memaparkan tong komposter ini berfungsi untuk mengolah limbah rumah tangga.

    Baca: Infrastruktur guna ulang mulai disiapkan dari sekarang

    Diantaranya berupa sisa sayuran, kulit buah-buahan, dan bahan organik lainnya, yang nantinya bisa diolah menjadi kompos.

    Menurutnya cara seperti ini dapat mendukung permasalahan sampah bisa selesai langsung dari sumbernya.

    Metode ini, lanjut Ricky, merupakan bentuk kolaborasi bersama pedagang untuk membiasakan memilah sampah.

    Baca: Starbucks tak akan lagi gunakan gelas sekali pakai

    Nantinya, hanya sampah residu yang masih boleh dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

    “Karena nantinya yang akan kemudian ditarik DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) hanyalah residunya saja. Sehingga memang kami betul-betul akan melakukan kolaborasi aktif, karena Perumda sendiri tidak mungkin bisa melakukan tanpa ada dukungan pedagang,” urainya. 

    Hingga saat ini pihaknya mencatat tiga pasar di Kota Bandung yang sudah mulai menggunakan metode komposting sebagai media pemilahan sampah, antara lain Pasar Balubur, Ciwastra, dan Astanaanyar.

    Baca: Beragam aplikasi yang melayani konsep guna ulang

    “Karena mulai ada pembiasan pemilahan sampah dari hulu yaitu dari pedagang, baik itu yg basah atau kering itu akan kami segera laksanakan,” katanya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas pada Minggu (24/09/2023) telah memperpanjang status tanggap darurat sampah di Bandung Raya.

    Perpanjangan ini berlaku hingga 25 Oktober 2023. Dalam masa perpanjangan ini pihaknya juga mendorong kepala daerah di Bandung Raya untuk memperbaiki tata kelola sampah.

    Hal ini untuk mencegah agar status darurat sampah tak terulang kembali. “Mereka (kepala daerah) harus menata kelola sampah masing-masing. Jadi penanganan di hulu sama di hilir,” kata Prima.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Cegah Timbunan Sampah, DLH Sumatera Barat Akan Olah Sampah Menjadi Barang Bernilai Ekonomi

    Cegah Timbunan Sampah, DLH Sumatera Barat Akan Olah Sampah Menjadi Barang Bernilai Ekonomi

    7cloud.asia – Pengolahan sampah kerap menjadi masalah bagi pemerintah daerah. Karena itu, sampah perlu diolah menjadi barang bernilai ekonomi agar mengurangi timbunan sampah.

    Seperti yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat dalam memotivasi kabupaten dan kota agar melakukan pengolahan sampah menjadi barang bernilai ekonomi.

    Dengan demikian pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)  tidak hanya dengan sistem control landfill dan open dumping.

    “Selama ini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Sumbar masih menggunakan sistem control landfill bahkan masih ada yang sistem open dumping meski sudah ada larangan. Ke depan kita berharap sampah di daerah bisa diolah,” jelas Kepala DLH Sumbar, Tasliatul Fuaddi seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Kota Cilacap olah sampah jadi batubara

    Tasliatul menerangkan dengan sistem control landfill, sampah dibuang ke TPA, diratakan kemudian ditimbun secara berulang kali. Tidak ada proses pengolahan pada sistem ini.

    Menurutnya sistem itu menyimpan bahaya karena timbunan sampah tersebut bisa menghasilkan gas metana yang mudah terbakar bahkan bisa meledak.

    Sedangkan sistem open dumping, lebih parah lagi karena hanya membuang dan menumpuk sampah di tempat terbuka.

    Karena itu, untuk mendorong daerah agar mau berbenah dalam mengelola sampah DLH Sumbar menghadirkan Chief Executive Officer PT Xaviera Global Synergy, Wilda Yanti.

    Wilda merupakan salah satu sosok aktif di bidang lingkungan hidup dengan pengolahan sampah melalui sistem bank sampah sehingga ia dijuluki sebagai “Ratu Sampah Indonesia”.

    Baca: Pemkot Bandung olah sampah dengan Kang Empos

    “Wilda tidak hanya melakukan pengolahan sampah yang berguna bagi lingkungan hidup, tetapi juga bisa menghasilkan miliaran rupiah dari kerja pengolahan itu. Kita berharap Wilda bisa berbagi pengalaman dengan seluruh DLH di kabupaten/kota di Sumbar sehingga terbuka cakrawala berfikir yang lebih luas dalam pengolahan sampah ini,” urainya.

    Sementara itu, Wilda Yanti siap dan terbuka untuk berbagi ilmu dengan semua DLH di Sumbar.

    Ia bahkan bersedia untuk memberikan pendampingan bagi daerah yang mau untuk melakukan pengolahan sampah.

