Tag: Dokter Lo

  • Dokter Lo, Pahlawan Kemanusiaan yang Tak Kenal Lelah Itu Telah Pergi

    Dokter Lo, Pahlawan Kemanusiaan yang Tak Kenal Lelah Itu Telah Pergi

     

    7cloud.asia – Puluhan siswa SMK Warga berdiri berjejer di sepanjang rumah duka sambil memberikan hormat saat ambulans pengangkut jenazah dokter Lo Siauw Ging berangkat ke Krematorium Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah.

    Tidak hanya siswa SMK, ratusan masyarakat ikut serta melepas kepergian pria yang akrab disapa dokter Lo pada Kamis(11/1/2023). Tak sedikit diantara mereka yang meneteskan air matanya.

    Para pelayat tersebut sebagian besar adalah pasien dokter Lo yang merasakan kebaikannya semasa hidup dan aktif berpraktek.

    Dokter Lo yang terkenal dermawan karena sering menggratiskan biaya pengobatan pasien yang tak mampu. Bahkan dokter Lo kerap membantu melunasi hutang pasien yang tak mampu.

    Baca: Sosok difabel yang menginspirasi

    Sebelumnya dokter Lo bolak balik dirawat di Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta hingga menutup mata selama-lamanya pada Selasa (9/01/2024), pukul 14.00 WIB dalam usia 90 tahun.

    Plh Ketua PMI Surakarta, Sumartono Hadinoto mengatakan, penyebab meninggalnya dokter Lo Siauw Ging karena sudah sepuh.

    “Sakit sepuh. Keluar masuk rumah sakit sudah berkali-kali. Meninggal jam 14.00,” kata Sumartono.

    Jenazah dokter Lo sempat disemayamkan di Rumah Duka Thiong Ting selama 3 hari sebelum di berangkatkan ke krematorium.

    Sebelum meninggal, dokter Lo meninggalkan wasiat kepada keluarganya agar dipilihkan peti warna putih dengan tampilan sederhana jika meninggal nanti.

    Permintaannya tersebut disampaikan pada Desember 2023 atau sebulan sebelum Lo menghembuskan napas terakhirnya.

    Baca: Mengenal sosok Alam Ganjar

    “Sebulan yang lalu waktu saya tengok di rumah sakit. Tolong ya kalau aku dipanggil Tuhan dipilihkan peti warna putih diatur sangat sederhana. Tidak mau terlalu mewah” ungkap Sumartono.

    Kedermawanan dokter Lo sudah terkenal. Salah satu pasien dokter Lo dari Boyolali, Yayan, mengaku sempat ditanya apakah punya uang untuk membayar obat atau tidak saat mengantar putrinya berobat.

    “Tadi habis anak saya diperiksa, ditanya punya uang tidak buat beli obat, lalu ya saya jujur ndak bawa uang banyak, lalu pak dokter Lo bilang ya sudah ini ditebus, nanti saya yang bayar,” ungkap Yanuar.

    Dokter Lo juga pernah “marah” kepada pasiennya karena memaksa untuk membayar. Padahal, saat itu dokter Lo tau bahwa pasien tersebut tidak memiliki uang untuk berobat.

    Baca: Mengenal sosok Mia Khalifa yang membela Palestina

    Sikap kedermawanan dokter Lo ini terinspirasi oleh mentornya dokter Oen Boen Ing yang akhirnya mendirikan rumah sakit bernama Rumah Sakit Dr Oen, Solo.

    Menurutnya, dokter Oen telah menularkan sikap dermawan dan jiwa sosial yang membuat dokter Lo percaya bahwa kesehatan adalah milik semua orang, termasuk orang miskin.

    Dokter Lo Siauw Ging, MARS, lahir di Kota Magelang, Jawa Tengah, pada 16 Agustus 1934 dari pasangan Lo Bian Tjiang dan Liem Hwat Nio.

    Ia berasal dari sebuah keluarga pengusaha tembakau. Kedua orang tuanya memberikan kebebasan bagi anak-anak mereka untuk memilih masa depan mereka sendiri.

    Dokter Lo akhirnya bersekolah SMU di Semarang, karena pada masa itu SMU di Magelang dipandang memiliki kualitas lebih rendah.

