Tag: earth hour

  • WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan internasional, World Wide Fund for Nature (WWF) mengajak masyarakat dunia untuk melakukan Earth Hour atau Jam Bumi pada Sabtu, 23 Maret 2024 mendatang.

    Earth hour ini dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

    Earth hour kali ini mengusung tema “Momen Terbesar untuk Bumi” dengan tujuan untuk mendukung dan merayakan pentingnya Bumi.

    Earth hour yang sering disebut sebagai gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia ini kembali dilakukan untuk ke-18 kalinya. 

    “Lebih banyak orang yang perlu bergabung dalam Earth Hour tahun ini untuk memanfaatkan kekuatan kolektif individu dan komunitas,” kata Direktur Jenderal WWF Internasional Kirsten Schuijt dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

    Baca: 17 cara gaya hidup ramah lingkungan

    Kirsten mengatakan keterlibatan manusia dalam menyelamatkan bumi mendesak dilakukan, jika ingin meningkatkan kesadaran mengenai tantangan lingkungan hidup dan membengkokkan kurva hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030 mendatang.

    Untuk benar-benar menyatukan jutaan orang di seluruh dunia, kata dia, penting bagi Earth Hour untuk memperluas jangkauannya melampaui jumlah pendukung yang sudah sangat besar dan melibatkan individu-individu yang belum terlibat.

    “Melindungi planet kita adalah tanggung jawab bersama dan memerlukan tindakan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

    WWF, lanjutnya, juga meluncurkan Hour Bank, alat daring interaktif untuk menemukan cara paling menyenangkan dalam memberikan satu jam untuk bumi.

    Beragam cara dilakukan dalam hour bank ini seperti berjalan-jalan di hutan untuk menikmati aroma udara, merasakan bumi, dan mendengarkan suara, atau melakukan pemilahan di rumah untuk mengidentifikasi

    Baca: Gaya hidup konsumtif berdampak buruk pada lingkungan

    Atau pun menukar produk yang tidak ramah lingkungan dengan produk alternatif yang ramah lingkungan.

    Pada tahun 2023 lebih dari 410.000 jam telah diberikan kepada bumi oleh para pendukung di 190 negara dan wilayah, yang mewakili 90 persen penduduk bumi.

    Sejak pertama kali dilakukan pada tahun 2009 di Indonesia, Earth Hour dikenal dengan momen “mematikan lampu”.

    Selain Ikon-ikon kota, para pendukung Earth Hour di seluruh dunia juga diajak secara simbolis mematikan alat elektronik yang tidak digunakan.

    Earth hour juga bisa diwujudkan dengan memberikan satu jam untuk bumi dengan memanfaatkan 60 menit untuk melakukan apapun yang positif bagi bumi.

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

    CEO Yayasan WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan Earth Hour mengingatkan manusia untuk mengembalikan sebagian dari apa yang telah dinikmati dari alam ini kepada alam.

    “Cara yang paling mudah adalah dengan simbolis mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak terpakai, karena lampu menyimbolkan bagaimana manusia seharusnya memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan,” ujarnya.

    Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan berbagai aktivitas yang dapat dilihat di laman web resmi wwf.id serta media sosial @wwf_id.

  • Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    Satu Jam Penuh Makna dalam Earth Hour yang Terbesar dalam Sejarah

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan dunia WWF menyebut kegiatan Earth Hour pada Sabtu (23/3/2024)  berlangsung sukses.

    Lewat akun X (dulu twitter, red) resminya @earthhour, WWF menyebut kegiatan Earth Hour yang ke-18 ini menyumbang 1,4 juta jam untuk Bumi.

    Tagar #earthhour dan juga #BiggestHourForEarth yang diusung sebagai tema Earth Hour tahun ini trending di 25 negara.  

    “Terima kasih kepada semua pendukung kami di seluruh dunia – dari lebih dari 180 negara dan wilayah – yang secara kolektif memberikan lebih dari 1,4 juta jam (dan terus bertambah!) untuk planet kita, sehingga menciptakan #BiggestHourForEarth,” tulis WWF.