    Ia menawarkan sistem bank sampah bertingkat pada semua kabupaten/kota.

    Mulai dari bank sampah unit di tingkat kecamatan, bank sampah induk di tingkat kabupaten dan kota dan bank sampah regional di tingkat provinsi.

    Baca: Sampah makanan rugikan ratusan triliun per tahun

    Dengan sistem bank sampah, pengelola memberikan insentif bagi masyarakat yang mau untuk memilah sampah anorganik dan organik di tingkat rumah tangga sehingga lebih mudah diolah di bank sampah.

    Sampah anorganik seperti plastik dan besi, mempunyai nilai ekonomi karena dapat didaur ulang.

    sementara sampah yang organik bisa diolah menjadi kompos atau menjadi makanan bagi budi daya cacing tanah dan maggot.

    Kompos berguna untuk pupuk tanaman sementara cacing dan maggot itu menjadi alternatif pakan dan sumber protein bagi unggas dan ikan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

  • DLH Cianjur Kembali Gunakan TPSA Mekarsari Atasi Tumpukan Sampah

    DLH Cianjur Kembali Gunakan TPSA Mekarsari Atasi Tumpukan Sampah

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat untuk mengatasi tumpukan sampah di Cianjur. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali TPSA Mekarsari.

    Kepala DLH Cianjur, Ahmad Rifai menjelaskan TPSA Mekarsari yang terletak di Kecamatan Cikalongkulon ini baru beroperasi sejak dua hari yang lalu.

    Sehingga sampah-sampah yang menumpuk di wilayah perkotaan hingga pinggiran Kota Cianjur secara bertahap mulai diangkut ke TPSA Mekarsari.

    Melansir Antaranews, sampah-sampah tersebut sebelumnya dibiarkan menumpuk dibeberapa tempat karena TPSA Mekarsari belum berfungsi dan armada truks yang sudah tua.

    Baca: Pemkab Jember gelar aksi tukar sampah

    “Sampah menumpuk di setiap sudut kota karena TPSA baru Mekarsari baru beroperasi, ditambah armada truk sampah yang dimiliki hanya beberapa yang bisa membuang sampah ke Mekarsari, sehingga pengangkutan sampah terlambat,” jelas Rifai.

    Pihaknya menargetkan dalam beberapa hari ke depan sampah yang menumpuk di sejumlah wilayah itu akan diangkut dan dibuang ke TPSA Mekarsari.

    Selain itu, lanjut Rifai, pihaknya juga akan mengajukan penambahan armada truk baru ke pemkab dan pemerintah pusat.

    Sebab, armada truks yang dimiliki pemerintah saat ini kondisinya tidak seluruhnya mampu untuk mengantarkan sampah ke TPSA Mekarsari.

    Hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh serta kondisi jalan yang dilalui menanjak dan menurun sehingga cukup menyulitkan.

    Baca: Masa darurat sampah di Cianjur diperpanjang

    “Kondisi armada yang sudah tua ditambah jarak dan medan yang dilalui cukup berat, membuat waktu tempuh menjadi lama. Harapan kami secepatnya tumpukan sampah di wilayah perkotaan dan jalan provinsi dapat diangkut secepatnya,” ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Cianjur, Meidy Prasetyadi menjelaskan jarak dari kantor DLH di Kecamatan Cilaku ke TPSA Mekarsari sekitar 35 kilometer.

    Dengan jarak ini, satu armada truk bermuatan sampah membutuhkan waktu empat jam pulang pergi.

    Pihaknya mencatat saat ini DLH Cianjur memiliki 24 dump truck dan dua truck arm roll untuk armada pengangkut sampah dengan kapasitas enam ton, namun hanya 16 unit dump truck dapat mengantar sampah ke TPSA Mekarsari.

    Baca: BRIN kembangkan daur ulang batere bekas

    “Hanya belasan yang bisa membawa sampah ke TPSA Mekarsari, bahkan beberapa diantaranya sempat mogok, karena tidak kuat saat memasuki jalan menanjak. Sehingga banyak sampah yang masih menumpuk belum bisa terangkut di wilayah kota dan sejumlah wilayah lainnya,” ungkap Meidy.

    Karena itu, pihaknya mengajukan pinjaman armada pengangkut sampah ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Jakarta, diarahkan untuk meminjam ke Balai Pelaksana Penyedia Perumahan (BP2P) Jawa II.

    “(BP2P) Jabar sudah memberi kabar akan meminjamkan tiga dump truck, namun belum tahu pasti kapan dapat diambil. Kami juga masih berupaya meminjam ke pusat dan provinsi dengan harapan truk dengan kapasitas banyak,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani