7cloud.asia – Dusun Sangurejo di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lekat dengan citra PaKuMis alias padat, kumuh dan miskin. Tapi, itu dulu.
Sejak 2022, Dusun Sangurejo mulai bersolek. Masyarakat bergotong-royong membersihkan dusun. Kebiasaan membuang sampah sembarangan berganti dengan memilah dan mengolah sampah sendiri, bahkan mengubah limbah menjadi ‘cuan’.
Masyarakat Dusun Sangurejo juga ramai-ramai menanam pohon-pohon sehingga daerah itu menjadi asri.
Berbagai gerakan lingkungan yang dilakukan warga beberapa tahun terakhir mengantarkan Dusun Sangurejo meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) Utama dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada Agustus 2024 lalu.
Perwakilan utama United Nations Economic and Social Council (UN-ECOSOC) turut memuji inisiatif dusun ini. Kini, Dusun Sangurejo menjadi desa wisata yang banyak menarik pelancong.
Lantas, apa yang membuat Dusun Sangurejo berubah drastis? Kesadaran masyarakat tentu tidak muncul dalam satu malam. Pada 2012, wabah demam berdarah melanda dusun.
Baca: Kisah sukses perhutanan sosial di Desa Wawowae NTT
Saat itu warga kurang menjaga kebersihan, sampah dituang serampangan sehingga membuat saluran air mampet dan nyamuk betah bersarang.
Selama bertahun-tahun, Sangurejo bergulat dengan masalah sampah yang mencemari waduk Embung Kaliaji dan beberapa bantaran sungai yang melewati wilayah Sleman.
Para tokoh agama—yang sebagian juga merupakan aktivis lingkungan— lantas turun tangan mendorong perubahan perilaku masyarakat lewat bahasa agama dan aksi lingkungan berbasis agama seperti “Dari Sampah Menjadi Jariyah”, “Sedekah Sampah”, “Kiai Peduli Sampah”, dan lain-lain.
Dalam riset (belum dipublikasi) yang penulis lakukan bersama tim Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di bawah program Religious Environmentalism Action (REACT) dukungan Kerajaan Belanda, kami membuktikan bahwa agama bisa menjadi instrumen strategis untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan.
Pesan lingkungan dari masjid
Kampanye lingkungan di Sangurejo berangkat dari masjid dan majelis taklim. Para tokoh agama rutin menyampaikan imbauan-imbauan tentang pelestarian lingkungan lewat khotbah seusai salat.
Baca: Transisi energi berkeadilan ala perempuan Lombok
Salah satu motor penggeraknya adalah kader-kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY. Dari ceramah, warga kemudian diajak melakukan aksi nyata.
Pada 2022, muncul inisiasi gerakan “Dari Sampah Jadi Jariyah” yang bertujuan untuk mengajak masyarakat mengumpulkan sampah masing-masing dan menyumbangkan sampah yang masih bisa didaur ulang seperti botol plastik, kaleng, dan kardus.
Masjid dimanfaatkan sebagai bank sampah, di mana sampah yang dikumpulkan warga akan dipilah dan dijual, lalu hasilnya disumbangkan kepada fakir miskin.
Dari sana, kesadaran masyarakat mulai tumbuh dan mendorong munculnya aksi kolektif. Pada 2023, masyarakat setempat mendeklarasikan Dusun Sangurejo menjadi kampung iklim.
Lalu, melalui gerakan amal saleh “Kiai Peduli Sampah”, LDII DIY mengajak kelompok-kelompok pengajian dan majelis taklim di bawah naungannya berperan aktif mengurangi dan mengelola sampah di masyarakat.
Baca: Pompa listrik tenaga surya menyelamatkan warga desa di Demak
Pada tahun yang sama, warga sukses meresmikan 313 kelompok sedekah sampah berbasis masjid bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan setempat.
Kini, hampir tak ada lagi warga yang membuang sampah di saluran air. Sampah anorganik diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual.
Sementara sampah organik ditampung dalam jugangan atau galian tanah sebagai wadah sampah. Setelah penuh, lubang itu akan ditimbun kembali.
Sampah organik yang terurai nantinya akan menjadi kompos yang kaya nutrisi dan meningkatkan kesuburan tanah.
Selain kompos, limbah organik seperti daun juga bisa diolah warga menjadi bahan pewarna alami untuk kain.
Dengan pembentukan sanggar usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Ecoprint & Craft Sangurejo (ECSA), warga kini sudah bisa menghasilkan kain atau batik ecoprint mandiri. Alhasil, upaya pelestarian lingkungan juga menggerakkan ekonomi lokal.
Artikel ini merupakan bagian dari serial Jejak Islam Lestari The Conversation, Penulis: Savran Billahi (Dosen, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