    Baca: WWF serukan earth hour pada 23 Maret 

    Earth hour yang sering disebut sebagai gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

    Earth hour kali ini mengusung tema “Momen Terbesar untuk Bumi” dengan tujuan untuk mendukung dan merayakan pentingnya menjaga planet Bumi dari kerusakan.

    “Lebih banyak orang yang perlu bergabung dalam Earth Hour tahun ini untuk memanfaatkan kekuatan kolektif individu dan komunitas,” kata Direktur Jenderal WWF Internasional Kirsten Schuijt dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

    Baca: 17 langkah yang bisa kamu lakukan untuk Bumi

    Earth Hour pertama kali dilakukan pada Sabtu, 31 Maret 2007 di Sydney, Australia.

    Saat itu Earth Hour diikuti lebih dari 2,2 juta warga Sydney dengan mematikan lampu selama satu jam untuk menunjukkan kepada pemerintah setempat yang skeptis terhadap perubahan iklim.

    Aksi ini untuk menunjukkan bahwa masyarakat Sydney peduli terhadap perubahan iklim. Dengan mematikan lampu selama satu jam mereka berkontribusi nyata dalam mengurangi emisi karbon.

    Langkah kecil mematikan lampu selama satu jam yang dilakukan oleh ratusan juta orang akan memberikan sumbangan yang luar biasa bagi Bumi. 

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

     

    Ditegaskan, Earth Hour bukan sekadar gerakan simbolis, namun merupakan katalisator perubahan nyata dalam kebijakan lingkungan dunia.

    “Earth hour diikuti sederet pencapaian dan kemenangan besar yang berhasil kami capai selama bertahun-tahun,” demikian ditulis di laman resmi earthhour.org.

    Aksi ini kemudian terus meluas dan kini diikuti di hampir semua kota besar di dunia. Tak hanya itu aksi simbolik ini berhasil mendorong berbagai kebijakan iklim di banyak negara di dunia.  

    Salah satunya, kampanye #Connect2Earth terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya alam bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup kita. 

    Secara global, para pendukungnya diminta untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap alam dan menyuarakan Suara untuk Planet Bumi dalam sebuah petisi online yang mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil tindakan untuk melindungi dan memulihkan alam.

  • WWF: Earth Hour 2025 Berlangsung di Tengah Pemanasan Global yang Makin Mengkhawatirkan

    WWF: Earth Hour 2025 Berlangsung di Tengah Pemanasan Global yang Makin Mengkhawatirkan

    7cloud.asia – Pada tanggal 22 Maret lalu, masyarakat dunia kembali Earth Hour, gerakan lingkungan terbesar di dunia untuk yang ke-19 kalinya.

    Adapun tema Earth Hour tahun ini adalah ‘Jam Terbesar untuk Bumi’ dan diharapkan dapat berfungsi sebagai obor pembawa harapan positif untuk mendukung dan merayakan planet Bumi.

    Pada tahun 2024, lebih dari 1,5 juta jam telah diberikan oleh para pendukung Earth Hour di seluruh dunia. Tahun ini diharapkan meningkat menjadi 2 juta jam.

    Director General, WWF International, Kirsten Schuijt mengatakan saat ini dunia dalam pertaruhan besar mengingat tahun lalu merupakan tahun terpanas dalam satu dekade terakhir, dengan suhu lautan tertinggi sepanjang sejarah.

    ”Kita telah menyaksikan kebakaran hutan, badai, dan kekeringan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia sedang berada dalam bahaya nyata dan dengan cepat mendekati titik kritis, di mana ekosistem yang menopang kehidupan mungkin tidak akan bisa pulih kembali,” ujarnya sebagaimana dirilis di laman resmi WWF.

    Baca: Satu jam penuh makna dalam Earth Hour

    Earth Hour, lanjutnya, adalah pengingat kuat bahwa dunia harus bertindak sekarang, selagi masih ada kesempatan. Gerakan ini bukan hanya tentang mematikan lampu, tetapi tentang menyalakan semangat perubahan secara global.