    Baca: Marsinah simbol perjuangan buruh perempuan

    Setelah lulus SMU, dokter Lo menyatakan ketertarikannya untuk belajar pengobatan kepada orang tuanya.

    Ayahnya, Lo Ban Tjiang, memberinya nasihat bahwa menjadi dokter dan berbisnis tidaklah sejalan.

    Dokter Lo menerima nasihat itu dengan pemikiran bahwa seorang dokter tidak seharusnya hanya mengejar pendapatan materi karena tugas utama mereka adalah menolong orang-orang yang membutuhkan.

    “Siapapun yang datang kemari, miskin atau kaya, layak memperoleh pelayanan yang memadai. Menolong orang seharusnya jangan dengan diskriminasi dan seluruh pekerjaan harus dikerjakan dengan kesungguhan. Profesi penyembuh adalah menolong yang sakit bukannya menjual obat,” urai dokter Lo dalam sebuah wawancara.

    Dokter Lo menyelesaikan studi kedokterannya di Universitas Airlangga dan lulus pada 1962. Dia lalu menyelesaikan studi S-2 di Universitas Indonesia pada 1995.

    Baca: Aktivis Raharja Waluyo Jati aktivis yang terus memperjuangkan HAM

    Pada tahun 1963, dokter Lo bekerja di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik dokter Oen Boen Ing (1903-1982), seorang dokter terkenal di Solo.

    Di masa Orde Baru, poliklinik tersebut berubah nama menjadi Rumah Sakit Panti Kosala, dan kini menjadi Rumah Sakit Dokter Oen Kandang Sapi. Selama 15 tahun, ia banyak belajar dari dokter Oen.

    “Ia tidak hanya seorang dokter yang brilian tetapi juga sangat sopan dan memiliki amal yang tinggi,” kata dokter Lo mengenang dokter Oen.

    Selain melayani pasien kurang mampu tanpa menerima bayaran, dokter Lo juga membayar biaya pengobatan pasien yang benar-benar tidak memiliki uang.

    Setiap akhir bulan, apotek langganan dokter Lo akan memberikan tagihan obat yang besarnya bervariasi antara ratusan ribu hingga sepuluh juta per bulan.

    Jika pasien tak mampu yang sakit parah, dokter Lo rela merogoh kocek sendiri untuk keperluan rawat pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu.

    Baca: Ganjar pamit kepada rakyat Jawa Tengah

    “Aku tahu pasien mana yang mampu membayar dan mana yang tidak. Mengapa mereka wajib membayar biaya pengobatan dokter jika nantinya mereka tidak dapat membeli beras? Kasihan anak-anak mereka jika sampai kekurangan makan,” urai dokter Lo.

    Dokter Lo juga pernah mengabdi sebagai pegawai negeri yang bertugas di beberapa daerah, di antaranya Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Boyolali, Wonogiri, dan Solo, Jawa Tengah.

    Setelah melanglang ke berbagai daerah, dokter Lo membuka praktik sendiri di rumah kontrakannya, Kampung Sorogenen, Solo.

    Saat itu, Sorogenen merupakan salah satu kampung padat penduduk berpenghasilan rendah. Disinilah dokter Lo menikahi Gan May Kwee, gadis yang 13 tahun lebih muda darinya.

    Kemudian sejoli ini pindah ke Kampung Jagalan, tempat yang saat ini dijadikan lokasi praktik sekaligus kediaman.

    “Rumah ini kami bangun sedikit demi sedikit. Keluarga istri, terutama paman istri saya, memberikan banyak bantuan untuk membangun rumah ini,” kenang dokter Lo.

    Baca: Rencana Ridwan Kamil setelah tak jadi gubernur

    Sejak dulu hingga akhir hayatnya dokter Lo mendedikasikan hidupnya untuk pasien, terutama pasien miskin. Dulu, pasien yang datang tiap hari bisa mencapai 100 orang.

    Namun, sejak 2013, pasien yang datang ke rumahnya rata-rata ‘tinggal’ 60 pasien. Semangat melayani dan mengobati pasien masih menyala-nyala dalam diri dokter Lo Siauw Ging meski usianya sudah senja.

    “Selama aku masih cukup kuat, aku tidak berpikir untuk pensiun. Seorang dokter hanya akan pensiun jika sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Pelayananku memberiku kepuasan yang tidak dapat dibeli dengan uang,” katanya.