    Dengan melibatkan setiap individu, komunitas, hingga sektor bisnis, kita bisa menciptakan kekuatan kolektif yang mampu menghadirkan perubahan nyata dan menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih lestari.

    ”Melalui Hour Bank, Earth Hour mengajak semua orang, di mana saja, untuk menemukan cara yang paling menyenangkan untuk menyumbangkan satu jam bagi Bumi,” imbuhnya.

    Kirsten menambahkan ada banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk Bumi. Entah itu memasak makanan berkelanjutan di rumah, menonton film dokumenter tentang alam, berjalan-jalan di hutan untuk menikmati alam dan merasakan bumi.

    Atau dengan mengumpulkan berbagai barang yang ada di rumah dan tidak ramah lingkungan untuk kemudian menukarnya dengan barang alternatif yang ramah lingkungan.

    Baca: 17 Langkah yang bisa dilakukan untuk lingkungan

    Hour Bank menyediakan daftar aktivitas dan kegiatan berdasarkan minat dan preferensi gaya hidup setiap individu, mulai dari makanan dan kebugaran, hingga seni dan hiburan.

    Seruan aksi “Satu jam untuk Bumi” membuat setiap partisipasi menjadi lebih mudah dan menyenangkan, mendorong setiap individu untuk tidak hanya mematikan lampu secara simbolis, tetapi juga meluangkan waktu selama 60 menit untuk melakukan kebaikan untuk bumi dengan melakukan sesuatu yang mereka gemari.

    CEO Yayasan WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda mengatakan, gerakan Earth Hour mengingatkan masyarakat untuk terus terpanggil dalam upaya melestarikan bumi.

    Tahun ini, Earth Hour bertepatan dengan sepuluh hari terakhir Ramadan, momen yang tepat untuk merenungkan kembali peran kita sebagai individu dalam melindungi ciptaan-Nya, yakni alam beserta seluruh isinya.

    Menjaga keharmonisan antara manusia dan alam adalah tugas kita bersama, sejalan dengan amanah Allah SWT yang menjadikan manusia sebagai khalifah—pemimpin di muka bumi yang bertanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan Bumi.

    Baca: Menteri Masyarakat Adat Brasil raih Champion of the Earth 2024

    Saat ini ada 20 kota dan provinsi di Indonesia yang ikut merayakan Earth Hour di Indonesia, diantaranya adalah Aceh, Medan, Jambi, Jakarta, Tanggerang, Serang, Cimahi, Bandung, Purwokerto, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Kota Batu, Bali, Makassar, Palu, Wajo, Jayapura dan lain-lain.

    Earth Hour adalah tentang membuat aksi lingkungan menjadi mudah diakses, menyenangkan, dan bermakna. Dengan menyelaraskan aksi kami dengan ketertarikan dan minat masyarakat, kami dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam gerakan ini.

    ”Hour Bank dirancang untuk menunjukkan bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam melindungi planet Bumi, di mana pun mereka berada atau apa pun yang mereka gemari,” ujarnya.

    Membangun momentum yang luar biasa di tahun 2024, ketika kita mencapai tonggak sejarah 1,5 juta jam, kami bertujuan untuk melebihinya menjadi 2 juta jam tahun ini. Bersama-sama, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.”

    Earth Hour tidak hanya momen perayaan, ini adalah sebuah gerakan yang terus menginspirasi dan memobilisasi orang-orang secara global, mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dan tangguh bagi planet kita.

  • Setelah 20 Tahun Berjalan, Earth Hour Kian Relevan untuk Pelestarian Lingkungan

    Setelah 20 Tahun Berjalan, Earth Hour Kian Relevan untuk Pelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Pada Sabtu, 28 Maret 2026 mulai pukul 20.30 waktu masing-masing daerah, dunia secara serempak kembali merayakan Earth Hour.

    Earth Hour yang mulai digelar pada 2007 mengajak individu, komunitas, dan bisnis di seluruh dunia untuk berkontribusi dengan mematikan lampu mereka dan Memberikan Satu Jam untuk Bumi.

    Hanya dengan menghabiskan 60 menit untuk melakukan apa pun sesuatu yang positif bagi lingkungan dan planet Bumi dengan mengurangi emisi.

    Baik Anda menyukai makanan, kebugaran, seni, atau kegiatan luar ruangan, setiap orang dapat Meluangkankan Satu Jam untuk Bumi dengan terhubung kembali dengan planet kita.

    Dengan Earth Hour, kita membantu memulihkan planet Bumi, mempelajari lebih lanjut tentang planet kita, atau menginspirasi orang lain untuk peduli pada lingkungan, semua dilakukan bersama-sama hal-hal yang Anda sukai!

    Earth Hour mengajak Anda untuk mematikan lampu dan meluangkan 60 menit untuk melakukan sesuatu—apa pun—yang positif bagi planet kita. Saat ini, lebih dari tahun-tahun sebelumnya, Earth Hour menjadi mercusuar penting akan urgensi untuk bertindak untuk lingkungan.

    Baca: Jelang Earth Hour, Sekjen PBB serukan transisi energi yang cepat dan adil

    Hanya 60 menit? Ya, hanya satu jam. Mungkin tidak terlalu lama, tetapi keajaiban terjadi ketika Anda, dan ratusan juta orang dari seluruh dunia di lebih dari 190 negara memberikan satu jam untuk satu rumah kita, menciptakan Jam Terbesar untuk Bumi.

    Sejak awal berdirinya pada tahun 2007, Earth Hour dikenal dengan momen “mematikan lampu”, di mana individu dari seluruh dunia mematikan lampu untuk menunjukkan dukungan simbolis bagi Bumi dan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan yang mempengaruhinya.

    Selama 20 tahun kemudian, kita sekarang berada di titik kritis dengan krisis iklim dan alam kita, yang membahayakan nasib satu rumah kita dan masa depan kita semua.

    Kita berada di jalur yang akan melampaui batas kenaikan suhu global 1,5°C yang ditetapkan oleh Perjanjian Iklim Paris pada tahun 2030.

    Alam dan lingkungan yang menjadi sumber penghidupan kita dan salah satu sekutu terbesar kita dalam melawan krisis iklim, kini berada di bawah ancaman serius, menghadapi tingkat kehilangan yang mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya secara global.

    Planet Bumi menghadapi krisis ganda perubahan iklim dan hilangnya alam. Laporan Living Planet 2024 dari WWF mengungkapkan sistem yang terancam, dengan populasi spesies satwa liar menurun hingga 73 persen sejak tahun 1970.

    Baca: Earth Hour 2025 berlangsung di tengah pemanasan global yang makin mengkhawatirkan

    Amazon, terumbu karang, dan lapisan es kutub mendekati titik kritis yang dapat memicu kerusakan yang tidak dapat dipulihkan. Perubahan iklim dan hilangnya alam mengancam kelangsungan hidup kita, tetapi kita belum melewati titik tanpa kembali.

    Oleh karena itu, beberapa tahun ke depan sangat penting bagi masa depan kita semua – kita harus tetap berada di bawah ambang batas iklim 1,5°C untuk menghindari kerusakan yang tidak dapat dipulihkan pada planet kita.

    Kita perlu membalikkan kehilangan alam pada tahun 2030, mengakhiri dekade ini dengan lebih banyak berbuat untuk lingkungan daripada yang pernh kita lakukan, bukan menguranginya.

    Untuk mewujudkan hal ini, individu, komunitas, bisnis, dan pemerintah harus segera meningkatkan upaya mereka untuk melindungi dan memulihkan rumah kita bersama.

    Dilansir di laman resminya, earthhour.org menyerukan, dengan tujuan 2030 yang tertanam dalam pikiran, kita juga harus meningkatkan upaya kita dalam menjaga lingkungan.