    Tak semua pasien berasal dari kalangan miskin, ada juga yang berduit. Kepada yang kaya ini pun, dokter Lo tidak memasang tarif.

    Sebagian di antaranya membayar dengan cara meletakkan amplop berisi uang di meja konsultasi.

    Baca: Ganjar Pranowo di mata Alam

    Meski sering menggratiskan biaya pengobatan dan membelikan obat, namun pria yang tak dikaruniai anak tersebut mengaku sudah hidup layak dengan gaji sebagai pensiunan PNS.

    Selain itu, ia mendapat gaji dari RS Kasih Ibu karena masih praktik di poliklinik rumah sakit itu sampai akhir hayatnya.

    Pada saat terjadi kerusuhan Mei 1998, dimana situasi sangat mencekam. Banyak warga dari etnis Tionghoa menjadi sasaran hingga toko dan rumahnya dibakar.

    Namun dokter Lo tetap membuka praktik meskipun tentara hendak mengungsikannya ke tempat yang aman.  

    “Banyak orang membutuhkan pertolongan, termasuk korban kerusuhan, bagaimana aku bisa menolak mereka? Jika semua dokter berhenti praktik, siapa yang akan melayani pasien?,” ujarnya.

    Baca: Mengenal sastrawan Abdul Moeis

    Warga selama berhari-hari secara bergantian menjaga rumah sekaligus tempat praktek dokter Lo. Alhasil tak satupun perusuh yang berani mendekat rumah dokter Lo.

    Hal ini dibenarkan oleh Rini Riawati, salah seorang pelayat yang juga pasien dokter Lo.

    Saat kerusuhan 1998 terjadi, Rini masih sekolah SMA. Saat itu dia juga mengetahui bahwa rumah dokter Lo ramai-ramai dijaga oleh warga.

    Uniknya, di tengah situasi genting tersebut, dokter Lo masih tetap membuka praktik melayani pasien.

    “Dia masih buka layanan kok beliau. Setahu saya kalau beliau kalau masih bisa duduk di kursi, masih dilayani,” ungkap Rini.

    Sambil menahan tangisnya, Rini mengatakan, kehadiran dokter Lo memang sangat berperan kepada kesehatan masyarakat Kota Solo.

    Baca: Kekecewaan Suciwati di hari HAM sedunia

    Sehingga para warga pun bersedia membalas budi dengan cara berjaga 24 jam penuh selama sepekan.

    “Jadi dulu saya tinggalnya di belakang apotek Widuran, jadi sangat dekat sekali, kan di Jagalan itu. Dan benar-benar sangat dibutuhkan Dokter Lo itu, saya nggak bohong,” ungkapnya.

    Dibalik sikap kedermawanan dokter Lo tersebut ada juga sikap tegas sebagai seorang dokter.

    Seperti yang diungkapkan oleh Plh Ketua PMI Surakarta, Sumartono Hadinoto. Pernah suatu kali ada orang tua yang membawa anaknya agak terlambat. Anaknya terlanjur mengalami demam tinggi.

    “Mereka masuk aja kadang-kadang takut. Karena terlambat ngajak anaknya periksa. Misalnya demamnya tinggi. Di luar sudah pada ngomong sampai dalam pasti dimarahi,” jelas Sumartono.

    Baca: Baju putih Mahfud MD yang bersejarah

    Kini dokter dermawan tersebut sudah dikremasi. Entah siapa yang akan menggantikan sosok Dokter Lo nantinya.

    Sumartono sendiri mengaku, hingga kini belum melihat adanya sosok penerus yang bisa menggantikan dokter Lo di Kota Solo.

    “Kalau penerus dokter kan banyak sekali cuman kalau yang seperti dokter Lo rasanya kok sekarang masih belum terlihat untuk pengganti generasi penerusnya,” katanya.

    Kesederhanaan, kedermawanan dan rasa kemanusiaan yang tinggi tanpa membedakan suku, agama dan ras menjadi contoh bagi kita semua yang ditinggalkannya.

    Jika di Kota Solo tidak ada sosok seperti dokter Lo, semoga di kota-kota lainnya di Indonesia masih ada dokter yang tidak hanya mementingkan materi, tetapi lebih dari itu mementingkan kesehatan pasien yang utama.

    Selamat Jalan pahlawan kemanusiaan, Dokter Lo….

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber